Menjadi Sastrawan Starter-Pack

Dunia sastra itu kejam, sayang. Tidak kenal ampun. Sekali jatuh akan diinjak-injak. Bukan buat yang cengeng dan kokehan drama. Cuma yang setrong yang akan bertahan. Bukan pula orang yang senang berlembut-lembut perkataan anti-hujatan tapi juga bukan orang yang cangkem-nya trocoh isinya binatang semua kalau ngomong juga bukan (repetisi haram, jinguk!). Intinya adalah hujatan atau pujian itu pada tempat yang semestinya atau tidak. Kalau ada kejahatan harus dilawan rawe-rawe rantas malang-malang putung tapi kadang perlu menahan diri dengan tepa selira dan alon waton kelakon. Enggak ngerti? Googling!

Berikut ini semacam kisi-kisi agar engkau (biar nyastra) tidak terjebak kesalahan berlogika yang berlarut-larut dibiarkan dalam dunia sastra kita sehingga seakan-akan suatu kebenaran:

  1. Soal sastra itu sendiri yang menjadi padanan literature. Kata ini sebenarnya merujuk pada ilmu pengetahuan, namun sejak mesin cetak hadir dan otoritas teks menjadi milik banyak orang, sastra sering disebut sebagai karya tulis walaupun tidak mutlak demikian. Maka ada pula sastra lisan yang hidup dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi budaya lisan. Jadi kalau Indonesia termasuk negara yang paling tidak terliterasi, jangan terlalu khawatir, karena penelitian itu sangat bias.
  2. Soal kesusastraan. Kesusastraan itu seharusnya merujuk pada literariness bukan dunia/arena/field. Cukup sastra. Kalau merujuk ke yang lebih spesifik seharusnya susastra padanan dari literary. Emang sih, seharusnya soal mencari padanan ini jangan terlalu kaku dan serius. Tapi paling amannya begitu dari pada kelihatan bego. Namun tetap perlu disadari alam pikir masyarakat kita yang membentuk Bahasa Indonesia jauh berbeda dengan Bahasa Inggris. Jadi jangan melulu apa-apa dicari padanan kata. Keminggris boleh, inferior jangan.
  3. Soal siapa yang layak disebut sastrawan. Penyebutan ini sejatinya sangat politis, seakan-akan sakral, padahal enggak juga. Siapa pun yang ahli membicarakan sastra entah itu kritikus, ilmuwan, penyair, esais, dll berhak menyandang gelar ini tanpa dibatasi penghargaan atau jumlah terbitan. Dalam wacana internasional, istilah ini jarang atau bahkan tidak pernah digunakan. Biasanya mereka menyebut diri mereka sebagai pengarang (author) yang lebih netral. Karyanya bisa berbentuk apa saja.
  4. Soal bentuk sastra. Menurut Lewis Turco dalam The Book of Forms: Handbook of Poetics ada empat genre besar dalam sastra, yakni Esai, Fiksi, Puisi, dan Drama. Jadi Puisi itu tidak termasuk Fiksi. Tolong diingat baik-baik. Terus orang suka mempertentangkan puisi dan prosa, itu keliru! Puisi itu genre, sedangkan prosa itu moda. Bisa aja suatu karya masuk dalam genre puisi tapi bermoda prosa. Namanya puisi prosaik (prose poetry). Tidak ada batasan karakter dalam genre. Jadi kalau ada istilah fiksi mini itu bodoh. Kalau ada alur kejadian, sudah cukup disebut fiksi, mau berapa kalimat atau berjilid-jilid. Kalau mau mempertentangkan, lebih tepat prosa (prose) dan sajak (verse). Prosa itu tidak terukur, sedangkan sajak terukur. Nanti beda lagi sama lirik, lho. Bingung? Emang! Dikira gampang!
  5. Soal baku dan tidak baku. KBBI dan PUEBI yang disusun oleh Balai Pengembangan Bahasa itu hanya semacam panduan untuk menuliskan bahasa secara ortografis, jadi tidak mutlak bertekuk lutut padanya. Penyusunannya pun masih terlalu kaku dan bias ibu kota. Makanya teman-teman kita dari Indonesia Timur kesulitan mengikutinya. Sejatinya bahasa Indonesia sendiri disusun dari keberagaman. Kita butuh satu alat komunikasi dan diplihlah Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu. Maka dari itu, kalau adik pengin jadi penulis kreatif, harus selangkah atau kalau bisa beberapa langkah lebih maju dari pada para birokrat yang kaku dan sok ngatur itu. Birokrat dari Balai Pengembangan lah yang harusnya mengikuti kalian-kalian. Baca, kuasai, buang KBBI dan PUEBI-mu! Begitu kira-kira.
  6. Soal sastra serius sama populer. Ini sayangnya dipercaya banyak orang, bahkan para sarjana sastra. Jangan percaya, itu ndobos. Sastra, ya sastra. Kalau bikin pertentangan mbok ya sastra serius sama sastra bercanda, gitu. Atau sastra populer sama sastra tidak populer (?). Teen-lit atau chick-lit itu juga sastra, kan cuma soal sasaran pasar pembacanya, boleh-boleh saja disebut begitu. Toh kepanjangan lit itu dari literature juga. Itu upaya pebisnis buku memetakan pasar.

Sampai di sini paham? Kalau belum bisa googling lebih lanjut. Jangan malu, google itu kalau diperlakukan dengan bijak bisa banyak membantu dalam memahami sesuatu. Dari pada tanya di info cegatan, kan? Oh iya, ada satu lagi, kalian perlu curiga kalau pembaca kalian suka memuji-muji. Pujian itu membunuh kreativitas. Sebaliknya, kritik itu menggugah. Sederhananya, terbiasalah dengan nyinyiran. Nyinyir itu sendiri seni, tapi jangan kebanyakan. Nyinyir boleh, tapi jangan lupa bahagia, ya, Dik, ya?

 

Advertisements

Kartu Karung Goni untuk UGM

Mumpung lagi pada buka-bukaan kartu, maka saya ikut main kartu juga, tapi bikin sendiri, enggak niru sepak bola atau yang lain. Konon warna karung goni jaket almamater UGM bermakna kampus yang merakyat, ndhek jaman Berjuang, pakaian kawula itu karung goni, makannya batang pohon pepaya. Dengan ini saya mengajukan kartu karung goni yang saya bikin sendiri itu bukan untuk penanda tingkat kesalahan tapi buat pengingat akan gagasan yang dulu digaungkan kini ilang kumandange. Tentu ditujukan pula kepada diri saya sendiri sebagai lulusan karena ikut andil dalam pelanggengan lelaku kampus yang semakin tidak merakyat ini. Jadi kalau masih waras berpikirnya tidak bisa diskors seperti nasib penyebar poster “Kampus Rasa Pabrik”, semoga mereka cepat dapat keadilan, lha wong semacam auto-kritik karena enggak ngapa-ngapain pas di kampus walaupun lama, eh malah lulus, dasar mahasiswa apatis! Apalagi dituntut pakai pasal karet pencemaran nama baik, kan yang tercemar duluan nama saya sendiri yang tidak pernah baik ini. Sejujurnya, menulis ini sambil agak takut juga, miris enggak sih bahkan di ruang akademis saja tidak terpenuhi hak kebebasan berpendapat? Dan hey kita diam aja! Jadi memperjuangkan hak suku asmat dan suku lain untuk mendapatkan penghidupan yang layak masih terlalu muluk-muluk karena akademisi sendiri tidak berdaya saat hak kebebasan berpendapatnya direnggut. Ngomong-omong penghidupan yang layak, apa kabar indomie dan nasi kecap? Untuk belanja buku yang cukup, harus rela menekan anggaran makan. Tentu yang setuju soal ini hanya mereka yang merasa memiliki buku sebagai kebutuhan. Kalau cuma buat penghayat tradisi nenek moyang penyalin-tempel sitasi tidak jadi soal.

Kartu ini menjadi mendesak untuk diajukan karena tanggapan umum yang terjadi ketika sebentuk ekspresi kritis ditanggapi dengan nyinyir, enggak konkret! Mereka justru sedang buka kartu: enggak ngerti posisi mereka sebagai intelektual itu dimana. Kerja-kerja kerelawanan dalam bentuk yang konkret tetap harus dilancarkan, tapi tidak terus mereduksi peran lain yang lebih abstrak. Dalam kasus asmat, misalnya, bagaimana bisa ada kelaparan yang didiamkan selama bertahun-tahun? Siapa yang merampas hak hidup mereka? Siapa lagi kalau bukan pemegang kekuasaan yang dilegitimasi institusi pendidikan? Kalau ada satu kasus yang bisa diabaikan, bukankah ada kemungkinan kasus lain yang barangkali lebih parah yang terjadi sementara kita sibuk caci maki rival politik masing-masing? Punakawan pengin jadi Pandhawa, Pandhawa sendiri mentalnya lebih mirip Buta.

Ilmuwan yang paham lingkungan dicetak untuk bikin amdal aspal biar proyek-proyek lancar jaya; orang-orang soshum dicetak untuk bikin rekayasa sosial supaya gerakan yang kontra-pembangunan tidak punya daya untuk melawan; orang-orang kebudayaan disumpal mulutnya pakai receh CSR biar mau nyembah-nyembah korporasi; aparat dilatih untuk jadi alat gebuk penguasa; dst. Pendidikan tinggi ikut dalam arus perputaran lingkaran setan yang tidak pernah berhenti, sampai bingung mau mulai dari mana untuk menghentikan laju badai yang memporak-porandakan peradaban kita ini. Kehilangan tempat berpijak yang akhirnya ikut terhempas kehilangan arah. O!

Tidak Lupa Bahagia Meski Belum Lulus

Barangkali saya termasuk mahasiswa tua paling tidak tahu diri dan tidak bisa ngrumangsani. Harusnya malu bergaul sama mahasiswa muda yang bral-brul satu demi satu menyalip. Ini malah nongol di foto-foto yang pada sidang.

Dari ketidaktahuan diri ini akibatnya saya sering ditanya oleh makhluk-makhluk iseng, “Kenapa sih, Mas, kok kuliahnya lama?” sambil barangkali membatin amit-amit jabang bayi semoga tidak bernasib sama. Njuk sok berpikir positif, “Sempat cuti, ya, Mas?”; “Sulit ya kuliahnya?”; “Aktif di organisasi ya?” Alih-alih berdalih dan berapologi, saya sudah menyiapkan jawaban jitu, “Enggak, kebanyakan main” sambil mengutuki diri sendiri. Itu alasan paling rasional karena mencari dalih dan apologi lebih melelahkan dari pada menyelesaikan beban SKS seberapa pun banyaknya.

Itu jawaban singkat. Sebenarnya ada masa yang saya sebut disorientasi. Pada masa ini saya benar-benar gagal mencari alasan kenapa saya harus kuliah. Bahkan untuk seseorang yang beruntung memiliki orang tua yang membebaskan pilihan anaknya, saya merasa salah masuk jurusan, tapi juga kalau dikasih kesempatan lagi enggak tahu mau masuk jurusan apa. Saya turut bersedih bagi banyak teman yang menjadi korban ambisi orang tua yang akhirnya menanggung getirnya masa depan yang ternyata tidak secemerlang yang diiming-imingkan.

Segala hal yang jadi harapan orang tua yang tidak kesampaian dibebankan ke anaknya. Suruh hafal Pancasila dan UUD 1945; tahu nama presiden, menteri, dan kepala daerah dari gubernur sampai RT; berjiwa patriot; agamis; pintar berwirausaha; dan hal-hal membosankan lainnya. Betapa tidak enaknya menjadi generasi akhir zaman. Akumulasi dari generasi-generasi sebelumnya yang sejak awal sudah dan tetap terus akan muluk-muluk. Kalau begini caranya kiamatnya ditunda dulu lah. Biar bisa mewariskan ambisi muluk-muluk ke generasi setelahnya. Modaro!

Lalu setelah cukup lama mengalami disorientasi, akhirnya saya melakukan reorientasi yang ternyata cukup berhasil. Tapi sama sekali bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Bahwa pendidikan sejatinya memiliki misi laten mendisiplinkan. Lihat saja lowongan kerja, rata-rata semua jurusan diterima, tapi ada syarat IPK. Tidak peduli ilmunya apa; bagaimana cara menilai pencapaian ilmu dari peserta didik, kalau kamu dapat nilai baik, kamu bisa diatur. Sudah, itu saja, tidak lebih.

Ada beberapa yang menyertakan syarat atau sekedar diutamakan lulusan jurusan tertentu, tapi hanya untuk keahlian terapan. Toh ketika masuk ke perusahaan akan dilatih sesuai kebutuhan perusahaan. Apa yang dipelajari di bangku kuliah menguap bersama kepul asap pabrik, larut bersama limbah yang meracuni sungai tempat dulu kita bermain.

Mau jadi akademisi? Coba cermati perilaku dosen-dosenmu itu yang suka meninggalkan kelas demi menjalankan proyek yang dibiayai korporat untuk memuluskan jalan menjalankan perbudakan. Terus kalian girang gegara dikasih cipratan proyek ratusan juta. Itu saja masih ada yang tidak tahu diri menjadikannya tugas kuliah biar dapat tenaga transkrip gratis atau jadi skripsi mahasiswa terus hasil penelitiannya jadi bahan buat proyekan. Na’udzubillah.

Untung saya mahasiswa tua yang semacam aib, tidak pernah terlibat dalam proyekan begitu. Bukan karena idealis, saya juga mau kalau bisa beli hape baru atau minimal bisa mentraktir gebetan nonton ke bioskop tanpa khawatir besok makan apa. Lulus saja sudah syukur, setidaknya proses akreditasi tidak tertunda, uang gedung pun deras mengalir. Kan kzl gegara cecunguk satu jadi gagal dapat kantor luas dengan perabotan mahal. Bodo amat lah pakai acara gusur-gusur pedagang kaki lima, lagi pula bikin sepet mata.

Biarlah, setidaknya banyak pengalaman berharga yang tidak akan bisa dirasakan bagi mahasiswa yang lulus cepat. Misalnya, pergantian rektor sampai tiga kali; menyaksikan pedagang bonbin yang waktu awal kuliah masih hamil sekarang anak yang dikandung sudah lari-lari; pembangunan menara Maskam yang lebih mirip rudalnya Kim Jong Un dari pada bergaya Persia; kebijakan transportasi dari KIK, karcis berbayar, smartcard yang mbuh menguap ke mana, sampai pakai karcis pink/KTM (saya selalu memilih karcis takut SKKK nahan ketawa pas lihat nomor induk KTM); portal yang dipindah-pindah; timbulnya kesadaran panitia Etnika Fest dan Pesta Rakyat buat mengundang Didi Kempot (betapa Suket Teki dan Pantai Klayar penting bagi kemajuan nusa dan bangsa); Wi-fi yang awalnya bebas sekarang pakai kuota (semoga habis ini enggak pakai voucher).

Tapi saya tidak ingin ikut menanggung dosa bagi mereka yang berlama-lama kuliah. Kalau bisa saya mohonkan laknat dan kutukan bagi mereka, tapi tidak bisa karena artinya saya ikut terlaknat dan terkutuk. Ambil apa yang bisa diambil, cepat pergi. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di kampus. Cuma bakal jadi beban negara dan orang tua. Kalau sudah terlanjur merasa pengorbanan yang dilakukan tidak sepadan, dan gagal pula mencari dalih, akhirnya beban psikologis dapat begitu mematikan, bahkan dalam arti yang sebenarnya. Atau lebih buruk lagi, berhasil mencari dalih dan menjalani sisa kehidupan dengan kebohongan-kebohongan yang diam-diam lebih mematikan lagi.

Reorientasi saya lakukan setelah menyadari betapa dinjak-injaknya harga diri para sarjana. Dan saya memilih untuk mengikuti arus pendisiplinan ini, yang mana ikut menyumbang semakin terinjak-injaknya sarjana. Biar, ambil saja semua. Saya tidak ambil bagian dari aktifisme model macam apa pun. Visi saya hanyalah membahagiakan orang tua; membuat mereka merasa berhasil mendidik anak dan merasa harga yang harus dibayar untuk meraih predikat sarjana terbayar tuntas dengan lulus. Tentu dengan tidak lupa membahagiakan diri sendiri.

Tentang Bendera Baru FPI Itu

Maksud hati ingin tampil nasionalis sekaligus islami, FPI bikin bendera baru dalam aksi 212. Tanpa disangka, Habib Rizieq terancam hukuman satu tahun penjara karena dianggap melecehkan bendera yang konon taghut itu, selain juga sedang menjalani proses hukum untuk lima tuduhan lain. Menurut saya, selain melecehkan bendera Merah Putih, mereka juga melecehkan bendera (sebut saja) Tauhid, karena menurut Abu Hurairah dan banyak riwayat lain, bendera yang dipakai Rasulullah hanya riwa’ (latar putih) dan raayah (latar hitam). Saya justru heran, kenapa HTI diam saja melihat bendera yang disakralkannya itu dimodifikasi sedemikian rupa. Bahkan, Ismail Yusanto, jubir HTI, menyatakam dukungannya terhadap Habib Rizieq.

Ini sekaligus menjawab tuduhan serampangan Goenawan Mohamad yang katanya mirip bendera Al-Qaeda. Bendera dengan kaligrafi syahadat digunakan oleh berbagai kelompok yang mengatasnamakan islam, terutama yang telah, sedang, atau bermaksud menerapkan syariat. Misalnya, NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dengan tipografi dan tata letak yang berbeda. Bendera Tauhid versi HTI merupakan versi yang paling populer, khat ul-yad, yang digunakan oleh Kerajaan Ottoman di abad ke-18.

Berbeda dengan tipografi yang digunakan di bendera ISIS yang merujuk ke tipografi paling kuno dalam sejarah masyarakat muslim, karena mirip dengan tipografi yang digunakan dalam surat yang ditulis Muhammad ke Al-Muqawqis, pemimpin Mesir pra-Islam. Lingkaran di bagian bawah merupakan cap yang digunakan oleh Rasulullah untuk menyurati berbagai pemimpin negara waktu itu, sedangkan kalimat di atasnya hanya mengikuti tipografi pada cap.

AQMI Flag asymmetric.svg
By YoOwn work, Public Domain, Link

Muhammad letter maqoqas egypt.jpg
Public Domain, Link

Hal lain yang patut disoroti dalam bendera baru FPI adalah penggunaan dua pedang yang saling-silang di bawah kalimat tauhid. Ia memadukan tipografi khat ul-yad dan simbol militer Arab Saudi yang digunakan sejak 1932, biar terlihat garang barangkali. Sampai sekarang simbol itu digunakan untuk emblem yang dipadukan dengan citra pohon kurma.

Saudi Arabia

Simbolisme kerajaan Saudi memang kental dalam berbagai atribut yang digunakan FPI dalam setiap aksinya, jubah dan surban putih dengan perpaduan warna hijau. Belakangan semenjak kasus Ahok mengemuka, mereka mulai mencitrakan diri nasionalis sambil tetap menggembar-gemborkan menegakkan syariat dengan membuat jargon NKRI Bersyariah. Sebelumnya, banyak terlihat jenderal-jenderal hadir di setiap pengajian yang diadakan oleh mereka dan para simpatisannya.

Padahal, sebelumnya, mereka hanya menggembar-gemborkan penerapan syariat. Bahkan, dalam Habib Rizieq dalam tesisnya menuntut diberlakukannya kembali Piagam Jakarta. Tidak heran jika ia banyak membuat lelucon soal Pancasila. Maka, saya merevisi kategori FPI sebagai Islam Bathok, melainkan Islam Es Kelapa Muda, yang gula sama airnya dibanyakin. Kadang pakai gula jawa, kadang pakai gula pasir, atau bisa juga pakai sirup Marjan.

 

Dalam Nama Kuda

“Kuda balap itu ya jangan ndokar,” sergah Joko Pekik suatu kali. Ia bercerita, saat keluar dari penjara, ia kehilangan sumber penghidupan. Ia memilih menjadi penjahit ketimbang melukis memenuhi pesanan elit-elit budayawan di masa Orde Baru. “Saya bisa saja bikin satu lukisan tiap hari dan pasti laku,” terangnya dengan terkekeh-kekeh agak menyombongkan diri. Tapi itu tidak ia lakukan, karena dengan begitu ia sebagai kuda balap menyerah dan menggadaikan hasrat seninya menjadi kuda dokar, melayani hasrat penguasa, kesana-kemari, diperintah kusir.

Di era Reformasi yang entah kapan selesai me-reform ini, aku pun bertanya pada diriku sendiri, sanggupkah menahan godaan untuk tidak ikut-ikutan mengirim tulisan atau CV ke berbagai situs web yang kini sedang menjamur di mana-mana? Untuk ndokar saja belum tentu ada kusir yang mempekerjakan, ini sok-sokan mau jadi kuda balap. Barangkali banyak orang berpikir untuk menjadi kuda balap harus meniti karir ndokar dulu. Ah, bagi saya tidak. Kuda dokar akan tetap selamanya ndokar. Sambil terus dibuai dengan angan-angan menjadi kuda balap, oleh kusir dikasih makan, dipecuti kalau tidak nurut, terus begitu sampai akhir hayat menghidupi angan-angan.

Mereka mengandaikan gelar sastrawan didapat dengan meniti satu demi satu jenjang, seperti hirarki dalam korporasi. Bedanya, saat jenjang demi jenjang ditapaki, tidak ada hadiah jangka pendek seperti gaji. Adanya jangka panjang, dengan begitu murni berjudi, mempertaruhkan segalanya.

Elit-elit budayawan yang sudah berada pada hirarki cukup tinggi perlu mempromosikan anak-anak muda untuk menjadi tumbal, agar mereka tetap muda dan eksis di jagad mucikari sastra. Mereka bikin forum, sayembara, media, dll. Jadi, panitia lomba atau perusahaan media itulah yang sebenarnya membutuhkan anak-anak muda yang telah terbuai mimpi sambil sesekali menampilkan diri. Harus hati-hati dan halus, jangan sampai mencolok. Biar tercitra sebagai bapak bijak nan rendah hati. Seakan-akan merekalah yang paling berhak menentukan mana sastra mana bukan! Mana karya, mana sampah! Mana tulisan, mana berak! Mana puisi, mana kentut!

Aku pun tidak yakin bisa menahan godaan untuk tidak melacurkan diri. Janji-janji manis yang diucap begitu menggiurkan. Mereka yang punya modal membikin situs web mewah, mempekerjakan orang-orang ternama, mengibuli mesin pencari agar terus nongol paling atas di depan layar kita, dll. Sedang jika aku berusaha menampilkan diri tanpa ada orang yang dianggap layak menilai dan memilah, aku tidak akan dilirik. Syukur-syukur tidak diludahi sambil dicibir.

Di tengah keraguan menahan godaan ndokar, saya malah teringat penggalan puisi Chairil Anwar, “Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,/Jangan tambatkan pada siang dan malam”. Jika Joko Pekik baru sebatas kuda balap, Chairil lebih gila, dialah sang kuda liar yang luka dan bisa pun dibawanya berlari. Betapa tak tahu diri saya ini, berhasrat menjadi kuda liar. Akan tetapi, sepertinya justru itu yang paling mungkin. Sebab, kuda liar tidak perlu belajar membalap. Lagipula, kuda balap tetap saja ditunggangi, nurut sama pembalapnya. Emoh! Bodoh amat!

Kuda liar adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Keliaran dihembuskan dalam raga bahkan sebelum sang kuda lahir ke dunia. Ia mengalir di dalam urat nadi, merasuk ke jejaring syaraf, memanggil-manggil kesadaran dengan kesunyian. Sekalipun akan terlihat lebih hina dari kuda dalam kendali sang kusir. Sekalipun diikat keempat kakinya; dijegal seperti sapi yang akan digorok lehernya, kuda liar tetaplah kuda liar. Ia tidak berubah barang sehelai bulu pun.

Menuju 212

Saya tidak bersama Rizieq, tidak juga bersama Ahok. Saya bersama akal sehat saya sendiri, yang setiap hari dianiaya takhayul-takhayul yang berseliweran di layar gawai saya. Tulisan ini tidak untuk membentuk kebencian baru atas kebencian-kebencian sebelumnya. Hanya sekedar tegur sapa atas saudara-saudara muslim saya (beberapa di antaranya saya kenal baik) yang sedang memperjuangkan apa yang menurut mereka benar. Terus-teruskanlah. Akan tetapi, tanpa bermaksud memutus hubungan pertemanan, saya tidak ikut.

Tahu kenapa? Lihat saja bagaimana Rizieq, aktor yang katanya bermain dalam wilayah Nahi Munkar ini bereaksi di setiap ada isu-isu yang berkembang. Salah satu yang menurut saya menggelikan adalah saat ia mencaci-maki qari’ yang menggunakan langgam jawa. “Langgam dalang, langgam pewayangan. Kurang ajar! Dia perolok Al-Quran! Dia hina Al-Quran! Kurang ajar!… Eh, saudara, kalau hari ini Al-Quran dibacakan dengan langgam pewayangan, langgam dalang, langgam lagu-lagu jawa kuno, maka besok Al-Quran akan dilagukan dengan langgam jaipongan,” bentaknya.

Dari sini saja terlihat bagaimana kapasitasnya soal bela-membela ini. Bukan soal kekerasan atau kelembutan. Kalau memang zaman sudah benar-benar edan, tidak boleh ragu mengangkat pedang. Tapi bukan seperti yang didengungkan Rizieq. Ia jelas dalam menampilkan kegarangan; marah-marah di mana-mana, diam-diam sedang mengglorifikasi Salafi-Wahabi dengan menyingkirkan akar tradisi masyarakat muslim nusantara; mengglorifikasi Islam-Arab a la Saudi dan mengerdilkan islam jawa, sunda, melayu, dll.

Gerakannya kali ini memang mendapat banyak simpati, tidak seperti aksi-aksi sebelumnya. Seketika dibentuklah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Buat saya ini berlebihan. Hanya untuk memenjarakan satu orang, mereka menggerakkan jutaan orang, klaim mereka, sampai 2,3 juta. Berarti sebanyak itu pula nasi bungkus dan ongkos akomodasi yang dikeluarkan, oleh peserta aksi sendiri, atau pun sumbangan “hamba-Allah”. Dari sekian banyak ketidakadilan yang tampil dalam panggung demokrasi, ini yang mereka pilih untuk diperjuangkan.

Hal yang lebih mengherankan, tiba-tiba muncul jenderaljenderal  yang bersimpati, datang ke pengajian-pengajian, memunculkan citra baik. Belum jelas kepentingan macam apa yang ingin mereka amankan, tapi kita perlu curiga. Sebab, kalangan Islam Bathok ini, sebut saja begitu, hasil dari politik akomodasi Orde Baru menjelang kejatuhannya, walaupun gagal. Banyak orang justru menganggap politik akomodasi ini secara positif, sehingga kejatuhan Soeharto adalah sesuatu yang patut disesali. Pun hasil dari depolitisasi Orde Baru di awal kekuasaannya, yang membuat banyak kader gerakan muslim kini kehilangan arah karena terputus dari semangat para pendahulu mereka.

Akan tetapi, pelanggengan Ahok juga bukan sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan kalau bisa dihindari. Saya tidak ingin mencuci tangan saya dengan air mata ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal tanpa ada kejelasan nasib di tengah belantara kota Jakarta yang penuh sesak. Bagaimana dengan dua calon lainnya, yang sudah sejak lama diproyeksikan para Islam Bathok ini? Sejujurnya, saya pesimis. Industrialisasi sudah sedemikian mencengkeram kuat perpolitikan ibukota.

Biar, biar Ahok dipenjara, Buni Yani juga dipenjara. Biar salah satu kandidat yang katanya muslim itu menang. Kita lihat apakah kemaksiatan semakin berkurang. Pertumbuhan ekonomi dan kemaksiatan itu saudara kembar, susah dipisahkan. Jika Ahok gagal dipenjara pun, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi orientasi utama.

Satu-satunya perjuangan paling berat saat ini adalah menjaga kewarasan di tengah zaman yang serba edan ini. Semua orang juga tahu, angka 212 merujuk pada pendekar legendaris, Wiro Sableng, muridnya Sinto Gendheng. Biar, biar mereka merayakan kegilaan mereka sendiri. Sing waras ngalah.

Surat Pengakuan Menjelang 4/11

Saudara-saudaraku seiman, dengan ini saya memohon untuk saya saja yang didemo atau dipenjarakan jika memang hukum Islam menghendaki seperti itu. Saat berita Ahok dan Surat Al-Maidah ayat 51 saya sama sekali tidak tertarik baca karena saya tidak tahu ayat itu bicara soal apa. Bahkan seorang Ahok pun belajar Al-Quran sampai sedetail itu, sedang saya tidak. Namanya saja orang belajar, salah-salah sedikit tidak apa-apa. Ahok itu kan baru kemarin sore baca Al-Quran.

Sedang saya sejak dari dalam kandungan sudah dicekoki ayat dan hadits. Dosa orang yang melakukan sesuatu karena lalai itu lebih besar dari pada sekedar tidak tahu. Karena saya tidak bisa bicara tentang ayat atau hadits, ijinkan saya mengutip perkataan seorang penyair Rusia berikut ini karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Ada satu tindakan kriminal yang lebih buruk daripada membakar buku: tidak membacanya.” (Joseph Brodsky)

Ijinkan saya pula menganalogikan Al-Quran itu juga semacam buku yang mana tindakan paling keji yang menistakannya adalah tidak membacanya. Jangankan hanya menyalahartikan, membakarnya saja masih bisa diampuni. Saya gagap tiap kali imam di masjid-masjid melantunkan ayat suci. Saya tidak langsung mengerti bacaan-bacaan sholat yang bahkan saya gumamkan sendiri. Tidak, tidak, saya membuang jauh-jauh pemikiran mengalihbahasakan bacaan sholat agar bisa khusyu. Justru itu akan mereduksi makna bacaan sholat. Toh pengalihbahasaan tidak akan pernah memuaskan.

Bahkan, bukannya beranjak mengambil air wudhu saat adzan terdengar, malah membayangkan, bagaimana ya, kalau adzan dibikin nge-blues? Seandainya Islam turun di Amerika, pasti seru, adzan-nya nge-blues. Betapa nistanya pikiran saya itu. Njuk ngopo kalau adzan-nya nge-blues? Yang main werewolf tetap main werewolf.

Kenapa Al-Quran tidak diturunkan dalam bahasa Jawa saja, Bahasa Ibu saya. Atau, biar adil, diturunkan banyak Muhammad, tiap suku satu Muhammad. Jadi bentuk masing-masing Al-Quran sudah disesuaikan dengan kondisi sosio-kultur masyarakat yang menghidupinya. Begitu kan enak, tidak menyulitkan hamba yang ingin menyembah dengan sungguh-sungguh ini. Biar kita tidak menciptakan tuhan-tuhan kita sendiri.

Betapa enaknya orang Arab, nabi-nabi diturunkan di sana semua. Kami bangsa Timur Jauh tidak kebagian apa-apa. Kami hanya kebagian klenik-klenik menyesatkan, mistik-mistik omong kosong, cerita soal dewa-dewa yang miskin tafsir. Barangkali memang Surga itu diciptakan hanya untuk orang Arab. Kalau orang di luar Arab kebagian sedikit, sudah untung. Maka dengan ini saya mengharap pemenjaraan saya sebagai upaya penghapusan dosa biar kebagian Surga Orang Arab yang sisa.