Tentang Bendera Baru FPI Itu

Maksud hati ingin tampil nasionalis sekaligus islami, FPI bikin bendera baru dalam aksi 212. Tanpa disangka, Habib Rizieq terancam hukuman satu tahun penjara karena dianggap melecehkan bendera yang konon taghut itu, selain juga sedang menjalani proses hukum untuk lima tuduhan lain. Menurut saya, selain melecehkan bendera Merah Putih, mereka juga melecehkan bendera (sebut saja) Tauhid, karena menurut Abu Hurairah dan banyak riwayat lain, bendera yang dipakai Rasulullah hanya riwa’ (latar putih) dan raayah (latar hitam). Saya justru heran, kenapa HTI diam saja melihat bendera yang disakralkannya itu dimodifikasi sedemikian rupa. Bahkan, Ismail Yusanto, jubir HTI, menyatakam dukungannya terhadap Habib Rizieq.

Ini sekaligus menjawab tuduhan serampangan Goenawan Mohamad yang katanya mirip bendera Al-Qaeda. Bendera dengan kaligrafi syahadat digunakan oleh berbagai kelompok yang mengatasnamakan islam, terutama yang telah, sedang, atau bermaksud menerapkan syariat. Misalnya, NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dengan tipografi dan tata letak yang berbeda. Bendera Tauhid versi HTI merupakan versi yang paling populer, khat ul-yad, yang digunakan oleh Kerajaan Ottoman di abad ke-18.

Berbeda dengan tipografi yang digunakan di bendera ISIS yang merujuk ke tipografi paling kuno dalam sejarah masyarakat muslim, karena mirip dengan tipografi yang digunakan dalam surat yang ditulis Muhammad ke Al-Muqawqis, pemimpin Mesir pra-Islam. Lingkaran di bagian bawah merupakan cap yang digunakan oleh Rasulullah untuk menyurati berbagai pemimpin negara waktu itu, sedangkan kalimat di atasnya hanya mengikuti tipografi pada cap.

AQMI Flag asymmetric.svg
By YoOwn work, Public Domain, Link

Muhammad letter maqoqas egypt.jpg
Public Domain, Link

Hal lain yang patut disoroti dalam bendera baru FPI adalah penggunaan dua pedang yang saling-silang di bawah kalimat tauhid. Ia memadukan tipografi khat ul-yad dan simbol militer Arab Saudi yang digunakan sejak 1932, biar terlihat garang barangkali. Sampai sekarang simbol itu digunakan untuk emblem yang dipadukan dengan citra pohon kurma.

Saudi Arabia

Simbolisme kerajaan Saudi memang kental dalam berbagai atribut yang digunakan FPI dalam setiap aksinya, jubah dan surban putih dengan perpaduan warna hijau. Belakangan semenjak kasus Ahok mengemuka, mereka mulai mencitrakan diri nasionalis sambil tetap menggembar-gemborkan menegakkan syariat dengan membuat jargon NKRI Bersyariah. Sebelumnya, banyak terlihat jenderal-jenderal hadir di setiap pengajian yang diadakan oleh mereka dan para simpatisannya.

Padahal, sebelumnya, mereka hanya menggembar-gemborkan penerapan syariat. Bahkan, dalam Habib Rizieq dalam tesisnya menuntut diberlakukannya kembali Piagam Jakarta. Tidak heran jika ia banyak membuat lelucon soal Pancasila. Maka, saya merevisi kategori FPI sebagai Islam Bathok, melainkan Islam Es Kelapa Muda, yang gula sama airnya dibanyakin. Kadang pakai gula jawa, kadang pakai gula pasir, atau bisa juga pakai sirup Marjan.

 

Advertisements

Dalam Nama Kuda

“Kuda balap itu ya jangan ndokar,” sergah Joko Pekik suatu kali. Ia bercerita, saat keluar dari penjara, ia kehilangan sumber penghidupan. Ia memilih menjadi penjahit ketimbang melukis memenuhi pesanan elit-elit budayawan di masa Orde Baru. “Saya bisa saja bikin satu lukisan tiap hari dan pasti laku,” terangnya dengan terkekeh-kekeh agak menyombongkan diri. Tapi itu tidak ia lakukan, karena dengan begitu ia sebagai kuda balap menyerah dan menggadaikan hasrat seninya menjadi kuda dokar, melayani hasrat penguasa, kesana-kemari, diperintah kusir.

Di era Reformasi yang entah kapan selesai me-reform ini, aku pun bertanya pada diriku sendiri, sanggupkah menahan godaan untuk tidak ikut-ikutan mengirim tulisan atau CV ke berbagai situs web yang kini sedang menjamur di mana-mana? Untuk ndokar saja belum tentu ada kusir yang mempekerjakan, ini sok-sokan mau jadi kuda balap. Barangkali banyak orang berpikir untuk menjadi kuda balap harus meniti karir ndokar dulu. Ah, bagi saya tidak. Kuda dokar akan tetap selamanya ndokar. Sambil terus dibuai dengan angan-angan menjadi kuda balap, oleh kusir dikasih makan, dipecuti kalau tidak nurut, terus begitu sampai akhir hayat menghidupi angan-angan.

Mereka mengandaikan gelar sastrawan didapat dengan meniti satu demi satu jenjang, seperti hirarki dalam korporasi. Bedanya, saat jenjang demi jenjang ditapaki, tidak ada hadiah jangka pendek seperti gaji. Adanya jangka panjang, dengan begitu murni berjudi, mempertaruhkan segalanya.

Elit-elit budayawan yang sudah berada pada hirarki cukup tinggi perlu mempromosikan anak-anak muda untuk menjadi tumbal, agar mereka tetap muda dan eksis di jagad mucikari sastra. Mereka bikin forum, sayembara, media, dll. Jadi, panitia lomba atau perusahaan media itulah yang sebenarnya membutuhkan anak-anak muda yang telah terbuai mimpi sambil sesekali menampilkan diri. Harus hati-hati dan halus, jangan sampai mencolok. Biar tercitra sebagai bapak bijak nan rendah hati. Seakan-akan merekalah yang paling berhak menentukan mana sastra mana bukan! Mana karya, mana sampah! Mana tulisan, mana berak! Mana puisi, mana kentut!

Aku pun tidak yakin bisa menahan godaan untuk tidak melacurkan diri. Janji-janji manis yang diucap begitu menggiurkan. Mereka yang punya modal membikin situs web mewah, mempekerjakan orang-orang ternama, mengibuli mesin pencari agar terus nongol paling atas di depan layar kita, dll. Sedang jika aku berusaha menampilkan diri tanpa ada orang yang dianggap layak menilai dan memilah, aku tidak akan dilirik. Syukur-syukur tidak diludahi sambil dicibir.

Di tengah keraguan menahan godaan ndokar, saya malah teringat penggalan puisi Chairil Anwar, “Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,/Jangan tambatkan pada siang dan malam”. Jika Joko Pekik baru sebatas kuda balap, Chairil lebih gila, dialah sang kuda liar yang luka dan bisa pun dibawanya berlari. Betapa tak tahu diri saya ini, berhasrat menjadi kuda liar. Akan tetapi, sepertinya justru itu yang paling mungkin. Sebab, kuda liar tidak perlu belajar membalap. Lagipula, kuda balap tetap saja ditunggangi, nurut sama pembalapnya. Emoh! Bodoh amat!

Kuda liar adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Keliaran dihembuskan dalam raga bahkan sebelum sang kuda lahir ke dunia. Ia mengalir di dalam urat nadi, merasuk ke jejaring syaraf, memanggil-manggil kesadaran dengan kesunyian. Sekalipun akan terlihat lebih hina dari kuda dalam kendali sang kusir. Sekalipun diikat keempat kakinya; dijegal seperti sapi yang akan digorok lehernya, kuda liar tetaplah kuda liar. Ia tidak berubah barang sehelai bulu pun.

Menuju 212

Saya tidak bersama Rizieq, tidak juga bersama Ahok. Saya bersama akal sehat saya sendiri, yang setiap hari dianiaya takhayul-takhayul yang berseliweran di layar gawai saya. Tulisan ini tidak untuk membentuk kebencian baru atas kebencian-kebencian sebelumnya. Hanya sekedar tegur sapa atas saudara-saudara muslim saya (beberapa di antaranya saya kenal baik) yang sedang memperjuangkan apa yang menurut mereka benar. Terus-teruskanlah. Akan tetapi, tanpa bermaksud memutus hubungan pertemanan, saya tidak ikut.

Tahu kenapa? Lihat saja bagaimana Rizieq, aktor yang katanya bermain dalam wilayah Nahi Munkar ini bereaksi di setiap ada isu-isu yang berkembang. Salah satu yang menurut saya menggelikan adalah saat ia mencaci-maki qari’ yang menggunakan langgam jawa. “Langgam dalang, langgam pewayangan. Kurang ajar! Dia perolok Al-Quran! Dia hina Al-Quran! Kurang ajar!… Eh, saudara, kalau hari ini Al-Quran dibacakan dengan langgam pewayangan, langgam dalang, langgam lagu-lagu jawa kuno, maka besok Al-Quran akan dilagukan dengan langgam jaipongan,” bentaknya.

Dari sini saja terlihat bagaimana kapasitasnya soal bela-membela ini. Bukan soal kekerasan atau kelembutan. Kalau memang zaman sudah benar-benar edan, tidak boleh ragu mengangkat pedang. Tapi bukan seperti yang didengungkan Rizieq. Ia jelas dalam menampilkan kegarangan; marah-marah di mana-mana, diam-diam sedang mengglorifikasi Salafi-Wahabi dengan menyingkirkan akar tradisi masyarakat muslim nusantara; mengglorifikasi Islam-Arab a la Saudi dan mengerdilkan islam jawa, sunda, melayu, dll.

Gerakannya kali ini memang mendapat banyak simpati, tidak seperti aksi-aksi sebelumnya. Seketika dibentuklah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Buat saya ini berlebihan. Hanya untuk memenjarakan satu orang, mereka menggerakkan jutaan orang, klaim mereka, sampai 2,3 juta. Berarti sebanyak itu pula nasi bungkus dan ongkos akomodasi yang dikeluarkan, oleh peserta aksi sendiri, atau pun sumbangan “hamba-Allah”. Dari sekian banyak ketidakadilan yang tampil dalam panggung demokrasi, ini yang mereka pilih untuk diperjuangkan.

Hal yang lebih mengherankan, tiba-tiba muncul jenderaljenderal  yang bersimpati, datang ke pengajian-pengajian, memunculkan citra baik. Belum jelas kepentingan macam apa yang ingin mereka amankan, tapi kita perlu curiga. Sebab, kalangan Islam Bathok ini, sebut saja begitu, hasil dari politik akomodasi Orde Baru menjelang kejatuhannya, walaupun gagal. Banyak orang justru menganggap politik akomodasi ini secara positif, sehingga kejatuhan Soeharto adalah sesuatu yang patut disesali. Pun hasil dari depolitisasi Orde Baru di awal kekuasaannya, yang membuat banyak kader gerakan muslim kini kehilangan arah karena terputus dari semangat para pendahulu mereka.

Akan tetapi, pelanggengan Ahok juga bukan sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan kalau bisa dihindari. Saya tidak ingin mencuci tangan saya dengan air mata ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal tanpa ada kejelasan nasib di tengah belantara kota Jakarta yang penuh sesak. Bagaimana dengan dua calon lainnya, yang sudah sejak lama diproyeksikan para Islam Bathok ini? Sejujurnya, saya pesimis. Industrialisasi sudah sedemikian mencengkeram kuat perpolitikan ibukota.

Biar, biar Ahok dipenjara, Buni Yani juga dipenjara. Biar salah satu kandidat yang katanya muslim itu menang. Kita lihat apakah kemaksiatan semakin berkurang. Pertumbuhan ekonomi dan kemaksiatan itu saudara kembar, susah dipisahkan. Jika Ahok gagal dipenjara pun, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi orientasi utama.

Satu-satunya perjuangan paling berat saat ini adalah menjaga kewarasan di tengah zaman yang serba edan ini. Semua orang juga tahu, angka 212 merujuk pada pendekar legendaris, Wiro Sableng, muridnya Sinto Gendheng. Biar, biar mereka merayakan kegilaan mereka sendiri. Sing waras ngalah.

Surat Pengakuan Menjelang 4/11

Saudara-saudaraku seiman, dengan ini saya memohon untuk saya saja yang didemo atau dipenjarakan jika memang hukum Islam menghendaki seperti itu. Saat berita Ahok dan Surat Al-Maidah ayat 51 saya sama sekali tidak tertarik baca karena saya tidak tahu ayat itu bicara soal apa. Bahkan seorang Ahok pun belajar Al-Quran sampai sedetail itu, sedang saya tidak. Namanya saja orang belajar, salah-salah sedikit tidak apa-apa. Ahok itu kan baru kemarin sore baca Al-Quran.

Sedang saya sejak dari dalam kandungan sudah dicekoki ayat dan hadits. Dosa orang yang melakukan sesuatu karena lalai itu lebih besar dari pada sekedar tidak tahu. Karena saya tidak bisa bicara tentang ayat atau hadits, ijinkan saya mengutip perkataan seorang penyair Rusia berikut ini karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Ada satu tindakan kriminal yang lebih buruk daripada membakar buku: tidak membacanya.” (Joseph Brodsky)

Ijinkan saya pula menganalogikan Al-Quran itu juga semacam buku yang mana tindakan paling keji yang menistakannya adalah tidak membacanya. Jangankan hanya menyalahartikan, membakarnya saja masih bisa diampuni. Saya gagap tiap kali imam di masjid-masjid melantunkan ayat suci. Saya tidak langsung mengerti bacaan-bacaan sholat yang bahkan saya gumamkan sendiri. Tidak, tidak, saya membuang jauh-jauh pemikiran mengalihbahasakan bacaan sholat agar bisa khusyu. Justru itu akan mereduksi makna bacaan sholat. Toh pengalihbahasaan tidak akan pernah memuaskan.

Bahkan, bukannya beranjak mengambil air wudhu saat adzan terdengar, malah membayangkan, bagaimana ya, kalau adzan dibikin nge-blues? Seandainya Islam turun di Amerika, pasti seru, adzan-nya nge-blues. Betapa nistanya pikiran saya itu. Njuk ngopo kalau adzan-nya nge-blues? Yang main werewolf tetap main werewolf.

Kenapa Al-Quran tidak diturunkan dalam bahasa Jawa saja, Bahasa Ibu saya. Atau, biar adil, diturunkan banyak Muhammad, tiap suku satu Muhammad. Jadi bentuk masing-masing Al-Quran sudah disesuaikan dengan kondisi sosio-kultur masyarakat yang menghidupinya. Begitu kan enak, tidak menyulitkan hamba yang ingin menyembah dengan sungguh-sungguh ini. Biar kita tidak menciptakan tuhan-tuhan kita sendiri.

Betapa enaknya orang Arab, nabi-nabi diturunkan di sana semua. Kami bangsa Timur Jauh tidak kebagian apa-apa. Kami hanya kebagian klenik-klenik menyesatkan, mistik-mistik omong kosong, cerita soal dewa-dewa yang miskin tafsir. Barangkali memang Surga itu diciptakan hanya untuk orang Arab. Kalau orang di luar Arab kebagian sedikit, sudah untung. Maka dengan ini saya mengharap pemenjaraan saya sebagai upaya penghapusan dosa biar kebagian Surga Orang Arab yang sisa.

Makan, Tidur, Nyastra

Di suatu sore yang entah sejak kapan mulai sendu, ada kiriman Majalah Mata Jendela Edisi ke-4/2016 yang ditujukan kepada Dewi Kharisma Michellia di ruang komputer B21. Dengan agak kurang ajar, aku buka bungkusnya. Toh, membaca buku bukan kejahatan. Ada satu tulisan yang membuat saya susah tidur sampai hari ini. Tulisan itu ditulis oleh dosen saya sendiri, Pak Aprinus. Sangat mengganggu, terutama kesimpulannya di bagian akhir yang kurang lebih begini: Di Jogja, nyastra lebih penting daripada sastra itu sendiri. “Maka nikmat bersastra mana yang kamu dustakan,” pungkasnya.

Aku pun mengamininya. Jika ia mengalami sesrawungan itu dengan akik dan keris, aku jauh beda. Pengalamanku agak saru, barangkali, karena kebanyakan yang aku alami forum informal. Menggosipkan sastrawan yang punya istri banyak lah, bedanya kenthu-nya Sitok Srengenge dengan bercinta-nya Rendra lah, bajing-membajingkan lah, yang melarikan anak orang lah, yang suka jajan prostitusi lah, yang gay lah, dll.

Lalu aku pun mengingat pertemuanku dengan Pak Danarto beberapa minggu lalu di Taman Budaya Jawa Tengah. Waktu itu kebetulan sedang ada Mimbar Teater Indonesia yang baru aku tahu sudah kelima kalinya diadakan. Acara itu bertajuk “Panggung Realisme Magis Cerpen-Cerpen Danarto”.

Aku hanya mengikuti sesi sarasehan yang diadakan di tengah pementasan monolog yang diadaptasi dari cerpen-cerpen Danarto. Narasumber yang dihadirkan selain Danarto sendiri ada Pak Faruk, dosen saya juga. Pak Faruk membikin tulisan alakadarnya tentang “kadar” realisme-magis Danarto. Setelah ia bicara panjang lebar soal sastra, ia mengaku dengan terus terang, sebenarnya agak memaksa Danarto dikategorikan sebagai realisme-magis. Kalau mau baca realisme-magis ya Triyanto Triwikromo itu, begitu katanya.

Ternyata nyastra di Solo tidak jauh beda. Tidak ada yang tertarik melanjutkan perbincangan tentang “realisme yang dihabisi” pasca-65 yang kemudian melahirkan Putu Wijaya, Iwan Simatupang, dan Sutardji; atau “Hirarki Sastra” antara Sastrawan Ibukota dan Sastrawan Pengembara. Mereka lebih banyak tertarik pada pengalaman-pengalaman sufistik yang dikisahkan Pak Danarto tentang “Anjing yang Tuhan dan Supir Taksi yang Tuhan”. Pak Faruk pun mengikuti arah pembicaraan dengan menceritakan pengalamannya yang berkebalikan, yang katanya selalu mencari alasan logis di setiap kejadian magis.

Pikirku, memangnya kenapa harus berpusing-pusing bicara sastra? Jadi tidak nikmat nanti. Kita ini berlabel penikmat sastra. Membacanya tidak usah serius-serius. Apalagi memperbincangkannya. Bukan, ini bukan satir. Aku sudah meninggalkan idealisme “apresiasi terbesar sastra adalah kritik” sejak lama. Aku pun mulai menikmati gaya hidup nyastra ini.

Hanya saja, sebagai calon sarjana sastra, aku merasa hina. Mau aku kemanakan teori-teori sastra dari Formalisme Rusia sampai Kajian Budaya itu? Di kelas kami diajarkan dengan tidak terlalu serius pula. Di luar kelas kritik sastra tidak laku. Jurnal ilmiah yang terbit alakadarnya sedikit saja yang baca.

Maka menurut saya biar tetap alakadarnya begitu. Kritik biar ada terus tapi tidak usah banyak-banyak, patut-patut, biar kelihatan intelektuil pembaca sastra kita. Biar yang pengin serius juga terakomodasi. Juga biar akademisi-akademisi kita cepat naik gelar. Serius, ini bukan satir.

Aku menghormati apa pun pandangan yang menyertai pembacaan sastra kita. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Hanya saja jika boleh memihak, aku lebih memilih menjadi penikmat saja, yang tidak mau terlalu serius bicara sastra. Kalau soal perasaan hina, lha wong pada dasarnya manusia itu dicipatakan dari air mani yang hina. Jadi sebenarnya aku sedang menuju asal-usulku.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Sulit dipercaya, aku sebagai orang desa yang kebetulan mendapat akses pendidikan yang lebih tinggi dibanding teman sebaya di desaku, kini terjebak di tempat KKN yang mana lebih ‘kota’ daripada desaku sendiri. Sidomulyo namanya, desa yang letaknya tidak jauh dari Pantai Parangtritis. Jika ditempuh dengan sepeda motor, sekira 15 menit sampai. Sesekali kami ke pantai untuk melepas penat.

Kelompok kami dibentuk paling akhir, tidak ada seminggu sebelum pelepasan. Tidak ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam keterasingan itu kami memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sekedar menambal-sulam payahnya birokrasi kampus. Di antara teman satu unit, aku adalah orang yang paling plonga-plongo, tidak tahu apa-apa. Untungnya aku terselamatkan karena teman-teman satu unitku banyak yang telah menguasai berbagai prosedur dan mekanisme yang mesti dilakukan. Bahkan mereka telah mengakumulasi cerita-cerita dari para pendahulu. Belakangan usut punya usut setidaknya sekira 80% merupakan buangan dari unit lain.

Konon kabarnya karena tidak mengunggah hasil tes kesehatan, mereka yang awalnya ikut tim pengusul yang kebanyakan luar jawa (K2) harus rela dilempar ke tim bentukan LPPM yang hampir pasti akan dapat wilayah K1 (Yogyakarta dan sekitarnya). Kalau aku dan beberapa gelintir orang yang memang sedari awal berkeputusan untuk memilih K1, tidak ada masalah. Tapi buat korban payahnya birokrasi ini, setidaknya butuh waktu untuk kemudian mengelus dada, menerima keadaan, dan berbaur dengan teman-teman barunya. Bayang-bayang akan tempat KKN yang jauh di tapal batas negara jauh dari hingar-bingar perkotaan sirna sudah. Yang tersisa kini kompleks perumahan yang telah beranjak mengikuti gulir roda modernisasi.

Entah apa yang ada di benak para birokrat kampus. Mereka memajukan tanggal dimulainya KKN. Menurut kalender akademik, harusnya KKN dilaksanakan 1 Juli-31 Agustus. Kini diubah menjadi 20 Juli-7 Agustus. Tanggal yang menabrak lebaran sama sekali tidak menguntungkan. Sebab, semua kegiatan masyarakat mengendur selama puasa, apalagi menjelang lebaran. Sudah begitu kita hanya diberi waktu setidaknya 1,5 bulan dengan beban program yang sama. Maka program pertama yang kita lakukan adalah glundang-glundung dan tura-turu, diselingi Uno, PES, dan Monopoli. Sisanya kalau sempat main-main dan merusuhi kegiatan ramadhan warga.

Lalu aku berpikir, aku sebagai mahasiswa yang telah kalah sekalah-kalahnya, tidak berdaya ikut arus modernisasi, lalu diminta melakukan pemberdayaan masyarakat. Aku curiga, jangan- jangan kita tidak sedang melakukan pemberdayaan. Kita sedang meminjam bentuk keberdayaan masyarakat dan mengklaimnya itu semua berkat ilmu mutakhir milik kita. Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, mereka melakukan resistensi, dengan tergopoh-gopoh dan sesekali tersungkur.


Hal pertama yang ku pikirkan saat mulai berangkat, buku apa yang harus ku bawa untuk menemani penat dan jumudnya melakoni rutinitas baru ini, dengan orang-orang asing yang baru ku kenal, sedang aku bisa nyaman di kamarku, dengan buku-bukuku, kopi tubrukku, komporku, dan komputerku. Ah, berat rasanya meninggalkan mereka. Saat menatapi mereka, aku berpikir, kenapa tidak membawa buku karangan Emha Ainun Najib, Indonesia Bagian dari Desa Saya (2013), barangkali aku bisa sedikit memaknai rutinitas baruku itu.

Alih-alih mendapat petuah dari budayawan saru ini, aku malah mendapati puisi Umbu Landu Paranggi, gurunya, yang akhir-akhir ini sering dibincangkannya di forum Maiyah. Setelah santer terdengar kabar dirawatnya ia di rumah sakit gegara penyakit konyol, suasana nostalgik tak terbendung. Bagaimana tidak, ia tidak makan selama beberapa hari dan akhirnya ditemukan terkapar lemas. Puisi yang paling dikenang oleh Emha, berjudul Apa Ada Angin di Jakarta, begini bunyinya:

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh di sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kora raya

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Saat aku membacakannya di depan kelas, siswa-siswa SMP N 2 Bambanglipuro melongo. Bukan, bukan melongo takjub seperti yang aku rasakan saat pertama kali mendengarnya. Melongo enggak mengerti.

“Ah, berat, Kak,” keluh mereka.

“Kok berat bagaimana? Ya sudah, anggap saja puisi ini bukan puisi. Sebut saja tulisan di papan tulis. Kok kayanya kalau disebut puisi bebannya terlalu berat sehingga terkesan susah dicerna. Padahal sederhana saja bahasanya.”

Mereka tetap bergeming.

Lalu aku membacakan interpretasi Emha atas puisi ini:

Apa ada angin di Jakarta? Angin, adalah napas hidup. Harapan, keceriaan masa depan, jaminan kebahagiaan. Bisakah Jakarta, sebagai lambang paling tajam sebuah kota urban di negeri ini, menawarkan itu semua? Seperti -yang menurut Umbu- bisa diberikan oleh Desa Melati?

Aku memang tidak berharap terlalu banyak pada mereka untuk bisa nyambung berbicara soal puisi. Maka aku hanya memperkenalkan duniaku, dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Pencapaian mereka dihargai dari deret-deret angka di rapor yang didapat dari pemahaman mereka akan ilmu pseudo-sains yang sama sekali tidak berguna untuk kehidupan mereka. Jangan salahkan jika mereka cepat penat dan mencari berbagai pelarian. Beberapa teman pengajar program guru banu yang lain mengeluh, karena mereka bandel dan susah diatur. Aku bisa memakluminya, sebab saat ada program semacam ini, mereka hanya berharap hiburan di tengah penatnya megikuti arus modernisasi. Dengan penuh keputusasaan!

Entah mereka mengerti atau tidak, aku menyampaikan, desa menyimpan banyak hal berharga. Kearifan, keguyuban, keberadaban, dll. Ironis memang di tengah kemutakhiran diukur dari kehidupan perkotaan, justru keberadaban hanya bisa didapatkan di desa, yang sayangnya kini mengkota, semakin tidak berdaya digilas arus modernisasi. Dan sekolah adalah lembaga yang paling bertanggungjawab atas perguliran ini, yang entah ke mana kita dibawa.


Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Neng, nong, neng, neng, nong, blagentak, Blarrr

“Nah, mbok begitu, gongnya mantap, enggak mejen,” kelakar salah seorang penikmat Wayang Congor, begitu mereka menyebutnya.

Pasalnya, dalang tidak membawa iringan musik apa pun kecuali hanya congornya sendiri. Gamelan akapella, begitu kira-kira. Wayang Congor kami pilih karena ongkos yang murah. Hanya berkisar satu jutaan, sudah dengan konsumsi, tenda, dll. Kalau wayang lengkap bisa mencapai 20 jutaan.

Mengikuti wayang semalam suntuk kembali mengingatkanku akan masa kecil yang masih mendapati satu-dua kali pertunjukan wayang. Walaupun tidak pernah nonton, cuma jalan-jalan di pasar di sepanjang jalan menuju gebyok, aku turut merasakan euforia, seakan tidak ingin ketinggalan setiap kali diadakan. Sekalipun aku tidak paham sama sekali lakon apa yang dipertunjukkan, aku cukup menikmati suasana hangat bersama warga, sambil ditemani secangkir teh hangat.

Sepertinya acara ini yang paling antusias diikuti, daripada program lain yang berbentuk penyuluhan. Konon desa ini sudah kerap dijadikan sasaran program KKN, sehingga mereka sudah kenyang dengan program-program semacam itu. Lagipula, penghayatan mereka akan pertanian jauh melebihi kami, yang jangankan berpikir untuk menjadi petani, memegang pacul saja canggung.

Suatu kali lampu-lampu dipenuhi serangga-serangga yang sedang berkerumun, termasuk di pondokan kami yang akhirnya membuat lantai kotor. Itu cukup mengganggu. Kami harus mematikan lampu untuk mengusir mereka.

Aku pun bertanya kepada salah seorang petani, “Kenapa ya, Pak, kok banyak serangga?”

“Ini lagi pada migrasi, Mas. Biasanya kalau sedang panen memang begitu. Sekarang ‘kan panennya tidak serempak, jadi saat yang satu panen, serangga berpindah ke sawah lain.”

Cerdik juga, pikirku. Di tengah harga beras yang sulit dikendalikan, petani membuat masa panen sendiri-sendiri dan sengaja tidak serempak. Sehingga ketersediaan beras bisa stabil, begitu juga dengan harganya.

Kehadiran mereka dalam setiap program penyuluhan sekedar menghargai kami yang telah mendatangkan narasumber dan pekewuh dengan Pak RT jika tidak datang. Semacam bentuk guyub selain siskamling. Barangkali menghadirkan wayang merupakan program yang paling bisa dirasakan manfaatnya ketimbang program penyuluhan. Setelah lelah seharian bekerja, dapat hiburan yang sedikit nostalgik, daripada sekedar menonton televisi atau mendengarkan radio yang itu-itu saja acaranya.


Aku bahagia, bahagia

Bahagia, bahagia

Ku angkat bebanku dan buang ke laut (byur, byur)

Buang ke laut (byur,byur), buang ke laut (byur, byur)

Aku berhasil, berhasil (yes)

Berhasil (yes), berhasil

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Anak-anak TK Sidomaju berhamburan. Ada yang dari panggung undak-undakan, ada yang dari luar. Mereka membawa bunga, berlari menghampiri orang tua mereka masing-masing. Ada yang terharu, ada yang tertawa, ada pula yang cuek saja. Lalu tiba-tiba ada salah seorang anak yang menangis.

“Kenapa, Sayang?”

“Ibu enggak ada,” jawabnya sambil tersedu-sedan.

“Sudah, bunganya buat Ibu Guru saja, ya. Enggak usah nangis.”

“Enggak mau, mau Ibu.”

Cukup lama menenangkan anak ini. Sampai harus mengerahkan hampir semua Bu Guru.

“Sudah, nanti bunganya dikasih pas sudah sampai rumah, ya.”

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

“Mas, main pianonya bagus,” puji salah seorang anggota Komite yang kebetulan hadir. Padahal ada beberapa nada yang fals. Mungkin karena gelora semangat anak-anak menyita perhatian peserta, keahlian bermain pianoku yang pas-pasan terselamatkan.

“Besok setiap pagi mengiringi anak-anak bernyanyi, ya,” pintanya.

Aku menyanggupinya dengan senang hati.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Barangkali banyak orang berpikiran saya yang mengajari mereka bisa sesuai dengan musik yang saya mainkan. Tapi justru tidak. Mereka yang mengajari saya. Justru saya yang harus menyesuaikan ritme mereka yang unik. Maka saya memilih untuk tidak menggunakan ketukan yang teratur. Dalam banyak hal, saya yang justru belajar, terutama soal semangat menggebu mereka, seakan tidak ada kata lelah dalam kamus mereka. Mereka pula yang mengingatkanku untuk tidak lupa caranya bahagia.

 

Serangkaian Pertanyaan untuk Para Pembaca Sastra

Sastra, makhluk apakah itu? Mengapa ia menjadi ladang pertaruhan banyak orang? Ideologi, kekuasaan, modal? Ia memiliki mekanisme untuk mengada yang tak pernah bisa terpikirkan bagaimana dan kenapa. Bisa juga dipandang sebagai mekanisme konsumen dan produsen, atau dinamika perpolitikan, atau sesuatu yang lain?

Mengacu pada objek material atau formal? Mana yang sastra dan bukan-sastra? Beberapa orang memandang sastra itu yang ditulis. Lalu kenapa ada sastra lisan? Bahkan saya berani bertaruh, pada dasarnya sastra itu lisan. Tidak ada originalitas maupun otentisitas di dalamnya. Ia sepenuhnya milik masyarakat. Originalitas dan otentisitas muncul beriringan dengan konsep pengarang (author), yang selalu mengiringi hadirnya karya dalam masyarakat. Ini juga kenapa sastra kemudian mendapat penanda baru, yang kemudian disebut dengan karya sastra. Roland Barthes dalam Kematian Sang Pengarang (1977) mengatakan:

Pengarang adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Prancis, dan keyakinan pribadi Reformasi, dimana ditemukannya kehormatan orang-perorangan (individu), atau istilah yang lebih elegan, ‘manusia pribadi’.

Tentu saja akan menjadi persoalan lain ketika predikat sastrawan yang disematkan, meskipun dalam beberapa hal mirip. Anehnya, istilah sastrawan (literarian?) tidak terlalu populer dalam wacana kritik sastra dunia. Mereka memilih author yang dapat disematkan pada pencipta karya dalam bentuk apa pun, fiksi maupun non-fiksi, yang merujuk pada pemegang otoritas (authority). Bahasa Indonesia menerjemahkan author menjadi pengarang, terjemahan yang sangat rendah hati, karena merujuk pada bentuk karangan atau sesuatu yang dikarang-karang. Tapi jangan salah sangka, ini bentuk terikat, artinya bukan dari kata dasar karang*.

Beberapa orang mempersempit defini sastra, yakni yang ditulis dan yang fiksi. Ini pandangan yang lebih baru lagi dibanding yang hanya mempersempitnya pada bentuk tulisan. Apa yang spesial dari sesuatu yang tidak pernah terjadi? Barangkali Sigmund Freud dalam Penulis Kreatif dan Melamun (1959) sedikit memberi jawaban.

Penulis kreatif melakukan hal yang sama dengan anak: ia bermain. Ia menciptakan dunia khayal yang ia tanggapi secara bersungguh-sungguh –ia menyalurkan banyak emosi ke dalamnya, sambil membedakannya secara tajam dari kenyataan. Bahasa telah melestarikan hubungan antara permainan anak-anak dan ciptaan puitis.

Tidak ada karya fiksi yang sepenuhnya fiktif atau pun sepenuhnya nyata. Selama ini kita menganggap sesuatu yang imajinatif karena ia belum pernah ada dalam benak kita sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Karya non-fiksi pun demikian, seakurat seperti apa pun akan ada sudut pandang dari jurnalis, misalnya, yang mana itu bisa juga dikatakan sebagai imajinasi, dari kata imaji (image). Oh, sebentar, ada yang salah dengan istilah yang saya gunakan, fiksi dan non-fiksi. Kenapa bukan fakta dan non-fakta?

Freud menggunakan istilah penulis kreatif (creative writers), sekali lagi bukan sastrawan. Kreatif (ajektiva); kreasi/ciptaan (nomina); pencipta/kreator. Barangkali fiksi dianggap gelanggang yang bebas sebebas-bebasnya bagi hasrat mencipta manusia untuk menciptakan apa pun sekehendaknya. Maka yang terjadi, terjadilah. Kemuliaan disematkan pada penulis fiksi yang kemudian oleh para penikmat Sastra Indonesia dikenal sastrawan. Akan tetapi, hati-hati dengan istilah ini, siapa pun tidak berhak mengklaim dirinya sastrawan jika tidak ingin dihina dan dicaci.

Industri membuat klasifikasinya sendiri pula. Damien Walter membuat definisi satir yang menyebut sastra (literature) adalah merek mewah buatan yang tidak dijual. Ia mendisposisikan sastra dengan genre yang dalam pertarungan keduanya dalam jagad industri perbukuan, semua kalah.

The market for high-end literature isn’t a healthy one. Intellectuals are reliably penniless, and fancy reading habits don’t make you cool any longer. The people who actually buy books, in thumpingly large numbers, are genre readers. And they buy them because they love them. Writing a werewolf novel because you think it will sell, then patronising people who love werewolf novels, isn’t a smart marketing strategy – but it’s amazing how many smart writers are doing just this.

Jika kalian bilang definisi yang hidup di masyarakat ini membingungkan, definisi di jurusan saya justru menggelikan. Dosen-dosen saya bilang, ada dua klasifikasi, sastra “serius” dan “populer”. Kalau mau bikin kajian sastra “populer” harus banyak, karena kalah pamor sama yang “serius”. Kok bukan sastra serius dan bercanda, misalnya, atau sastra tidak-terlalu-populer dengan sastra populer. Kenapa ada kecendurungan sastra yang “berat” dan susah dibaca kemudian tidak atau tidak terlalu populer? Kok harus bersusah payah? Apa yang dicari dari membaca Ullysses, misalnya, yang konon katanya sastra yang paling sulit dibaca?

Padahal teks mengada ketika dibaca. Jika ia gagal dibaca, maka ia gagal mengada. Persoalan berapa yang baca itu sudah persoalan modal, tapi paling tidak ada relasi yang dijalin antara karya dan pembaca. Maka pada titik ini sastra “populer” justru memiliki ketercapaian yang mengagumkan, karena dapat menjalin pembaca yang luas, terlepas dari proses penenggalam-munculan karya tersebut adil atau tidak.

Memangnya yang dianggap serius itu proses kurasinya, adil, begitu? Bayangkan, Sang Gate Keeper, yang dikenal dengan redaktur sastra dalam media massa, misalnya, menyeleksi ribuan naskah tiap harinya. Konon pertama yang dilihat judul, menarik atau tidak, lalu paragraf pertama. Judul tidak menarik, buang! Judul menarik paragraf pertama tidak menarik, buang! Bicara judul saja sudah problematis. Judul adalah unsur ekstrinsik, bagaimana suatu karya dihakimi dari sesuatu yang hanya melekat? bukan diri sebenarnya? Apalagi paragraf pertama. Seorang penulis membuat karya dalam satu kesatuan, ia ibarat makhluk, tidak bisa dihakimi dari ujung hidungnya saja.

Ini hanya satu contoh yang menunjukkan, betapa berjubelnya orang yang bertaruh di ladang ini. Belum lagi jika melihat forum, komunitas, event kepenulisan yang selalu ramai didatangi, bak orang-orang pesakitan menyedihkan yang mengharap kesembuhan dari dukun-dukun yang merapalkan mantra-mantra yang tidak pernah bisa manjur. Dukun-dukun ini semakin berjubel pula jumlahnya karena mendapat kesaktian dari acara-acara internesyenel di berbagai daerah yang juga semakin banyak. Atau jangan-jangan kita pun termasuk di dalamnya? Kegiatan pembacaan kita sebenarnya dalam rangka mencari mantra-mantra di antara selangkangan kata-kata dan huruf-huruf yang sengaja disembunyikan dukun-dukun tadi?

Sastra adalah yang begini dan begitu. Padahal yang begini dan begitu itu sudah dipakai, lalu kita harus mencari yang lain daripada yang begini begitu itu tadi untuk dunia yang cepat bosan dan selalu mencari kebaruan. Betapa kolotnya manusia-manusia modern ini, selalu mempertahankan ritual yang sama: mencari sesuatu yang baru.

Kembali ke persoalan sastra dan bukan-sastra yang mana saya curiga, ini bukan persoalan karya. Ini persoalan resepsi. Sepertihalnya para penjudi dalam arena ini, saya pun berjudi dengan melemparkan serangkaian pertanyaan ini di hadapan pembaca sekalian. Tentu saja perjudian yang saya lakukan bergantung pada seberapa besar pula khalayak pembaca yang saya raih. Karena hanya berstatus blog pribadi, apalagi yang punya juga bukan orang ternama, saya menduga tidak banyak. Ia tenggelam bersama teks-teks lain yang berkelebatan tiap sepersekian detik lalu menguap bersama angan dan bayang-bayang.