Dinding Ratapan

Media kini tidak bisa sepenuhnya memenuhi hak publik sebagai ruang dialektika. Hal ini disebabkan dominasi konglomerat yang terlalu kuat. Konten media pun hanya semacam pelipur lara. Cita-cita “Mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia” memang angan-angan utopis yang hanya hidup di retorika-retorika politisi yang ingin merayu masyarakat agar dipilih.

Barangkali rayuan mereka berhasil dalam beberapa hal. Namun, perlawanan akan selalu ada. Bentuk perlawanan itu, salah satunya, dituangkan dalam street art. Sekilas terkesan asal-asalan, mengganggu fasilitas publik, tidak tertib, dan mengganggu pemandangan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, beberapa bentuk street art bukan hanya sebatas luapan ekspresi, tapi juga sebagai ruang dialektika masyarakat kelas bawah. Mulai dari melakukan kritik terhadap sesamanya maupun penguasa, menanggapi isu yang sedang hangat dibicarakan, sampai merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya. Dinding-dinding pertokoan masyarakat urban menjadi semacam dinding yang meratapi ‘nasib’ masyarakat yang tidak terpenuhi haknya untuk berdialektika, menggagas agar kehidupannya lebih baik dalam segala aspek.

Salah satu ‘ratapan’ yang menarik adalah sosok perempuan tua bercaping yang mewakili petani dan sosok perempuan kecil disampingnya yang mewakili generasi muda sekarang. Mereka saling berjabat tangan, seperti mau berkenalan atau ingin mengerti dan memahami satu sama lain. Di sampinnya, ada semacam watermark bertuliskan DS 13.

 Image

Barangkali kutipan dalam akun facebook Digie Sigit yang mengunggah gambar ini bisa membantu kita membuat interpretasi atas gambar ini. “…berharap agar keterpotongan sejarah tidak lagi menjadi tabiat logika generasi yang hidup dan dihidupi oleh ketertindasan Petani, Terimakasih untukmu Petani.”

Selain itu, ada juga seni yang dituangkan dalam bentuk river art, seperti yang diadakan masyarakat di sekitar sungai Bendung Kahyangan, Pendoworejo,  Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Batu-batu yang berserak di sepanjang sungai dipenuhi lukisan-lukisan yang berwarna-warni. Mereka melakukannya sebagai bentuk protes atas penambangan batu yang dilakukan sebuah perusahaan.

 Image

Cara-cara semacam ini merupakan cara purba yang sampai sekarang masih digunakan. Lukisan di dinding gua terdapat hampir di semua berlahan dunia. Pada masa revolusi 45, di mana pada masa itu street art muncul dengan fungsi agitatifnya, berisikan seruan untuk memerdekaan diri dari penjajahan Belanda dan melawan imperialisme barat. Dengan esensi yang sama, format street art seperti ini muncul hingga akhir pemerintahan Soekarno, dengan seniman-senimannya seperti Soedjojono, Soeromo dan yang lainnya. Pada masa ini, street art sebagai penyampai pernyataan atas sikap politik juga muncul di belahan Eropa, baik itu yang berisikan nilai-nilai kemanusiaan hingga propaganda rasial seperti yang dilakukan oleh Nazi. Setelah itu, muncul pula pada akhir tahun 70-an hingga awal 80-an di Amerika, saat dimulainya komersialisasi atas keberadaan ruang publik, di mana saat itu korporasi mulai masuk, merebut, menguasai dan menggunakan ruang pubik, hingga institusi pendidikan formal seperti sekolahan sebagai wilayah pasar. Pada akhir tahun 90-an, street art dalam format graffiti muncul dengan membawa nilai-nilai persatuan, penolakan terhadap korupsi yang dilakukan oleh Negara dan tuntutan untuk dilakukannya reformasi di Indonesia.

Banyak orang yang masih menggunakan cara-cara semacam ini dalam menyuarakan banyak hal. Salah satunya yang tergabung dalam Anti-Tank, yang baru-baru ini menghiasi jalanan dengan jargon-jargonnya, seperti “Menolak Lupa” disertai foto Munir di atasnya, “Dibunuh Karena Berita” disertai foto Udin, “Antara Ada dan Tiada” disertai foto Wapres Boediono, dan masih banyak lagi.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s