Bahasa di Era Global

Pada dasarnya, bahasa merupakan sebuah konsensus mengenai simbol-simbol yang digunakan untuk mengungkapkan suatu pemikiran. Namun, bahasa tidak sepenuhnya bisa mewakili pemikiran seseorang. Hal ini disebabkan wawasan pengetahuan dan latar belakang budaya setiap orang berbeda. Selain itu, pemikiran manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan simbol pula. Perkembangan itu pun berbeda-beda pula.

Jika dulu setiap bahasa memiliki garis pemisah yang jelas, kini bahasa-bahasa di dunia saling melebur. Di era banjir informasi seperti sekarang, setiap orang dari berbagai belahan dunia bisa berinteraksi dengan kecepatan sepersekian detik. Semakin sulit membedakan mana yang menyimpang, mana yang tidak.

Pengguna jaringan cyberspace, terutama media sosial, lebih memanfaatkan bahasa sebagai ajang ekspresi ketimbang sebagai sarana komunikasi. Maka dari itu, bahasa baku semakin lama semakin ditinggalkan. Tidak penting apa yang dibicarakan dimengerti oleh orang lain. Tidak penting kata-kata yang digunakan memenuhi etika ini dan itu. Jika hasratnya untuk berekspresi dan memunculkan eksistensi dirinya terpenuhi, itu sudah cukup.

Maka dari itu, saran-saran dari beberapa ahli bahasa yang menganjurkan bahasa baku dalam bercengkrama di media sosial perlu ditinjau kembali. Bahkan, pendefinisian ulang mengenai bahasa baku itu sendiri perlu dilakukan. Sebab, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghendaki perkembangan bahasa pula.

Walaupun demikian, bahasa baku tetap perlu untuk dirumuskan. Sebab, bagi sebagian orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk memudahkannya memperoleh dan berbagi informasi, baku dan tidak kata yang ia gunakan menjadi penting untuk dipertimbangkan. Hal ini perlu dilakukan demi mengindari kemungkinan salah paham antara penutur dan penerima tuturan. Dengan kata lain, pembakuan bahasa dilakukan dalam rangka memenuhi fungsi pragmatisnya, yaitu sarana berkomunikasi. Dengan demikian ilmu pengetahuan bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai permasalaan manusia bisa terselesaikan.

Orang-orang dari berbagai belahan dunia menanggapi suatu kejadian, semisal sebuah konflik, dengan bermacam-macam pandangan. Beberapa orang sekedar mengekspresikan kesedihan mereka terhadap bencana kemanusiaan yang terjadi dengan ungkapan-ungkapan sarkas, sinis, bahkan terkadang provokatif. Beberapa orang yang lain mencoba menelurkan ide dan gagasan mereka agar konflik yang terjadi bisa cepat terselesaikan. Masalahnya, bisa jadi dalam ekspresi kesedihan itu timbul gagasan-gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh para ahli. Bisa jadi pula gagasan yang dikemukakan tidak lebih sebatas ‘ekspresi’ untuk memenuhi kepentingan suatu pihak.

Maka dari itu, berkutat pada perumusan bahasa yang mencerminkan identitas bangsa menjadi sia-sia. Identitas seperti apa yang mau dipertahakan pun sudah tidak jelas. Budaya tetap akan berkembang dan tidak mungkin dibendung. Bahkan mungkin masa depan adalah masa di mana ras, suku, dan bangsa tidak banyak dipersoalkan. Sebab, kini semua pemikiran semakin mengarah ke sesuatu yang bersifat universal. Titik temu antara satu konsep dengan konsep lain mulai bertautan. Orang-orang dari berbagai belahan dunia mulai bersepakat akan beberapa hal, bahkan sampai pada hal yang bersifat spiritualistik yang dulunya disebut ‘kearifan lokal’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s