Dunia Melayu, Dunia Islam

DSC_0602

“Islamisasi bukan Arab-isasi” tegas Prof. Dr. Zainy Othman, dosen Ketua Program Studi Pascasarjana Centre for Advances Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Pernyataan ini ia sampaikan dalam seminar bertajuk “Islam di Wilayah Melayu Indonesia: Perspektif Historis” yang merupakan rangkaian acara Kepemimpinan Muslim Muda Indonesia-Malaysia yang diadakan mulai tanggal 3-8 November. Sesi kali ini diadakan di Gedung Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. Selain melibatkan CASIS, Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) dan Sekretariat Transformasi Serantau (STS) juga ikut mensukseskan acara ini.

Dr. Zainy melanjutkan, para da’i periode awal mengubah masyarakat yang diislamkannya tanpa mengesampingkan budaya setempat. Salah satu buktinya, bahasa Melayu dan Turki menjadi bahasa muslim terbesar setelah bahasa Arab.  Walaupun demikian, istilah-istilah bahasa arab tetap digunakan untuk membangun pemahaman mengenai konsep-konsep agama dalam islam. Namun, tidak serta merta istilah-istilah tersebut dimasukkan. “Seperti penggunaan istilah Dewata Mulia Raya dalam naskah-naskah kuno yang berusaha memasukkan paham monoteistik dalam islam,” terangnya. Selain itu, dari segi arsitektur, bangunan Masjid di Turki dan China berbeda dengan Masjid di Arab Saudi. “Masjid di Turki mirip gereja, sedangkan di China mirip kuil,” terang Dr. Zainy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s