Membaca Perpolitikan IM Menjelang Musyak JS 1435 H

Sebelum membaca, atau lebih tepatnya mengeja gerak langkah IM, terlebih dahulu akan saya paparkan kondisi politik kepengurusan sebelumnya. Tahun 1433 H mengalami dinamika yang cukup menarik. Dominasi IM di tubuh JS mengalami penurunan, terbukti dengan beberapa anggota pergerakan lain yang cukup mendapatkan ruang. Hal ini tidak lepas dari diadakannya Forum Mengeja Hujan (FMH) yang waktu itu mencoba mengkaji ranah epistemologis dengan mengkaji pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Selain itu, di kepengurusan yang sama pula, Kajian Lintas Pergerakan (KLP) juga diadakan setiap sehabis sholat Jum’at. Hal ini menandakan terbukanya kembali ruang-ruang dialektika untuk bertukar pikiran dan merumuskan gerakan bersama.

Tentunya agenda-agenda yang mempunyai semangat persatuan semacam ini merisaukan pihak IM yang merasa terancam dominasinya akan berkurang. Namun, mereka telah menyiapkan sistem yang kita kenal dengan nama BIDKA untuk meneguhkan kembali dominasi di tubuh JS secara khusus, dan Dakwah Kampus secara umum. Sebenarnya sistem ini sudah lama dirancang, namun baru 1433 H diberlakukan dan di 1434 H disempurnakan. IM Militan sudah ditempatkan di jabatan-jabatan strategis sehingga mempermudah pengaplikasian sistem ini.

Sebelum beranjak lebih jauh, kita perlu memahami perbedaan IM Militan dan IM non-Militan. IM Militan adalah agen-agen yang dilatih secara khusus militansi dan loyalitasnya dengan memberikan tempaan-tempaan bak organisasi paramiliter. Retorika-retorika para pendahulunya dan pembesar-pembesarnya menjadi dogma yang mereka anut. Selain itu, mereka sering diikutkan dalam agenda Partai Keadilan Sejahtera (PKS), afiliasi kelompok ini. Sedangkan IM non-Militan hanya menjadi simpatisan dalam aksi tertentu atau mobilisasi suara dalam agenda lembaga dakwah dan Pemilu. Selain itu, IM non-Militan juga disiapkan untuk menjadi ustadz-ustadz pengisi ceramah dalam agenda dakwah mereka. IM non-Militan kebanyakan tidak tahu-menahu mengenai agenda politik IM Militan. Beberapa IM non-Militan sebenarnya tahu, tapi mereka memilih bersikap apolitis. Biasanya, mereka yang acuh terhadap perpolitikan merupakan mantan IM Militan yang terbuka hatinya. IM Militan selalu menyembunyikan agenda politik mereka, atau kalau perlu berbohong untuk menutupinya. Pergerakan mereka cukup rapi, walaupun masih banyak celah di sana-sini.

IM Militan biasanya ditempatkan di Ketua Lembaga atau Koordinator Bidang Kaderisasi. Dua jabatan ini merupakan jabatan kunci untuk ‘memegang’ lembaga tersebut. Selebihnya, aktivis non-IM ditempatkan di ranah lain. Tidak sembarang aktivis non-IM ditempatkan di jajaran Pengurus Harian (PH). Hanya mereka yang mudah dikendalikan yang ditempatkan. Aktivis non-IM yang kritis akan disingkirkan secara sistematis. Cara menyingkirkannya cukup cerdas, yaitu membuat pembicaraan mengenai isu golongan menjadi sesuatu yang tabu. Ditambah dengan ‘pengakuan’ mereka akan rasa sakit hati telah ‘dituduh’ macam-macam. Seorang mantan IM Militan pernah bertanya mengenai hal ini kepada ustadznya, “Ustadz, bukankah kalau seperti ini tidak ada bedanya dengan syiah yang menjadikan takiyah (berbohong) sebagai akidahnya?” dan Ustadz yang ditanyai itu hanya terdiam dan tidak bisa menjawab.

Pergerakan ini tidak sepenuhnya berhasil. Terbukti beberapa Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) tidak berhasil didominasi, terutama LDF di kluster Soshum, seperti Jama’ah Mahasiswa Muslim Ekonomi (JMME) dan KMF (Keluarga Muslim Filsafat) yang sampai sekarang cenderung acuh dengan agenda Bidka. Jama’ah Muslim Fisipol (JMF) 1433 H sempat membangkang juga, namun kembali ditaklukkan saat 1434 H.

Secara umum, LDF sudah dipegang IM. Maka dari itu, saat dominasi IM di JS mulai rapuh, ikut campurnya LDF dalam urusan JS menguatkan kembali dominasi itu, sekalipun alasannya tidak logis. Bagaimana bisa, LDF dengan segudang permasalahan internal harus ikut mengatasi permasalahan internal JS? Padahal kader JS sendiri banyak yang tidak setuju mengenai hal ini.

Saya tidak bersikap anti-politik, karena sesungguhnya hal itu mustahil. Selain itu, saya hanya menolak berbagai bentuk dominasi yang mencederai visi JS yang bahkan sejak awal berdirinya memiliki semangat persatuan. Waktu itu, dua kelompok, HMI dan GMNI, yang sangat berseberangan, bisa dipersatukan dalam satu gerakan bersama. Jika memang dominasi IM ini juga merangkul berbagai golongan dan sanggup memimpin, tidak akan saya persoalkan. Masalahnya, IM selama ini tidak mampu memimpin pergerakan dakwah kampus. Sebaliknya, justru lembaga dakwah dijadikan alat politik untuk moblisasi suara. Apalagi menjelang 2014, pergerakan ini akan semakin terlihat mengarah untuk mendukung PKS, yang sebenarnya sudah cacat secara internal karena terlibat kasus korupsi yang melibatkan Presidennya, LHI. Waktu itu sempat dibela-bela, walaupun akhirnya masuk bui juga.

Dalam ranah dakwah kampus, kegagalan IM memimpin sudah terlihat dari lengsernya Ketua 1434 H empat bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Kader-kader JS, bahkan para PH sendiri yang memintanya turun. Kata ‘meminta turun’ di sini perlu ditegaskan, sebab banyak yang berkata ini kudeta. Sekarang silakan dipikir logis, jika kudeta, tidak perlu diadakan Sidang Istimewa. Selama ini yang menghidupi JS adalah kader-kader non-IM atau IM non-Militan. IM Militan sibuk dengan agenda politiknya. Jadi, sangat mudah jika ingin mengkudeta. Tapi, mereka memilih cara santun. Bahkan, tidak pernah mempersoalkan agenda politik. Permintaan untuk mengundurkan diri ini hanya didasarkan kinerja Ketua yang dipertanyakan, yang sebenarnya, lebih tepat jika dikatakan rasa kasihan kepada Ketua yang mengalami depresi berat karena permasalahan pelik yang sedang dihadapinya. Jika mau menuding tidak beradab atau apa, harusnya IM Militan yang lebih tidak beradab karena memaksa Ketua untuk terus menjabat, padahal ia sudah punya keinginan untuk mundur. Ditambah lagi Ketoprak Jumat Sore waktu itu yang semakin menambah pelik permasalahan.

Saya tidak ingin meneguhkan suatu pihak, atau menjatuhkan pihak lain. Buat saya, ini hanya suatu kemudharatan yang harus dicegah untuk terulang kembali. Saya secara pribadi terbuka untuk berdiskusi, bahkan berdebat sekalipun. Akhirnya, saya hanya bisa mengatakan, kalau kalian merasa berhasil menyingkirkan orang-orang yang berkesadaran, kalian salah.

Akankah JS kembali memprivatisasi beberapa sistem keorganisasiannya? Atau menyerah dengan agenda politik ini? Atau justru rela lembaga dakwah tertua ini dijadikan alat politik PKS menjelang 2014? Kita tunggu saja.

16 thoughts on “Membaca Perpolitikan IM Menjelang Musyak JS 1435 H

  1. anisah falihah says:

    hem menurutku enggak bisa dikatakan kalo anak2 im tsb masuk dlm js untuk menjaring suara pks pemilu mendatang. karna kenyataannya engga semua im tadi berpolitik kok..

    • Ahmad Syarifudin says:

      itu hanya salah satu agenda saja. Tapi, yg lebih penting sebenarnya keberlanjutan organisasi mereka yang memerlukan kader untuk meneruskan ‘perjuangan’.

  2. fahmiakmalhasani says:

    silahkan ditabayunkan lagi 🙂
    ketika mmg mereka berada di sana krna Allah, qt harus dkung… namun ktika mmg krna kpentingan suatu golongan, ya harus qt lawan…

  3. Ibnu Wahib says:

    Selalu menarik jika membahas tentang hegemoni IM di lembaga…
    Di manapun…
    Namun ttg tulisan ini, kok agaknya terlalu menggeneralisir ya ?…
    Maksudku, ttg niat IM yang hendak menguasai lembaga, yang terkesan dengan “cara apapun”, apakah memang sesederhana itu terpetakan ?
    Dengan hanya mengincar posisi strategis lantas disebut, IM tak mentolerir jika ada kader gerakan lain maju dalam kandidat…
    Kalau iya, mungkin bs dicantumkan buktinya…?
    Lalu sampai dengan penulis bisa mendikotomikan kader IM menjadi IM militan dan IM non militan, bagiku itu hanyalah sekedar persepsi saja…
    Bagiku itu lebih pada persoalan individu-individu yang penulis anggap sebagai kader IM…
    Di ranah lembaga, mereka yang ter”sibghoh” pemikiran IM, agaknya banyak memiliki perbedaan…
    Secara fikrah mungkin sama, namun dalam bagaimana kemampuan ia mengampu amanah atau tanggung jawab di lembaga publik, saya kira berbeda…
    Ini terkait profesionalitas kader-kader IM yang notabene ya manusia muslim biasa…
    Ada yang baik dalam hal manajemen diri, ada pula yang tidak…
    Jadi agaknya terlalu menggeneralisir ketika disebutkan agenda IM di kampus atau di JS – seperti yang sedang diulas – hanya untuk mengukuhkan kader kader IM pada posisi-posisi strategis dilembaga…
    atau hanya hendak menguasai lembaga-lembaga yang ada…
    Sorri ya, banyak komentar dari pengetahuanku yang terbatas ini… 🙂

    eh betul juga tuh kata commenter yg diatas, buat lebih mentabayunkan lagi untuk cari tahu… kalo yg ditabayunkan mereka-mereka yang sakit hati sama IM, atau pernah di IM tapi keluar, ya sangat subjektif sekali nanti berarti pemberitaannya… coba sowan ke ustadz2 yang afiliasinya ke IM … #justsuggest sih

    diskusi lebih lanjut sila kirim email aja ya.. ke ibnwahib@gmail.com 😉

    • Ahmad Syarifudin says:

      militan dan nonmilitan itu istilah yg saya pandang paling pas. yg dimaksud militan di sini, mereka menyebutnya dgn istilah tanzim atau pks kampus. ada juga petras (pejabat teras). sumbernya bukan orang yg sakit hati juga sih. Lebih tepatnya yang merasa gerakan semacam ini salah dan perlu dibenarkan. Saya kira jika sudah melibatkan IM militan sendiri (walaupun sudah mantan) sudah tidak berat sebelah. Namanya memang tidak saya sebut karena ketidaksediaan mereka. Yah, saya sebenarnya tidak banyak berharap kalian akan percaya sih.

      • Ibnu Wahib says:

        Lalu menurutmu, mereka yang di tanzim, PKS kampus, atau apalah namanya, harusnya bagaimana ?
        menurutku sah-sah saja bila mereka berkumpul, berembug untuk sebuah kebaikan (utk kelompok mereka dan kebaikan lembaga yang mereka “kuasai”). Agaknya memang muncul rasa ketakutan/kecemasan dari kelompok2 selain mereka atau yang mengaku gak masuk kelompok mana-mana (padahal secara tidak sadar nih orang udah buat kelompok baru). Jadi tanpa tahu apa yang sesungguhnya dibicarakan oleh mereka – yang dirimu bilang sebagai orang-orang tanzim – dianggapnya hendak menguasai lembaga an sich dan serta merta menutup kanal kontribusi kelompok lain. padahal kan belum 100% demikian adanya…

        CMIIW

        ah ku tak sehebat dirimu yang mampu menulis ulasan tanpa bukti.. diriku hanya bisa berkarya.. maaf ya.. 🙂

  4. Syafei says:

    Aagym mengatakan : setia penilaian orang lain, apakah itu baik atau pun buruk, itu hanyalah prasangka dirinya.

    kamu HTI ya??

    pada bagian tulisanmu, kamu memberikan contoh : ada seorang IM militan bertanya kepada ustadznya.
    yang kamu maksud siapa akh?? apa lagi bawa-bawa syiah.
    yang jelas dong, orangnya siap.

    yang terakhir, saya hargai pandangan politik antum yang lucu ini ^^’

  5. reinaldi says:

    “Masalahnya, IM selama ini tidak mampu memimpin pergerakan dakwah kampus. Sebaliknya, justru lembaga dakwah dijadikan alat politik untuk moblisasi suara. Apalagi menjelang 2014, pergerakan ini akan semakin terlihat mengarah untuk mendukung PKS, yang sebenarnya sudah cacat secara internal karena terlibat kasus korupsi yang melibatkan Presidennya, LHI. Waktu itu sempat dibela-bela, walaupun akhirnya masuk bui juga.Masalahnya, IM selama ini tidak mampu memimpin pergerakan dakwah kampus. Sebaliknya, justru lembaga dakwah dijadikan alat politik untuk moblisasi suara. Apalagi menjelang 2014, pergerakan ini akan semakin terlihat mengarah untuk mendukung PKS, yang sebenarnya sudah cacat secara internal karena terlibat kasus korupsi yang melibatkan Presidennya, LHI. Waktu itu sempat dibela-bela, walaupun akhirnya masuk bui juga.”

    Setahu saya, dalam agenda politik PKS khususnya 2014 tidak ada melibatkan list mahasiswa manapun, kaderisasi di kampus hanyalah untuk kemudian menambah elit2 pemimpin dikemudian hari yg berafiliasi, sama saja dengan partai2 lain tentunya Gerindra, PDIP dll yang mengikuti pemilu atau sebagaimana HTI yang mengaku tak terlibat untuk saat ini. Gerakan apapun sah2 saja untuk melakukan kaderisasi. Kedua, terkait PKS ‘busuk’ dan JS diminta untuk jadi alat, terlampau penuh asumsi. Tahukah anda jika dalam setiap organiasasi apapun selalu ada cacat, selalu ada pergulatan pengaruh internal, selalu ada perbedaan cara hatta didalamnya sendiri. Yang kemudian menjadi penting ditelisik adalah, apakah mau berbenah atau tidak. Lihat kasus NU, Gus Dur pun pernah meminta maaf, PKB juga pernah terjebak Korupsi, lalu PMII di kampus2 juga jelas berafiliasi. Apakah salah PMII untuk terlibat pergerakan kampus hanya karena induknya PKB dan NU? IMM, HTI, GMNI, HMI pun demikian selalu ada relasi dengan kuasa dan partai2. Janganlah naif dan menutup mata dalam berpikir.

    Tabik,

    *semoga kita semua menulis dengan hati nurani, Al-Attas mengajarkan kita dalam Risalah untuk Kaum Muslimin, perubahan butuh Kekuatan Pikiran dan Hati yang bersih, bukan perubahan dengan asumsi kebencian.

    • Ahmad Syarifudin says:

      yang saya permasalahkan di sini adalah agenda politik “bawah tanah”-nya yang tidak fear. Saya setuju, bahwa masing-masing dari kita bebas berafiliasi ke organisasi apa pun. Hanya saja, agenda politik semacam itu, harusnya tidak dilakukan oleh organisasi pergerakan yang katanya islam. Sama sekali tidak mencerminkan akhlak seorang muslim.
      Adapun mengenai LHI, ya ironis saja. Justru karena itu, Gus Dur minta maaf, dan mengakui, itu namanya muslim. Ini, dibela-bela, padahal sudah jelas-jelas jadi tersangka. Artinya, ada yg salah dengan ideologi mereka. Loyalitas buta yang mereka anut ini yang harus diluruskan. Semoga saya terhindar dari benci-membenci. Di tulisan ini sudah saya katakan, bukan untuk meneguhkan satu pihak, atau menjatuhkan pihak lain. Lain kali kalau baca yang menyeluruh.

  6. Fikar El Hazmi says:

    Kalo nggak IM, ya berarti HTI. #superfail #logicthesedays

    Tulisannya yang ketoprak jumat sore diupload lagi, dong..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s