Golput sebagai Sikap Sadar Politik

Pemilihan Raya (Pemira) UGM untuk kesekian kalinya diadakan tanpa landasan yang jelas. Entah bagaimana dulu awal pembentukannya. Yang jelas, BEM KM sekalipun dibentuk dengan sistem Pemira, tetap tidak mampu merepresentasikan aspirasi mahasiswa, karena terjebak pada politik praktis-pragmatis, bahkan bisa dikatakan semu. Berbeda dengan Dewan Mahasiswa dulu yang mampu bersatu meruntuhkan pemerintahan Orde Baru.

Tingkat partisipasi mahasiswa dalam mengikuti Pemira, 38 % untuk Capresma dan 37 % untuk anggota Senat (lihat: http://www.balairungpress.com/2013/12/meninjau-pemira-di-mata-mahasiswa/). Jika melihat hal ini, ada dua kemungkinan yang mendasarinya. Pertama, sikap tak acuh mahasiswa dan lebih memilih untuk menyibukkan diri dalam kegiatan perkuliahan. Kedua, BEM KM yang dinilai tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap kehidupan kampus. Atau, bisa jadi dua-duanya.

Dewasa ini, tuntutan untuk menyelesaikan kuliah memang semakin mencekik, terlebih ketika kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) diberlakukan. Hal ini, sedikit-banyak mempengaruhi pergerakan organisasi intra-kampus. Pertanyaannya, bagaimana mahasiswa menghadapi perubahan zaman ini? Apakah hanya mengalah dengan keadaan, atau mengubah haluan geraknya demi menghadapi tantangan zaman yang dinamis? Jika dominasi penguasa dulu bisa diruntuhkan dengan penggerakan massa besar-besaran, apakah sekarang bisa berlaku dengan cara yang sama?

Maka dari itu, penghakiman terhadap sikap mahasiswa tentunya juga berbeda. Barangkali, sikap mahasiswa yang lebih memilih fokus dengan perkuliahan bisa menjadi sarana untuk mengabdikan dirinya pada disiplin ilmu tertentu. Begitu juga sebaliknya. Mahasiswa yang aktif mengikuti aksi-aksi dan aktif di organisasi barangkali hanya untuk ajang pemenuhan kebutuhan jiwa labilnya yang menggejolak. Akan tetapi, bukan berarti cara penghakiman lama usang dan tidak bisa lagi digunakan. Mahasiswa yang mandiri sejak dari dalam pikiran lebih baik ketimbang mahasiswa yang rela ‘diternak’ oleh ‘peternak’ tertentu.

Mengenai BEM KM yang tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap kehidupan kampus, sebab secara struktural BEM KM hanya salah satu UKM yang setara dengan UKM-UKM lain. Selain itu, organisasi ini tidak mempunyai posisi apa pun di Rektorat. Secara politis, BEM KM tidak representatif untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa.

Jika gerakan a la outsider yang menjadi pembelaan, betapa banyak organisasi intra-kampus yang melakukan pergerakan semacam ini dengan caranya yang berbeda-beda? Advokasi penangguhan biaya kuliah; pemberdayaan masyarakat; melakukan demonstrasi; atau semacamnya, sama sekali tidak bisa dijadikan legitimasi atas relevansi Pemira. Jika memang asas demokrasi yang digunakan, harusnya bukan Ketua BEM KM yang dipilih, melainkan Rektor. Atau, setidaknya salah satu Direktorat yang ikut menentukan kebijakan-kebijakan kampus.

Memandang secara radikal UGM sebagai miniatur negara adalah hal yang salah kaprah -jika tidak ingin menyebut suatu kebodohan. UGM, selayaknya kampus negeri lain, terikat dengan kebijakan pemerintah, khususnya diatur dalam Undang-Undang Perguruan Tinggi. Dengan kata lain, UGM bukan ‘negara’ dengan pengecualian tertentu, sekalipun ada kata ‘miniatur’ di belakangnya.

Jika Pemira sudah tidak relevan, maka golput adalah sikap paling bijak yang bisa dilakukan. Paling tidak, dengan melakukan golput, mahasiswa dapat mengurangi legitimasi bahwa BEM KM merupakan representasi aspirasi mahasiswa -jika riset pembaca tidak cukup. Dengan begitu, organisasi ini harus berpikir dua, tiga, bahkan ratusan kali, untuk menggunakannya sebagai alat politik partai tertentu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s