Reorientasi Lembaga Dakwah Kampus, Sebuah Gagasan

JS (Jama’ah Shalahuddin), Lembaga Dakwah Kampus UGM, pada masa awal berdiri menghadapi tantangan cukup pelik. Perseteruan berbagai ideologi yang berpengaruh di kampus waktu itu, dalam hal ini ideologi pergerakan islam, menjadi tantangan yang perlu dihadapi. JS berhasil menjembatani dua pemikiran yang bertolak belakang, yaitu GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), yang membawa paham nasionalisme Soekarno dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang merupakan organisasi sayap Masyumi, yang membawa gagasan teokratis Mohammad Natsir. Menjembatani, dalam hal ini, mewadahi pegiat-pegiatnya melakukan gerakan bersama.

Setelah beberapa tahun, pergerakan-pergerakan transnasional yang masuk ke indonesia membawa pengaruh cukup besar. Hizbut Tahrir, Salafi, dan Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan tiga pergerakan yang cukup berpengaruh dalam pergerakan dakwah kampus. Ikhwanul Muslimin (IM) yang membawa ideologi islam-nasionalis merupakan pergerakan yang paling berhasil “memikat” pegiat dakwah kampus.

Jika dulu JS dihadapkan dengan perseteruan ideologi, kini lembaga ini dihadapkan dengan pegiat-pegiatnya, yang tidak punya ideologi. Akhirnya. JS terombang-ambing dalam ketidakjelasan, bagai buih di lautan. Propaganda anti-syiah, anti-liberalisme, anti-kristenisasi, anti-barat, anti-zionis dll menjadi teriak-teriakan yang lebih didengar daripada perbincangan mengenai kontekstualisasi islam, misalnya. Pemahaman usang mengenai islam terus dipertahankan, dan hampir tidak ada upaya untuk memperbaharuinya. Konsep ushul (fundamental) islam memang sudah final dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Namun, cara menarasikan konsep-konsep tersebut harus terus diperbaharui. Selain itu, dialog mengenai hal-hal furu’ harus terus dilakukan untuk menghadapi tantangan zaman.

Karena agenda kontekstualisasi islam yang absen, JS dan sebagian besar lembaga dakwah secara umum, semakin kehilangan orientasi. Pemahaman mengenai islam itu sendiri tidak cukup kokoh ditanamkan di kepala setiap pegiatnya, sehingga mereka tidak memiliki pegangan yang jelas dalam menjalankan organisasi. Tidak heran jika aktivisme dakwah kampus kini semakin tidak jelas arahnya.

Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan, meninjau kembali orientasi dakwah, yang tidak lain merupakan manifestasi dari ajaran islam sebagai sebuah pandangan hidup yang menyeluruh. Peninjauan kembali di sini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai islam. Hingga ketika dihadapkan dengan liberalisme, misalnya, tidak (hanya) menjadi anti-liberal, namun tetap menjadi “islam”. Menghadapi tantangan pemikiran, selayaknya para ulama terdahulu menghadapinya, yaitu dengan terus-menerus memperkuat landasan filosofis dari ilmu yang diamalkan.

Selanjutnya, jika pemahaman itu telah didapat, maka orientasi dakwah akan terbentuk. Orientasi dakwah bukan sekedar yang terpampang dalam visi misi lembaga atau semacamnya. Orientasi dakwah adalah nilai-nilai yang tertanam dalam setiap pegiat dakwah, sehingga apa saja diagendakan tidak bertentangan dengan tujuan dakwah, atau islam itu sendiri. Membuat rumusan-rumusan seperti visi dan misi hanya simbolisasi dari orientasi tersebut, yang merupakan kesepakatan bersama dari masing-masing pegiat dakwah.

Jika telah disepakati, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mendefinisikan kembali, apa dan bagaimana dakwah itu. Apakah dakwah sekedar menarik penonton sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan puja-puji dari mereka? Apakah dakwah hanya soal label? Lalu apa sebenarnya substansi dari dakwah?

Ada tiga faktor yang membuat seseorang bisa meningkat kesadaran beragamanya. Hidayah dari Allah swt, dirinya sendiri, dan ajakan orang lain. Di ranah “ajakan orang lain” inilah dakwah mengambil peran. Maka dari itu, keberhasilan dakwah tidak bisa diukur dari peningkatan kesadaran beragama, melainkan tersampaikannya ajakan tersebut ke obyek dakwah. Maka dari itu, strategi perlu disusun dengan membaca keadaan terlebih dahulu. Kebijakan kampus, peri-kehidupan mahasiswa, dan bagaimana keduanya saling mempengaruhi menjadi penting untuk diperbincangkan dalam rangka menyusun strategi tersebut.

Lembaga dakwah kampus berdiri untuk melakukan pergerakan dakwah di internal kampus. Adapun perbincangan mengenai isu lokal, nasional, maupun internasional hanya dalam rangka memahami secara luas problematika umat. Jika memang diperlukan, gerakan massa bisa dilakukan, tentunya dengan pengkajian mendalam atas permasalahan yang dihadapi. Itu pun tetap harus dikesampingkan, ketika kebutuhan dakwah di internal kampus belum terpenuhi. Keterbatasan sumber daya memang menuntut lembaga dakwah untuk mengesampingkan, atau bahkan menghilangkan, agenda-agenda yang sudah direncanakan, sekalipun dianggap penting. Sikap semacam inilah yang nantinya dapat menggiring lembaga dakwah kampus kembali menuju fitrahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s