Kenapa Aku Harus Keluar dari JS

“Maaf” mungkin yang pertama ingin saya ucapkan, dengan segala kerendahan hati. Hanya saja, maaf ini bukan maaf terdakwa yang menunggu dipancung kepalanya. Benar, aku manusia yang memiliki banyak salah, terlihat atau tidak; disadari atau tidak. Tapi tidak! Sekalipun tidak! Semua yang aku katakan salah, dan kalian benar. Aku meyakini apa yang aku katakan, dengan begitu apa yang aku lakukan pula, benar adanya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan apa yang kalian katakan dan lakukan benar dan aku salah, bahkan secara keseluruhan, dan aku akan menyesal. Tapi, untuk saat ini, belum ada satu hal yang meragukanku untuk melakukannya. Waktu bisa mengubah banyak hal, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa diubah oleh waktu.

Mungkin sektar 4 atau 5 bulan lalu, aku mengundurkan diri. Hal ini sudah aku sampaikan ke Ketua JS (Pengganti) yang baru saja menjabat, tapi hanya ditanggapi dengan pesan singkat berisi doa. Aku lupa persisnya, tapi semacam pengungkapan rasa bersalahnya. Aku menjawab kurang lebih seperti ini, “Sama sekali bukan karena Mas. Tapi, ada penjelasannya. Kalau ada waktu, kita bisa ketemu.” Namun, sampai sekarang tidak pernah ada pertemuan itu. Aku tidak ingin mengganggu (untuk kesekian kalinya) dan memutuskan untuk membiarkan saja. Toh, waktu itu banyak yang harus dikerjakan, pikirku.

Aku tidak ingin meninggalkan luka atau sedikit pun kebencian. Aku ingin mengundurkan diri dengan damai. Maka, aku berusaha menghubungi yang lain. Waktu itu saya menghubungi Sekjen (Pengganti juga) dan salah satu BKK. Hanya saja tidak lewat ponsel, melainkan pesan facebook. Di situ aku berikan penjelasan singkat, tapi saya katakan kalau aku terbuka jika ingin tahu penjelasan lebih lanjut. Akan tetapi, tidak ada tanggapan juga.

Entah apa yang terjadi. Pikiran positif mulai tidak masuk akal, dan akhirnya sampai pada kesimpulan yang menurutku paling logis: Tidak ada yang ingin merangkulku kembali. Karena pengunduran diriku adalah benar-benar pengunduran diri murni, bukan rengekan manja balita minta permen, maka aku membiarkannya. Baiklah, kalau memang begitu. Semua adil. Kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan dan aku juga mendapatkan yang aku inginkan. Akhirnya aku pergi, begitu saja.

Hanya saja, aku tidak ingin banyak orang tahu, paling tidak dalam waktu singkat. Maka dari itu, aku tidak ingin secara blak-blakan mengutarakan pengunduran diri ini. Biarkan mereka tahu secara pelan-pelan. Aku tidak ingin menyebarkan efek domino. Sebab, waktu itu, JS sedang dalam masa cukup kritis (lebih kritis daripada biasanya), karena tuntutan pengunduran diri Ketua JS sebelumnya, dan harus mengadakan sidang istimewa.

Meskipun demikian, pelan tapi pasti semua orang tahu. Bahkan anak Balairung, yang tidak ada kaitannya. Anak-anak Balairung bertanya heran tiap dengar aku mengundurkan diri. Dan ku jawab singkat, “Sudah beda paham”. Paham yang aku maksudkan di sini adalah paham pergerakan, yang tidak ada kaitannya dengan aqidah. Berbeda dengan anak-anak JS yang tidak menanyakan apa-apa. Apa yang terjadi? Entahlah, aku tidak mau berspekulasi lagi. Menanyakan kabar, maksimal tanya, “Ke mana aja? Nggak pernah nongol?” Dan ku jawab, “Banyak kerjaan di Balairung.” Namun ada pengecualian di sini. Mantan Ketua JS yang aku kirimi pesan singkat tidak pernah menyapaku. Salah satu mantan BKK yang aku kirimi file juga diam saja saat kebetulan bertemu di angkringan. Yang lain, entahlah. Aku hanya tidak mau memulai. Toh, semua sudah selesai dan tidak perlu dipersoalkan, pikirku. Masing-masing melakukan apa yang diyakininya benar, sekali lagi bukan menyangkut aqidah, dan nyaman dengan itu.

Beberapa “ocehan” ku yang sering ditanggapi serius, tentang IM dsb. semua sebenarnya semacam ikhtiarku untuk mengungkap semua tabir, agar semua jelas, duduk persoalannya ditemukan, dan dengan begitu bersama-sama menggagas solusi atasnya. Ada yang menganggap aku HT, liberal, apa lah, yah, aku hanya bisa berkata, “Belajar lagi ya, nak, ya,” dengan gaya agak sok menggurui. Jujur saja, sebenarnya aku heran juga, saat aku bicara dakwah, solutifikasi, reorientasi, sejarah JS, tidak ada yang menanggapi. Tapi, sedikit saja ngomel tentang golongan, JIL, langsung banyak yang komen. Seru sih. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa memang kita (termasuk aku) pada dasarnya lebih suka cemooh-mencemooh daripada menggagas ide yang progresif? Atau, bahkan kita punya alarm di kepala kita, kalau ada yang nyinggung-nyinggung golongan, terus sirine keadaan darurat berbunyi dan bersiap untuk komen sebanyak-banyaknya dengan cemoohan sesadis mungkin.

Kalau kalian membuat judgement, atas perilakuku, dipikirkan kembali. Bisa jadi, aku lebih buruk dari yang kalian capkan. Jurnalis? Bah. Reportase molor terus. Berpengetahuan luas? Opo!? Bacaanku minim.

Tapi, aku tidak ingin merendah, seperti yang lain-lain. Sebab, pada dasarnya, dengan merendah, bisa jadi justru menyombongkan diri. Menyombongkan kerendahan hatinya. Agar terlihat bijak di depan yang lain. Mencuci tangan dengan kata-kata manis. Tapi, bukan berarti orang yang merendah seperti ini. Bisa saja ia memang merasa dirinya rendah, sepertiku. (Ini nyombong juga nggak ya?)

Bagi yang merasa tersakiti hatinya, atau justru bergembira atas semua ini, ya silahkan saja. Mungkin dengan begini kita semua bisa memaknai hidup dan merasa lebih “hidup” atau justru terjebak dalam ‘hidup’ (jika kalian tahu apa yang aku maksudkan).

Dengan keluar dari JS, pikirku, akan sedikit mengurangi beban anak-anak JS. Aku tidak lagi menjadi batu pengganjal dan kalian bisa merealisasikan gagasan kalian. Aku menanggap semua ini hanya gagasan-gagasan yang tidak berhasil terjembatani. Sama sekali tidak ada tendensi untuk merendahkan satu dan yang lain. Hanya saja ketika aku berargumen aku akan menguatkan pendapatku dan melemahkan pendapat yang lain. Hanya melemahkan, bukan merendahkan. Kalau kata-katanya mungkin menurut kalian kasar, ya apa boleh buat. Setiap orang memiliki perasaan, yang sangat subyektif. Maka, jika aku menggunakan suatu kata, bisa jadi buat seseorang biasa saja, buat orang lain kasar.

Selain itu, aku juga dapat terbebas dari beban moral sebagai anggota JS untuk menjaga nama JS dan bla bla bla-nya. Aku bisa lebih bebas mengemukakan gagasanku tanpa takut bersinggungan dengan petinggi-petinggi JS. Maksimal, hanya menggelisahkan waktu berseluncur di dunia maya kalian, bukan? Tidak sampai pada dampak sistemik.

Karena kalian sudah mendapatkan pengakuan resmi dariku, jangan lagi undang aku di acara formal JS. Kalau acara kultural, aku akan dengan senang hati datang jika ada waktu.

Akhirnya, selamat berjuang, kawan… Secara ideologi, aku tetap JS. Hanya saja aku memiliki jawaban sendiri, bagaimana menjadi JS itu, yang mungkin berbeda dengan kalian. Jika suatu saat ada kesempatan untuk berdiskusi, aku akan dengan senang hati menerima “tantangan” kalian. Hanya kritik, atas diriku yang mungkin salah ini, yang paling aku harapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s