Kenapa Aku Harus Keluar dari JS (2)

Jika hanya karena gagal menjalankan ide, sudah dari dulu-dulu, saat menjadi Ketua PMB, aku keluar. Waktu itu sempat bersilang pendapat dengan BKK dan akhirnya menimbulkan konflik; Jika hanya karena tidak didengar gagasannya, sudah dari dulu-dulu, saat kaderisasi dilupakan dan lebih suka menjalankan program populis, aku keluar; Jika hanya karena ketidakkonsistenan, sudah dari dulu-dulu, saat sekolah jurnalistik disudahi karena alasan yang tidak jelas, aku mundur; Jika hanya karena tidak dihargai gagasannya, sudah dari dulu-dulu, saat dicap “sok tahu”, “sok kritis”, dan sok-sok lain (yang memang benar adanya), aku keluar.

Tapi, kenapa masih bertahan sampai paling tidak dua tahun? Alasan inilah yang akan aku ulas di tulisan ini. Satu yang harus diingat, sama sekali tidak ada ide visioner atau apa lah namanya. Hanya bentuk keegoisan anak muda labil yang banyak dosa; Yang bahkan nggak pernah bener menata rambutnya.

Waktu itu kami sedang dalam masa kritis. Ketua yang dianggap tidak bisa menjalankan amanah diminta dengan hormat untuk mundur. PPMPA (semacam majelis syuro’) memenuhi permintaan untuk mengadakan musyawarah istimewa, walaupun sudah sangat terlambat. Sempat berjalan alot, karena PPMPA bersikeras untuk mempertahankan Ketua, padahal sudah jelas-jelas tidak mungkin menjalankan amanahnya lagi.

Setelah itu, dosa pertama aku lakukan, yaitu membuat tulisan berjudul “JS dan Ketoprak Jumat Sore” yang menceritakan lakon ketoprak yang unik dan menarik. Alkisah, anak-anak JS diundang untuk menghadiri musyawarah istimewa. Tapi, alih-alih dimintai pendapat, malah disuruh duduk dan mendengarkan isi putusan dari PPMPA “yang tidak dapat diganggugat” begitu katanya dengan penuh keyakinan. Mereka mengutarakan dalih yang sungguh meyakinkan. Konon, salah satu PPMPA, yang memang lebih menonjol daripada yang lain, adalah mahasiswa fakultas hukum (belum lulus, buktinya masih jadi PPMPA).

Desas-desus yang dulu sempat hilang kembali muncul, yaitu mengenai gerakan bawah tanah IM. Kami sendiri sempat ragu karena tidak bisa menyodorkan bukti yang jelas dan nyata. Beruntung, pada suatu malam, beberapa orang non-IM yang sekiranya bisa menjaga rahasia, diundang dengan sms misterius. Serasa main di film-film detektif, waktu itu. Kami memenuhi undangan, dan diajaklah kami berunding di suatu kontrakan. Bahasa kerennya, sih, “Konsolidasi”. Di situlah kami mendapat pengakuan dari seorang mantan IM Militan, bagaimana gerakan bawah tanah itu dilakukan. Beberapa sudah aku uraikan di sini. Ini dosa kedua. Yang seharusnya dijaga, tapi malah dibongkar.

Aku membongkarnya, bukan tanpa alasan. Itu pun jauh melewati masa kritis dan sudah dalam posisi keluar dari JS. Hal ini secara sadar aku lakukan, agar semua tabir terbuka. Di satu sisi melemahkan agenda politik mereka, yang memang menghambat berbagai perbaikan yang kami (aku?) berusaha lakukan. Di sisi lain, mengemukakan kepada publik (walaupun banyak yang tidak percaya) tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lebih banyak tabir terbuka, dan dapat lebih dalam melihat persoalan ini dengan sejelas-jelasnya.

Banyak orang menghujat, mencemooh, menyanggah. Yang aku sesalkan, bukan karena pembelaan yang dilakukan anak-anak IM, tapi karena anak-anak JS sendiri yang bahkan dulu duduk bersama “berkonsolidasi” tadi. Alhasil, tulisan “Ketoprak” itu aku hapus, bahkan sampai blog-ku waktu itu imajisyaa.blogspot.com. Aku tidak ingin berdebat (karena sudah terlalu sering) dan aku takut memperkeruh silaturrahim di antara kami. Padahal, sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan lewat tulisan itu “Jangan main-main sama anak-anak JS, hai IM. JS ini milik semua golongan dan tetap akan seperti itu.” Tapi, ya sudahlah. Aku bahkan keluar dari grup “Dakwah Kampus” dengan tanganku sendiri, agar aku tidak bisa posting apa-apa lagi. Menjadi anak manis yang baik dan nurut sama atasan.

Aku berpikir, “Apa aku keluar saja, ya? Sudah tidak ada alasan lagi aku di sini.” Namun, waktu itu aku mencoba mengurungkan. Mungkin tahun depan akan berbeda. Aku akan bersama dengan teman seangkatan, yang lebih bisa diajak ngobrol.

Tapi, aku berpikir kembali. Forum Mengeja Hujan (FMH) yang menjadi sarana untuk menggagas JS yang baru, sepi peminat. Diajak ogah-ogahan, dan lebih suka mantengin laptop, menjahili akun orang, ketawa-ketiwi. Bukannya tidak suka. Aku juga ikut ketawa. Tapi, betapa susahnya diajak berdiskusi, menggagas JS yang baru itu. Waktu itu tiga bulan sebelum Musyak. Itu waktu yang sangat mepet, mengingat tidak punya banyak bekal ilmu yang kami (termasuk aku) punya. Kaderisasi mati, diskusi juga sepi peminat.

Akhirnya, aku menyerah. Ya. Menyerah. Seperti yang pernah aku utarakan pada seseorang “Menyerah, sebagai perjuangan terakhir.” Semua cara telah dilakukan, soalnya. Masuk ke zona nyaman bernama facebook sering. Jadi koordinator cadangan pas RDK, pernah (Agar mereka juga mau ikut apa yang aku adakan, aku juga ikut apa yang mereka adakan. Walaupun tidak punya staf (koordinator kok tidak punya staf), tak apa. Toh, itu satu-satunya dakwah yang jelas orientasinya di antara sekian banyak agenda populis yang menimbulkan hutang puluhan juta itu.) Dan aku pun keluar, seperti yang aku utarakan di sini.

Satu hal yang ingin aku tegaskan di sini: Jangan percaya sama anak sok tahu yang banyak dosa ini. Tulisan ini, maupun tulisan-tulisan lainnya, untuk membuat sensasi, agar artis ini cepat terkenal. Terbukti, rating blog ini meningkat drastis (hampir 400 viewer). Jangan percaya sama semua cerita yang dikarang-karangnya itu (ini dosa ketiga). Cari tahu sendiri kalau pengin tahu. Enak aja penginnya dicariin. Mulailah belajar mandiri, sejak dari dalam pikiran. Biarlah, Yang Maha Tahu membimbingmu. Jangan biarkan “yang sok tahu” menyesatkanmu. Sekian, dan terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s