JS dan Ketoprak Jumat Sore

Dengan nada kecewa, para peserta Musyawarah Istimewa keluar dengan membanting pintu tanpa menunggu musyawarah selesai ditutup. Mereka melakukannya bukan karena tidak mengerti adab dalam sebuah majelis. Mereka melakukannya karena selama kurang lebih dua jam pendapat mereka tidak didengarkan sama sekali. Majelis memang bukan label yang tepat untuk kejadian ini. Kalau boleh, aku akan menamainya, “Ketoprak Jumat Sore”.

 

Setelah musyawarah ini dibuka, PPMPA (Presidium Pimpinan Majelis Permusyawaratan Akbar) membacakan peraturan, yang isinya dilarang interupsi, memotong pembacaan keputusan, dan menggangu “kondusifitas”. Peraturan yang disampaikan dengan gaya vicky ini jelas menyuruh peserta, yang merupakan MPA (Majelis Permusyawaratan Akbar) duduk, diam, dan mendengarkan seperti kambing congek.

 

Setelah itu, salah satu anggota PPMPA yang menyebut dirinya Sang Hakim, membacakan hasil putusan, yang intinya tetap mempekerjakan Efri Dian Kusuma sebagai Ketua JS dengan dikenai berbagai syarat, di antaranya harus menginap selama tujuh hari selama seminggu dan minimal 4 jam berada di sekretariat JS. Tampak raut wajah para MPA yang terkejut mendengar hasil putusan. Hal ini benar-benar di luar dugaan. Pasalnya, setelah dua kali hearing dilakukan, permintaan JS hanya satu, yaitu meminta Efri untuk turun.

 

Ada hal aneh yang sampai sekarang menjadi pertanyaan kami. Pertama, semenjak balik dari libur lebaran, Efri sudah berniat mengundurkan diri sebagai Ketua. Namun, tiba-tiba ia mengubah pikirannya dan memutuskan untuk tetap menjabat. Kedua, PH, BKK, dan staf yang secara terang-terangan meminta Efri untuk turun. Mereka memutuskan hal ini karena merasa ia sudah tidak sanggup menjalankan amanah. Selama kurang lebih 8 bulan ketidakhadirannya di sekretariat sehari-hari dan beberapa agenda penting JS lebih dari cukup untuk menjadi alasan. Selain itu, Efri mengaku masih terbelit masalah keluarga yang cukup pelik. Bahkan saking peliknya, ia tidak bisa membicarakannya. Ketiga, PPMPA yang secara sepihak memutuskan untuk tidak memberhentikan Efri, padahal mayoritas kader JS memintanya untuk mundur. Bahkan keputusan mereka ditambahi dengan “final dan tidak dapat diganggugugat”.

 

“Pergantian kepemimpinan memang selalu menimbulkan celah fitnah. Jangankan kita, pada masa Rasulullah saw dan para shahabat pun selalu timbul fitnah, dari yang berujung musyawarah, sampai pertumpahan darah,” kata Akhmad Arwyn Imamur Rozi, Ketua JS 1432 H, yang malam itu kami ajak berdiskusi. Jujur saja, saya tidak terlalu khawatir. Pada akhirnya, yang benar yang menang. Bukan yang mencari pembenaran, tapi yang benar-benar mencari kebenaran. Tidak menjadi soal kekuatan politik kita sekecil apa. Tak masalah betapa sedikit orang baik yang menduduki jabatan penting. Sebab, bukan itu yang menjadi kekuatan kita nantinya. Dalam peperangan antara yang haq dan batil, maka senjata yang paling ampuh adalah kebenaran itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s