Menyikapi Perpolitikan IM UGM 2014

Tahun ini, Ikhwanul Muslimin (IM) UGM kehilangan tiga pilar penyangga eksistensinya di kampus sekaligus. Jama’ah Shalahuddin (JS) berhasil keluar dari dominasi IM dan mulai melepaskan internalisasi ideologi IM dalam tubuhnya; Karena disinyalir menjadi alat politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS), beberapa fakultas mulai menghapuskan Asistensi Agama Islam (AAI) yang awalnya menjadi bagian dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI); Partai Bunderan yang merupakan alat politik IM dalam membentuk dominasi di BEM KM kalah dengan Partai Koalisi. Namun, hal ini tidak berdampak langsung pada agenda politik PKS menyambut 2014. Sebab, sampai saat ini, partai ini masih cukup kuat, sekalipun sempat digoyang kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokohnya. Kader-kader muda yang memang sangat potensial berhasil mereka jaga loyalitasnya.

Runtuhnya tiga pilar eksistensi IM ini lebih berdampak jangka panjang ketimbang agenda mobilisasi suara. Itu pun jika JS yang merupakan pemegang kunci mampu melakukan agenda dakwah secara progresif dan menjembatani berbagai pemikiran untuk disatukan dalam kesatuan langkah gerak. Jika tidak, cukup mudah IM kembali mendominasi JS yang masih memiliki ikatan struktural dan kultural yang rapuh dan mengukuhkan kembali eksistensinya.

Melihat berbagai golongan yang masih terlampau jauh untuk dijembatani, JS perlu membangun pola geraknya sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan, meninjau kembali langkah geraknya selama 38 tahun berdiri dengan mengkaji sejarah. JS harus belajar dari pengalaman tiga tahun terakhir yang hanya terjebak pada romantisme masa lalu dan mulai memandang secara kritis masing-masing sumber sejarah. Selain itu, JS perlu memperkaya pandangannya mengenai kejadian-kejadian masa lampau dengan mengambil pandangan sejarawan, sosiolog, dll. Kedua, meninjau kembali “satu tubuh” Bangunan Ideal Dakwah Kampus (Bidka) yang sarat kepentingan politis IM. Walaupun tiga pilar telah runtuh, IM masih cukup mendominasi beberapa Lembaga Dakwah Fakultas (LDF). JS harus menyadari hal ini dan membangun kesepakatan yang lebih inklusif dengan berbagai LDF. Ketiga, melaksanakan agenda-agenda dakwah yang progresif dan prospektif dengan mempertimbangkan obyek dakwah yang beragam. Tidak sekedar main aman dengan akomodasi kepentingan golongan: Dulu heroisme hamas dengan propaganda solidaritas palestina, kini propaganda anti-Syiah-nya Salafi. Akomodasi semacam ini memang berpotensi mempersatukan berbagai golongan. Namun, perlu disadari agenda politik masing-masing golongan tersebut agar tidak terombang-ambing kepentingan mereka. JS harus mempunyai sikap yang tegas dan berani. Secara politis, JS cukup kuat untuk mengendalikan berbagai kepentingan tersebut.

Berbagai sarana untuk menghadapi tantangan-tantangan ini sebenarnya sudah diwariskan oleh pendahulu JS dengan tiga materi dasar yang termaktub dalam alur kaderisasi. Problematika Umat sebagai sarana membaca keadaan dan memperkaya wawasan; Analisis Sosial untuk memperdalam pandangan problematika umat tersebut dan menemukan akar permasalahannya; dan Analisis Shirah sebagai pemacu semangat dan pengingat hikmah akan berbagai kejadian masa lalu. Sudah saatnya JS berhenti mengikuti arus besar dan membuat arus sendiri. Lalu apa lagi yang kau harapkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s