Memahami Dakwah Prospektif

Sebelum memahami dakwah prospektif, ada baiknya memahami terlebih dahulu perbedaan subyek dan obyek dakwah. Subyek dakwah berbeda dengan da’i. Da’i lebih mengacu ke seseorang yang telah menguasai ilmu-ilmu keislaman, atau dalam arti sempit disebut juga ilmu syar’i. Subyek dakwah sering disebut sebagai aktivis dakwah. Mereka bukan orang yang menguasai ilmu syar’i, melainkan cukup mengetahui dasar-dasar ilmu keislaman untuk menjadi pegangan melaksanakan agenda-agenda dakwah. Selain itu, mereka juga menguasai berbagai pengetahuan dan wawasan mengenai disiplin ilmu tertentu dalam ranah praktis agar dapat menggunakan sarana dakwah dengan baik. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai pegiat dakwah daripada aktivis dakwah, karena kata “aktivis” cenderung mengarah ke perilaku aktivisme yang semakin tidak relevan dengan era yang kini dihadapi. Hubungan pegiat dakwah dan da’i seperti halnya hubungan antara praktisi dan akademisi.

Subyek dakwah juga merupakan obyek dakwah. Tidak ada yang hanya menjadi subyek dakwah saja. Sebab, dalam melaksanakan agenda dakwah, diperlukan singkronisasi antara ilmu dan amal. Memperluas ilmu dapat memperlebar ruang-ruang amaliyah. Besarnya amal sejalan dengan penguasaan ilmu tentang amal tersebut. Dengan kata lain, dakwah paling prospektif merupakan dakwah yang dilakukan dalam lingkaran orang-orang yang memang sudah berkesadaran untuk berdakwah.

Sedangkan bagi obyek dakwah, terlebih dahulu memahami seberapa besar potensi untuk meningkatkan kesadaran beragama, bukan tingkat kesholehan, ke-hanif-an, atau sejenisnya. Sebab, hal-hal transenden semacam itu tidak bisa diukur secara kualitatif maupun kuantitatif. Misalnya, jama’ah shalat shubuh dan shalat jum’at. Materi yang disampaikan dalam kuliah shubuh dan khotbah jum’at harus dibedakan. Jama’ah shalat shubuh merupakan obyek dakwah yang memiliki kesadaran beragama lebih tinggi dibanding jama’ah shalat jum’at. Dengan begitu, materi lanjutan dengan tema yang lebih spesifik bisa disampaikan. Sedangkan jama’ah shalat jum’at bisa diisi dengan materi dasar yang secara umum membicarakan islam.

Semakin rendah tingkat kesadaran beragama, maka semakin halus penyampaian dakwahnya. Tendensi untuk mengislamkan mereka semakin dikurangi. Di sinilah wacana dan citra diperlukan. Citra di sini bisa berarti citra lembaga keislaman atau islam itu sendiri. Islam yang toleran, menghargai keberagaman, inklusif, dll bisa lebih diutamakan. Menghargai keberagaman bukan berarti pluralis dan mengakomodasi kebebasan belum tentu liberalis.

Selain itu, hal-hal yang cenderung disetujui ulama harus lebih diuatamakan daripada hal-hal yang masih menimbulkan perdebatan. Dengan begitu akan tercitra islam yang merupakan sebuah kesatuan. Yusuf Al-Qardhawi telah menjelaskan hal ini dengan baik dalam “Fiqh Prioritas”. Lembaga dakwah kampus merupakan salah satu lembaga keislaman yang potensial untuk melakukan agenda dakwah semacam ini. Sebab, dimungkinkannya berbagai golongan berkumpul dan bersetuju akan beberapa hal lebih besar. Selain itu, beberapa hal furu’, yang memang tidak bisa dihindari dalam agenda dakwah, perlu dijembatani antara satu pendapat dengan pendapat lain. Dalam wacana yang lebih besar, metode semacam ini dapat menjadi sarana mempersatukan umat islam, atau yang lebih luas lagi, menyatukan umat manusia di bawah naungan islam. Terdengar utopis memang. Tapi, apalah daya, sesuatu yang transenden memang sering terlintas utopis. Walaupun bukan berarti sesuatu yang utopis itu transenden.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s