Parpol Islam Apanya?(!)

Berbagai ormas Islam telah menyatakan akan mendukung terbentuknya “Koalisi Partai Politik Islam”. Mereka optimis, karena jika diakumulasi, perolehan suara pada pemilu legislatif dapat menghantarkan parpol-parpol ini mengajukan capres dan cawapres “dari kalangan umat muslim”. Lima partai yang digadang-gadang akan tergabung dalam koalisi ini, diantaranya PKB, PKS, PAN, PPP, dan PKB.

Kebanyakan orang membuat dikotomi antara partai islamis dan nasionalis. Padahal, hampir semua memiliki jargon yang menggabungkan dua term ini. Demokrat misalnya, yang mempunyai jargon “Nasionalis Religius”. PKS, yang secara historis terbentuk dari pergerakan yang dilahirkan oleh Hassan Al-Banna di Mesir, Ikhwanul Muslimin (IM), juga memiliki jargon “Muslim Negarawan”. PKB dan PAN sejak awal telah berkomitmen untuk menjadi partai nasionalis, sekalipun berbasis massa ormas islam: PKB dari NU; sedangkan PAN dari Muhammadiyah. Wajah-wajah pahlawan nasional menghiasi setiap propaganda mereka, sebagaimana setiap perayaan hari raya umat islam yang menampilkan tokoh mereka se-“religius” mungkin.

Akan tetapi, mari kita uraikan kemungkinan definisi lain. Jika kita berbicara parpol islam, maka akan mengacu setidaknya dalam empat pengertian, diantaranya: (1) Memiliki visi menegakkan syariat islam; (2) Mewakili aspirasi umat islam; (3) Secara historis terbentuk dari pergerakan (harokah) islam; dan (4) Berbasis massa muslim.

Poin (1) mengacu pada “islam-substansialis” yang memandang, penegakan syariat tidak harus dengan mendirikan negara islam (daulah al-islamiyah) atau khilafah. Hal ini berakibat pada berbagai harokah yang harus bertawar-menawar dengan semangat nasionalisme. Beberapa pergerakan yang masih berpegang teguh terhadap komitmen pembentukan negara teokratis (negara islam atau khilafah), yang sering disebut “islam-formalis” memandang nasionalisme sebagai bentuk ashobiyah, semangat kegolongan berbasis kesatuan geografis tertentu. Hal inilah yang menyebabkan terpecahnya islam menjadi dua poros besar. Baik negara islam maupun khilafah pun, masing-masing memiliki pola gerak sendiri-sendiri, mulai dari radikal sampai moderat. Sedangkan islam-substansialis, dalam rangka bertawar-menawar dengan nasionalisme, mereka melakukan transformasi, dengan tetap mempertahankan identitas islam mereka. Hanya saja, wacana menegakkan syariat islam semakin hilang. “Parpol Islam” menjadi tidak ada bedanya dengan “Parpol Nasionalis”.

Mengenai poin (2) bisa iya, bisa tidak. Permasalahannya, bukan pada terakomodasinya aspirasi umat, melainkan otoritas ulama yang tidak berperan sebagaimana mestinya akibat terlalu kuatnya polarisasi berbagai harokah tersebut. Sebab, jika kita berbicara aspirasi masyarakat muslim, maka tidak bisa digunakan logika suara mayoritas yang memandang semua orang setara, melainkan merujuk pada terakomodasinya berbagai mazhab dalam otoritas ulama. Otoritas ini diakui oleh masyarakat muslim sebagai dasar pijakan berdemokrasi, dalam hal ini kaitannya dengan pemilu. Tentunya, mazhab yang menolak demokrasi tidak bisa terakomodasi. Kenyataannya, tiap ormas berfatwa sendiri-sendiri, bahkan secara serampangan. MUI pun belum mampu menjadi jembatan berbagai pemikiran dan justru didominasi oleh golongan yang hanya menang dalam lobi politik, bukan pengakuan dari masyarakat muslim.

Sedangkan mengenai poin (3) dan (4), lima “Parpol Islam” sebenarnya telah memenuhi kriteria ini. Hanya saja, fakta historis masing-masing partai hanya dijadikan komoditas politik untuk menarik simpati kalangan islamis. Basis massa pun hanya terbatas pada harokah masing-masing. Karena mereka butuh eksistensi, bukannya menjembatani gagasan-gagasan dari masing-masing pemikiran, justru saling berseteru, berebut massa. Seteru ini bahkan lebih menggejolak jika dibandingkan seteru partai lain. Meributkan legitimasi siapa yang paling islami (bahkan berlagak seperti Tuhan siapa yang masuk surga) menjadi agenda utama mereka.

Lalu, jika dilihat berbagai hal yang telah diuraikan, apanya yang parpol islam?(!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s