Jilbab, Sebuah Revolusi

Telah banyak yang membuat propaganda pentingnya Jilbab untuk wanita. Namun, tidak banyak yang memahami esensi dari penggunaan tutup kepala yang membentang dari ubun-ubun sampai dada itu. “Apa yang istimewa dari kain-kain yang dibungkuskan di kepala mereka?” begitu kira-kira “malaikat” dalam puisi panjang karya Emha Ainun Najib berbisik-bisik. “…O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan,” hardiknya.

Jika kita melihat lukisan tokoh-tokoh muslimah indonesia, sangat jarang ditemui mereka memakai jilbab. Sebut saja Cut Nyak Dien, R.A. Kartini, dll. Begitu juga dengan istri para ulama terkemuka yang bahkan tidak diragukan lagi keislamannya. Kalau pun ada, hanya memakai kerudung yang disampirkan begitu saja, mirip baju adat Betawi. Jilbab baru populer di kalangan muslimah tahun 80-an. Waktu itu masih terdapat jurang pemisah yang cukup besar dalam hal berpakaian antara kalangan santri dan bukan santri.

Ketika “yang bukan santri” mulai berminat mengenakan jilbab, timbul penolakan dari instansi pendidikan, karena dianggap tidak selayaknya pendidikan “umum” mengenakan seragam sekolah serba panjang dan memakai kerudung seperti seragam pondok pesantren. Buruh pun tidak sedikit yang mendapat diskriminasi karena keputusannya untuk mengenakan jilbab. Syariat dikalahkan dengan nilai kebiasaan. Namun, tidak sedikit yang memperjuangkan haknya. Mereka adalah orang-orang yang berani mendobrak tatanan yang telah mengakar kuat di masyarakat. Tidak berlebihan jika Jilbab adalah sebuah simbol revolusi atas hak umat beragama untuk melaksanakan keyakinannya.

Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!

Jilbab tidak hanya sebagai penutup aurat, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk penindasan. “Jilbab ini percikan cahaya dari tengah kegelapan, alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta.” Di tengah penolakan keras akan ketidakbiasaan ini, mereka melawan dengan penuh kesadaran, bahwa penolakan yang timbul hanya karena masyarakat jahil (bodoh) dan tidak tahu.”Jilbab ini percobaan keberanian di tengah pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi” Keyakinan di tengah keraguan bahwa mereka pun perlu belajar dan berserah diri. “Jilbab ini surat keyakinan kami, jalan panjang belajar kami, proses pencarian kami.”
Barangkali hanya “ketololan” kata yang paling pas untuk menggambarkan orang yang merasa telah mulia karena merasa berjilbab dengan “syar’i” dengan menghinakan orang yang bahkan telah berjilbab, sekalipun belum “syar’i”. Ya. Penggunaan kata “Jilb**bs” adalah bentuk penghinaan. Bukan hanya penghinaan kepada muslimah yang berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki dirinya, tapi juga bentuk penghinaan atas usaha para ulama mengislamkan nenek moyang mereka, yang jika bukan karena jasa mereka, islam tidak akan pernah menjejaki setiap jengkal tanah khatulistiwa. Bahkan tidak berlebihan jika kata ini menghina Rasulullah saw. yang telah berhasil membuat transformasi, dari masyarakat arab yang awalnya menganggap wanita sebagai tak lebih dari barang dagangan menjadi sebuah simbol kemuliaan.
Setiap keindahan yang tampak oleh mata, itulah perhiasan, perhiasan dunia
Namun yang paling indah di antara semua, hanya isteri salehah, isteri yang salehah (Rhoma Irama – Istri Sholehah)
Sejak revolusi jilbab menggaung, kini jilbab menjadi gaya hidup sebagian besar muslimah. Kita tidak bisa memungkiri banyak yang memaknai jilbab hanya sebagai fashion semata. Namun, bukankah ini suatu hal yang positif? Jilbab yang dulu menjadi bahan cemoohan, kini menjadi suatu hal yang prestisius. Jika dulu wanita trendy adalah wanita yang memamerkan paha dan belahan dada, kini wanita trendy adalah wanita yang membungkus kepala dan seluruh badannya. Soal aurat yang belum tertutupi dengan sempurna, memang jalan dakwah tidak akan pernah habis menebarkan kebaikan “…dengan lemah lembut dan hikmah”
Bahkan, kenapa tidak menginisiasi Jilbab yang trendy tapi juga syar’i? Wanita sebagai keindahan itu sendiri sudah sepatutnya memiliki sense terhadap seni berbusana. Tentu dengan interpretasi masing-masing akan keindahan itu. Ada yang menginterpretasikan keindahan sebagai sesuatu yang sederhana, dengan warna yang kalem dan bersahaja; Ada yang menginterpretasikan keindahan sebagai sesuatu yang berwarna-warni, manik-manik yang berkilauan dan berani; dll. Muslimah hanya disuruh menutup kepalanya dan menjulurkannya sampai dada. Menutupnya pakai apa, terserah. Mau pakai daun, kertas, tanah liat, terserah. “Jilbab” berbentuk kain yang berjahit maupun tidak, bulat maupun kotak, adalah hasil dari olah pikir, cipta, rasa, dan karsa manusia.
Yang satunya tertawa dalam kesedihan: Luar biasa! Siapa yang mengarang? Tuhan tak pernah mentakdirkan model masyarakat yang demikian.
Sesudah penciptaan, Tuhan menganugerahkan kemerdekaan kepada manusia.
 Menghijabi Indonesia adalah sebuah proses panjang, yang tidak akan pernah berhenti!
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s