Cinta, Nafsu, dan Peradaban

Banyak orang membuat dikotomi antara cinta dan nafsu. Cinta menjadi sesuatu yang suci, sedangkan nafsu adalah sesuatu yang kotor. Retorika yang akan disampaikan akan menonjolkan cinta dan menafikkan keberadaan nafsu. Psikologi populer yang kini banyak mendominasi biasanya menganggap stereotipe yang tercermin dalam poin-poin yang mereka ajukan sebagai sesuatu yang taken-for-granted, sesuatu yang diterima begitu saja, tanpa ada alasan yang mendasarinya. Banyak orang menganggap psikologi populer dapat membantu mereka memahami kehidupan, dalam menemukan jodoh, misalnya. Sayangnya, ustadz-ustadz yang sok menolak psikologi barat (behaviorisme, nativisme, interaksionisme, dll) justru tunduk pada psikologi populer. Jadi jika mereka menganggap psikologi barat itu setingkat di bawah psikologi islam, mereka tanpa sadar terperosok dalam tingkat yang di bawahnya lagi. Sebab, diakui sebagai karya ilmiah saja tidak.

Padahal cinta selalu diikuti dengan nafsu. Cinta akan suatu barang, misalnya, akan menimbulkan nafsu untuk memilikinya; Cinta terhadap seseorang, akan diikuti nafsu untuk berinteraksi dengannya, menjamahnya, dan “memilikinya” pula; dst. Akan tetapi, terdapat perbedaan mendasar, bahwa cinta bersifat ilahiah, sedangkan nafsu bersifat hewani. Cinta menunjukkan keterhubungan manusia dengan Allah swt. sedangkan nafsu menunjukkan keterhubungan manusia terhadap alam. Cinta dan nafsu bukan soal baik-buruk, melainkan suatu fitrah yang harus dijaga sesuai dengan peruntukannya.

Sayangnya, atau juga bisa untungnya, cinta dan nafsu merupakan sesuatu yang pasif. Kedua hal ini dikendalikan oleh kehendak. Akan dipendam dalam-dalam salah satu atau keduanya diharmoniskan, diserahkan pada kehendak. Jika Tuhan mengendalikan alam semesta –dan manusia menjadi bagian dari alam semesta-, maka manusia menjadi Tuhan di ‘alam semesta’ dalam dirinya sendiri.

Lalu, kenapa berzina dilarang dan menikah dianjurkan, jika keduanya bisa menjadi sarana menjalin cinta dan menyalurkan nafsu sebagaimana mestinya? Menikah dalam bentuk yang paling sempit adalah tercatatnya janji antara kedua orang untuk menjalin hubungan kekerabatan. Adapun bagi pasangan yang tidak mencatatkan akad, pasangan menikah sirih misalnya, atau yang tidak melakukan akad sama sekali, yang sering disebut pasangan kumpul kebo, membuat ikatan yang mereka jalin menyingkirkan nilai dan norma, tidak seperti pasangan yang menikah. Pernikahan adalah penyaluran nafsu, tapi juga diikuti tanggungjawab suami, kasih sayang istri, rasa peduli kedua pihak keluarga, pengakuan anak sebagai warga negara yang akan dilindungi hak-haknya, dll. Adapun esensi dari resepsi hanyalah sebuah pengumuman, bahwa keluarga Si Romeo kini juga keluarga Si Juliet, begitu juga sebaliknya. Soal bagaimana bentuk pengumuman itu dan ekspresi kebahagiaan semacam apa yang ingin ditampilkan, itu diserahkan ke persetujuan kedua belah pihak. Ikatan-ikatan pernikahan ini berimplikasi pada keharmonisan suatu tatanan masyarakat.

Bayangkan jika kita menjadi salah satu diantaranya: anak hasil pemerkosaan yang tak tahu siapa ayah dan ibunya; ibu korban perkosaan yang tak tahu siapa lelaki yang menghamilinya dan harus bertanggungjawab atas anak yang dikandungnya; lelaki yang merintih penuh penyesalan kepada anaknya, “Ayahmu ini seorang pemerkosa.” seperti yang digambarkan dalam “Jakarta 2039” karya Seno Gumira Ajidarma. Betapa kita akan terperangkap kesedihan akibat dari manusia yang memilih untuk memendam dalam-dalam sifat ilahiahnya, dan terus menuruti nafsu “bejat”-nya. Kelahiran dan kematian adalah kehendak Tuhan, tapi manusia juga bisa mencampuri kehendak itu, hanya saja dengan keterbatasan, yaitu kehendak Tuhan itu sendiri dan manusia lain. Menganggap tindakan zina sebagai sesuatu yang keji dikehendaki islam –sama-sama suka atau pun atas paksaan-, sedangkan menganggap anak hasil perkosaan sebagai “anak haram” tidak. Sebab, atas proses seperti apa pun, anak yang lahir ke dunia adalah suci, bagai kertas putih. Mau digoreskan tinta seperti apa anak itu, diserahkan pada keputusan manusia.

Saat begitu banyak manusia menghilangkan sifat ilahiahnya, hal ini menyebabkan persoalan kemanusiaan yang begitu pelik. Revolusi seksual seperti yang dicatat dalam penelitian Alfred Charles Kinsey (baca: http://historia.co.id/artikel/budaya/804/Majalah-Historia/Revolusi_Seksual) terjadi akibat banyak menusia terus menerus memenuhi hasrat seksualnya bagai bola salju yang menggelinding. Dan sampailah bola itu pada epidemi HIV/AIDS. Lalu banyak orang menganggap kondom sebagai mesias atas pemberantasan epidemi ini sekaligus problem kependudukan, overpopulasi. Tidak perlu ada anak yang lahir, sel sperma juga tidak perlu bertemu dengan sel telur, tapi tetap memenuhi hasrat seksual manusia. Bisnis pornografi dan prostitusi pun menjamur di berbagai belahan dunia, bahkan dalam bentuk yang legal dan prestisius. Sekalipun tiga karakter milik Seno barangkali kemungkinan kecil ada dalam tatanan masyarakat semacam ini, bagaimana mereka membentuk relasi satu sama lain? Hanya motif materialistis yang dapat mempertemukan mereka. Pun hanya bentuk fisik yang menjadi transaksi pernikahan mereka. Maka seiring dengan semua ini, menjamur pula jasa bedah plastik, berikut teknologi mutakhir yang mendukungnya. Kita bisa melihat contoh paling konkret di Jepang dan Korea.

Seiring dengan diakuinya penelitian Kinsey, kelompok yang sering disebut LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) membuat legitimasi atas orientasi seksual yang dianutnya. Beberapa negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis. LGBT adalah bola salju kedua yang entah akan menghasilkan epidemi dan tatanan masyarakat macam apa lagi, ketika semua lubang dijadikan penyaluran hasrat seksual. Jangan-jangan, nanti akan dilegalkan juga pernikahan orang dengan kuda, botol, atau tangannya sendiri. Para pro-LGBT tidak menyadari hal ini sebagaimana juga yang kontra-LGBT yang gencar membuat hinaan atas penganut orientasi seksual ini. Semakin kelompok LGBT didiskriminasi, semakin kuat pula mereka membuat legitimasi. LGBT adalah fenomena yang tidak seharusnya terjadi, iya, tapi bukan berarti diperlakukan semena-mena. Kita perlu membuat dialog win-win solution antara kelompok ini dengan masyarakat lain. Masyarakat tidak terganggu, LGBT juga dapat hidup nyaman. Salah satu yang saat ini bisa diupayakan adalah isolasi. Kumpulkan mereka dalam satu tempat, membentuk satu komunitas, dan sedikit demi sedikit dididik untuk meminimalisasi dampak buruk dari jalan hidup yang dipilihnya.

Maka soal mengatur kehendak atas cinta dan nafsu ini bukan soal main-main. Menafikkan keberadaan salah satu hanya mengombang-ambingnya dalam ketidakpastian dan terjebak pada sesuatu yang tak akan pernah dimengerti. Tinggal pilih, mau mengambil jalan memutar dengan mengarungi ketidakpastian itu atau berusaha merenungkannya dan memahaminya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s