Seri Aktivisme Mahasiswa Muslim: Mukaddimah

Barangkali banyak yang berpikir, memasuki dunia pergerakan islam adalah sesuatu yang tidak perlu. Hanya ingin menjadi muslim yang taat, rajin mengaji dan beribadah. Padahal menjadi muslim yang semacam itu hampir mustahil dilakukan tanpa adanya wadah berupa, setidaknya, komunitas. Tidak seperti agama lain, islam butuh sebuah kolektifitas untuk membuatnya utuh. Contoh sederhana, sholat berjama’ah sulit ditegakkan tanpa dibangunnya masjid, muadzin yang mengingatkan waktu sholat, dll. Bagi yang selalu ingat waktu sholat membantu yang masih sering lupa. Belum lagi jika berbicara kewajiban muslim lain, menuntut ilmu misalnya yang membutuhkan guru, madrasah, dll. Bentuknya selalu bertransformasi, namun esensi selalu berusaha dipertahankan. Dengan kata lain, muslim butuh ruang-ruang yang sifatnya eksklusif untuk menjalankan keyakinan yang dianutnya. Tapi, bukan berarti selamanya eksklusif. Dakwah adalah kegiatan paling konkret yang bersifat inklusif. Islam di satu sisi lain eksklusif, di sisi lain inklusif.

Barangkali banyak juga yang berpikir, membicarakan golongan adalah sesuatu yang tabu. Menurut mereka, hanya dengan saling menghargai dan menghormati, berbagai golongan bisa damai. Padahal, persoalan perpecahan umat tidak bisa terselesaikan dengan propaganda semacam itu. Sebab, perpecahan timbul karena masing-masing golongan memiliki tafsir atas Al-Qur’an dan Shunnah yang berbeda. Selain itu, kondisi yang melahirkan pergerakan mereka juga berbeda-beda. Belum lagi jika berbicara mengenai dinamika historis yang silang-sengkarut antara satu dengan yang lain. Menganggap pembicaraan golongan merupakan sesuatu yang tabu justru menghambat persatuan yang seharusnya digalang dan dihidupi.

Tulisan ini terutama diperuntukkan bagi mahasiswa yang baru saja memasuki dunia kampus, dunia yang penuh tanda tanya. Bagi mahasiswa yang telah bergelut lama dalam dunia dakwah, maupun yang berminat memasukinya. Tidak ada maksud untuk meneguhkan satu pihak, maupun melemahkan pihak lain. Saya terbuka untuk berdialog dan berdiskusi dalam bentuk apa pun.

Barangkali ada baiknya saya utarakan sedikit mengenai pribadi saya berkaitan dengan problematika pergerakan islam. Saya terlahir di keluarga yang condong ke Muhammadiyah. Ayah saya seorang kepala MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah) di sebuah desa terpencil. Akan tetapi, saya juga terbiasa dengan berbagai tradisi Nahdhlatul Ulama yang waktu itu memiliki TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Di desa saya termasuk yang bisa menjaga toleransi. Jadi saya beruntung bisa merasakan dua golongan yang bekerjasama saling menguntungkan. Di SMA saya dikader oleh teman-teman “Tarbiyah”. Mereka mendirikan “Shohib Center” yang sampai sekarang masih kuat. Saat mulai kuliah, saya ditransfer ke Forum Silaturrahim Mahasiswa Muslim (Forsalamm) UGM. Akan tetapi saya memutuskan untuk tidak ikut karena merasa tidak cocok dengan metode yang diajarkan. Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi. Saya jadi kesulitan menemukan wadah untuk belajar agama.

Di Jama’ah Sholahuddin (JS) pun tidak mampu mewadahinya. Saya berulangkali mengusulkannya dalam berbagai format, tapi gagal dilaksanakan. Beruntung di JS beberapa memiliki kesepahaman dengan problematika keilmuan islam. Maka kami menginisiasi Forum Mengeja Hujan (FMH) dengan format diskusi terbuka. Walaupun masih jauh untuk mewadahi kami dalam menuntut ilmu, paling tidak cukup membantu dalam membuka wawasan dan pengetahuan. Sempat beberapa kali hidup-mati karena inkonsistensi para pegiatnya. Akhirnya kini sudah tiada bersisa, seiring dengan keputusan saya keluar dari JS. (Selengkapnya baca: http://wp.me/p43kpd-3L dan http://wp.me/p43kpd-3Q)

Selamat membaca dan berdialektika!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s