Seri Aktivisme Mahasiswa Muslim: Media Islam Apanya?(!)

Aktivisme mahasiswa muslim tidak bisa dilepaskan dari media yang menjadi garda terdepan propaganda kelompok mereka. Sebut saja, sholatussalam.com, arrahmah.com, voa-islam.com, suara-islam, kompasislam.com, pkspiyungan.com, islamedia.com, eramuslim.com, dakwatuna.com, muqawwamah.com, hidayatullah.com, dll. Dengan berbekal struktur organisasi yang seadanya dan ilmu jurnalisme yang pas-pasan –atau bahkan barangkali sama sekali tidak mengerti apa itu jurnalisme- mereka membuat berbagai konten untuk menyuarakan kepentingan mereka dan menggalang banyak massa agar mendukung apa yang tengah mereka lakukan. Tentu saja rating mereka kalah jauh dibanding korporasi-korporasi media yang akumulasi modalnya jauh lebih besar. Mereka mengusahakan beberapa hal untuk menaikkan rating salah satunya dengan membuat nama mereka mirip media yang sudah populer, misalnya voa-islam, gubahan dari “Voice of Amerika” menjadi “Voice of Al-Islam”.

Akan tetapi, di era banjir informasi seperti sekarang, banyak orang justru lebih memilih memusatkan perhatian mereka ke informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya. Apalagi ditambah ‘aqidah’ anti-sekuler, banyak yang menaruh sentimen terhadap media mainstream karena dianggap sekuler dan sering memojokkan islam. Padahal tuduhan ini hanya didasarkan pada satu-dua berita yang bahkan belum tentu maksudnya benar-benar memojokkan umat islam. Maksud dari “memojokkan” itu sendiri seperti apa, sampai sekarang belum jelas. Selain itu, letak sekuler media-media yang dimaksud juga perlu dipertanyakan. Walaupun demikian, media-media ini efektif menggiring opini masyarakat agar menjadi pembaca loyal mereka dan mengesampingkan media-media “sekuler”.

Informasi yang mereka dapat umumnya dari akun social media atau media yang sepemikiran dengan mereka. Tanpa melakukan disiplin verifikasi, mereka menyebarkan informasi secara serampangan, bahkan dengan kata-kata radikal-provokatif ala media-media pra-reformasi. Hal ini terlihat saat mereka merapat kubu Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 hanya karena banyak “partai islam” (baca: http://wp.me/p43kpd-4i) banyak yang berkoalisi. Mereka menyebar informasi untuk menjatuhkan lawan politik mereka dengan melakukan black campaign. Katanya Jokowi itu keturunan cina, hanya karena kesaksian Ridwan Saidi, yang entah siapa berhak bicara silsilah keluarga (baca: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/05/20/30233/ridwan-saidi-bapaknya-jokowi-bernama-oey-hong-liong/#sthash.mlxV3cYx.dpbs). Propaganda yang menggunakan sentimen keagamaan memang efektif menggalang dukungan di kalangan mereka. Kalau sudah ada “Yahudi” atau “Kristen” yang dianggap berafiliasi akan ‘dihabisi’. Belum lagi propaganda anti-komunis yang jauh lebih wagu. Ibu Prabowo dan saudara-saudara mereka banyak yang menganut Nashrani tidak pernah digubris.

Masih segar di ingatan kita bagaimana pkspiyungan.com, islamedia.com, dakwatuna.com, dan eramuslim.com yang membela mati-matian Luthfi Hasan Ishaq, yang terjerat korupsi impor daging sapi. Dalil mereka bukan fakta persidangan atau prinsip-prinsip hukum, tapi lagi-lagi teori konspirasi, yang katanya hal ini merupakan upaya menjatuhkan partai “paling kuat yang dimiliki umat islam”, terlepas dari perdebatan tepat-tidaknya metode KPK dalam melakukan penangkapan. Penangkapan Presiden PKS ini memang mengguncang mereka. Tokoh yang selama ini dielu-elukan tiba-tiba terjerat kasus paling keji dan hina, ditambah berita tentang wanita yang diduga selingkuhan pula.

Muqawwamah.com dan sholatussalam.com baru-baru ini naik rating karena dukungan mereka terhadap kelompok paling kontroversial ISIS. Akan tetapi, dukungan mereka hanya berdalil “khilafah” yang dibawa ISIS ini sesuai dengan kriteria-kriteria dengan membuat analogi pada ayat dan hadits. Berita-berita tentang pembantaian suku Yazidi atau kebengisan lain tidak mereka pertimbangkan, atau setidaknya diklarifikasi kejadian seperti apa yang benar menurut mereka. Mereka hanya mendasarkan pada rekaman video yang berisi seseorang yang katanya warga Yazidi mengaku tidak ada apa-apa. Counter-attack yang payah. Selain itu, kebanyakan beranda mereka dihiasi dengan berita-berita “kemenangan” ISIS bahkan Al-Qaeda yang menduduki wilayah ini dan itu. Baru-baru ini beredar pula berita tentang Israel yang “menyerah” dan Hamas “menang” tidak peduli berapa warga sipil yang tewas dan bangunan yang porak-poranda. Entah bagaimana mereka mendefinisikan kemenangan.

Semua ini terjadi karena tidak ada akumulasi modal yang dipertaruhkan. Media yang mengandalkan donasi suka rela dan tenaga yang suka rela pula tidak pernah bisa menjaga integritas sebagai media yang layak dipercaya. Berbeda dengan media mainstream. Akibat satu berita saja bisa menjadi penghantam yang besar yang mengancam kantong mereka. Kita bisa melihat jebloknya saham Viva dan MNC pasca pilpres akibat penayangan survei quick-count yang datanya diragukan. Ini sebabnya, kenapa perlu setidaknya mempertimbangkan media mainstream, tentunya dengan memahami problematika di dalamnya.

Media-media yang telah disebutkan, selain berfungsi sebagai alat propaganda, memang berfungsi juga sebagai sarana dakwah. Sayangnya banyak muslim yang tidak bisa membedakan mana informasi yang memiliki muatan dakwah, mana yang hanya propaganda untuk melindungi kepentingan tertentu (baca: http://wp.me/p43kpd-40). Persoalannya di sini bukan hanya mana yang benar dan mana yang salah, tapi bagaimana kebenaran itu bisa dibungkus seakan kesalahan, atau sebaliknya. Bahkan sampai pada, informasi macam apa yang secara dominan berkembang, menyiratkan apa saja, dll.

Sulit dipercaya mereka membawa nama islam tapi sama sekali tidak mencerminkan perilaku muslim, dalam hal ini mengolah informasi. Mungkin kita perlu berrefleksi sejenak, bagaimana para ulama klasik begitu teliti dalam memilah khabar al-shadiq dan hanya mempercayai sumber yang benar-benar terpercaya. Bahkan hal ini dikembangkan dalam metodologi pengkajian hadits. Ada satu saja perawi yang diragukan keimanannya, hadits bisa berubah statusnya. Dan yang paling penting, logika yang digunakan, yaitu verifikasi, bukan falsifikasi. Verifikasi, menganggap benar jika ada yang membenarkan. Sebaliknya, falsifikasi, menganggap benar, jika tidak ada yang menyalahkan. Di era banjir informasi seperti saat ini, yang menjadi gate-keeper bukan lagi media, tapi kita sendiri. Bisa menguntungkan, bisa menjebak pula. Tergantung bagaimana kita memahami problem globalisasi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s