Seri Aktivisme Mahasiswa Muslim: IM, PKS, dan Tarbiyah

Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan gerakan transnasional berhaluan revolusionis dengan pendirinya, Hasan Al-Banna. Baru-baru ini gerakan ini banyak dibicarakan karena menjadi pencetus Arab Spring. Rezim Mubarok, diktator yang telah lama bercokol menguasai Mesir berhasil tumbang dengan gerakan massa. Sekalipun hanya bertahan satu tahun, Muhammad Mursi berhasil membawa banyak perubahan, salah satunya dukungannya terhadap Palestina dengan membantu perekonomian yang sedang terpuruk. Bagai kartu-kartu domino, gerakan ini memicu gerakan serupa di negara-negara lain, salah satunya Suriah yang sampai sekarang belum dapat menyelesaikan konflik yang sedang dihadapi.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki akar pemikiran yang sama dengan IM. Hanya saja partai ini telah mengalami banyak perubahan sehingga memiliki pola gerak yang jauh berbeda dengan sepupunya, FJP di Mesir. Beberapa pengamat banyak mengapresiasi partai ini karena memiliki pola kaderisasi yang cukup jelas dan gerakannya pun beretika jika dibandingkan partai-partai lain di Indonesia. PKS memiliki kelebihan yang membuatnya kuat sampai sekarang, yaitu kemampuannya mengkader banyak intelektual muda. Penokohan yang dilakukan pun tidak hanya berpusat pada satu orang. Maka saat Luthfi Hasan Ishaq tertangkap kasus korupsi, Anis Matta dengan mudah mengembalikan situasi.

Adapun mengenai sebutan “Tarbiyah” masih belum jelas sejak kapan istilah ini digunakan. Istilah ini sengaja dibuat untuk menyembunyikan agenda-agenda politik mereka. Sejak tahun 80-an, ber-politik praktis memang menjadi suatu hal yang tabu. Sebagian besar akademisi menganggap, bahkan sampai sekarang, berafiliasi dengan partai politik adalah dosa besar. Hal ini diakibatkan citra partai politik yang selama ini berdiri tidak pernah mencerminkan nilai luhur demokrasi. Di sinilah letak keterputusan antara ranah intelektual dan elit politik. Maka tidak heran jika kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah tidak pernah sejalan dengan wacana intelektual yang dikembangkan di ruang-ruang akademis. Maka agar orang-orang ini diterima dan dapat menyusup di berbagai lini, mereka memerlukan topeng. Dan topeng “Tarbiyah” lah yang mereka pilih. Barangkali agar memiliki kesan visioner dengan memilih term yang sering diartikan secara harfiah “pendidikan”. Tapi tetap saja aneh karena kata “Tarbiyah” berlaku untuk sesuatu yang sangat umum, sebab dipakai juga untuk memelihara ternak.

Kalangan mereka tidak pernah bisa menjawab soal term ini, karena kebanyakan tidak menguasai bahasa arab. Biasanya hanya beberapa kosa kata. itu pun banyak yang salah kaprah, misal ane yang berarti saya; antum yang diartikan kamu tunggal maupun jamak tapi formal, laki-laki maupun perempuan, padahal dalam bahasa arab antum artinya kalian (laki-laki), itu pun kadang ditambah “antum sekalian”; kalau tidak formal sering menggunakan ente. Kelompok mereka sangat eksklusif, sehingga memiliki beberapa slang. Jika ingin diakui sebagai bagian dari mereka, kita harus menggunakan slang ini.

Kajian-kajian pemikiran pendahulu IM sudah lama hilang di kalangan mereka. Bahkan sejarah dinamika pergerakan pun tidak pernah diberikan. Entah karena semacam kelesuan atau sengaja dihilangkan agar mudah dikendalikan. Akibatnya, pola gerak mereka cenderung mengikuti arus besar dan transaksional. Agenda revolusioner sama sekali hilang. Tinggalah agenda utopis yang sering mereka elu-elukan untuk menunjukkan eksistensi mereka. Misalnya, forum-forum yang katanya “lingkup nasional” didirikan. Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) sebenarnya bukan salah satu diantaranya awalnya. Tapi entah sejak kapan forum ini efektif menjadi alat politik mereka. Dari pusat sampai daerah dipegang oleh kader-kader militan PKS.

Dikuasainya lembaga-lembaga dakwah kampus menjadi salah satu faktor terpenting dominannya ideologi yang mereka bawa. Di UGM agak unik karena Jama’ah Shalahuddin (JS) lebih dinamis dan sulit ditaklukkan. Maka dibentuklah Forum Silaturrahim Mahasiswa Muslim (Forsalamm) UGM. Selain itu, JS juga tidak punya positioning apa-apa dibanding Salman ITB, misalnya yang mengelola infaq masjid kampus. Maskam UGM sejak awal berdirinya sudah dikelola oleh Yayasan yang tidak jelas asal-usulnya. Maka sejak pendirian Maskam dan perpindahan JS dari gelanggang menuju maskam menjadi sangat kerdil dan tidak berdaya. Maka secara politis sama sekali tidak menguntungkan. (Lebih detail, baca: http://wp.me/p43kpd-1p)

Lalu kenapa banyak yang terpikat hatinya dengan IM? Tentu saja karena mereka menciptakan zona nyaman. Jika kalian bergabung dengan IM kalian bisa mencitrakan diri seagamis mungkin tanpa perlu melakukan apa-apa. Cukup koar-koar di social media tentang heroisme Hamas, atau beberapa kali turun ke jalan mungkin. Tidak perlu berpikir pusing-pusing soal metode dakwah di era demokrasi, bagaimana islam menjadi sebuah entitas politik, sejarah masuknya islam di Indonesia, dll. Ditambah dengan pembahasan cinta yang sendu dan melankolik, lengkap lah kalian menjadi “Tarbiyah” yang “kaffah”.

Di balik zona nyaman inilah, IM Militan bergerak menyusup ke berbagai lembaga yang dianggapnya menguntungkan mereka secara politis. Lembaga-lembaga yang memiliki akses langsung ke kampus menjadi perhatian utama, misalnya Asistensi Agama Islam (AAI), BEM setingkat kampus sampai fakultas, Lembaga dakwah kampus maupun fakultas, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Agenda ini tidak sepenuhnya berhasil. Di UGM hanya di kampus barat (Saintek, Kesehatan) yang banyak dikuasai. Kampus timur umumnya lebih dinamis.

Dominasi ini sebenarnya tidak berdampak langsung pada kaderisasi. Sebab, ideologi mereka terlalu lemah jika dihadapkan dengan trend pemikiran mahasiswa saat ini. Dominasi ini hanya memenuhi hasrat mereka untuk berkuasa. Hal ini tampak dari dibentuknya banyak forum setingkat nasional tiap fakultas yang tujuannya tidak jelas. Ditambah heroisme hamas, lengkaplah sudah hasrat berkuasa itu. Sebab, secara tidak langsung hal ini membuat mereka bangga memiliki akar pemikiran yang sama dengan kelompok paling disegani di kalangan umat muslim. Tidak peduli gerakan yang mereka lakukan di tanah air jauh dari para pendahulu mereka. Tidak peduli harus bersembunyi di balik ketek Prabowo demi menghidupi partai mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s