Seri Aktivisme Mahasiswa Muslim: Khilafah, Negara Islam, atau Demokrasi-Muslim?

Banyak orang menyamakan antara Khalifah dan Negara Islam (Daulah Al-Islamiyah), padahal dua hal ini memiliki perbedaan mendasar. Khalifah mengacu pada suksesi kepemimpinan Rasulullah saw dan 4 khulafaurrasyidin setelahnya, yang sampai sekarang masih diyakini banyak kalangan umat islam sebagai kepemimpinan paling ideal. Kata “khilafah” masih digunakan oleh beberapa kelompok untuk menamai Daulah Abbasiyah sampai Ottoman Turki. Sedangkan konsep negara islam muncul setelah Pan-Islamisme berkembangan di tanah hijjaz. Kedua konsep state ini sama-sama mengacu pada hukum islam (syariat), akan tetapi masing-masing memiliki definisi sendiri-sendiri mengenai apa itu syariat dan bagaimana syariat diterapkan. Berbagai kelompok yang masih menjunjung tinggi penerapan Khalifah dan Negara Islam banyak disebut “islam-formalis” karena lebih menekankan bentuk (form) daripada subtansi. Beberapa kelompok lebih memilih menggali substansi islam dengan menggubah tafsir mereka atas Al-Qur’an dan Shunnah dengan menyesuaikannya dengan konsep demokrasi. Mereka disebut sebagai “islam-substansialis”.

Islam-formalis banyak menggunakan propaganda anti-semit, anti-Amerika, anti-barat, anti-liberal, dll untuk membuat legitimasi atas konsep yang mereka ajukan. Berbagai pihak yang dianggap menghalangi mereka membangun khalifah maupun negara islam akan dilabeli “musuh islam”. Beberapa kelompok radikal membuat fatwa “menghalalkan darah” musuh-musuh islam tersebut. Maka mereka lebih terlihat sebagai antitesis yang anti terhadap banyak hal daripada gerakan revolusioner.

Berbeda dengan kalangan islam-substansialis yang justru banyak terombang-ambing ke banyak kepentingan daripada menggali kontekstualitas Al-Quran dan Shunnah. Baik islam-formalis maupun islam-substansialis bergerak semakin ekstrem, ke kiri dan ke kanan. Islam-formalis ekstrem melawan arus, sedangkan islam-substansialis ekstrem mengikuti arus. Masing-masing berseteru siapa yang paling benar daripada menjembatani berbagai gagasan. Bahkan kelompok yang sama-sama menganut islam-formalis maupun islam-substansialis bisa berbeda konsep.

Perseteruan yang saling bekelindan ini disebabkan karena pembacaan sejarah mereka yang payah. Sejarah yang dibaca hanya soal sejarah perang. Penaklukan satu wilayah ke wilayah lain. Padahal, berbicara penaklukan saja, jika dibuat analisis lebih jauh, mengenai penaklukan yang dilakukan oleh khalifah waktu itu, apakah semata berhadapan dengan pemimpin-kafir; atau fasisme, yang mau tidak mau harus dihadapi dengan darah dan pengorbanan? Bagaimana dengan adanya komunitas muslim di berbagai negara, misal china, indonesia, india, pakistan, bosnia, dll? Apakah mereka menganut islam semata karena represi dari Ottoman Turki atau kesadaran yang menjadi bukti hidayahNya? Bagaimana dengan kerajaan islam yang tersebar di berbagai belahan dunia saat “Masa Kebangkitan Islam”? Bukankah khilafah lebih terlihat seperti perjanjian multilateral daripada satu state?

Lalu apa yang dimaksud ummah itu? Apakah ia harus terpaku pada satu bentuk state; atau ia bisa hidup di mana dan dalam keadaan yang seperti apa saja? Atau, pertanyaan yang lebih mendasar lagi, seperti apakah menjadi muslim itu? Apakah mayoritas penduduk ber-KTP muslim seperti di indonesia cukup untuk membuat legitimasi penerapan hukum islam? Tidak adakah yang menyadari banyak orang indonesia mengaku sebagai “muslim” karena peristiwa G30S/PKI karena yang tidak “agamis” akan dianggap berbahaya karena berafiliasi dengan partai komunis yang diasosikan “ateis”?

Maka yang menyuarakan Khalifah, Negara Islam, maupun Demokrasi-Muslim adalah omong kosong belaka, yang hanya menjadi obat bagi pada pengidap “syndrome of power” atau yang lebih banal lagi, self-branding agar tercitra heroik di mata taksiran mereka. Omong kosong, selama islam hanya dipandang sebagai identitas dan gaya hidup, bukan sebagai worldview, minimal. Atau, sesuatu yang tidak lagi dapat didefinisikan dengan kata-kata. Kata-kata buatan manusia sebenarnya hanya menyempitkan makna dari islam. Seorang muslim adalah seseorang yang memahami islam melampaui definisi ulama mana pun. Menghidupi transendensi islam bukan di media sosial seperti yang dilakukan oleh para muslim-identik, melainkan di dimensi yang sama sekali tidak dapat dijamah, kecuali bagi mereka yang dapat menampakkan sisi ilahiyahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s