Islam dan Perebutan Kuasa Atas Simbol

Siapa yang paling berhak menyandang “Islam/Islami/Muslim”? Apakah Jonru yang membela habis-habisan “Partai Islam”-nya? Apakah Fahrurrozi, Gubernur Tandingan “sampai kiamat” versi FPI? Apakah islampos.com yang rajin menebarkan wacana anti-semit dan anti-syiah? Apakah Yusuf Mansyur yang ingin segera Pilpres lagi? Terlepas dari berbagai kepentingan yang mendalanginya, mereka sedang berkompetisi mencari legitimasi mengenai ke-islam-annya, sekaligus menunjukkan, “Beginilah seharusnya Islam itu!”

Lalu, bagaimana sebenarnya “islam” diasumsikan oleh umat muslim sendiri? Islam yang apolitis, ahistoris, asosial, dan menegasikan banyak hal itukah? Persoalannya bukan apakah dalil yang digunakan itu benar atau tidak, tapi soal segelintir dalil yang dijadikan pusat dan sekian banyak dalil yang dijadikan pinggiran. Sangat minim pembicaraan mengenai, misalnya, pendataan kesadaran beragama jama’ah di tiap masjid. Padahal inilah salah satu titik tolak yang bisa digunakan untuk membangun keberadaban. Masjid adalah bangunan pertama yang terpikir Rasulullah saw sesampainya di Madinah.

Masjid mengajarkan filosofi yang komprehensif mengenai segala sesuatu. Dalam proses membangun peradaban, Masjid pula yang menjadi sentral segala sendi kehidupan, mulai dari perekonomian sampai budaya. Bagaimana bisa ini terlalaikan? Apakah karena terlalu disibukkan dalam perebutan kuasa atas simbol “islam” dan akhirnya mengaburkan Islam itu sendiri?

Dulu saat Jaringan Islam Liberal (JIL) mulai populer, apakah orang-orang yang getol membawa slogan #IndonesiaTanpaJIL itu berusaha membuat legitimasi dirinyalah yang paling “islam” karena menurutnya, islam adalah yang bukan JIL? Akhirnya, jika ingin definisi secara verbal apa itu islam, islam adalah yang bukan “liberal, komunis, kapitalis, Amerika, yahudi, zionis, syiah, sekuler, dll”. Bagi berbagai entitas yang mengatasnamakan islam, memang itulah satu-satunya cara yang tersisa untuk membuat legitimasi, setidaknya penghiburan untuk diri sendiri, mulai dari personal sampai organisasi transnasional.

Pertanyaan selanjutnya, apakah hanya dengan membawa panji kalimat tauhid menjadikan sebuah organisasi menyandang nama islam? Jika tidak, lalu di mana sebenarnya letak islam itu? Apakah islam terlalu ‘transenden’ sehingga terlalu sulit ditangkap oleh pancaindera hambaNya yang lemah? Maka, kita hanya perlu menggeser simbol, dari yang konkret menjadi abstrak. Sebab, sesuatu yang konkret itu terlalu fana untuk dijadikan ukuran. Misalnya, keberislaman orang indonesia bukan diukur dari banyaknya masjid yang dibangun, tapi dari jama’ah yang mengisi shof tiap sholat.Sebab, dibangunnya masjid sangat mungkin dijadikan ajang prestisius, alih-alih mengakomodasi kepentingan peribadahan umat islam. Terdaftarnya mayoritas orang indonesia sebagai muslim pun kita perlu curiga ada hubungannya dengan pembantaian 1965, sebab waktu itu komunis selalu diidentikkan dengan atheis. Kita tidak pernah tahu berapa besar pemegang KTP Islam yang sholat.

Keberislaman memang tidak diukur dari sholat atau haji. Islam mencakup segala sendi kehidupan. Namun, setidaknya, kita dapat melihat secara jernih seberapa besar islam di-ilmu-amal-kan oleh umatnya. Lalu dengan begitu hal-hal di luar islam yang kini justru mendominasi asumsi kita atas islam bisa tersingkir. Itulah islam yang murni, islam yang kaffah (menyeluruh).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s