Serangkaian Pertanyaan untuk Dijawab Peserta KKN

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM memiliki sistem yang cukup mapan jika dibanding dengan kampus lain. Dengan demikian, mahasiswa UGM memiliki pilihan beragam dalam memenuhi kewajibannya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai syarat kelulusan. Pasalnya, LPPM bukan aktor tunggal yang menentukan lokasi dan tema KKN-PPM. Dosen dengan displin ilmu apa saja dapat mengusulkan lokasi mana saja dan tema apa saja, terlepas dari disetujui atau tidak. Akan tetapi, dalam implementasinya, dosen cenderung pasif dan hanya menjadi semacam formalitas. Mahasiswa yang tidak ingin begitu saja pasrah dengan penempatan yang dilakukan LPPM melakukan berbagai lobi untuk mengusulkan lokasi dan tema yang mereka inginkan dengan memanfaatkan kewenangan dosen. Pertanyaan pertama, atas dasar apa peserta KKN-PPM memilih antara menjadi tim pengusul, ikut tim pengusul, atau sekedar pasrah pada penempatan LPPM?

Kedua, jika memilih untuk menjadi tim pengusul, apa motivasi terbesar tim pengusul yang mendorong mereka menjalani berbagai konsekuensi yang tentu saja tidak mudah? Mereka harus bersusah payah mencari dana kesana-kemari dan meyakinkan pihak LPPM maupun sponsor bahwa program yang mereka ajukan pantas untuk diloloskan. Padahal, seandainya tidak ada satu pun tim pengusul dan semua pasrah pada LPPM, tidak ada masalah. Masuk tim pengusul ataupun tidak juga tidak mempengaruhi nilai maupun kelancaran kelulusan. Apalagi, pengajuan belum tentu disetujui dan disetujui juga belum tentu didanai. Akibatnya, banyak tim pengusul yang disetujui tapi tidak didanai -atau mungkin didanai tapi tidak penuh- nekat menggunakan uang pribadi untuk membiayai kegiatannya.

Ketiga, apa yang menjadi pertimbangan tim pengusul untuk merekrut anggotanya? Berbagai metode dilakukan, diantaranya:

  1. Rekrutmen tertutup yang biasanya dilakukan dengan cair. Metode ini dilakukan dengan memanfaatkan jaringan masing-masing anggota.
  2. Rekrutmen terbuka yang biasanya menetapkan serangkaian alur mulai dari pengumpulan CV sampai wawancara. Peserta KKN yang ingin bergabung dituntut untuk memiliki kualifikasi tertentu agar bisa diterima.

Tim ini paling lama hanya akan berdiri selama enam bulan dengan masa kerja efektif tidak lebih lama dari dua bulan. Dengan waktu yang sesingkat itu, mengorganisasi banyak orang dengan berbagai latar belakang bukan hal mudah. Apalagi hanya berdasar asumsi yang didapat dari hubungan pertemanan; CV; atau hasil wawancara.

Keempat, bagaimana tim pengusul mempertimbangkan jurusan maupun gender dalam melakukan rekrutmen? Bukankah salah satu prinsip KKN-PPM adalah realistis-pragmatis yang sebenarnya hanya membutuhkan orang yang mau gerak dan mampu bekerja dalam tim? Keterwakilan kluster untuk memenuhi prinsip interdisiplin cukup dipenuhi dalam tim pengusul, dalam hal ini lingkaran penginisiasi. (baca: Prinsip Pelaksanaan KKN-PPM) Jika kualifikasi ini yang digunakan, tentu saja mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi dan tidak terbiasa bekerja dalam tim kesulitan memilih kelompok. Tapi, bukankah lebih adil daripada memilih berdasarkan jurusan? Bagaimana dengan jurusan yang katakanlah tidak berhubungan langsung, misalnya filsafat, sastra, sejarah, dll? Selain itu, hasil akhir dari KKN-PPM adalah berupa bantuan konkret yang berguna untuk masyarakat, bukan semacam pengkajian ilmiah, sekalipun (harusnya) berangkat dari diskursus tertentu.

Kelima, apa pertimbangan yang digunakan peserta KKN-PPM yang ikut tim pengusul? Bagaimana dengan kecenderungan lokasi luar jawa, yang jika dilihat secara kasar, peminatnya jauh lebih besar ketimbang di pulau jawa, apalagi lokal Yogyakarta. Mengingat lokasi dan tema yang masih belum pasti akan disetujui atau tidak; didanai atau tidak. Selain itu, ketika pun berhasil bergabung, ia akan menjadi stranger karena di luar lingkaran penginisiasi. Bagaimana ia membangun kultur agar dapat bekerjasama dengan baik dengan yang lain? Lagipula, aturan main sangat bergantung pada gaya kepemimpinan Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) dan jajarannya.

Banyak mahasiswa memilih untuk pasrah kepada LPPM karena sama-sama gambling. Selain itu, jika memang memiliki semangat pengabdian, harus rela ditempatkan di mana saja, bukan? Selain itu, kelompok ini hanya perlu fokus pada implementasi program tanpa perlu pusing mencari dana. Pembentukan organisasi yang serentak dan setara juga lebih memudahkan mereka untuk saling mengenal satu sama lain tanpa ada kecanggungan. Secara kultur maupun struktur lebih unggul, dalam hal ini organisasi kontemporer macam unit kerja KKN-PPM. Bagi yang menjadi tim pengusul maupun sekedar ikut juga tidak masalah, bahkan dengan alasan yang paling banal sekalipun: piknik; asalkan semua program dijalankan dengan baik. Dari hasil pembicaraan beberapa teman, mereka mengakui kalau KKN-PPM tidak lebih dari sekedar piknik plus laporan, diselingi dengan melakukan beberapa program. Akan tetapi, aku tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Maka dari itu, mari kita jawab bersama berbagai pertanyan yang aku utarakan. Akhirnya, lagi dan entah sampai kapan, selamat membaca dan berdialektika.

Advertisements

2 thoughts on “Serangkaian Pertanyaan untuk Dijawab Peserta KKN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s