Blind-Daters dan Jerat Asumsi Pasar Film

Industri film kini berkembang sedemikian rupa, mengasumsikan pasar sedekimian tak terduga. Karya fiksi kreatif paling mutakhir ini berperan besar dalam membentuk dunia yang kita tinggali saat ini. Lalu sebagai penonton, jalan mana yang kita pilih? Barangkali dikotomi yang menurut banyak orang masih relevan digunakan, moviegoers dan filmlovers bisa menjadi referensi. Singkatnya, moviegoers merupakan kecenderungan penonton untuk tidak terlalu selektif terhadap film yang akan ia tonton; sedangkan filmlovers bisa melakukan riset sedemikian rumit hanya untuk menentukan keputusan ia akan nonton film apa, mulai dari rumah produksi, sutradara, pemain, genre, sampai behind the scene. Dua kecenderungan ini sama-sama tidak bisa lepas dari jerat asumsi pasar film. Mulai dari poster sampai berita sensasional soal pembuatannya pun, semua sengaja dibuat agar konsumen film tertarik mempertaruhkan uang dan waktunya untuk menonton.

Seperti halnya pegiat industri kreatif lain, film-maker hanya butuh satu prinsip, buatlah sesuatu yang belum pernah dibuat. Walaupun kini mulai tren remaking, tetap saja harus ada unsur kebaruan di dalamnya. Sesuatu yang baru itu memang tidak pernah benar-benar “baru”. Selalu ada reproduksi dari kisah-kisah sebelumnya. Mulai dari Epos Mahabharata dan Ramayana sampai The Avengers Age Of Ultron, bisa saja ditarik benang merahnya. Bagaimana manusia bergulat atas baik dan buruk; datangnya penyelamat di saat dunia dihantam kekacaubalauan; dll. Hanya saja sarana cerita yang digunakan berbeda, horison harapan yang mendasarinya beda pula.

Namun, di sisi lain, rumah produksi perlu meyakinkan dirinya, film ini dapat diterima konsumen, untuk mempertaruhkan modal sedemikian besar. Penentu film macam apa yang akan diproduksi tentu saja di tangan rumah produksi, akan tetapi ia perlu membuat kesimpulan atas selera pasar. Film-film Hollywood yang mendominasi tontonan film kita hari ini, sebenarnya hanya menawarkan satu hal, yaitu pengalaman (experience). Semakin ia bisa menawarkan audiovisual yang fantastis, semakin ia akan mendapat apresiasi banyak orang. Sebab, sejauh ini belum ada megaindustri yang dapat menyaingi rumah-rumah produksi di Hollywood.

Padahal, jika ditilik lebih jauh, dari segi cerita sangat kurang. Film yang kuat dari segi cerita, kebanyakan, bahkan hampir semua, dibuat berdasar novel. Novel yang telah laris-manis di pasaran, tentu saja ketika difilmkan banyak yang akan nonton. Harry Potter dan The Lord of The Rings merupakan dua diantaranya.

Sebagai orang yang cukup kuper soal film, aku bertanya pada diriku sendiri, lalu bagaimana melepaskan diri dari jerat asumsi pasar film? Apakah aku harus ikut-ikutan penasaran ketika yang lain banyak yang penasaran? Apakah aku harus mengatakan bagus terhadap film yang banyak orang bilang bagus? Karena sudah terlalu banyak dikecewakan oleh berbagai film, maka kalau boleh, aku tidak ingin mengkategorikan diri dalam moviegoers atau filmlovers, melainkan blind-daters. Aku mencolok mataku dan membutakannya. Aku tidak bilang kalau ini adalah cara jitu melepaskan diri dari jerat asumsi pasar film. Sama sekali tidak. Ini hanya wujud keputusasaan, karena jerat itu begitu kuat dan siapa pun tidak bisa lepas. Semakin berontak, semakin terjerat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s