Islam-Reaksioner dalam Silang-Sengkarut Kepentingan

Baru-baru ini, netizen disibukkan dengan tragedi penyerangan media satir Charlie Hebdo, Perancis. Berbagai aksi solidaritas datang dari berbagai belahan dunia seiring dengan tewasnya 12 korban. Masing-masing pihak menanggapi isu ini secara berbeda. Secara umum, muatan propaganda lebih dominan terlihat ketimbang pendalaman masalah yang sedang terjadi. Kebanyakan tidak peduli kronologi bagaimana serangan brutal itu bisa terjadi, jaringan teroris macam apa yang terlibat, gambar seperti apa yang disebut-sebut menistakan agama itu, dll.

Ironis, sekaligus menggelikan. Mereka banyak mengumpat soal media yang dimuati kepentingan politis tertentu, tapi mereka pula yang membuat kesimpulan terlampau bodoh dari pemberitaan media, mengait-ngaitkannya secara serampangan, dan digunakan untuk kepentingan propaganda kelompok mereka. Saya tidak mengatakan kalau memboncengkan satu kepentingan politis tertentu dalam sebuah pemberitaan itu haram hukumnya. Justru seorang jurnalis harus punya sikap atas satu masalah tertentu. Dengan begitu, berita yang dihasilkannya memiliki kepentingan tertentu pula untuk membela satu pihak atas konsekuensi dari sikap jurnalis.

Berikut ini salah satu pernyataan yang dirilis oleh BBC Minggu (11/1):

“These extremists… do not represent the Muslim community. We are here with the French people, with the Jews, with all countries to fight against terror” – Mehdi, Paris.

Media ini membuat olok-olok hampir semua entitas ras dan keagamaan. Akan tetapi, mereka yang kini pasang badan membela juga terdiri dari berbagai ras dan agama, yang juga menjadi “korban” objek olok-olok media ini. Nada satir yang menjadi sarana retorika media ini untuk mengkritik perilaku orang banyak, cukup bisa dimaafkan, sekalipun cara mereka sebenarnya justru mencederai demokrasi maupun kebebasan itu sendiri. (baca: Kita Bukan Charlie, Kita Melawan Charlie). Mereka bergerak atas rasa empati terhadap tewasnya korban.

Kartun-kartun satir pun membanjiri social media, dan menunjukkan betapa tidak adil, karya seni dibalas dengan bedil dan peluru, sebusuk apa pun karya seni itu. Ini juga sebuah ironia tersendiri. Gelombang pembelaan justru datang kepada kelompok yang cacat secara ideologi, kaitannya dengan menghargai keberagaman. Di sisi lain, para ekstrimis anti-islam seakan mendapat angin segar melancarkan aksi kejahatan.

10306379_658749857580425_3180359183028268950_n

Jika ada yang masih membela tindakan penyerangan ini, mari kita bicara untung-rugi. Pasca penyerangan, media ini menaikkan oplah berlipat-lipat saat menerbitkan edisi selanjutnya, yang sebenarnya jauh lebih halus daripada biasanya.

WE WILL NOT GIVE IN, OTHERWISE ALL THIS WON’T HAVE MEANT ANYTHING. ’ – Richard Malka, the paper’s lawyer

Bandingkan, misalnya, dengan kartun yang dirilis 2012 lalu menjelang beredarnya film bodoh Youtube Innocence of Muslims.

In one, he’s bent over, a star covering his asshole; the caption reads “A star is born.” In another, above the caption “The film that will set the Muslim world on fire,” Muhammad is shown naked lying on a bed, being filmed from behind, saying “My ass? And you love it, my ass?”

Dari sini bisa dilihat bagaimana cara kerja para pengolok-olok ini. Mereka melihat satu fenomen parsial dan membuat lelucon khas barat dengannya. Kalau tidak seksualitas, ya rasis. Mereka membuat sketsa atas Nabi Muhammad saw dan terus-menerus direproduksi. Lelucon semacam ini sangat biasa dalam industri hiburan, terutama dengan genre komedi. Muatan kritik sangat minim, bahkan hampir tidak ada.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah diolok-olok, ‘harus’ membela pengolok-olok karena tindakan ekstrimis terlampau hewani untuk dibela. Seakan menghibur diri, lalu kita tidak mau kalah berlomba-lomba untuk menjadi pihak yang paling sengsara.

10665806_10153030414521926_5134230471389837635_n

Latest caricature by Carlos Latuff While everyone remembers/honours ‪#‎JeSuisCharlie‬, we seem to have collectively forgotten about the 13 journalists ‪#‎Israel‬ killed in ‪#‎Gaza‬ over the summer. Or, how about the 8 Palestinians jailed over Facebook posts?

Islam-reaksioner tidak peduli apa yang media ini ingin sampaikan. Mereka hanya tahu media ini telah menistakan agama mereka dengan menelanjangi Nabi; lalu mereka membenarkan tindakan penyerangan itu dengan dalil-dalil tertentu; kemudian media ini dianggap tidak kapok karena kembali menampilkan kartun Nabi Muhammad saw itu kembali. Padahal, media ini menampilkan kembali sosok Nabi Muhammad saw versi mereka dengan muka bersedih yang membawa poster “Je Suis Charlie” untuk menyampaikan: Umat Islam yang direpresentasikan dengan Sang Nabi, yang dulu diolok-olok, bahkan ikut membela pengolok-olok karena telah menjadi korban ekstrimis.

Caricature by Sarwar Ahmed

Caricature by Sarwar Ahmed

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s