Kampung Kautsar dan Hal-Hal yang Terlewatkan (1)

Tak pernah sekalipun terbayangkan, masa-masa di karisma adalah masa-masa yang kini tengah ku rindukan. Padahal tidak ada yang spesial. Hanya sekelompok remaja dengan segala kenakalan dan kekonyolannya, berkumpul untuk mewadahi kreativitas dan ide. Tidak lebih dari sekumpulan siswa SMA yang mencoba belajar ilmu keislaman dengan sedikit terbata-bata. Di tengah tugas yang menyebalkan dan kenakalan yang menyenangkan, kami hanya sekumpulan remaja yang meluangkan waktu untuk memenuhi rasa penasaran kami akan cinta dan kebersamaan.

Barangkali berangkat dari kesadaran akan banyaknya bimbingan yang dibutuhkan Karisma, kami berinisiatif mengaktifkan kembali Kampung Kautsar yang waktu itu masih dipimpin oleh Mas Dodi. Kami mengawali upaya ini dengan berbincang dengannya. Ia pun menyambut baik ide kami ini. Akhirnya, kami sepakat mengagendakan musyawarah dengan agenda utama re-organisasi Kampung Kautsar. Kami sengaja mengagendakannya berbarengan dengan momen lebaran supaya suasana lebih nyaman.

Waktu itu sempat kesulitan mencari tempat, karena sekolah libur dan Pak Amin terkenal paling susah dan bawel meminta izin, bahkan hanya untuk membukakan gerbang. Mau bagaimana lagi, kami juga sering teledor. Peringatan dan cercaan adalah lagu sehari-hari kami. Ditambah lagi Kepala Sekolah yang tidak terlalu pro dengan kami. Untung saja, kami yang waktu itu masih aktif di Forsais bisa meminjam kantor Nurul ‘Ilmi.

Satu demi satu peserta datang. Masing-masing perwakilan angkatan mulai terlihat. Sayang sekali, angkatan kami sebagai penginisiasi re-organisasi justru tidak banyak yang datang. Kekecawaan pertama. Lagi-lagi, show must go on. Kami pun memulai musyawarah dan satu demi satu peserta mulai berbicara.

Musyawarah berjalan alot. Tiap peserta saling lempar tanggungjawab. Yang tua menunjuk yang muda, yang muda menunjuk yang tua. Mereka yang kami anggap lebih dewasa dan bijak ternyata lebih kekanak-kanakan dibanding kami. Kekecawaan kedua.

Sebagai moderator, aku pun angkat bicara. “Jika kita saling lempar tanggungjawab, tidak akan selesai walau sampai kapan pun. Kemarin kami sempat berbincang dengan Mas Dodi. Sebaiknya, pengurus Kampung Kautsar diampu angkatan 2011 (angkatanku) atau 2010 agar tidak terlalu jauh jaraknya dengan karisma. Dengan begitu kedekatan bisa lebih terjaga.”

Peserta pun mulai sumringah. Mereka menganggap pendapat yang baru saja aku utarakan adalah sebuah kalimat yang menyiratkan: “Kalau kalian enggak mau, sini aku saja yang jadi ketuanya.” Kekecewaan ketiga.

Aku tidak masalah jika memang harus menjadi Ketua. Tapi haruskah dengan cara seperti ini? Menjadi Ketua, karena satu-satunya yang mau. Kenapa berbicara kapabilitas, manfaat-mudhorot, dll menjadi satu hal yang muluk-muluk?

Akhirnya, aku hanya bisa berkesimpulan, banyak orang bicara soal hal-hal baik, tapi hanya sedikit orang yang konsisten dengan omongannya.

Aku pun menarik nafas dalam-dalam, tahun-tahun berikutnya sepertinya akan terasa berat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s