Kampung Kautsar dan Hal-Hal yang Terlewatkan (2)

Sungguh sulit dipercaya. Orang yang dulu begitu lemah terhadap wanita, kini orang yang ‘harus’ paling kuat menghimpun organisasi yang mengalami kekosongan sekian lama. Masih segar di ingatan, betapa jalinan hubungan yang begitu rumit mengotori segala niat baik. Barangkali banyak orang akan nyinyir berkata, “Huh, sok suci, padahal munafik juga.” Aku pun hanya bisa terdiam. Diam diantara ketidaksempurnaan dan penyesalan.

Sejak tahun pertama masuk kuliah, aku telah menenggelamkan diri dalam berbagai organisasi. Kampung Kautsar tergeser menjadi prioritas kesekian. Lagipula, aku berpikir Karisma harus aktif berkomunikasi dengan KK jika ingin meminta bantuan. KK yang tidak memiliki kewenangan apapun juga tak mampu berbuat banyak jika Karisma sendiri tidak membuka dirinya. Tapi, semua pikiran itu terhempas entah kemana setelah seseorang mengajarkanku banyak hal.

“Karisma belum mengadakan LDK (Latihan Kepemimpinan Dasar). Bagaimana kalau KK yang mengadakan?” Usul Vera.

Setelah berhasil meyakinkanku, kami bersepakat mengumpulkan teman-teman yang masih bisa dijangkau. Seingatku, beberapa teman sempat hadir, diantaranya Hery, Ayik, dan Biga. Tiga materi kita rumuskan, pengisinya aku sendiri, Hery, dan Vera. Perijinan diurus Karisma. Kebetulan tidak se-alot kami dulu. Dengan ditemani “sego gudang” buatan Mbak Rina, lengkap sudah acara itu. Sekedar untuk berbagi apa yang kami punya.

Waktu bisa mengubah banyak hal, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa diubah oleh waktu.

Kini kami punya ideologi yang semakin terpolarisasi. Masing-masing melakukan apa yang kami yakini itu benar. Tangis dan tawa tak jarang mengiringi. Cukup mudah membereskan segala yang berhubungan dengan masa lalu itu. Tapi sama sekali tidak mudah membereskan kenangannya.

Aku kini adalah bukan siapa-siapa. Bukan anggota lembaga keislaman apapun, apalagi partai, ormas, dll. Aku kini adalah orang yang dituding liberalis, PKS-haters, pembela orang kafir, sekuleris, dll. Citraku telah hancur, sehancur-hancurnya. Terkadang aku hanya bisa menghibur diri, citra di mata manusia tidak penting. Manusia tidak pernah melepaskan sisi subyektifitas. Artinya ia seringkali melihat realitas dengan tidak jernih, karena terkotori kebencian. Terlepas dari citra baik yang sebenarnya aku butuhkan untuk menghimpun organisasi yang anggotanya terpisah jarak dan waktu ini.

Tentu saja banyak mimpi yang tersemat. Aku ingin berbagi kecintaan terhadap membaca. Aku ingin berbagi keasyikan mengarungi dunia tulis-menulis. Kalian tidak perlu menjadi liar sepertiku. Aku akan memisahkan apa yang kalian anggap baik dan membagikannya. Aku memang tidak pandai bicara ayat dan hadits. Biar aku merenunginya lebih dalam dulu. Biar alam mengahariku membaca kalam dari Sang Maha Agung itu, sekalipun dengan terbata-bata.

Kalian boleh pergi kemanapun kalian mau. Kalian boleh berkeliling dunia jika memang perlu. Aku hanya meminta, jangan pernah lupakan sudut masjid itu, yang dulu sempat kita rawat bersama. Sebab, dari kesederhanaan itulah perjuangan kini dimulai. Perjuangan menjalani apa yang menurut kita benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s