Selayang Pandang Dunia Perkuliahan

Barangkali masih banyak pelajar yang masih bingung, ke mana ia akan melanjutkan pendidikan, mengingat begitu banyak pilihan. Saran dan masukan datang dari berbagai pihak, mulai dari orang tua sampai guru. Semua saran tetap dikembalikan ke pribadi masing-masing. Tulisan ini hanya akan menawarkan satu pandangan bagaimana dunia perkuliahan itu sebenarnya, berkaca dari pengalaman pribadi penulis.

Biasanya, jika ditanya, “Apa jurusanmu?” maka pertanyaan yang hampir pasti mengiringinya adalah, “Nanti kerjanya apa?”. Aku termasuk orang yang sulit menjawab pertanyaan kedua itu. Pasalnya, Sastra Indonesia jauh dari ekspektasiku semasa sekolah dulu. Analogi sederhana yang aku gunakan dulu, kalau masuk kedokteran ya jadi dokter. Berarti kalau masuk sastra indonesia ya jadi sastrawan. Kalau masuk pertanian ya jadi petani. Ternyata tidak. Ada perbedaan mendasar antara teori dan terapan. Teori bertugas mempersoalkan terapan, sedangkan terapan berhubungan langsung dengan aplikasi. Dunia tulis-menulis yang aku geluti sejak dulu ternyata tidak ada rumusan ilmu terapan. Ilmu terapan menulis hanya ada di Taman Kanak-Kanak, seperti halnya membaca.

Seiring dengan bertambahnya wawasan itulah akhirnya orientasiku berubah. Akan tetapi, aku tidak menyesal masuk sastra indonesia, karena mempersoalkan sastra menjadi hal baru yang aku gandrungi kemudian. Sebagai wadah mengasah kemampuan menulisku, aku memilih bergabung dengan Pers Mahasiswa. Dimensi lain dari dunia tulis-menulis, yakni jurnalisme. Sejak aktif menjadi wartawan kampus aku pun banyak bertemu dengan orang dengan berbagai latar belakang, mulai dari pedagang asongan sampai pejabat-pejabat daerah.

Dari sinilah aku berkesimpulan, dunia perkuliahan adalah dunia yang penuh tanda tanya. Kita tidak tahu apa yang akan dihadapi kelak. Bahkan bagi orang sepertiku yang benar-benar menjalani kuliah sesuai dengan keinginanku. Orangtuaku tidak menyarankan apa-apa selain menjalani apa yang aku suka. Bodoh amat nanti bakal jadi apa. Luweh bakal menjamin penghidupan atau tidak.

Sampai saat ini aku masih sulit membayangkan banyak temanku yang menjalani kuliah dengan jurusan yang jauh dari minat dan bakat mereka. Karena dorongan dari orang tua barangkali, atau jaminan akan masa depan, mereka rela menjalani apa yang tidak mereka suka. Biasanya, mereka melampiaskannya dengan mengikuti kegiatan di luar bangku kuliah.

Maka pertimbangan passion adalah hal pertama yang harus dipikirkan untuk menentukan ke mana kalian akan melanjutkan pendidikan. Sayangnya, banyak pula yang masih belum memiliki passion di satu bidang tertentu. Hal ini tidak lain karena terbatasnya wawasan akan dunia kerja. Ini salah satu kekurangan pendidikan kita. Kita diajarkan untuk memilih diantara sedikit pekerjaan yang barangkali terlihat mengagumkan, misalnya pilot, guru, tentara, polisi, pegawai negeri, dokter, dll. Jarang sekali kita diberikan wawasan akan dunia kerja yang melibatkan kreativitas.

Banyak orang mengira kerja kreatif adalah kerja main-main yang buang waktu. Padahal, justru di dunia inilah seseorang bisa mencari penghidupan sekaligus menjalani hobby. Kebanyakan orang cari duit dari sesuatu yang tidak menyenangkan dan menghabiskan duit itu di kesenangan lain. Maka mari kita berkenalan dari sesuatu yang berdekatan dengan kita. Misalnya, coba kita bertanya, dari mana game dan cartoon itu bisa ada di hadapan kita dan menghibur dunia kita yang menjemukkan? Apa game dan cartoon itu ada begitu saja tanpa ada yang membuat? Kenapa tidak berpikir menjadi game developer atau animator?

Belum lagi jika kita berbicara mengenai pekerjaan yang melibatkan intelektualitas. Dunia yang akan kita hadapi adalah dunia yang sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan guru, orang tua, dll. Orientasi pun bisa berubah-ubah seiring dengan bertambahnya wawasan. Kuncinya hanya satu, jangan takut mencoba hal baru. Masa muda adalah masa dimana kita harus mendobrak banyak hal.

Sekalipun terkadang banyak yang memaksa, karena satu jurusan dipandang dapat menjamin masa depan yang baik, tetap saja keputusan ada di tangan orang yang bakal menjalani masa depan itu. Bukan orang tua, bukan guru BP, bukan alumni sekolah, melainkan kalian sendiri. Dunia yang kita hidupi kini adalah dunia yang telah berubah sedemikian rupa, jauh dari apa yang dijalani generasi orang tua kita dulu. Maka, jika telah menentukan pilihan, perjuangkan dan tanggungjawab lah dengan pilihan itu. Yakinkan diri sendiri, lalu orang di sekitar kalian. Jika tak ada yang percaya, buktikan dengan aksi dan berkatalah, “Lihat saja nanti!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s