Oleh-Oleh dari Kelas Digital KBEA untuk Balairungpress.com

Setelah sepekan mengikuti kelas digital KBEA, banyak wawasan yang bisa digunakan dalam mengembangkan salah satu produk BPPM Balairung, yakni Balairungpress. Media ini telah lama berdiri dan cukup terurus jika dibanding media daring pers mahasiswa lain. Kontennya pun cukup berkualitas. Hanya saja, karena tidak banyak strategi yang dilancarkan, media kurang maksimal merangkul komunitas online, seperti amanat Musyawarah Besar tahun 2013. Waktu itu telah ada kesadaran akan pola relasi yang berbeda yang ditimbulkan oleh perkembangan dunia digital. Akan tetapi, memang belum dirumuskan secara detail bagaimana media ini kelak dapat representatif sebagai pers komunitas online.

Secara popularitas, Balairungpress menduduki peringkat ketiga, jauh ketimbang dua produk lainnya, yakni hanya 4,1 %, berbeda dengan Balkon (34,7%) maupun Majalah Balairung (31,3%). Padahal, seperti kita tahu, semua orang kini terhubung dengan koneksi internet, apalagi kalangan mahasiswa. Maka dari itu, berikut ini beberapa hal yang perlu dibenahi:

1. Manajemen

Selama ini, Web Master kurang diberdayagunakan dengan baik. Seakan-akan Web Master hanya bekerja jika dan hanya jika ada hacker usil yang menyerang domain, selebihnya hanya menambah direktori jika ada event tertentu. Padahal, Web Master mempunyai fungsi esensial yang jika berjalan maksimal, hal ini dapat meningkatkan kualitas dari produk ini.

Web Master dapat bekerja sama dengan Humas dalam memanfaatkan media sosial, khususnya untuk SEO (Search Engine Optimization) mengingat pengguna media sosial yang cukup besar. Pengguna sebagai satu kerumunan yang bisa dijamah agar media ini mendapat perhatian, mengingat pengguna media sosial yang mencapai 24 % (sumber: Nielsen data quoted in we are social). Masing-masing media sosial memiliki karakteristik tersendiri. Berikut ini beberapa agenda yang bisa dilakukan:


a. Facebook

Saat ini media sosial ini yang paling mampu mereplikasi kondisi sosial, sehingga banyak digemari. Global Web Index mencatat pemilik akun 93 % dengan penggunaan di satu bulan terakhir 59 %. Fiturnya pun lugas dan mudah digunakan. Salah satu fitur yang bisa digunakan adalah grup. Pakai akun pribadi untuk masuk ke grup apa saja yang sekiranya dihuni oleh mahasiswa ugm. Taruh backlink yang kira-kira menarik untuk kerumunan di grup itu.

Selain itu, setiap posting berita atau konten lain, usahakan untuk diatur agar bisa tag sebanyak mungkin orang. Ini salah satu keunggulan Balairung. Awak yang banyak bisa di-tag satu demi satu. Sosialisasikan kepada para awak untuk like dan comment. Barangkali tradisi ini aneh, tapi patut dicoba karena ini akan meningkatkan keterbacaan. Lagipula tidak perlu keluar uang sepeser pun. Di Facebook, timing tidak terlalu berpengaruh, tapi tetap perlu dipertimbangkan. Pukul 18.00-20.00 merupakan waktu yang relatif lebih luang pengguna media sosial untuk klik dan baca. Ini bisa menjadi pertimbangan pula.

b. Twitter

Untuk media sosial satu ini hampir sama prinsipnya, hanya saja karena real-time, waktu posting sangat berpengaruh terhadap keterbacaan. Maka dari itu, akun diusahakan harus tetap eksis di timeline dengan strategi yang tepat. Konten tidak hanya berita, jika memang berita belum bisa intensif. Bisa saja update informasi penting di sekitar Yogyakarta dengan me-retweet posting akun lain. Bisa pula diagendakan pembuatan konten visual ringan, meme misalnya.

Akan tetapi, tetap diperhatikan karakteristik media. Jangan sampai karakteristik media persma yang dikenal kritis menjadi hancur gegara twit yang kurang terkesan cerdas. Tagar per topik bisa digunakan untuk mengawal isu tertentu.

Berbeda dengan Facebook, Twitter sangat peka dengan SEO. Maka dari itu, sekalipun peminat media sosial ini berkurang, tetap penting digunakan untuk mendongkrak popularitas. Global Web Index mencatat 80 % populasi dunia memiliki akun dengan penggunaan di satu bulan terakhir 41 %. Beberapa aplikasi bisa digunakan untuk mengevaluasi dan melakukan monitoring, diantaranya Topsy, Tweetbinder, dll.

c. Google+

Media sosial ini gagal sebenarnya, karena netizen sudah terlanjur terbiasa dengan Facebook, sekalipun fitur di dalamnya lebih canggih dan ringan. Namun, intensifikasi posting tetap perlu seperti halnya Facebook, karena mudah diindeks oleh Google, raksasa mesin pencari yang digunakan setiap orang.


2. Desain

New Picture

Kalau soal ini memang perlu keberanian berinvestasi, karena untuk membuat desain yang sesuai kebutuhan perlu banyak kostumisasi. Rubrikasi juga perlu dibenahi agar tidak terlalu banyak dan terkesan rumit. Riset pembaca yang dilakukan beberapa waktu lalu bisa menjadi bahan pertimbangan. Topik yang paling diminati adalah kuliner dengan prosentase 27%, kedua, tidak jauh beda, hiburan yaitu 21,3 % disusul fashion (20,5%). Bisa berbentuk berita, maupun advertorial yang tentu saja menambah pundi-pundi penghasilan.

Barangkali perlu juga diagendakan secara khusus peliputan topik-topik semacam ini. Karakteristik Balairung dapat tetap dipertahankan, tinggal pendekatannya saja. Kenapa tidak, mengulas gaya berpakaian atau budaya makan masyarakat urban dari segi antropologis. Tentu saja dibawakan secara ringan, berangkat dari satu fenomen kecil yang dinarasikan secara elegan. Photo stage bisa diperbanyak dengan menjalin kerjasama dengan berbagai penyelenggara event musik maupu seni lain. Foto lebih bisa diandalkan karena proses kurasi tidak perlu lama, berbeda dengan feature, misalnya, yang butuh penyuntingan berhari-hari.

Selain itu, perlu dipertimbangkan pula untuk mendesain platform agar mobile friendly mengingat antusiasme masyarakat yang begitu besar. Nielsen mencatat 61 % populasi penduduk Indonesia menggunakan smartphone 3 jam 30 menit tiap hari. Balairung sendiri mencatat 23,1 % mahasiswa UGM menggunakan smartphone untuk mengakses internet, walaupun masih kalah dengan pengguna laptop yang mencapai 61,2 %.

Beberapa strategi SEO lain bisa dijalankan, salah satu yang juga efektif adalah dengan menaruh backlink di situs terpercaya(.ac.id; .or.id; dll). Ini satu lagi keuntungan Balairung sebagai lembaga resmi di bawah kampus. Web Profil yang difasilitasi ugm dengan domain ugm.ac.id bisa didesain sedemikian rupa untuk mendongkrak SEO. Akan tetapi, entah kenapa web itu hilang. Barangkali bisa diurus agar dapat dimanfaatkan.

Selain itu, mekanisme posting perlu diperketat agar setiap konten ramah SEO. Diantaranya dengan memperbanyak internal backlink  di konten, membubuhkan tag yang relevan, serta menambahkan metateks yang sesuai dengan kata kunci. Sampai saat ini, Balairungpress.com menduduki peringkat pertama dengan kata kunci “Balairung”. Ini potensi yang harus terus ditingkatkan. Jika ada wacana untuk mengganti domain, sebaiknya urungkan saja, karena domain ini sudah sangat ramah SEO.

Barangkali cukup ini saja oleh-oleh yang bisa saya berikan sepulang dari kelas digital. Banyak persoalan teknis yang tentu saja perlu diperdalam. KBEA sangat terbuka, apalagi dengan lembaga non-profit macam Balairung. Jadi, tunggu apa lagi? Tetap muda dan berbahaya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s