#KembalikanMediaIslam Lalu Apa?

Jujur saja, aku tidak merasa kehilangan saat 22 situs islami diblokir atas suruhan BNPT. Sebab, tradisi baca-tulis yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan akhlak seorang muslim yang diajarkan oleh ulama. Konten yang menanggapi isu terkini pun terkesan asal-asalan, comot sana comot sini dan jadilah tulisan yang sayangnya dipercaya oleh banyak orang. Akhirnya masyarakat muslim disibukkan dengan sesuatu yang sia-sia, bahkan seringkali menyesatkan. Apakah saat ada klarifikasi dari pihak-pihak yang bersangkutan mereka mau menampilkan ralat? Apakah ada tradisi ralat dalam media-media itu?

Se-bajingan-bajingan-nya media arus utama, mereka masih terkungkung dengan pertaruhan modal besar yang membuat mereka berhati-hati menampilkan konten. Sekali ada kesalahan, hilanglah kepercayaan publik dan itu berarti hilang kepercayaan pengiklan. Hal ini tidak berlaku pada media islam yang kini mati-matian dibela para pembacanya.

Jika pemblokiran ini dikatakan menggunakan standar ganda, alasan untuk melawannya juga dengan dalil yang menggunakan standar ganda pula. Mereka menolak konsepsi kebebasan berpendapat, tapi menggunakan konsepsi ini untuk melawan pemblokiran. Hal ini menunjukkan, mereka tidak pernah membangun argumen dengan bangunan logika yang utuh, melainkan sepotong-sepotong sak penake udele dhewe.

Sekalipun demikian, pemblokiran ini jelas mencederai demokrasi kita kini. Walaupun media ini sama sekali tidak mencerminkan akhlak seorang muslim, apalagi menyuarakan aspirasi umat, kita tetap perlu mengapresiasi langkah pengajuan judicial review. Atas nama keadilan tentu saja, bukan pendukungan budaya baca-tulis yang bobrok.

Lebih jauh lagi, ini semacam ketakutan yang berlebih yang diidap Indonesia, bahkan dunia, atas ancaman imperialisme ISIS baru-baru ini. Kabarnya, belasan orang dari Indonesia bergabung dengan ISIS lewat jalur wisata Turki. Akhirnya, secara serampangan apa saja yang dikhawatirkan menumbuhsuburkan paham yang terkait dengannya, dibabat habis. Padahal, sejak awal kemunculannya, banyak media-media tersebut yang secara terang-terangan menolak paham yang disebarkan ISIS, walaupun beberapa diantaranya mendukung. Akhirnya, pemblokiran ini bukannya memberikan pengaruh pada upaya pemberantasan terorisme, justru menimbulkan persoalan baru: Para pendukung yang merasa hak kebebasan berpendapatnya direnggut, berontak dan siap pasang badan sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Hal ini menunjukkan, betapa minimnya pengkajian BNPT terkait ISIS. Pasalnya, ISIS menggunakan mekanisme rekrutmen yang sangat tertutup. Tanpa rekomendasi dari orang kepercayaan mereka, jangan harap bisa direkrut. Propaganda yang dilancarkan sebenarnya sekedar menunjukkan eksistensi mereka, bukan sebagai upaya rekrutmen.

Selain itu, lagi-lagi khalayak sampai saat ini masih diasumsikan pasif. Serba blokir dan sensor menjadi satu-satunya solusi yang ditawarkan jika asumsi seperti ini yang dibangun. Barangkali kita perlu menggeser asumsi ini, bahwa khalayak adalah entitas yang aktif. Mereka bisa saja tolol dan menerima informasi apa saja yang diterima dari otoritas yang diakuinya; agak tolol dengan menggunakan logika falsifikasi (benar jika dan hanya jika tidak ada yang menyalahkan); cerdas dengan menggunakan logika verifikasi (benar jika dan hanya jika ada yang membenarkan).

Lagipula, dunia maya tidak pernah kehabisan akal walaupun diblokir sedemian rupa. Sekali lagi, kita perlu mengambil pelajaran dari situs porno. Pemblokiran yang selama ini dilakukan sangat mudah dijebol dengan mengganti IP Address. Selain itu, pihak pengelola situs pun menanam konten di banyak domain dan masing-masing domain ditanam backlink sehingga saling terkait satu sama lain. Hal ini memudahkan mesin pencari mengindeks mereka, sehingga pengakses bisa dengan mudah menemukan situs itu, bahkan tanpa mengganti IP Address. Belum lagi jika kita bicara piracy yang masih eksis sampai sekarang, padahal menjadi musuh bersama hampir semua korporasi piranti lunak.

Hampir dapat dipastikan, akan ada gelombang penolakan yang cukup besar di kalangan pegiat dakwah. Ini menjadi kesia-siaan selanjutnya jika mereka menganggap situs-situs itu sebagai simbol pembelaan islam itu sendiri dan menutup mata akan apa yang selama ini disebarkan masing-masing situs. Jika dikatakan situs-situs tersebut menyebarkan paham imperialisme ISIS, beberapa benar, beberapa yang lain tidak. Lagipula, sama sekali tidak ada mekanisme pemilahan dari segi konten, artinya situs-situs itu juga tidak jelas keberpihakannya. Kalau bicara harapan, ini saatnya media-media islam membenahi manajemennya dengan membangun logika yang waras di setiap tulisannya, bukannya semakin menghinakan diri dengan menggunakan sentimen usang anti-yahudi-kafir-kristen-bid’ah-cino-asing-barat-dll. Apakah ini sesuatu hal yang muluk-muluk?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s