Media Viral dan Antiviral

Viral awalnya sebuah ajektiva dari kata virus yang mengacu pada sifat khas-nya yang dapat menjalar dan menjangkiti banyak organ dengan sangat cepat. Akhir-akhir ini, kata ini akrab di telinga kita sebagai metafora untuk melabeli sebuah media yang memuat konten-konten yang dianggap bakal menyebar dengan cepat, bak virus, tentu saja menurut media itu sendiri. Hampir dapat dipastikan sasaran media ini merupakan masyarakat kelas menengah, karena memiliki akses terhadap media dalam jaringan (daring) dan pasar yang menggiurkan untuk iklan apa saja.

Media-media ini berlomba untuk tampil di hadapan pembaca dengan mengoptimalisasikan mesin pencari; membaca algoritma tiap social media; membelanjakan banyak uang untuk memancing atensi dan partisipasi akun; ternak akun-akun bot untuk mendongkrak popularitas; dll. Penulis konten dibayar dengan harga yang murah, jika tidak ingin dibilang tidak layak; bahkan beberapa penulis cukup puas dengan melihat artikel yang ditulisnya tampil di suatu media tanpa dibayar sepeser pun. Maka, sulit kiranya mengharap konten di dalamnya dibangun atas logika yang tepat dan teknik yang memadai.

hipwee shot

Upaya untuk tampil di hadapan pembaca tentu saja dilakukan oleh semua media daring. Bedanya, media viral ini tidak memiliki segmentasi pembaca yang spesifik, sebaliknya, sekiranya konten ini memiliki kedekatan terhadap satu kalangan tertentu, maka hampir pasti konten itu bakal dimuat. Penulis konten yang terdiri dari beragam latar belakang budaya, tempat tinggal, hobi, dll memungkinkan media-media tetap tampil dengan tulisan yang terkesan baru.

Apakah tren media viral ini mengakhiri rezim bad news is good news dan beralih ke good news is still good news? Kejengahan masyarakat akan berita-berita mengenai tragedi terbayar dengan munculnya media viral. Sakau akan tragedi bagai satu wujud melemahnya daya tahan sehingga memudahkan virus-virus masuk dan menyebar. Gejala yang pertama kali akan muncul ketika seseorang terjangkit virus ini adalah hilangnya empati, atau yang sering disebut dengan apatisme. Atau barangkali justru apatisme kelas menengah ini terlebih dahulu ada sebagai satu keniscayaan dan media viral hanyalah bunga-bunga apatisme? Ayam, atau telur?

Sejak media, katakanlah, arus utama (mainstream) mengembangkan lini ke media daring, pola semacam ini telah terjadi. Tidak salah pula jika media arus utama daring masuk dalam kategori media viral. Etika jurnalisme banyak dikalahkan untuk memenuhi asumsi atas “tuntutan pasar” ini. Hanya saja, media yang sering dilabeli “media viral” ini, artinya selain media arus utama itu tadi, berperan membuat konten yang tidak terakomodasi di media arus utama.

isigood shot

Akan tetapi, apakah pertanyaan soal good news dan bad news tadi benar adanya? Ternyata tidak juga, karena tren media viral tidak menandai peralihan yang signifikan. Berita-berita tragedi tetap muncul di beranda kalian, bukan? Lalu apakah dengan begitu ini juga membantah pernyataan awal tadi, soal apatisme? Tidak juga, karena jika dilihat tragedi-tragedi yang kemudian ramai diperbincangkan tetap saja persoalan masyarakat kelas menengah yang merengek haus minta tetek. Maka kaffah lah anda sebagai kelas menengah ngehek  jika beranda anda dipenuhi dengan candaan metropolis yang cenderung egoistik.

jogjastudent shotPenulis tidak hendak membuat olok-olok, karena penulis sendiri adalah bagian daripadanya. Penulis hanya mengajak para pembaca berpikir, jika bersedia tentu saja, mempertanyakan, apa ini yang menyibukkan kita kini? Kita sebagai bagian dari “pasar” yang kemudian dibaca dalam sebentuk algoritma, lalu membentuk asumsi atas “kebutuhan”. Industri yang mengikuti pasar, atau pasar yang dikonstruksikan oleh industri? Ayam, atau telur?

Lalu apa kita cukup puas, sebagai khalayak yang aktif, seaktif-aktifnya, melihat informasi yang itu-itu saja? Repetisi tidak terhindarkan, sepertihalnya media arus utama, terlebih dengan penulisan konten yang low-budget dan copypaste sana-sini. Padahal, khalayak cyberspace tidak seperti khalayak media frekuensi, misalnya, yang konten didalamnya dipilihkan dan dibuatkan oleh pemegang modal besar. Khalayak cyberspace adalah khalayak yang bebas-aktif, yang bahkan tidak hanya memilih sendiri arah atensi dan partisipasinya, melainkan dapat membuat konten sendiri dengan gratis dan merdeka. Kesadaran akan hal ini menjadi antibodi yang dapat semakin kuat, dapat juga melemah.

Lalu dimana antiviral? Dalam hal ini, tidak berlebihan jika dikatakan utopis. Sebab, mempelajari seluk-beluk penyebarannya saja tidak cukup, ia harus berperan melebihi virus itu dan menandinginya, layaknya sebuah terapi; menandingi kecepatan dan ketepatannya; serta memutus matarantai penyebaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s