Munajat Seorang Nihilis

Pertanyaan yang sering menggelayut di pikiran ialah, mungkinkah seorang nihilis ber-Tuhan? Oh, mungkin terlalu terburu-buru jika menyebutnya “Tuhan”. Kalau begitu, sebut saja, Ia sesuatu yang sesuatu lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan; sesuatu ini mengawali segalanya sekaligus mengakhirinya; meng-ADA-kan sekaligus meniadakan.

Mari terlebih dahulu bicara soal sesuatu yang di-ADA-kannya ini, sebut saja alam semesta. Banyak ilmuwan percaya alam semesta berawal dari massa nol, lalu ledakan besar (big bang) muncul, terbentuklah materi yang berproses semakin besar layaknya sebuah balon udara yang ditiup. Lalu entah bagaimana kepercayaan multiverse muncul, yang mengatakan bahwasanya dunia ini terdiri dari banyak semesta yang belum bisa dipastikan jumlahnya.

Terlepas dari berbagai ramalan beserta tahayul sains yang terus direproduksi, apa sebenarnya asumsi yang dibangun? Jika memang alam semesta ini berawal dari massa nol, apa yang membuat ledakan besar bisa terjadi, jika tidak ada sesuatu di luar daripadanya yang membuat ledakan besar itu mungkin? Dalam hitungan matematis yang paling sederhana, nol akan tetap nol jika tidak ditambahkan angka satu atau angka lain.

Belum lama ini berkembang penelitian yang berusaha memecahkan misteri “Partikel Tuhan” (Higgs Bosson). Partikel ini dianggap bertanggungjawab atas segala materi yang ada; Ia ada diantara proton, elektron, dan neutron. Bukan metodologi yang membuatnya menarik untuk diperbincangkan, melainkan kenapa partikel ini dinamai dengan “Tuhan”? Apakah ini usaha manusia untuk me-material-kan “Tuhan”? Atau sekedar olok-olok para atheis ngehek untuk para agamawan?

Permasalahannya, angka nol yang ADA diantara satu dan minus satu ini jika dikalikan maupun dibagikan angka berapa pun (jika angka itu bukan nol), hasilnya akan tetap nol. Sebaliknya, angka berapa pun ketika dibagi nol hasilnya tak terdefinisikan, sedangkan angka berapa pun ketika dikali nol hasilnya nol pula. Setidaknya, hitung-hitungan ini yang aku pahami saat masih duduk di bangku sekolah, terlepas apakah ini sekedar konvensi atau bahkan imajinasi.

Lagipula matematika adalah ilmu tentang imajinasi. Ia memahami sesuatu yang tidak benar-benar ada. Tidak ada angka satu di dunia ini. Tidak ada satu ukuran pun yang dapat menunjukkan angka satu. Sepresisi apa pun suatu ukuran, ada toleransi sepersekian per satuan tertentu yang diabaikan. Bahkan perhitungan matematis sendiri seringkali mengabaikan angka yang terlalu kecil, semisal pada saat menghitung luas lingkaran. Tiga koma empat belas cukup untuk menjadi patokan. Desimal di belakangnya dianggap tidak ada.

Angka nol ADA di angka lain, positif maupun negatif, terlebih lagi dalam bilangan desimal. Sebenarnya, siapa Engkau, wahai Nol? Dapatkah Engkau dipahami? Atau justru satu-satunya jalan memahamimu adalah dengan mengabaikanMu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s