Ejaan yang Disempurnakan vis a vis Ejaan yang Diridai Allah

“Karena kesempurnaan hanya milik Allah.”

Begitu kira-kira kredo para penganut mazhab baru, Ejaan yang diridai (diridhoi?) Allah. Bukan ayat Al Quran, bukan pula Hadits. Sejauh ini belum jelas siapa yang memunculkan kalimat ini, akan tetapi ia seakan menjadi diktum yang tak terelakkan. Secara sadar atau pun tidak, mazhab baru ini menafikkan Ejaan yang Disempurnakan, yang sebetulnya tidak sempurna-sempurna amat juga. Saya mengambil dua tokoh paling fenomenal, Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw karena menurut saya paling mewakili.

 

Satu-satunya motif yang menurut saya masuk akal para penganut mazhab ini menggunakan ejaan tertentu, yaitu tidak terakomodasinya bunyi bahasa dalam transkripsi ortografis. Misalnya, kata ridho dibanding rida yang baku. Jika ingin mengakomodasi semua bunyi, tentu saja transkripsi fonetis lebih dianjurkan daripada transkripsi ortografis. Akan tetapi, betapa susahnya kita ketika bercakap di media sosial, dimana ragam bahasa yang digunakan ragam bahasa lisan yang ditulis, menggunakan transkripsi fonetis.

Selain persoalan bunyi, persoalan penghormatan juga menjadi isu penting. Dalam pos Salim A. Fillah di atas, di bagian akhir disebutkan JazaakumuLlaahu khayran dengan [l] kapital, karena mengacu ke Allah. Biasanya, jika ada embel-embel yang mahaesa, misalnya, maka akan digunakan pula huruf kapital. Hal yang menurut saya susah masuk di akal, penggunaan [y] daripada [i] dalam khayran. Dalam kasus lain, inshaaAllah ketimbang insyaallahmisalnya. Barangkali ada tren ejaan latin a la barat atau persia.

Sekalipun telah diserap dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, mereka tetap keukeuh menggunakan ejaan mereka sendiri, barangkali khawatir umat muslim indonesia “salah” melafalkan satu kata yang dianggap penting dan kemudian menggeser maknanya. Misalnya, kata sholat cenderung lebih banyak digunakan ketimbang salat, yang pengucapannya sama dengan saladHal ini terjadi karena bunyi alveolar [s] di dalam bahasa arab bisa mengacu ke empat alfabet, yakni  [tsaa], [siin], [syiin], dan [shaad]. Mereka tidak terima kalau empat alfabet ini disamakan pengucapannya. Barangkali bahasa Arab dianggap sakral sehingga tidak boleh salah ucap, harus sesuai dengan pengucapan orang Arab. Kesakralan terletak pada bahasa, bukan kata, karena beberapa kata di dalam bahasa indonesia yang telah cukup mewakili tidak pula digunakan. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa arab, misalnya shaum ketimbang puasa.

 

 

Anehnya, jika memang bahasa Arab itu bahasa yang sakral, yang konon merupakan bahasa yang digunakan di akhirat, kenapa slang semacam ini masih digunakan? Padahal telah banyak yang mengkoreksi penggunaan beberapa kata, seperti antum atau ane. Tren kearab-araban dalam titik ini menjadi sangat menggelikan, yang bahkan orang Arab pun akan terheran-heran. Dalam komunitas mereka, ane dan antum menjadi semacam kata pengganti yang lebih sopan, semacam kromo inggil versi kearab-araban.

Saya menyarankan mereka untuk merumuskan Ejaan yang Diridhoi Allah ini dalam sebentuk buku dan diterbitkan oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang Diridhoi Allah, agar kompak dan konsisten memakainya, tentu saja disertai dalil aqli maupun naqli biar afdhol dan varokah. Selain itu, mereka juga tidak perlu lagi menanggapi para haters yang bakal mengurangi kekhusyukan mengarab-arabkan diri. Jangan sampai tradisi membuka kedok terulang kembali. Wa’ALAYkumsalam!

Screen-Shot-2015-05-22-at-4.31.12-PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s