Jejak Persenggamaan

Ini kesimpulan sementara yang aku dapat setelah membaca segelintir buku. Buku yang tentu saja hasil persenggamaan orang lain, yang mana telah teruji oleh zaman, melintasi berbagai era, berumur panjang. Mereka sering disebut dengan kanon, avant-garde, masterpiece, dll. Seberapa getol kita mengais-ngais data-data baru untuk menarasikan kembali sejarah, dalam hal ini sejarah sastra, sastra kanon tetap sulit digugat.

Aku pernah berbincang dengan Katrin Bandel, (seorang penulis Boemipoetra yang bukan kaum bumiputra, karena kelahiran Jerman. Tapi jangan mengira aku pintar bahasa Jerman. Ia sudah di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan menganggap Jerman sebagai negara asing), dengan menanyainya, “Setujukah dengan kanonisasi?”

“Kanonisasi bukan persoalan setuju atau tidak. Kanon adalah sesuatu yang terus diingat dan diperbincangkan,” terangnya. Jelas ini menimbulkan persoalan baru tentang Sejarah Sastra yang dihimpun berdasarkan, setidaknya bisa dikatakan di sini, ingatan perumus, sebagai pembaca karya-karya sastra. Sejarah Sastra Indonesia yang disusun oleh Ajip Rosidi selama ini diyakini sebagai narasi sejarah yang seakan final. Beberapa kalangan menggugat ini dengan memunculkan karya-karya lain, termasuk karya sastrawan Lekra, seperti yang dilakukan Bandung Mawardi dan Muhiddin M. Dahlan dalam kompilasi makalah Poe(li)tics (judul yang agak memaksa, aku rasa). Mereka tentu saja hanya menggeser satu kanonisasi ke kanonisasi yang lain, versi mereka.

Untuk kemudian mempersoalkan hal ini, jika aku taat dengan sistem dalam institusi perguruan tinggi, harus tuek-ngekek dengan gelar Prof. di depan predikat Haji dulu baru boleh. Mereka sering menyebutnya dengan otoritas (authority) dengan kata dasar author, yang (anehnya) diterjemahkan ke bahasa indonesia, pengarang, bukan pemegang otoritas, misalnya. Kalau lulus sarjana, enggak usah sok-sokan mengkaji yang berat-berat. Bicarakan saja plot atau tokoh di cerpen Kompas. Sudah begitu, malangnya menjadi mahasiswa sastra Indonesia, buku sastra mahal dan susah dicari, apalagi kritik sastra. Siapa juga orang kurang kerjaan yang baca kritik sastra? Baca sastra saja belum tentu.

Akan tetapi, aku menyadari ini sudah sejak lama dan memang sudah memutuskan untuk tidak mengandalkan penghidupan dari menulis. Jujur saja, aku mulai menikmati proses ini, meminang satu demi satu anak-anak zaman yang menarik hati, menggauli mereka, menghimpun syahwat, untuk memulai persenggamaan kecil demi persenggaman kecil yang entah kapan akan berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s