Bahrunnaim, Sang Teatrawan

Aku kira Pamela Allen terlalu buru-buru mendaulat karya-karya Putu Wijaya sebagai Sastra Teror. Penyair pro-puisi-esai ini, katanya, meneror daya pikir pemirsa dengan menghadirkan plot dan tokoh yang membingungkan, sehingga meneror kesadaran, begitu kira-kira. Lagipula, jika karyanya dikenal sebagai Sastra Teror, kenapa Putu tidak dijuluki Sastrawan-Teroris? Jika karya Sutardji Calzoum Bachri, pengikut aliran sesat-menyesatkan puisi-esai juga, disebut-sebut sebagai puisi mantra, kenapa dirinya tidak dijuluki penyair dukun, misalnya.

Maka dengan ini saya mendaulat Bahrunnaim sebagai Sastrawan-Teroris sejati dengan menampilkan sequel teater kolosal kamis (14/01) lalu. Saking hebatnya, Ia tidak perlu naskah untuk bersandiwara. Tidak perlu pula menggesek-gesekkan barangnya, seperti yang dilakukan Rendra di tengah desak-desakan bus kota dalam Yang Muda Yang Bercinta. Bahkan, ia tidak perlu judul untuk mengesankan betapa mencekamnya teater yang ia mainkan. Kalau media menamai peristiwa itu dengan “Tragedi Bom Sarinah” misalnya, itu sudah masuk ranah interpretasi. Semua orang berhak membuat interpretasi, kata cangkem-cangkem kuliahan itu.

Jika beberapa saat kemudian situasi mencekam kembali dibuat bercanda, dari #KamiTidakTakut menjadi #KamiNaksir, itu juga interpretasi yang sah-sah saja. Yang jelas, Bahrunnaim yang dipercaya menjadi sutradara sequel kali ini berhasil membuat ketakutan. Tagar #KamiTidakTakut justru menegaskan ketakutan itu sendiri. (Seperti tagar #Akurapopo yang sebenarnya justru popo. Kalau memang tidak takut ya enggak usah bilang-bilang, dong?) Buktinya, sampai tulisan ini hadir, berita soal Tragedi Bom Sarinah tidak pernah absen, pagi, siang, sore, malam, beriringan dengan Kopi Maut. Ada ketakutan yang luar biasa, melebihi kopi yang bisa saja meracuni setiap kelas menengah perkotaan.

Desing peluru dan ledakan bom seakan menyerukan, kita kini berada di era terorisme pasca-binLaden yang cemen, cupu, flamboyan, lemah, dan sakit-sakitan itu. Osama bin Laden yang dikenal sebagai psikopat hanya asumsi yang dibangun media barat seakan kita hidup di dunia film superhero Hollywood yang sedang menunggu Sang Mesiah Iron-Man membawa lebih banyak kehancuran (?). Ya, lihat saja tiap aksinya, menenangkan Hulk saja harus menghancurkan gedung bertingkat. Menumpas penjahat, apalagi, seisi kota dijatuhkan dari atas langit. Mesiah macam apa itu?

Tahukah kalian, Osama adalah klan bin Laden, klan paling kaya seantero Jazirah. Ia anak ke-17 dari 25 putra Muhammad bin Laden, ayahnya. Belum yang perempuan, yang mencapai 29, dari 22 istri. Setidaknya itu yang dituliskan Lawrence Wright (90, 2006) dalam Looming Tower yang kemudian diterjemahkan dengan agak memaksa oleh Hendra dengan judul Sejarah Teror, terbitan Kanisius (2011). Ia sering mengirim puisi ke ibunya, Alia, jika sedang rindu. Ia pengusaha kaya Saudi Binladin Group dan banyak mendulang kekayaan yang kemudian membiayai pembentukan Al-Qaeda.

Kita kini berada di era Baghdadi!; yang garang dan berani; dengan keuangan yang lebih terjamin; dengan fatwa yang lebih mendukung. Lalu mereka berkata, ah, mereka Quran (mushaf) saja tidak punya. “Hey, ini perang, Bung! Mana sempat menenteng mushaf? Kalian kira liqo’?” Analisis geopolitik lah, ekonomi lah, ah, kalian lupa satu pelajaran penting: sejarah. “Kami lahir dengan nafas panjang; dengan intrik yang tak kalah hebatnya dari elit-elit negara Arab! Teror kami ideologis!”

Teater yang ia mainkan estetis, sekaligus tendensius. Keakuan, melebihi kebinatangjalangannya Chairil; menyihir, melebihi tragedi winka dan sihka; membentuk masyarakat ideal, melebihi tendensi Sutan Takdir Alisyahbana. Gagasannya memang utopis, tapi apa salahnya? Memangnya Plato ketika menyusun tatanan ideal, juga harus gamblang dan final, begitu? Memangnya demokrasi berhasil membentuk masyarakat ideal? Justru salah satu tujuan terorisme adalah menciptakan rasa takut sekaligus menunjukkan betapa negara thoghut telah gagal memenuhi rasa aman warga negaranya. Kritikus sastra pun hanya bisa menganga, ikut-ikutan gagap. Buktinya, sejauh ini belum ada kritikus yang ‘menyerang’ pementasan ini.

Ia telah berhasil menegasikan dunia, sejadi-jadinya. Jika sensasi rasa takutmu belum terpuaskan, tenang, masih ada sequel selanjutnya. Kita tunggu saja kapan dirilis. Panjang umur terorisme!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s