Serangkaian Pertanyaan untuk Para Pembaca Sastra

Sastra, makhluk apakah itu? Mengapa ia menjadi ladang pertaruhan banyak orang? Ideologi, kekuasaan, modal? Ia memiliki mekanisme untuk mengada yang tak pernah bisa terpikirkan bagaimana dan kenapa. Bisa juga dipandang sebagai mekanisme konsumen dan produsen, atau dinamika perpolitikan, atau sesuatu yang lain?

Mengacu pada objek material atau formal? Mana yang sastra dan bukan-sastra? Beberapa orang memandang sastra itu yang ditulis. Lalu kenapa ada sastra lisan? Bahkan saya berani bertaruh, pada dasarnya sastra itu lisan. Tidak ada originalitas maupun otentisitas di dalamnya. Ia sepenuhnya milik masyarakat. Originalitas dan otentisitas muncul beriringan dengan konsep pengarang (author), yang selalu mengiringi hadirnya karya dalam masyarakat. Ini juga kenapa sastra kemudian mendapat penanda baru, yang kemudian disebut dengan karya sastra. Roland Barthes dalam Kematian Sang Pengarang (1977) mengatakan:

Pengarang adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Prancis, dan keyakinan pribadi Reformasi, dimana ditemukannya kehormatan orang-perorangan (individu), atau istilah yang lebih elegan, ‘manusia pribadi’.

Tentu saja akan menjadi persoalan lain ketika predikat sastrawan yang disematkan, meskipun dalam beberapa hal mirip. Anehnya, istilah sastrawan (literarian?) tidak terlalu populer dalam wacana kritik sastra dunia. Mereka memilih author yang dapat disematkan pada pencipta karya dalam bentuk apa pun, fiksi maupun non-fiksi, yang merujuk pada pemegang otoritas (authority). Bahasa Indonesia menerjemahkan author menjadi pengarang, terjemahan yang sangat rendah hati, karena merujuk pada bentuk karangan atau sesuatu yang dikarang-karang. Tapi jangan salah sangka, ini bentuk terikat, artinya bukan dari kata dasar karang*.

Beberapa orang mempersempit defini sastra, yakni yang ditulis dan yang fiksi. Ini pandangan yang lebih baru lagi dibanding yang hanya mempersempitnya pada bentuk tulisan. Apa yang spesial dari sesuatu yang tidak pernah terjadi? Barangkali Sigmund Freud dalam Penulis Kreatif dan Melamun (1959) sedikit memberi jawaban.

Penulis kreatif melakukan hal yang sama dengan anak: ia bermain. Ia menciptakan dunia khayal yang ia tanggapi secara bersungguh-sungguh –ia menyalurkan banyak emosi ke dalamnya, sambil membedakannya secara tajam dari kenyataan. Bahasa telah melestarikan hubungan antara permainan anak-anak dan ciptaan puitis.

Tidak ada karya fiksi yang sepenuhnya fiktif atau pun sepenuhnya nyata. Selama ini kita menganggap sesuatu yang imajinatif karena ia belum pernah ada dalam benak kita sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Karya non-fiksi pun demikian, seakurat seperti apa pun akan ada sudut pandang dari jurnalis, misalnya, yang mana itu bisa juga dikatakan sebagai imajinasi, dari kata imaji (image). Oh, sebentar, ada yang salah dengan istilah yang saya gunakan, fiksi dan non-fiksi. Kenapa bukan fakta dan non-fakta?

Freud menggunakan istilah penulis kreatif (creative writers), sekali lagi bukan sastrawan. Kreatif (ajektiva); kreasi/ciptaan (nomina); pencipta/kreator. Barangkali fiksi dianggap gelanggang yang bebas sebebas-bebasnya bagi hasrat mencipta manusia untuk menciptakan apa pun sekehendaknya. Maka yang terjadi, terjadilah. Kemuliaan disematkan pada penulis fiksi yang kemudian oleh para penikmat Sastra Indonesia dikenal sastrawan. Akan tetapi, hati-hati dengan istilah ini, siapa pun tidak berhak mengklaim dirinya sastrawan jika tidak ingin dihina dan dicaci.

Industri membuat klasifikasinya sendiri pula. Damien Walter membuat definisi satir yang menyebut sastra (literature) adalah merek mewah buatan yang tidak dijual. Ia mendisposisikan sastra dengan genre yang dalam pertarungan keduanya dalam jagad industri perbukuan, semua kalah.

The market for high-end literature isn’t a healthy one. Intellectuals are reliably penniless, and fancy reading habits don’t make you cool any longer. The people who actually buy books, in thumpingly large numbers, are genre readers. And they buy them because they love them. Writing a werewolf novel because you think it will sell, then patronising people who love werewolf novels, isn’t a smart marketing strategy – but it’s amazing how many smart writers are doing just this.

Jika kalian bilang definisi yang hidup di masyarakat ini membingungkan, definisi di jurusan saya justru menggelikan. Dosen-dosen saya bilang, ada dua klasifikasi, sastra “serius” dan “populer”. Kalau mau bikin kajian sastra “populer” harus banyak, karena kalah pamor sama yang “serius”. Kok bukan sastra serius dan bercanda, misalnya, atau sastra tidak-terlalu-populer dengan sastra populer. Kenapa ada kecendurungan sastra yang “berat” dan susah dibaca kemudian tidak atau tidak terlalu populer? Kok harus bersusah payah? Apa yang dicari dari membaca Ullysses, misalnya, yang konon katanya sastra yang paling sulit dibaca?

Padahal teks mengada ketika dibaca. Jika ia gagal dibaca, maka ia gagal mengada. Persoalan berapa yang baca itu sudah persoalan modal, tapi paling tidak ada relasi yang dijalin antara karya dan pembaca. Maka pada titik ini sastra “populer” justru memiliki ketercapaian yang mengagumkan, karena dapat menjalin pembaca yang luas, terlepas dari proses penenggalam-munculan karya tersebut adil atau tidak.

Memangnya yang dianggap serius itu proses kurasinya, adil, begitu? Bayangkan, Sang Gate Keeper, yang dikenal dengan redaktur sastra dalam media massa, misalnya, menyeleksi ribuan naskah tiap harinya. Konon pertama yang dilihat judul, menarik atau tidak, lalu paragraf pertama. Judul tidak menarik, buang! Judul menarik paragraf pertama tidak menarik, buang! Bicara judul saja sudah problematis. Judul adalah unsur ekstrinsik, bagaimana suatu karya dihakimi dari sesuatu yang hanya melekat? bukan diri sebenarnya? Apalagi paragraf pertama. Seorang penulis membuat karya dalam satu kesatuan, ia ibarat makhluk, tidak bisa dihakimi dari ujung hidungnya saja.

Ini hanya satu contoh yang menunjukkan, betapa berjubelnya orang yang bertaruh di ladang ini. Belum lagi jika melihat forum, komunitas, event kepenulisan yang selalu ramai didatangi, bak orang-orang pesakitan menyedihkan yang mengharap kesembuhan dari dukun-dukun yang merapalkan mantra-mantra yang tidak pernah bisa manjur. Dukun-dukun ini semakin berjubel pula jumlahnya karena mendapat kesaktian dari acara-acara internesyenel di berbagai daerah yang juga semakin banyak. Atau jangan-jangan kita pun termasuk di dalamnya? Kegiatan pembacaan kita sebenarnya dalam rangka mencari mantra-mantra di antara selangkangan kata-kata dan huruf-huruf yang sengaja disembunyikan dukun-dukun tadi?

Sastra adalah yang begini dan begitu. Padahal yang begini dan begitu itu sudah dipakai, lalu kita harus mencari yang lain daripada yang begini begitu itu tadi untuk dunia yang cepat bosan dan selalu mencari kebaruan. Betapa kolotnya manusia-manusia modern ini, selalu mempertahankan ritual yang sama: mencari sesuatu yang baru.

Kembali ke persoalan sastra dan bukan-sastra yang mana saya curiga, ini bukan persoalan karya. Ini persoalan resepsi. Sepertihalnya para penjudi dalam arena ini, saya pun berjudi dengan melemparkan serangkaian pertanyaan ini di hadapan pembaca sekalian. Tentu saja perjudian yang saya lakukan bergantung pada seberapa besar pula khalayak pembaca yang saya raih. Karena hanya berstatus blog pribadi, apalagi yang punya juga bukan orang ternama, saya menduga tidak banyak. Ia tenggelam bersama teks-teks lain yang berkelebatan tiap sepersekian detik lalu menguap bersama angan dan bayang-bayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s