Makan, Tidur, Nyastra

Di suatu sore yang entah sejak kapan mulai sendu, ada kiriman Majalah Mata Jendela Edisi ke-4/2016 yang ditujukan kepada Dewi Kharisma Michellia di ruang komputer B21. Dengan agak kurang ajar, aku buka bungkusnya. Toh, membaca buku bukan kejahatan. Ada satu tulisan yang membuat saya susah tidur sampai hari ini. Tulisan itu ditulis oleh dosen saya sendiri, Pak Aprinus. Sangat mengganggu, terutama kesimpulannya di bagian akhir yang kurang lebih begini: Di Jogja, nyastra lebih penting daripada sastra itu sendiri. “Maka nikmat bersastra mana yang kamu dustakan,” pungkasnya.

Aku pun mengamininya. Jika ia mengalami sesrawungan itu dengan akik dan keris, aku jauh beda. Pengalamanku agak saru, barangkali, karena kebanyakan yang aku alami forum informal. Menggosipkan sastrawan yang punya istri banyak lah, bedanya kenthu-nya Sitok Srengenge dengan bercinta-nya Rendra lah, bajing-membajingkan lah, yang melarikan anak orang lah, yang suka jajan prostitusi lah, yang gay lah, dll.

Lalu aku pun mengingat pertemuanku dengan Pak Danarto beberapa minggu lalu di Taman Budaya Jawa Tengah. Waktu itu kebetulan sedang ada Mimbar Teater Indonesia yang baru aku tahu sudah kelima kalinya diadakan. Acara itu bertajuk “Panggung Realisme Magis Cerpen-Cerpen Danarto”.

Aku hanya mengikuti sesi sarasehan yang diadakan di tengah pementasan monolog yang diadaptasi dari cerpen-cerpen Danarto. Narasumber yang dihadirkan selain Danarto sendiri ada Pak Faruk, dosen saya juga. Pak Faruk membikin tulisan alakadarnya tentang “kadar” realisme-magis Danarto. Setelah ia bicara panjang lebar soal sastra, ia mengaku dengan terus terang, sebenarnya agak memaksa Danarto dikategorikan sebagai realisme-magis. Kalau mau baca realisme-magis ya Triyanto Triwikromo itu, begitu katanya.

Ternyata nyastra di Solo tidak jauh beda. Tidak ada yang tertarik melanjutkan perbincangan tentang “realisme yang dihabisi” pasca-65 yang kemudian melahirkan Putu Wijaya, Iwan Simatupang, dan Sutardji; atau “Hirarki Sastra” antara Sastrawan Ibukota dan Sastrawan Pengembara. Mereka lebih banyak tertarik pada pengalaman-pengalaman sufistik yang dikisahkan Pak Danarto tentang “Anjing yang Tuhan dan Supir Taksi yang Tuhan”. Pak Faruk pun mengikuti arah pembicaraan dengan menceritakan pengalamannya yang berkebalikan, yang katanya selalu mencari alasan logis di setiap kejadian magis.

Pikirku, memangnya kenapa harus berpusing-pusing bicara sastra? Jadi tidak nikmat nanti. Kita ini berlabel penikmat sastra. Membacanya tidak usah serius-serius. Apalagi memperbincangkannya. Bukan, ini bukan satir. Aku sudah meninggalkan idealisme “apresiasi terbesar sastra adalah kritik” sejak lama. Aku pun mulai menikmati gaya hidup nyastra ini.

Hanya saja, sebagai calon sarjana sastra, aku merasa hina. Mau aku kemanakan teori-teori sastra dari Formalisme Rusia sampai Kajian Budaya itu? Di kelas kami diajarkan dengan tidak terlalu serius pula. Di luar kelas kritik sastra tidak laku. Jurnal ilmiah yang terbit alakadarnya sedikit saja yang baca.

Maka menurut saya biar tetap alakadarnya begitu. Kritik biar ada terus tapi tidak usah banyak-banyak, patut-patut, biar kelihatan intelektuil pembaca sastra kita. Biar yang pengin serius juga terakomodasi. Juga biar akademisi-akademisi kita cepat naik gelar. Serius, ini bukan satir.

Aku menghormati apa pun pandangan yang menyertai pembacaan sastra kita. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Hanya saja jika boleh memihak, aku lebih memilih menjadi penikmat saja, yang tidak mau terlalu serius bicara sastra. Kalau soal perasaan hina, lha wong pada dasarnya manusia itu dicipatakan dari air mani yang hina. Jadi sebenarnya aku sedang menuju asal-usulku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s