Surat Pengakuan Menjelang 4/11

Saudara-saudaraku seiman, dengan ini saya memohon untuk saya saja yang didemo atau dipenjarakan jika memang hukum Islam menghendaki seperti itu. Saat berita Ahok dan Surat Al-Maidah ayat 51 saya sama sekali tidak tertarik baca karena saya tidak tahu ayat itu bicara soal apa. Bahkan seorang Ahok pun belajar Al-Quran sampai sedetail itu, sedang saya tidak. Namanya saja orang belajar, salah-salah sedikit tidak apa-apa. Ahok itu kan baru kemarin sore baca Al-Quran.

Sedang saya sejak dari dalam kandungan sudah dicekoki ayat dan hadits. Dosa orang yang melakukan sesuatu karena lalai itu lebih besar dari pada sekedar tidak tahu. Karena saya tidak bisa bicara tentang ayat atau hadits, ijinkan saya mengutip perkataan seorang penyair Rusia berikut ini karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Ada satu tindakan kriminal yang lebih buruk daripada membakar buku: tidak membacanya.” (Joseph Brodsky)

Ijinkan saya pula menganalogikan Al-Quran itu juga semacam buku yang mana tindakan paling keji yang menistakannya adalah tidak membacanya. Jangankan hanya menyalahartikan, membakarnya saja masih bisa diampuni. Saya gagap tiap kali imam di masjid-masjid melantunkan ayat suci. Saya tidak langsung mengerti bacaan-bacaan sholat yang bahkan saya gumamkan sendiri. Tidak, tidak, saya membuang jauh-jauh pemikiran mengalihbahasakan bacaan sholat agar bisa khusyu. Justru itu akan mereduksi makna bacaan sholat. Toh pengalihbahasaan tidak akan pernah memuaskan.

Bahkan, bukannya beranjak mengambil air wudhu saat adzan terdengar, malah membayangkan, bagaimana ya, kalau adzan dibikin nge-blues? Seandainya Islam turun di Amerika, pasti seru, adzan-nya nge-blues. Betapa nistanya pikiran saya itu. Njuk ngopo kalau adzan-nya nge-blues? Yang main werewolf tetap main werewolf.

Kenapa Al-Quran tidak diturunkan dalam bahasa Jawa saja, Bahasa Ibu saya. Atau, biar adil, diturunkan banyak Muhammad, tiap suku satu Muhammad. Jadi bentuk masing-masing Al-Quran sudah disesuaikan dengan kondisi sosio-kultur masyarakat yang menghidupinya. Begitu kan enak, tidak menyulitkan hamba yang ingin menyembah dengan sungguh-sungguh ini. Biar kita tidak menciptakan tuhan-tuhan kita sendiri.

Betapa enaknya orang Arab, nabi-nabi diturunkan di sana semua. Kami bangsa Timur Jauh tidak kebagian apa-apa. Kami hanya kebagian klenik-klenik menyesatkan, mistik-mistik omong kosong, cerita soal dewa-dewa yang miskin tafsir. Barangkali memang Surga itu diciptakan hanya untuk orang Arab. Kalau orang di luar Arab kebagian sedikit, sudah untung. Maka dengan ini saya mengharap pemenjaraan saya sebagai upaya penghapusan dosa biar kebagian Surga Orang Arab yang sisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s