Menuju 212

Saya tidak bersama Rizieq, tidak juga bersama Ahok. Saya bersama akal sehat saya sendiri, yang setiap hari dianiaya takhayul-takhayul yang berseliweran di layar gawai saya. Tulisan ini tidak untuk membentuk kebencian baru atas kebencian-kebencian sebelumnya. Hanya sekedar tegur sapa atas saudara-saudara muslim saya (beberapa di antaranya saya kenal baik) yang sedang memperjuangkan apa yang menurut mereka benar. Terus-teruskanlah. Akan tetapi, tanpa bermaksud memutus hubungan pertemanan, saya tidak ikut.

Tahu kenapa? Lihat saja bagaimana Rizieq, aktor yang katanya bermain dalam wilayah Nahi Munkar ini bereaksi di setiap ada isu-isu yang berkembang. Salah satu yang menurut saya menggelikan adalah saat ia mencaci-maki qari’ yang menggunakan langgam jawa. “Langgam dalang, langgam pewayangan. Kurang ajar! Dia perolok Al-Quran! Dia hina Al-Quran! Kurang ajar!… Eh, saudara, kalau hari ini Al-Quran dibacakan dengan langgam pewayangan, langgam dalang, langgam lagu-lagu jawa kuno, maka besok Al-Quran akan dilagukan dengan langgam jaipongan,” bentaknya.

Dari sini saja terlihat bagaimana kapasitasnya soal bela-membela ini. Bukan soal kekerasan atau kelembutan. Kalau memang zaman sudah benar-benar edan, tidak boleh ragu mengangkat pedang. Tapi bukan seperti yang didengungkan Rizieq. Ia jelas dalam menampilkan kegarangan; marah-marah di mana-mana, diam-diam sedang mengglorifikasi Salafi-Wahabi dengan menyingkirkan akar tradisi masyarakat muslim nusantara; mengglorifikasi Islam-Arab a la Saudi dan mengerdilkan islam jawa, sunda, melayu, dll.

Gerakannya kali ini memang mendapat banyak simpati, tidak seperti aksi-aksi sebelumnya. Seketika dibentuklah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Buat saya ini berlebihan. Hanya untuk memenjarakan satu orang, mereka menggerakkan jutaan orang, klaim mereka, sampai 2,3 juta. Berarti sebanyak itu pula nasi bungkus dan ongkos akomodasi yang dikeluarkan, oleh peserta aksi sendiri, atau pun sumbangan “hamba-Allah”. Dari sekian banyak ketidakadilan yang tampil dalam panggung demokrasi, ini yang mereka pilih untuk diperjuangkan.

Hal yang lebih mengherankan, tiba-tiba muncul jenderaljenderal  yang bersimpati, datang ke pengajian-pengajian, memunculkan citra baik. Belum jelas kepentingan macam apa yang ingin mereka amankan, tapi kita perlu curiga. Sebab, kalangan Islam Bathok ini, sebut saja begitu, hasil dari politik akomodasi Orde Baru menjelang kejatuhannya, walaupun gagal. Banyak orang justru menganggap politik akomodasi ini secara positif, sehingga kejatuhan Soeharto adalah sesuatu yang patut disesali. Pun hasil dari depolitisasi Orde Baru di awal kekuasaannya, yang membuat banyak kader gerakan muslim kini kehilangan arah karena terputus dari semangat para pendahulu mereka.

Akan tetapi, pelanggengan Ahok juga bukan sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan kalau bisa dihindari. Saya tidak ingin mencuci tangan saya dengan air mata ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal tanpa ada kejelasan nasib di tengah belantara kota Jakarta yang penuh sesak. Bagaimana dengan dua calon lainnya, yang sudah sejak lama diproyeksikan para Islam Bathok ini? Sejujurnya, saya pesimis. Industrialisasi sudah sedemikian mencengkeram kuat perpolitikan ibukota.

Biar, biar Ahok dipenjara, Buni Yani juga dipenjara. Biar salah satu kandidat yang katanya muslim itu menang. Kita lihat apakah kemaksiatan semakin berkurang. Pertumbuhan ekonomi dan kemaksiatan itu saudara kembar, susah dipisahkan. Jika Ahok gagal dipenjara pun, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi orientasi utama.

Satu-satunya perjuangan paling berat saat ini adalah menjaga kewarasan di tengah zaman yang serba edan ini. Semua orang juga tahu, angka 212 merujuk pada pendekar legendaris, Wiro Sableng, muridnya Sinto Gendheng. Biar, biar mereka merayakan kegilaan mereka sendiri. Sing waras ngalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s