Dalam Nama Kuda

“Kuda balap itu ya jangan ndokar,” sergah Joko Pekik suatu kali. Ia bercerita, saat keluar dari penjara, ia kehilangan sumber penghidupan. Ia memilih menjadi penjahit ketimbang melukis memenuhi pesanan elit-elit budayawan di masa Orde Baru. “Saya bisa saja bikin satu lukisan tiap hari dan pasti laku,” terangnya dengan terkekeh-kekeh agak menyombongkan diri. Tapi itu tidak ia lakukan, karena dengan begitu ia sebagai kuda balap menyerah dan menggadaikan hasrat seninya menjadi kuda dokar, melayani hasrat penguasa, kesana-kemari, diperintah kusir.

Di era Reformasi yang entah kapan selesai me-reform ini, aku pun bertanya pada diriku sendiri, sanggupkah menahan godaan untuk tidak ikut-ikutan mengirim tulisan atau CV ke berbagai situs web yang kini sedang menjamur di mana-mana? Untuk ndokar saja belum tentu ada kusir yang mempekerjakan, ini sok-sokan mau jadi kuda balap. Barangkali banyak orang berpikir untuk menjadi kuda balap harus meniti karir ndokar dulu. Ah, bagi saya tidak. Kuda dokar akan tetap selamanya ndokar. Sambil terus dibuai dengan angan-angan menjadi kuda balap, oleh kusir dikasih makan, dipecuti kalau tidak nurut, terus begitu sampai akhir hayat menghidupi angan-angan.

Mereka mengandaikan gelar sastrawan didapat dengan meniti satu demi satu jenjang, seperti hirarki dalam korporasi. Bedanya, saat jenjang demi jenjang ditapaki, tidak ada hadiah jangka pendek seperti gaji. Adanya jangka panjang, dengan begitu murni berjudi, mempertaruhkan segalanya.

Elit-elit budayawan yang sudah berada pada hirarki cukup tinggi perlu mempromosikan anak-anak muda untuk menjadi tumbal, agar mereka tetap muda dan eksis di jagad mucikari sastra. Mereka bikin forum, sayembara, media, dll. Jadi, panitia lomba atau perusahaan media itulah yang sebenarnya membutuhkan anak-anak muda yang telah terbuai mimpi sambil sesekali menampilkan diri. Harus hati-hati dan halus, jangan sampai mencolok. Biar tercitra sebagai bapak bijak nan rendah hati. Seakan-akan merekalah yang paling berhak menentukan mana sastra mana bukan! Mana karya, mana sampah! Mana tulisan, mana berak! Mana puisi, mana kentut!

Aku pun tidak yakin bisa menahan godaan untuk tidak melacurkan diri. Janji-janji manis yang diucap begitu menggiurkan. Mereka yang punya modal membikin situs web mewah, mempekerjakan orang-orang ternama, mengibuli mesin pencari agar terus nongol paling atas di depan layar kita, dll. Sedang jika aku berusaha menampilkan diri tanpa ada orang yang dianggap layak menilai dan memilah, aku tidak akan dilirik. Syukur-syukur tidak diludahi sambil dicibir.

Di tengah keraguan menahan godaan ndokar, saya malah teringat penggalan puisi Chairil Anwar, “Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,/Jangan tambatkan pada siang dan malam”. Jika Joko Pekik baru sebatas kuda balap, Chairil lebih gila, dialah sang kuda liar yang luka dan bisa pun dibawanya berlari. Betapa tak tahu diri saya ini, berhasrat menjadi kuda liar. Akan tetapi, sepertinya justru itu yang paling mungkin. Sebab, kuda liar tidak perlu belajar membalap. Lagipula, kuda balap tetap saja ditunggangi, nurut sama pembalapnya. Emoh! Bodoh amat!

Kuda liar adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Keliaran dihembuskan dalam raga bahkan sebelum sang kuda lahir ke dunia. Ia mengalir di dalam urat nadi, merasuk ke jejaring syaraf, memanggil-manggil kesadaran dengan kesunyian. Sekalipun akan terlihat lebih hina dari kuda dalam kendali sang kusir. Sekalipun diikat keempat kakinya; dijegal seperti sapi yang akan digorok lehernya, kuda liar tetaplah kuda liar. Ia tidak berubah barang sehelai bulu pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s