Menjadi Sastrawan Starter-Pack

Dunia sastra itu kejam, sayang. Tidak kenal ampun. Sekali jatuh akan diinjak-injak. Bukan buat yang cengeng dan kokehan drama. Cuma yang setrong yang akan bertahan. Bukan pula orang yang senang berlembut-lembut perkataan anti-hujatan tapi juga bukan orang yang cangkem-nya trocoh isinya binatang semua kalau ngomong juga bukan (repetisi haram, jinguk!). Intinya adalah hujatan atau pujian itu pada tempat yang semestinya atau tidak. Kalau ada kejahatan harus dilawan rawe-rawe rantas malang-malang putung tapi kadang perlu menahan diri dengan tepa selira dan alon waton kelakon. Enggak ngerti? Googling!

Berikut ini semacam kisi-kisi agar engkau (biar nyastra) tidak terjebak kesalahan berlogika yang berlarut-larut dibiarkan dalam dunia sastra kita sehingga seakan-akan suatu kebenaran:

  1. Soal sastra itu sendiri yang menjadi padanan literature. Kata ini sebenarnya merujuk pada ilmu pengetahuan, namun sejak mesin cetak hadir dan otoritas teks menjadi milik banyak orang, sastra sering disebut sebagai karya tulis walaupun tidak mutlak demikian. Maka ada pula sastra lisan yang hidup dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi budaya lisan. Jadi kalau Indonesia termasuk negara yang paling tidak terliterasi, jangan terlalu khawatir, karena penelitian itu sangat bias.
  2. Soal kesusastraan. Kesusastraan itu seharusnya merujuk pada literariness bukan dunia/arena/field. Cukup sastra. Kalau merujuk ke yang lebih spesifik seharusnya susastra padanan dari literary. Emang sih, seharusnya soal mencari padanan ini jangan terlalu kaku dan serius. Tapi paling amannya begitu dari pada kelihatan bego. Namun tetap perlu disadari alam pikir masyarakat kita yang membentuk Bahasa Indonesia jauh berbeda dengan Bahasa Inggris. Jadi jangan melulu apa-apa dicari padanan kata. Keminggris boleh, inferior jangan.
  3. Soal siapa yang layak disebut sastrawan. Penyebutan ini sejatinya sangat politis, seakan-akan sakral, padahal enggak juga. Siapa pun yang ahli membicarakan sastra entah itu kritikus, ilmuwan, penyair, esais, dll berhak menyandang gelar ini tanpa dibatasi penghargaan atau jumlah terbitan. Dalam wacana internasional, istilah ini jarang atau bahkan tidak pernah digunakan. Biasanya mereka menyebut diri mereka sebagai pengarang (author) yang lebih netral. Karyanya bisa berbentuk apa saja.
  4. Soal bentuk sastra. Menurut Lewis Turco dalam The Book of Forms: Handbook of Poetics ada empat genre besar dalam sastra, yakni Esai, Fiksi, Puisi, dan Drama. Jadi Puisi itu tidak termasuk Fiksi. Tolong diingat baik-baik. Terus orang suka mempertentangkan puisi dan prosa, itu keliru! Puisi itu genre, sedangkan prosa itu moda. Bisa aja suatu karya masuk dalam genre puisi tapi bermoda prosa. Namanya puisi prosaik (prose poetry). Tidak ada batasan karakter dalam genre. Jadi kalau ada istilah fiksi mini itu bodoh. Kalau ada alur kejadian, sudah cukup disebut fiksi, mau berapa kalimat atau berjilid-jilid. Kalau mau mempertentangkan, lebih tepat prosa (prose) dan sajak (verse). Prosa itu tidak terukur, sedangkan sajak terukur. Nanti beda lagi sama lirik, lho. Bingung? Emang! Dikira gampang!
  5. Soal baku dan tidak baku. KBBI dan PUEBI yang disusun oleh Balai Pengembangan Bahasa itu hanya semacam panduan untuk menuliskan bahasa secara ortografis, jadi tidak mutlak bertekuk lutut padanya. Penyusunannya pun masih terlalu kaku dan bias ibu kota. Makanya teman-teman kita dari Indonesia Timur kesulitan mengikutinya. Sejatinya bahasa Indonesia sendiri disusun dari keberagaman. Kita butuh satu alat komunikasi dan diplihlah Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu. Maka dari itu, kalau adik pengin jadi penulis kreatif, harus selangkah atau kalau bisa beberapa langkah lebih maju dari pada para birokrat yang kaku dan sok ngatur itu. Birokrat dari Balai Pengembangan lah yang harusnya mengikuti kalian-kalian. Baca, kuasai, buang KBBI dan PUEBI-mu! Begitu kira-kira.
  6. Soal sastra serius sama populer. Ini sayangnya dipercaya banyak orang, bahkan para sarjana sastra. Jangan percaya, itu ndobos. Sastra, ya sastra. Kalau bikin pertentangan mbok ya sastra serius sama sastra bercanda, gitu. Atau sastra populer sama sastra tidak populer (?). Teen-lit atau chick-lit itu juga sastra, kan cuma soal sasaran pasar pembacanya, boleh-boleh saja disebut begitu. Toh kepanjangan lit itu dari literature juga. Itu upaya pebisnis buku memetakan pasar.

Sampai di sini paham? Kalau belum bisa googling lebih lanjut. Jangan malu, google itu kalau diperlakukan dengan bijak bisa banyak membantu dalam memahami sesuatu. Dari pada tanya di info cegatan, kan? Oh iya, ada satu lagi, kalian perlu curiga kalau pembaca kalian suka memuji-muji. Pujian itu membunuh kreativitas. Sebaliknya, kritik itu menggugah. Sederhananya, terbiasalah dengan nyinyiran. Nyinyir itu sendiri seni, tapi jangan kebanyakan. Nyinyir boleh, tapi jangan lupa bahagia, ya, Dik, ya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s