Dalam Nama Kuda

“Kuda balap itu ya jangan ndokar,” sergah Joko Pekik suatu kali. Ia bercerita, saat keluar dari penjara, ia kehilangan sumber penghidupan. Ia memilih menjadi penjahit ketimbang melukis memenuhi pesanan elit-elit budayawan di masa Orde Baru. “Saya bisa saja bikin satu lukisan tiap hari dan pasti laku,” terangnya dengan terkekeh-kekeh agak menyombongkan diri. Tapi itu tidak ia lakukan, karena dengan begitu ia sebagai kuda balap menyerah dan menggadaikan hasrat seninya menjadi kuda dokar, melayani hasrat penguasa, kesana-kemari, diperintah kusir.

Di era Reformasi yang entah kapan selesai me-reform ini, aku pun bertanya pada diriku sendiri, sanggupkah menahan godaan untuk tidak ikut-ikutan mengirim tulisan atau CV ke berbagai situs web yang kini sedang menjamur di mana-mana? Untuk ndokar saja belum tentu ada kusir yang mempekerjakan, ini sok-sokan mau jadi kuda balap. Barangkali banyak orang berpikir untuk menjadi kuda balap harus meniti karir ndokar dulu. Ah, bagi saya tidak. Kuda dokar akan tetap selamanya ndokar. Sambil terus dibuai dengan angan-angan menjadi kuda balap, oleh kusir dikasih makan, dipecuti kalau tidak nurut, terus begitu sampai akhir hayat menghidupi angan-angan.

Mereka mengandaikan gelar sastrawan didapat dengan meniti satu demi satu jenjang, seperti hirarki dalam korporasi. Bedanya, saat jenjang demi jenjang ditapaki, tidak ada hadiah jangka pendek seperti gaji. Adanya jangka panjang, dengan begitu murni berjudi, mempertaruhkan segalanya.

Elit-elit budayawan yang sudah berada pada hirarki cukup tinggi perlu mempromosikan anak-anak muda untuk menjadi tumbal, agar mereka tetap muda dan eksis di jagad mucikari sastra. Mereka bikin forum, sayembara, media, dll. Jadi, panitia lomba atau perusahaan media itulah yang sebenarnya membutuhkan anak-anak muda yang telah terbuai mimpi sambil sesekali menampilkan diri. Harus hati-hati dan halus, jangan sampai mencolok. Biar tercitra sebagai bapak bijak nan rendah hati. Seakan-akan merekalah yang paling berhak menentukan mana sastra mana bukan! Mana karya, mana sampah! Mana tulisan, mana berak! Mana puisi, mana kentut!

Aku pun tidak yakin bisa menahan godaan untuk tidak melacurkan diri. Janji-janji manis yang diucap begitu menggiurkan. Mereka yang punya modal membikin situs web mewah, mempekerjakan orang-orang ternama, mengibuli mesin pencari agar terus nongol paling atas di depan layar kita, dll. Sedang jika aku berusaha menampilkan diri tanpa ada orang yang dianggap layak menilai dan memilah, aku tidak akan dilirik. Syukur-syukur tidak diludahi sambil dicibir.

Di tengah keraguan menahan godaan ndokar, saya malah teringat penggalan puisi Chairil Anwar, “Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,/Jangan tambatkan pada siang dan malam”. Jika Joko Pekik baru sebatas kuda balap, Chairil lebih gila, dialah sang kuda liar yang luka dan bisa pun dibawanya berlari. Betapa tak tahu diri saya ini, berhasrat menjadi kuda liar. Akan tetapi, sepertinya justru itu yang paling mungkin. Sebab, kuda liar tidak perlu belajar membalap. Lagipula, kuda balap tetap saja ditunggangi, nurut sama pembalapnya. Emoh! Bodoh amat!

Kuda liar adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Keliaran dihembuskan dalam raga bahkan sebelum sang kuda lahir ke dunia. Ia mengalir di dalam urat nadi, merasuk ke jejaring syaraf, memanggil-manggil kesadaran dengan kesunyian. Sekalipun akan terlihat lebih hina dari kuda dalam kendali sang kusir. Sekalipun diikat keempat kakinya; dijegal seperti sapi yang akan digorok lehernya, kuda liar tetaplah kuda liar. Ia tidak berubah barang sehelai bulu pun.

Makan, Tidur, Nyastra

Di suatu sore yang entah sejak kapan mulai sendu, ada kiriman Majalah Mata Jendela Edisi ke-4/2016 yang ditujukan kepada Dewi Kharisma Michellia di ruang komputer B21. Dengan agak kurang ajar, aku buka bungkusnya. Toh, membaca buku bukan kejahatan. Ada satu tulisan yang membuat saya susah tidur sampai hari ini. Tulisan itu ditulis oleh dosen saya sendiri, Pak Aprinus. Sangat mengganggu, terutama kesimpulannya di bagian akhir yang kurang lebih begini: Di Jogja, nyastra lebih penting daripada sastra itu sendiri. “Maka nikmat bersastra mana yang kamu dustakan,” pungkasnya.

Aku pun mengamininya. Jika ia mengalami sesrawungan itu dengan akik dan keris, aku jauh beda. Pengalamanku agak saru, barangkali, karena kebanyakan yang aku alami forum informal. Menggosipkan sastrawan yang punya istri banyak lah, bedanya kenthu-nya Sitok Srengenge dengan bercinta-nya Rendra lah, bajing-membajingkan lah, yang melarikan anak orang lah, yang suka jajan prostitusi lah, yang gay lah, dll.

Lalu aku pun mengingat pertemuanku dengan Pak Danarto beberapa minggu lalu di Taman Budaya Jawa Tengah. Waktu itu kebetulan sedang ada Mimbar Teater Indonesia yang baru aku tahu sudah kelima kalinya diadakan. Acara itu bertajuk “Panggung Realisme Magis Cerpen-Cerpen Danarto”.

Aku hanya mengikuti sesi sarasehan yang diadakan di tengah pementasan monolog yang diadaptasi dari cerpen-cerpen Danarto. Narasumber yang dihadirkan selain Danarto sendiri ada Pak Faruk, dosen saya juga. Pak Faruk membikin tulisan alakadarnya tentang “kadar” realisme-magis Danarto. Setelah ia bicara panjang lebar soal sastra, ia mengaku dengan terus terang, sebenarnya agak memaksa Danarto dikategorikan sebagai realisme-magis. Kalau mau baca realisme-magis ya Triyanto Triwikromo itu, begitu katanya.

Ternyata nyastra di Solo tidak jauh beda. Tidak ada yang tertarik melanjutkan perbincangan tentang “realisme yang dihabisi” pasca-65 yang kemudian melahirkan Putu Wijaya, Iwan Simatupang, dan Sutardji; atau “Hirarki Sastra” antara Sastrawan Ibukota dan Sastrawan Pengembara. Mereka lebih banyak tertarik pada pengalaman-pengalaman sufistik yang dikisahkan Pak Danarto tentang “Anjing yang Tuhan dan Supir Taksi yang Tuhan”. Pak Faruk pun mengikuti arah pembicaraan dengan menceritakan pengalamannya yang berkebalikan, yang katanya selalu mencari alasan logis di setiap kejadian magis.

Pikirku, memangnya kenapa harus berpusing-pusing bicara sastra? Jadi tidak nikmat nanti. Kita ini berlabel penikmat sastra. Membacanya tidak usah serius-serius. Apalagi memperbincangkannya. Bukan, ini bukan satir. Aku sudah meninggalkan idealisme “apresiasi terbesar sastra adalah kritik” sejak lama. Aku pun mulai menikmati gaya hidup nyastra ini.

Hanya saja, sebagai calon sarjana sastra, aku merasa hina. Mau aku kemanakan teori-teori sastra dari Formalisme Rusia sampai Kajian Budaya itu? Di kelas kami diajarkan dengan tidak terlalu serius pula. Di luar kelas kritik sastra tidak laku. Jurnal ilmiah yang terbit alakadarnya sedikit saja yang baca.

Maka menurut saya biar tetap alakadarnya begitu. Kritik biar ada terus tapi tidak usah banyak-banyak, patut-patut, biar kelihatan intelektuil pembaca sastra kita. Biar yang pengin serius juga terakomodasi. Juga biar akademisi-akademisi kita cepat naik gelar. Serius, ini bukan satir.

Aku menghormati apa pun pandangan yang menyertai pembacaan sastra kita. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Hanya saja jika boleh memihak, aku lebih memilih menjadi penikmat saja, yang tidak mau terlalu serius bicara sastra. Kalau soal perasaan hina, lha wong pada dasarnya manusia itu dicipatakan dari air mani yang hina. Jadi sebenarnya aku sedang menuju asal-usulku.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Sulit dipercaya, aku sebagai orang desa yang kebetulan mendapat akses pendidikan yang lebih tinggi dibanding teman sebaya di desaku, kini terjebak di tempat KKN yang mana lebih ‘kota’ daripada desaku sendiri. Sidomulyo namanya, desa yang letaknya tidak jauh dari Pantai Parangtritis. Jika ditempuh dengan sepeda motor, sekira 15 menit sampai. Sesekali kami ke pantai untuk melepas penat.

Kelompok kami dibentuk paling akhir, tidak ada seminggu sebelum pelepasan. Tidak ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam keterasingan itu kami memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sekedar menambal-sulam payahnya birokrasi kampus. Di antara teman satu unit, aku adalah orang yang paling plonga-plongo, tidak tahu apa-apa. Untungnya aku terselamatkan karena teman-teman satu unitku banyak yang telah menguasai berbagai prosedur dan mekanisme yang mesti dilakukan. Bahkan mereka telah mengakumulasi cerita-cerita dari para pendahulu. Belakangan usut punya usut setidaknya sekira 80% merupakan buangan dari unit lain.

Konon kabarnya karena tidak mengunggah hasil tes kesehatan, mereka yang awalnya ikut tim pengusul yang kebanyakan luar jawa (K2) harus rela dilempar ke tim bentukan LPPM yang hampir pasti akan dapat wilayah K1 (Yogyakarta dan sekitarnya). Kalau aku dan beberapa gelintir orang yang memang sedari awal berkeputusan untuk memilih K1, tidak ada masalah. Tapi buat korban payahnya birokrasi ini, setidaknya butuh waktu untuk kemudian mengelus dada, menerima keadaan, dan berbaur dengan teman-teman barunya. Bayang-bayang akan tempat KKN yang jauh di tapal batas negara jauh dari hingar-bingar perkotaan sirna sudah. Yang tersisa kini kompleks perumahan yang telah beranjak mengikuti gulir roda modernisasi.

Entah apa yang ada di benak para birokrat kampus. Mereka memajukan tanggal dimulainya KKN. Menurut kalender akademik, harusnya KKN dilaksanakan 1 Juli-31 Agustus. Kini diubah menjadi 20 Juli-7 Agustus. Tanggal yang menabrak lebaran sama sekali tidak menguntungkan. Sebab, semua kegiatan masyarakat mengendur selama puasa, apalagi menjelang lebaran. Sudah begitu kita hanya diberi waktu setidaknya 1,5 bulan dengan beban program yang sama. Maka program pertama yang kita lakukan adalah glundang-glundung dan tura-turu, diselingi Uno, PES, dan Monopoli. Sisanya kalau sempat main-main dan merusuhi kegiatan ramadhan warga.

Lalu aku berpikir, aku sebagai mahasiswa yang telah kalah sekalah-kalahnya, tidak berdaya ikut arus modernisasi, lalu diminta melakukan pemberdayaan masyarakat. Aku curiga, jangan- jangan kita tidak sedang melakukan pemberdayaan. Kita sedang meminjam bentuk keberdayaan masyarakat dan mengklaimnya itu semua berkat ilmu mutakhir milik kita. Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, mereka melakukan resistensi, dengan tergopoh-gopoh dan sesekali tersungkur.


Hal pertama yang ku pikirkan saat mulai berangkat, buku apa yang harus ku bawa untuk menemani penat dan jumudnya melakoni rutinitas baru ini, dengan orang-orang asing yang baru ku kenal, sedang aku bisa nyaman di kamarku, dengan buku-bukuku, kopi tubrukku, komporku, dan komputerku. Ah, berat rasanya meninggalkan mereka. Saat menatapi mereka, aku berpikir, kenapa tidak membawa buku karangan Emha Ainun Najib, Indonesia Bagian dari Desa Saya (2013), barangkali aku bisa sedikit memaknai rutinitas baruku itu.

Alih-alih mendapat petuah dari budayawan saru ini, aku malah mendapati puisi Umbu Landu Paranggi, gurunya, yang akhir-akhir ini sering dibincangkannya di forum Maiyah. Setelah santer terdengar kabar dirawatnya ia di rumah sakit gegara penyakit konyol, suasana nostalgik tak terbendung. Bagaimana tidak, ia tidak makan selama beberapa hari dan akhirnya ditemukan terkapar lemas. Puisi yang paling dikenang oleh Emha, berjudul Apa Ada Angin di Jakarta, begini bunyinya:

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh di sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kora raya

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Saat aku membacakannya di depan kelas, siswa-siswa SMP N 2 Bambanglipuro melongo. Bukan, bukan melongo takjub seperti yang aku rasakan saat pertama kali mendengarnya. Melongo enggak mengerti.

“Ah, berat, Kak,” keluh mereka.

“Kok berat bagaimana? Ya sudah, anggap saja puisi ini bukan puisi. Sebut saja tulisan di papan tulis. Kok kayanya kalau disebut puisi bebannya terlalu berat sehingga terkesan susah dicerna. Padahal sederhana saja bahasanya.”

Mereka tetap bergeming.

Lalu aku membacakan interpretasi Emha atas puisi ini:

Apa ada angin di Jakarta? Angin, adalah napas hidup. Harapan, keceriaan masa depan, jaminan kebahagiaan. Bisakah Jakarta, sebagai lambang paling tajam sebuah kota urban di negeri ini, menawarkan itu semua? Seperti -yang menurut Umbu- bisa diberikan oleh Desa Melati?

Aku memang tidak berharap terlalu banyak pada mereka untuk bisa nyambung berbicara soal puisi. Maka aku hanya memperkenalkan duniaku, dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Pencapaian mereka dihargai dari deret-deret angka di rapor yang didapat dari pemahaman mereka akan ilmu pseudo-sains yang sama sekali tidak berguna untuk kehidupan mereka. Jangan salahkan jika mereka cepat penat dan mencari berbagai pelarian. Beberapa teman pengajar program guru banu yang lain mengeluh, karena mereka bandel dan susah diatur. Aku bisa memakluminya, sebab saat ada program semacam ini, mereka hanya berharap hiburan di tengah penatnya megikuti arus modernisasi. Dengan penuh keputusasaan!

Entah mereka mengerti atau tidak, aku menyampaikan, desa menyimpan banyak hal berharga. Kearifan, keguyuban, keberadaban, dll. Ironis memang di tengah kemutakhiran diukur dari kehidupan perkotaan, justru keberadaban hanya bisa didapatkan di desa, yang sayangnya kini mengkota, semakin tidak berdaya digilas arus modernisasi. Dan sekolah adalah lembaga yang paling bertanggungjawab atas perguliran ini, yang entah ke mana kita dibawa.


Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Neng, nong, neng, neng, nong, blagentak, Blarrr

“Nah, mbok begitu, gongnya mantap, enggak mejen,” kelakar salah seorang penikmat Wayang Congor, begitu mereka menyebutnya.

Pasalnya, dalang tidak membawa iringan musik apa pun kecuali hanya congornya sendiri. Gamelan akapella, begitu kira-kira. Wayang Congor kami pilih karena ongkos yang murah. Hanya berkisar satu jutaan, sudah dengan konsumsi, tenda, dll. Kalau wayang lengkap bisa mencapai 20 jutaan.

Mengikuti wayang semalam suntuk kembali mengingatkanku akan masa kecil yang masih mendapati satu-dua kali pertunjukan wayang. Walaupun tidak pernah nonton, cuma jalan-jalan di pasar di sepanjang jalan menuju gebyok, aku turut merasakan euforia, seakan tidak ingin ketinggalan setiap kali diadakan. Sekalipun aku tidak paham sama sekali lakon apa yang dipertunjukkan, aku cukup menikmati suasana hangat bersama warga, sambil ditemani secangkir teh hangat.

Sepertinya acara ini yang paling antusias diikuti, daripada program lain yang berbentuk penyuluhan. Konon desa ini sudah kerap dijadikan sasaran program KKN, sehingga mereka sudah kenyang dengan program-program semacam itu. Lagipula, penghayatan mereka akan pertanian jauh melebihi kami, yang jangankan berpikir untuk menjadi petani, memegang pacul saja canggung.

Suatu kali lampu-lampu dipenuhi serangga-serangga yang sedang berkerumun, termasuk di pondokan kami yang akhirnya membuat lantai kotor. Itu cukup mengganggu. Kami harus mematikan lampu untuk mengusir mereka.

Aku pun bertanya kepada salah seorang petani, “Kenapa ya, Pak, kok banyak serangga?”

“Ini lagi pada migrasi, Mas. Biasanya kalau sedang panen memang begitu. Sekarang ‘kan panennya tidak serempak, jadi saat yang satu panen, serangga berpindah ke sawah lain.”

Cerdik juga, pikirku. Di tengah harga beras yang sulit dikendalikan, petani membuat masa panen sendiri-sendiri dan sengaja tidak serempak. Sehingga ketersediaan beras bisa stabil, begitu juga dengan harganya.

Kehadiran mereka dalam setiap program penyuluhan sekedar menghargai kami yang telah mendatangkan narasumber dan pekewuh dengan Pak RT jika tidak datang. Semacam bentuk guyub selain siskamling. Barangkali menghadirkan wayang merupakan program yang paling bisa dirasakan manfaatnya ketimbang program penyuluhan. Setelah lelah seharian bekerja, dapat hiburan yang sedikit nostalgik, daripada sekedar menonton televisi atau mendengarkan radio yang itu-itu saja acaranya.


Aku bahagia, bahagia

Bahagia, bahagia

Ku angkat bebanku dan buang ke laut (byur, byur)

Buang ke laut (byur,byur), buang ke laut (byur, byur)

Aku berhasil, berhasil (yes)

Berhasil (yes), berhasil

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Anak-anak TK Sidomaju berhamburan. Ada yang dari panggung undak-undakan, ada yang dari luar. Mereka membawa bunga, berlari menghampiri orang tua mereka masing-masing. Ada yang terharu, ada yang tertawa, ada pula yang cuek saja. Lalu tiba-tiba ada salah seorang anak yang menangis.

“Kenapa, Sayang?”

“Ibu enggak ada,” jawabnya sambil tersedu-sedan.

“Sudah, bunganya buat Ibu Guru saja, ya. Enggak usah nangis.”

“Enggak mau, mau Ibu.”

Cukup lama menenangkan anak ini. Sampai harus mengerahkan hampir semua Bu Guru.

“Sudah, nanti bunganya dikasih pas sudah sampai rumah, ya.”

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

“Mas, main pianonya bagus,” puji salah seorang anggota Komite yang kebetulan hadir. Padahal ada beberapa nada yang fals. Mungkin karena gelora semangat anak-anak menyita perhatian peserta, keahlian bermain pianoku yang pas-pasan terselamatkan.

“Besok setiap pagi mengiringi anak-anak bernyanyi, ya,” pintanya.

Aku menyanggupinya dengan senang hati.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Barangkali banyak orang berpikiran saya yang mengajari mereka bisa sesuai dengan musik yang saya mainkan. Tapi justru tidak. Mereka yang mengajari saya. Justru saya yang harus menyesuaikan ritme mereka yang unik. Maka saya memilih untuk tidak menggunakan ketukan yang teratur. Dalam banyak hal, saya yang justru belajar, terutama soal semangat menggebu mereka, seakan tidak ada kata lelah dalam kamus mereka. Mereka pula yang mengingatkanku untuk tidak lupa caranya bahagia.

 

Jejak Persenggamaan

Ini kesimpulan sementara yang aku dapat setelah membaca segelintir buku. Buku yang tentu saja hasil persenggamaan orang lain, yang mana telah teruji oleh zaman, melintasi berbagai era, berumur panjang. Mereka sering disebut dengan kanon, avant-garde, masterpiece, dll. Seberapa getol kita mengais-ngais data-data baru untuk menarasikan kembali sejarah, dalam hal ini sejarah sastra, sastra kanon tetap sulit digugat.

Aku pernah berbincang dengan Katrin Bandel, (seorang penulis Boemipoetra yang bukan kaum bumiputra, karena kelahiran Jerman. Tapi jangan mengira aku pintar bahasa Jerman. Ia sudah di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan menganggap Jerman sebagai negara asing), dengan menanyainya, “Setujukah dengan kanonisasi?”

“Kanonisasi bukan persoalan setuju atau tidak. Kanon adalah sesuatu yang terus diingat dan diperbincangkan,” terangnya. Jelas ini menimbulkan persoalan baru tentang Sejarah Sastra yang dihimpun berdasarkan, setidaknya bisa dikatakan di sini, ingatan perumus, sebagai pembaca karya-karya sastra. Sejarah Sastra Indonesia yang disusun oleh Ajip Rosidi selama ini diyakini sebagai narasi sejarah yang seakan final. Beberapa kalangan menggugat ini dengan memunculkan karya-karya lain, termasuk karya sastrawan Lekra, seperti yang dilakukan Bandung Mawardi dan Muhiddin M. Dahlan dalam kompilasi makalah Poe(li)tics (judul yang agak memaksa, aku rasa). Mereka tentu saja hanya menggeser satu kanonisasi ke kanonisasi yang lain, versi mereka.

Untuk kemudian mempersoalkan hal ini, jika aku taat dengan sistem dalam institusi perguruan tinggi, harus tuek-ngekek dengan gelar Prof. di depan predikat Haji dulu baru boleh. Mereka sering menyebutnya dengan otoritas (authority) dengan kata dasar author, yang (anehnya) diterjemahkan ke bahasa indonesia, pengarang, bukan pemegang otoritas, misalnya. Kalau lulus sarjana, enggak usah sok-sokan mengkaji yang berat-berat. Bicarakan saja plot atau tokoh di cerpen Kompas. Sudah begitu, malangnya menjadi mahasiswa sastra Indonesia, buku sastra mahal dan susah dicari, apalagi kritik sastra. Siapa juga orang kurang kerjaan yang baca kritik sastra? Baca sastra saja belum tentu.

Akan tetapi, aku menyadari ini sudah sejak lama dan memang sudah memutuskan untuk tidak mengandalkan penghidupan dari menulis. Jujur saja, aku mulai menikmati proses ini, meminang satu demi satu anak-anak zaman yang menarik hati, menggauli mereka, menghimpun syahwat, untuk memulai persenggamaan kecil demi persenggaman kecil yang entah kapan akan berakhir.

Oleh-Oleh dari Kelas Digital KBEA untuk Balairungpress.com

Setelah sepekan mengikuti kelas digital KBEA, banyak wawasan yang bisa digunakan dalam mengembangkan salah satu produk BPPM Balairung, yakni Balairungpress. Media ini telah lama berdiri dan cukup terurus jika dibanding media daring pers mahasiswa lain. Kontennya pun cukup berkualitas. Hanya saja, karena tidak banyak strategi yang dilancarkan, media kurang maksimal merangkul komunitas online, seperti amanat Musyawarah Besar tahun 2013. Waktu itu telah ada kesadaran akan pola relasi yang berbeda yang ditimbulkan oleh perkembangan dunia digital. Akan tetapi, memang belum dirumuskan secara detail bagaimana media ini kelak dapat representatif sebagai pers komunitas online.

Secara popularitas, Balairungpress menduduki peringkat ketiga, jauh ketimbang dua produk lainnya, yakni hanya 4,1 %, berbeda dengan Balkon (34,7%) maupun Majalah Balairung (31,3%). Padahal, seperti kita tahu, semua orang kini terhubung dengan koneksi internet, apalagi kalangan mahasiswa. Maka dari itu, berikut ini beberapa hal yang perlu dibenahi:

1. Manajemen

Selama ini, Web Master kurang diberdayagunakan dengan baik. Seakan-akan Web Master hanya bekerja jika dan hanya jika ada hacker usil yang menyerang domain, selebihnya hanya menambah direktori jika ada event tertentu. Padahal, Web Master mempunyai fungsi esensial yang jika berjalan maksimal, hal ini dapat meningkatkan kualitas dari produk ini.

Web Master dapat bekerja sama dengan Humas dalam memanfaatkan media sosial, khususnya untuk SEO (Search Engine Optimization) mengingat pengguna media sosial yang cukup besar. Pengguna sebagai satu kerumunan yang bisa dijamah agar media ini mendapat perhatian, mengingat pengguna media sosial yang mencapai 24 % (sumber: Nielsen data quoted in we are social). Masing-masing media sosial memiliki karakteristik tersendiri. Berikut ini beberapa agenda yang bisa dilakukan:


a. Facebook

Saat ini media sosial ini yang paling mampu mereplikasi kondisi sosial, sehingga banyak digemari. Global Web Index mencatat pemilik akun 93 % dengan penggunaan di satu bulan terakhir 59 %. Fiturnya pun lugas dan mudah digunakan. Salah satu fitur yang bisa digunakan adalah grup. Pakai akun pribadi untuk masuk ke grup apa saja yang sekiranya dihuni oleh mahasiswa ugm. Taruh backlink yang kira-kira menarik untuk kerumunan di grup itu.

Selain itu, setiap posting berita atau konten lain, usahakan untuk diatur agar bisa tag sebanyak mungkin orang. Ini salah satu keunggulan Balairung. Awak yang banyak bisa di-tag satu demi satu. Sosialisasikan kepada para awak untuk like dan comment. Barangkali tradisi ini aneh, tapi patut dicoba karena ini akan meningkatkan keterbacaan. Lagipula tidak perlu keluar uang sepeser pun. Di Facebook, timing tidak terlalu berpengaruh, tapi tetap perlu dipertimbangkan. Pukul 18.00-20.00 merupakan waktu yang relatif lebih luang pengguna media sosial untuk klik dan baca. Ini bisa menjadi pertimbangan pula.

b. Twitter

Untuk media sosial satu ini hampir sama prinsipnya, hanya saja karena real-time, waktu posting sangat berpengaruh terhadap keterbacaan. Maka dari itu, akun diusahakan harus tetap eksis di timeline dengan strategi yang tepat. Konten tidak hanya berita, jika memang berita belum bisa intensif. Bisa saja update informasi penting di sekitar Yogyakarta dengan me-retweet posting akun lain. Bisa pula diagendakan pembuatan konten visual ringan, meme misalnya.

Akan tetapi, tetap diperhatikan karakteristik media. Jangan sampai karakteristik media persma yang dikenal kritis menjadi hancur gegara twit yang kurang terkesan cerdas. Tagar per topik bisa digunakan untuk mengawal isu tertentu.

Berbeda dengan Facebook, Twitter sangat peka dengan SEO. Maka dari itu, sekalipun peminat media sosial ini berkurang, tetap penting digunakan untuk mendongkrak popularitas. Global Web Index mencatat 80 % populasi dunia memiliki akun dengan penggunaan di satu bulan terakhir 41 %. Beberapa aplikasi bisa digunakan untuk mengevaluasi dan melakukan monitoring, diantaranya Topsy, Tweetbinder, dll.

c. Google+

Media sosial ini gagal sebenarnya, karena netizen sudah terlanjur terbiasa dengan Facebook, sekalipun fitur di dalamnya lebih canggih dan ringan. Namun, intensifikasi posting tetap perlu seperti halnya Facebook, karena mudah diindeks oleh Google, raksasa mesin pencari yang digunakan setiap orang.


2. Desain

New Picture

Kalau soal ini memang perlu keberanian berinvestasi, karena untuk membuat desain yang sesuai kebutuhan perlu banyak kostumisasi. Rubrikasi juga perlu dibenahi agar tidak terlalu banyak dan terkesan rumit. Riset pembaca yang dilakukan beberapa waktu lalu bisa menjadi bahan pertimbangan. Topik yang paling diminati adalah kuliner dengan prosentase 27%, kedua, tidak jauh beda, hiburan yaitu 21,3 % disusul fashion (20,5%). Bisa berbentuk berita, maupun advertorial yang tentu saja menambah pundi-pundi penghasilan.

Barangkali perlu juga diagendakan secara khusus peliputan topik-topik semacam ini. Karakteristik Balairung dapat tetap dipertahankan, tinggal pendekatannya saja. Kenapa tidak, mengulas gaya berpakaian atau budaya makan masyarakat urban dari segi antropologis. Tentu saja dibawakan secara ringan, berangkat dari satu fenomen kecil yang dinarasikan secara elegan. Photo stage bisa diperbanyak dengan menjalin kerjasama dengan berbagai penyelenggara event musik maupu seni lain. Foto lebih bisa diandalkan karena proses kurasi tidak perlu lama, berbeda dengan feature, misalnya, yang butuh penyuntingan berhari-hari.

Selain itu, perlu dipertimbangkan pula untuk mendesain platform agar mobile friendly mengingat antusiasme masyarakat yang begitu besar. Nielsen mencatat 61 % populasi penduduk Indonesia menggunakan smartphone 3 jam 30 menit tiap hari. Balairung sendiri mencatat 23,1 % mahasiswa UGM menggunakan smartphone untuk mengakses internet, walaupun masih kalah dengan pengguna laptop yang mencapai 61,2 %.

Beberapa strategi SEO lain bisa dijalankan, salah satu yang juga efektif adalah dengan menaruh backlink di situs terpercaya(.ac.id; .or.id; dll). Ini satu lagi keuntungan Balairung sebagai lembaga resmi di bawah kampus. Web Profil yang difasilitasi ugm dengan domain ugm.ac.id bisa didesain sedemikian rupa untuk mendongkrak SEO. Akan tetapi, entah kenapa web itu hilang. Barangkali bisa diurus agar dapat dimanfaatkan.

Selain itu, mekanisme posting perlu diperketat agar setiap konten ramah SEO. Diantaranya dengan memperbanyak internal backlink  di konten, membubuhkan tag yang relevan, serta menambahkan metateks yang sesuai dengan kata kunci. Sampai saat ini, Balairungpress.com menduduki peringkat pertama dengan kata kunci “Balairung”. Ini potensi yang harus terus ditingkatkan. Jika ada wacana untuk mengganti domain, sebaiknya urungkan saja, karena domain ini sudah sangat ramah SEO.

Barangkali cukup ini saja oleh-oleh yang bisa saya berikan sepulang dari kelas digital. Banyak persoalan teknis yang tentu saja perlu diperdalam. KBEA sangat terbuka, apalagi dengan lembaga non-profit macam Balairung. Jadi, tunggu apa lagi? Tetap muda dan berbahaya!

Kampung Kautsar dan Hal-Hal yang Terlewatkan (2)

Sungguh sulit dipercaya. Orang yang dulu begitu lemah terhadap wanita, kini orang yang ‘harus’ paling kuat menghimpun organisasi yang mengalami kekosongan sekian lama. Masih segar di ingatan, betapa jalinan hubungan yang begitu rumit mengotori segala niat baik. Barangkali banyak orang akan nyinyir berkata, “Huh, sok suci, padahal munafik juga.” Aku pun hanya bisa terdiam. Diam diantara ketidaksempurnaan dan penyesalan.

Sejak tahun pertama masuk kuliah, aku telah menenggelamkan diri dalam berbagai organisasi. Kampung Kautsar tergeser menjadi prioritas kesekian. Lagipula, aku berpikir Karisma harus aktif berkomunikasi dengan KK jika ingin meminta bantuan. KK yang tidak memiliki kewenangan apapun juga tak mampu berbuat banyak jika Karisma sendiri tidak membuka dirinya. Tapi, semua pikiran itu terhempas entah kemana setelah seseorang mengajarkanku banyak hal.

“Karisma belum mengadakan LDK (Latihan Kepemimpinan Dasar). Bagaimana kalau KK yang mengadakan?” Usul Vera.

Setelah berhasil meyakinkanku, kami bersepakat mengumpulkan teman-teman yang masih bisa dijangkau. Seingatku, beberapa teman sempat hadir, diantaranya Hery, Ayik, dan Biga. Tiga materi kita rumuskan, pengisinya aku sendiri, Hery, dan Vera. Perijinan diurus Karisma. Kebetulan tidak se-alot kami dulu. Dengan ditemani “sego gudang” buatan Mbak Rina, lengkap sudah acara itu. Sekedar untuk berbagi apa yang kami punya.

Waktu bisa mengubah banyak hal, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa diubah oleh waktu.

Kini kami punya ideologi yang semakin terpolarisasi. Masing-masing melakukan apa yang kami yakini itu benar. Tangis dan tawa tak jarang mengiringi. Cukup mudah membereskan segala yang berhubungan dengan masa lalu itu. Tapi sama sekali tidak mudah membereskan kenangannya.

Aku kini adalah bukan siapa-siapa. Bukan anggota lembaga keislaman apapun, apalagi partai, ormas, dll. Aku kini adalah orang yang dituding liberalis, PKS-haters, pembela orang kafir, sekuleris, dll. Citraku telah hancur, sehancur-hancurnya. Terkadang aku hanya bisa menghibur diri, citra di mata manusia tidak penting. Manusia tidak pernah melepaskan sisi subyektifitas. Artinya ia seringkali melihat realitas dengan tidak jernih, karena terkotori kebencian. Terlepas dari citra baik yang sebenarnya aku butuhkan untuk menghimpun organisasi yang anggotanya terpisah jarak dan waktu ini.

Tentu saja banyak mimpi yang tersemat. Aku ingin berbagi kecintaan terhadap membaca. Aku ingin berbagi keasyikan mengarungi dunia tulis-menulis. Kalian tidak perlu menjadi liar sepertiku. Aku akan memisahkan apa yang kalian anggap baik dan membagikannya. Aku memang tidak pandai bicara ayat dan hadits. Biar aku merenunginya lebih dalam dulu. Biar alam mengahariku membaca kalam dari Sang Maha Agung itu, sekalipun dengan terbata-bata.

Kalian boleh pergi kemanapun kalian mau. Kalian boleh berkeliling dunia jika memang perlu. Aku hanya meminta, jangan pernah lupakan sudut masjid itu, yang dulu sempat kita rawat bersama. Sebab, dari kesederhanaan itulah perjuangan kini dimulai. Perjuangan menjalani apa yang menurut kita benar.