Menjadi Sastrawan Starter-Pack

Dunia sastra itu kejam, sayang. Tidak kenal ampun. Sekali jatuh akan diinjak-injak. Bukan buat yang cengeng dan kokehan drama. Cuma yang setrong yang akan bertahan. Bukan pula orang yang senang berlembut-lembut perkataan anti-hujatan tapi juga bukan orang yang cangkem-nya trocoh isinya binatang semua kalau ngomong juga bukan (repetisi haram, jinguk!). Intinya adalah hujatan atau pujian itu pada tempat yang semestinya atau tidak. Kalau ada kejahatan harus dilawan rawe-rawe rantas malang-malang putung tapi kadang perlu menahan diri dengan tepa selira dan alon waton kelakon. Enggak ngerti? Googling!

Berikut ini semacam kisi-kisi agar engkau (biar nyastra) tidak terjebak kesalahan berlogika yang berlarut-larut dibiarkan dalam dunia sastra kita sehingga seakan-akan suatu kebenaran:

  1. Soal sastra itu sendiri yang menjadi padanan literature. Kata ini sebenarnya merujuk pada ilmu pengetahuan, namun sejak mesin cetak hadir dan otoritas teks menjadi milik banyak orang, sastra sering disebut sebagai karya tulis walaupun tidak mutlak demikian. Maka ada pula sastra lisan yang hidup dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi budaya lisan. Jadi kalau Indonesia termasuk negara yang paling tidak terliterasi, jangan terlalu khawatir, karena penelitian itu sangat bias.
  2. Soal kesusastraan. Kesusastraan itu seharusnya merujuk pada literariness bukan dunia/arena/field. Cukup sastra. Kalau merujuk ke yang lebih spesifik seharusnya susastra padanan dari literary. Emang sih, seharusnya soal mencari padanan ini jangan terlalu kaku dan serius. Tapi paling amannya begitu dari pada kelihatan bego. Namun tetap perlu disadari alam pikir masyarakat kita yang membentuk Bahasa Indonesia jauh berbeda dengan Bahasa Inggris. Jadi jangan melulu apa-apa dicari padanan kata. Keminggris boleh, inferior jangan.
  3. Soal siapa yang layak disebut sastrawan. Penyebutan ini sejatinya sangat politis, seakan-akan sakral, padahal enggak juga. Siapa pun yang ahli membicarakan sastra entah itu kritikus, ilmuwan, penyair, esais, dll berhak menyandang gelar ini tanpa dibatasi penghargaan atau jumlah terbitan. Dalam wacana internasional, istilah ini jarang atau bahkan tidak pernah digunakan. Biasanya mereka menyebut diri mereka sebagai pengarang (author) yang lebih netral. Karyanya bisa berbentuk apa saja.
  4. Soal bentuk sastra. Menurut Lewis Turco dalam The Book of Forms: Handbook of Poetics ada empat genre besar dalam sastra, yakni Esai, Fiksi, Puisi, dan Drama. Jadi Puisi itu tidak termasuk Fiksi. Tolong diingat baik-baik. Terus orang suka mempertentangkan puisi dan prosa, itu keliru! Puisi itu genre, sedangkan prosa itu moda. Bisa aja suatu karya masuk dalam genre puisi tapi bermoda prosa. Namanya puisi prosaik (prose poetry). Tidak ada batasan karakter dalam genre. Jadi kalau ada istilah fiksi mini itu bodoh. Kalau ada alur kejadian, sudah cukup disebut fiksi, mau berapa kalimat atau berjilid-jilid. Kalau mau mempertentangkan, lebih tepat prosa (prose) dan sajak (verse). Prosa itu tidak terukur, sedangkan sajak terukur. Nanti beda lagi sama lirik, lho. Bingung? Emang! Dikira gampang!
  5. Soal baku dan tidak baku. KBBI dan PUEBI yang disusun oleh Balai Pengembangan Bahasa itu hanya semacam panduan untuk menuliskan bahasa secara ortografis, jadi tidak mutlak bertekuk lutut padanya. Penyusunannya pun masih terlalu kaku dan bias ibu kota. Makanya teman-teman kita dari Indonesia Timur kesulitan mengikutinya. Sejatinya bahasa Indonesia sendiri disusun dari keberagaman. Kita butuh satu alat komunikasi dan diplihlah Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu. Maka dari itu, kalau adik pengin jadi penulis kreatif, harus selangkah atau kalau bisa beberapa langkah lebih maju dari pada para birokrat yang kaku dan sok ngatur itu. Birokrat dari Balai Pengembangan lah yang harusnya mengikuti kalian-kalian. Baca, kuasai, buang KBBI dan PUEBI-mu! Begitu kira-kira.
  6. Soal sastra serius sama populer. Ini sayangnya dipercaya banyak orang, bahkan para sarjana sastra. Jangan percaya, itu ndobos. Sastra, ya sastra. Kalau bikin pertentangan mbok ya sastra serius sama sastra bercanda, gitu. Atau sastra populer sama sastra tidak populer (?). Teen-lit atau chick-lit itu juga sastra, kan cuma soal sasaran pasar pembacanya, boleh-boleh saja disebut begitu. Toh kepanjangan lit itu dari literature juga. Itu upaya pebisnis buku memetakan pasar.

Sampai di sini paham? Kalau belum bisa googling lebih lanjut. Jangan malu, google itu kalau diperlakukan dengan bijak bisa banyak membantu dalam memahami sesuatu. Dari pada tanya di info cegatan, kan? Oh iya, ada satu lagi, kalian perlu curiga kalau pembaca kalian suka memuji-muji. Pujian itu membunuh kreativitas. Sebaliknya, kritik itu menggugah. Sederhananya, terbiasalah dengan nyinyiran. Nyinyir itu sendiri seni, tapi jangan kebanyakan. Nyinyir boleh, tapi jangan lupa bahagia, ya, Dik, ya?

 

Advertisements

Kartu Karung Goni untuk UGM

Mumpung lagi pada buka-bukaan kartu, maka saya ikut main kartu juga, tapi bikin sendiri, enggak niru sepak bola atau yang lain. Konon warna karung goni jaket almamater UGM bermakna kampus yang merakyat, ndhek jaman Berjuang, pakaian kawula itu karung goni, makannya batang pohon pepaya. Dengan ini saya mengajukan kartu karung goni yang saya bikin sendiri itu bukan untuk penanda tingkat kesalahan tapi buat pengingat akan gagasan yang dulu digaungkan kini ilang kumandange. Tentu ditujukan pula kepada diri saya sendiri sebagai lulusan karena ikut andil dalam pelanggengan lelaku kampus yang semakin tidak merakyat ini. Jadi kalau masih waras berpikirnya tidak bisa diskors seperti nasib penyebar poster “Kampus Rasa Pabrik”, semoga mereka cepat dapat keadilan, lha wong semacam auto-kritik karena enggak ngapa-ngapain pas di kampus walaupun lama, eh malah lulus, dasar mahasiswa apatis! Apalagi dituntut pakai pasal karet pencemaran nama baik, kan yang tercemar duluan nama saya sendiri yang tidak pernah baik ini. Sejujurnya, menulis ini sambil agak takut juga, miris enggak sih bahkan di ruang akademis saja tidak terpenuhi hak kebebasan berpendapat? Dan hey kita diam aja! Jadi memperjuangkan hak suku asmat dan suku lain untuk mendapatkan penghidupan yang layak masih terlalu muluk-muluk karena akademisi sendiri tidak berdaya saat hak kebebasan berpendapatnya direnggut. Ngomong-omong penghidupan yang layak, apa kabar indomie dan nasi kecap? Untuk belanja buku yang cukup, harus rela menekan anggaran makan. Tentu yang setuju soal ini hanya mereka yang merasa memiliki buku sebagai kebutuhan. Kalau cuma buat penghayat tradisi nenek moyang penyalin-tempel sitasi tidak jadi soal.

Kartu ini menjadi mendesak untuk diajukan karena tanggapan umum yang terjadi ketika sebentuk ekspresi kritis ditanggapi dengan nyinyir, enggak konkret! Mereka justru sedang buka kartu: enggak ngerti posisi mereka sebagai intelektual itu dimana. Kerja-kerja kerelawanan dalam bentuk yang konkret tetap harus dilancarkan, tapi tidak terus mereduksi peran lain yang lebih abstrak. Dalam kasus asmat, misalnya, bagaimana bisa ada kelaparan yang didiamkan selama bertahun-tahun? Siapa yang merampas hak hidup mereka? Siapa lagi kalau bukan pemegang kekuasaan yang dilegitimasi institusi pendidikan? Kalau ada satu kasus yang bisa diabaikan, bukankah ada kemungkinan kasus lain yang barangkali lebih parah yang terjadi sementara kita sibuk caci maki rival politik masing-masing? Punakawan pengin jadi Pandhawa, Pandhawa sendiri mentalnya lebih mirip Buta.

Ilmuwan yang paham lingkungan dicetak untuk bikin amdal aspal biar proyek-proyek lancar jaya; orang-orang soshum dicetak untuk bikin rekayasa sosial supaya gerakan yang kontra-pembangunan tidak punya daya untuk melawan; orang-orang kebudayaan disumpal mulutnya pakai receh CSR biar mau nyembah-nyembah korporasi; aparat dilatih untuk jadi alat gebuk penguasa; dst. Pendidikan tinggi ikut dalam arus perputaran lingkaran setan yang tidak pernah berhenti, sampai bingung mau mulai dari mana untuk menghentikan laju badai yang memporak-porandakan peradaban kita ini. Kehilangan tempat berpijak yang akhirnya ikut terhempas kehilangan arah. O!

Tentang Bendera Baru FPI Itu

Maksud hati ingin tampil nasionalis sekaligus islami, FPI bikin bendera baru dalam aksi 212. Tanpa disangka, Habib Rizieq terancam hukuman satu tahun penjara karena dianggap melecehkan bendera yang konon taghut itu, selain juga sedang menjalani proses hukum untuk lima tuduhan lain. Menurut saya, selain melecehkan bendera Merah Putih, mereka juga melecehkan bendera (sebut saja) Tauhid, karena menurut Abu Hurairah dan banyak riwayat lain, bendera yang dipakai Rasulullah hanya riwa’ (latar putih) dan raayah (latar hitam). Saya justru heran, kenapa HTI diam saja melihat bendera yang disakralkannya itu dimodifikasi sedemikian rupa. Bahkan, Ismail Yusanto, jubir HTI, menyatakam dukungannya terhadap Habib Rizieq.

Ini sekaligus menjawab tuduhan serampangan Goenawan Mohamad yang katanya mirip bendera Al-Qaeda. Bendera dengan kaligrafi syahadat digunakan oleh berbagai kelompok yang mengatasnamakan islam, terutama yang telah, sedang, atau bermaksud menerapkan syariat. Misalnya, NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dengan tipografi dan tata letak yang berbeda. Bendera Tauhid versi HTI merupakan versi yang paling populer, khat ul-yad, yang digunakan oleh Kerajaan Ottoman di abad ke-18.

Berbeda dengan tipografi yang digunakan di bendera ISIS yang merujuk ke tipografi paling kuno dalam sejarah masyarakat muslim, karena mirip dengan tipografi yang digunakan dalam surat yang ditulis Muhammad ke Al-Muqawqis, pemimpin Mesir pra-Islam. Lingkaran di bagian bawah merupakan cap yang digunakan oleh Rasulullah untuk menyurati berbagai pemimpin negara waktu itu, sedangkan kalimat di atasnya hanya mengikuti tipografi pada cap.

AQMI Flag asymmetric.svg
By YoOwn work, Public Domain, Link

Muhammad letter maqoqas egypt.jpg
Public Domain, Link

Hal lain yang patut disoroti dalam bendera baru FPI adalah penggunaan dua pedang yang saling-silang di bawah kalimat tauhid. Ia memadukan tipografi khat ul-yad dan simbol militer Arab Saudi yang digunakan sejak 1932, biar terlihat garang barangkali. Sampai sekarang simbol itu digunakan untuk emblem yang dipadukan dengan citra pohon kurma.

Saudi Arabia

Simbolisme kerajaan Saudi memang kental dalam berbagai atribut yang digunakan FPI dalam setiap aksinya, jubah dan surban putih dengan perpaduan warna hijau. Belakangan semenjak kasus Ahok mengemuka, mereka mulai mencitrakan diri nasionalis sambil tetap menggembar-gemborkan menegakkan syariat dengan membuat jargon NKRI Bersyariah. Sebelumnya, banyak terlihat jenderal-jenderal hadir di setiap pengajian yang diadakan oleh mereka dan para simpatisannya.

Padahal, sebelumnya, mereka hanya menggembar-gemborkan penerapan syariat. Bahkan, dalam Habib Rizieq dalam tesisnya menuntut diberlakukannya kembali Piagam Jakarta. Tidak heran jika ia banyak membuat lelucon soal Pancasila. Maka, saya merevisi kategori FPI sebagai Islam Bathok, melainkan Islam Es Kelapa Muda, yang gula sama airnya dibanyakin. Kadang pakai gula jawa, kadang pakai gula pasir, atau bisa juga pakai sirup Marjan.

 

Menuju 212

Saya tidak bersama Rizieq, tidak juga bersama Ahok. Saya bersama akal sehat saya sendiri, yang setiap hari dianiaya takhayul-takhayul yang berseliweran di layar gawai saya. Tulisan ini tidak untuk membentuk kebencian baru atas kebencian-kebencian sebelumnya. Hanya sekedar tegur sapa atas saudara-saudara muslim saya (beberapa di antaranya saya kenal baik) yang sedang memperjuangkan apa yang menurut mereka benar. Terus-teruskanlah. Akan tetapi, tanpa bermaksud memutus hubungan pertemanan, saya tidak ikut.

Tahu kenapa? Lihat saja bagaimana Rizieq, aktor yang katanya bermain dalam wilayah Nahi Munkar ini bereaksi di setiap ada isu-isu yang berkembang. Salah satu yang menurut saya menggelikan adalah saat ia mencaci-maki qari’ yang menggunakan langgam jawa. “Langgam dalang, langgam pewayangan. Kurang ajar! Dia perolok Al-Quran! Dia hina Al-Quran! Kurang ajar!… Eh, saudara, kalau hari ini Al-Quran dibacakan dengan langgam pewayangan, langgam dalang, langgam lagu-lagu jawa kuno, maka besok Al-Quran akan dilagukan dengan langgam jaipongan,” bentaknya.

Dari sini saja terlihat bagaimana kapasitasnya soal bela-membela ini. Bukan soal kekerasan atau kelembutan. Kalau memang zaman sudah benar-benar edan, tidak boleh ragu mengangkat pedang. Tapi bukan seperti yang didengungkan Rizieq. Ia jelas dalam menampilkan kegarangan; marah-marah di mana-mana, diam-diam sedang mengglorifikasi Salafi-Wahabi dengan menyingkirkan akar tradisi masyarakat muslim nusantara; mengglorifikasi Islam-Arab a la Saudi dan mengerdilkan islam jawa, sunda, melayu, dll.

Gerakannya kali ini memang mendapat banyak simpati, tidak seperti aksi-aksi sebelumnya. Seketika dibentuklah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Buat saya ini berlebihan. Hanya untuk memenjarakan satu orang, mereka menggerakkan jutaan orang, klaim mereka, sampai 2,3 juta. Berarti sebanyak itu pula nasi bungkus dan ongkos akomodasi yang dikeluarkan, oleh peserta aksi sendiri, atau pun sumbangan “hamba-Allah”. Dari sekian banyak ketidakadilan yang tampil dalam panggung demokrasi, ini yang mereka pilih untuk diperjuangkan.

Hal yang lebih mengherankan, tiba-tiba muncul jenderaljenderal  yang bersimpati, datang ke pengajian-pengajian, memunculkan citra baik. Belum jelas kepentingan macam apa yang ingin mereka amankan, tapi kita perlu curiga. Sebab, kalangan Islam Bathok ini, sebut saja begitu, hasil dari politik akomodasi Orde Baru menjelang kejatuhannya, walaupun gagal. Banyak orang justru menganggap politik akomodasi ini secara positif, sehingga kejatuhan Soeharto adalah sesuatu yang patut disesali. Pun hasil dari depolitisasi Orde Baru di awal kekuasaannya, yang membuat banyak kader gerakan muslim kini kehilangan arah karena terputus dari semangat para pendahulu mereka.

Akan tetapi, pelanggengan Ahok juga bukan sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan kalau bisa dihindari. Saya tidak ingin mencuci tangan saya dengan air mata ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal tanpa ada kejelasan nasib di tengah belantara kota Jakarta yang penuh sesak. Bagaimana dengan dua calon lainnya, yang sudah sejak lama diproyeksikan para Islam Bathok ini? Sejujurnya, saya pesimis. Industrialisasi sudah sedemikian mencengkeram kuat perpolitikan ibukota.

Biar, biar Ahok dipenjara, Buni Yani juga dipenjara. Biar salah satu kandidat yang katanya muslim itu menang. Kita lihat apakah kemaksiatan semakin berkurang. Pertumbuhan ekonomi dan kemaksiatan itu saudara kembar, susah dipisahkan. Jika Ahok gagal dipenjara pun, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi orientasi utama.

Satu-satunya perjuangan paling berat saat ini adalah menjaga kewarasan di tengah zaman yang serba edan ini. Semua orang juga tahu, angka 212 merujuk pada pendekar legendaris, Wiro Sableng, muridnya Sinto Gendheng. Biar, biar mereka merayakan kegilaan mereka sendiri. Sing waras ngalah.

Surat Pengakuan Menjelang 4/11

Saudara-saudaraku seiman, dengan ini saya memohon untuk saya saja yang didemo atau dipenjarakan jika memang hukum Islam menghendaki seperti itu. Saat berita Ahok dan Surat Al-Maidah ayat 51 saya sama sekali tidak tertarik baca karena saya tidak tahu ayat itu bicara soal apa. Bahkan seorang Ahok pun belajar Al-Quran sampai sedetail itu, sedang saya tidak. Namanya saja orang belajar, salah-salah sedikit tidak apa-apa. Ahok itu kan baru kemarin sore baca Al-Quran.

Sedang saya sejak dari dalam kandungan sudah dicekoki ayat dan hadits. Dosa orang yang melakukan sesuatu karena lalai itu lebih besar dari pada sekedar tidak tahu. Karena saya tidak bisa bicara tentang ayat atau hadits, ijinkan saya mengutip perkataan seorang penyair Rusia berikut ini karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Ada satu tindakan kriminal yang lebih buruk daripada membakar buku: tidak membacanya.” (Joseph Brodsky)

Ijinkan saya pula menganalogikan Al-Quran itu juga semacam buku yang mana tindakan paling keji yang menistakannya adalah tidak membacanya. Jangankan hanya menyalahartikan, membakarnya saja masih bisa diampuni. Saya gagap tiap kali imam di masjid-masjid melantunkan ayat suci. Saya tidak langsung mengerti bacaan-bacaan sholat yang bahkan saya gumamkan sendiri. Tidak, tidak, saya membuang jauh-jauh pemikiran mengalihbahasakan bacaan sholat agar bisa khusyu. Justru itu akan mereduksi makna bacaan sholat. Toh pengalihbahasaan tidak akan pernah memuaskan.

Bahkan, bukannya beranjak mengambil air wudhu saat adzan terdengar, malah membayangkan, bagaimana ya, kalau adzan dibikin nge-blues? Seandainya Islam turun di Amerika, pasti seru, adzan-nya nge-blues. Betapa nistanya pikiran saya itu. Njuk ngopo kalau adzan-nya nge-blues? Yang main werewolf tetap main werewolf.

Kenapa Al-Quran tidak diturunkan dalam bahasa Jawa saja, Bahasa Ibu saya. Atau, biar adil, diturunkan banyak Muhammad, tiap suku satu Muhammad. Jadi bentuk masing-masing Al-Quran sudah disesuaikan dengan kondisi sosio-kultur masyarakat yang menghidupinya. Begitu kan enak, tidak menyulitkan hamba yang ingin menyembah dengan sungguh-sungguh ini. Biar kita tidak menciptakan tuhan-tuhan kita sendiri.

Betapa enaknya orang Arab, nabi-nabi diturunkan di sana semua. Kami bangsa Timur Jauh tidak kebagian apa-apa. Kami hanya kebagian klenik-klenik menyesatkan, mistik-mistik omong kosong, cerita soal dewa-dewa yang miskin tafsir. Barangkali memang Surga itu diciptakan hanya untuk orang Arab. Kalau orang di luar Arab kebagian sedikit, sudah untung. Maka dengan ini saya mengharap pemenjaraan saya sebagai upaya penghapusan dosa biar kebagian Surga Orang Arab yang sisa.

Serangkaian Pertanyaan untuk Para Pembaca Sastra

Sastra, makhluk apakah itu? Mengapa ia menjadi ladang pertaruhan banyak orang? Ideologi, kekuasaan, modal? Ia memiliki mekanisme untuk mengada yang tak pernah bisa terpikirkan bagaimana dan kenapa. Bisa juga dipandang sebagai mekanisme konsumen dan produsen, atau dinamika perpolitikan, atau sesuatu yang lain?

Mengacu pada objek material atau formal? Mana yang sastra dan bukan-sastra? Beberapa orang memandang sastra itu yang ditulis. Lalu kenapa ada sastra lisan? Bahkan saya berani bertaruh, pada dasarnya sastra itu lisan. Tidak ada originalitas maupun otentisitas di dalamnya. Ia sepenuhnya milik masyarakat. Originalitas dan otentisitas muncul beriringan dengan konsep pengarang (author), yang selalu mengiringi hadirnya karya dalam masyarakat. Ini juga kenapa sastra kemudian mendapat penanda baru, yang kemudian disebut dengan karya sastra. Roland Barthes dalam Kematian Sang Pengarang (1977) mengatakan:

Pengarang adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Prancis, dan keyakinan pribadi Reformasi, dimana ditemukannya kehormatan orang-perorangan (individu), atau istilah yang lebih elegan, ‘manusia pribadi’.

Tentu saja akan menjadi persoalan lain ketika predikat sastrawan yang disematkan, meskipun dalam beberapa hal mirip. Anehnya, istilah sastrawan (literarian?) tidak terlalu populer dalam wacana kritik sastra dunia. Mereka memilih author yang dapat disematkan pada pencipta karya dalam bentuk apa pun, fiksi maupun non-fiksi, yang merujuk pada pemegang otoritas (authority). Bahasa Indonesia menerjemahkan author menjadi pengarang, terjemahan yang sangat rendah hati, karena merujuk pada bentuk karangan atau sesuatu yang dikarang-karang. Tapi jangan salah sangka, ini bentuk terikat, artinya bukan dari kata dasar karang*.

Beberapa orang mempersempit defini sastra, yakni yang ditulis dan yang fiksi. Ini pandangan yang lebih baru lagi dibanding yang hanya mempersempitnya pada bentuk tulisan. Apa yang spesial dari sesuatu yang tidak pernah terjadi? Barangkali Sigmund Freud dalam Penulis Kreatif dan Melamun (1959) sedikit memberi jawaban.

Penulis kreatif melakukan hal yang sama dengan anak: ia bermain. Ia menciptakan dunia khayal yang ia tanggapi secara bersungguh-sungguh –ia menyalurkan banyak emosi ke dalamnya, sambil membedakannya secara tajam dari kenyataan. Bahasa telah melestarikan hubungan antara permainan anak-anak dan ciptaan puitis.

Tidak ada karya fiksi yang sepenuhnya fiktif atau pun sepenuhnya nyata. Selama ini kita menganggap sesuatu yang imajinatif karena ia belum pernah ada dalam benak kita sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Karya non-fiksi pun demikian, seakurat seperti apa pun akan ada sudut pandang dari jurnalis, misalnya, yang mana itu bisa juga dikatakan sebagai imajinasi, dari kata imaji (image). Oh, sebentar, ada yang salah dengan istilah yang saya gunakan, fiksi dan non-fiksi. Kenapa bukan fakta dan non-fakta?

Freud menggunakan istilah penulis kreatif (creative writers), sekali lagi bukan sastrawan. Kreatif (ajektiva); kreasi/ciptaan (nomina); pencipta/kreator. Barangkali fiksi dianggap gelanggang yang bebas sebebas-bebasnya bagi hasrat mencipta manusia untuk menciptakan apa pun sekehendaknya. Maka yang terjadi, terjadilah. Kemuliaan disematkan pada penulis fiksi yang kemudian oleh para penikmat Sastra Indonesia dikenal sastrawan. Akan tetapi, hati-hati dengan istilah ini, siapa pun tidak berhak mengklaim dirinya sastrawan jika tidak ingin dihina dan dicaci.

Industri membuat klasifikasinya sendiri pula. Damien Walter membuat definisi satir yang menyebut sastra (literature) adalah merek mewah buatan yang tidak dijual. Ia mendisposisikan sastra dengan genre yang dalam pertarungan keduanya dalam jagad industri perbukuan, semua kalah.

The market for high-end literature isn’t a healthy one. Intellectuals are reliably penniless, and fancy reading habits don’t make you cool any longer. The people who actually buy books, in thumpingly large numbers, are genre readers. And they buy them because they love them. Writing a werewolf novel because you think it will sell, then patronising people who love werewolf novels, isn’t a smart marketing strategy – but it’s amazing how many smart writers are doing just this.

Jika kalian bilang definisi yang hidup di masyarakat ini membingungkan, definisi di jurusan saya justru menggelikan. Dosen-dosen saya bilang, ada dua klasifikasi, sastra “serius” dan “populer”. Kalau mau bikin kajian sastra “populer” harus banyak, karena kalah pamor sama yang “serius”. Kok bukan sastra serius dan bercanda, misalnya, atau sastra tidak-terlalu-populer dengan sastra populer. Kenapa ada kecendurungan sastra yang “berat” dan susah dibaca kemudian tidak atau tidak terlalu populer? Kok harus bersusah payah? Apa yang dicari dari membaca Ullysses, misalnya, yang konon katanya sastra yang paling sulit dibaca?

Padahal teks mengada ketika dibaca. Jika ia gagal dibaca, maka ia gagal mengada. Persoalan berapa yang baca itu sudah persoalan modal, tapi paling tidak ada relasi yang dijalin antara karya dan pembaca. Maka pada titik ini sastra “populer” justru memiliki ketercapaian yang mengagumkan, karena dapat menjalin pembaca yang luas, terlepas dari proses penenggalam-munculan karya tersebut adil atau tidak.

Memangnya yang dianggap serius itu proses kurasinya, adil, begitu? Bayangkan, Sang Gate Keeper, yang dikenal dengan redaktur sastra dalam media massa, misalnya, menyeleksi ribuan naskah tiap harinya. Konon pertama yang dilihat judul, menarik atau tidak, lalu paragraf pertama. Judul tidak menarik, buang! Judul menarik paragraf pertama tidak menarik, buang! Bicara judul saja sudah problematis. Judul adalah unsur ekstrinsik, bagaimana suatu karya dihakimi dari sesuatu yang hanya melekat? bukan diri sebenarnya? Apalagi paragraf pertama. Seorang penulis membuat karya dalam satu kesatuan, ia ibarat makhluk, tidak bisa dihakimi dari ujung hidungnya saja.

Ini hanya satu contoh yang menunjukkan, betapa berjubelnya orang yang bertaruh di ladang ini. Belum lagi jika melihat forum, komunitas, event kepenulisan yang selalu ramai didatangi, bak orang-orang pesakitan menyedihkan yang mengharap kesembuhan dari dukun-dukun yang merapalkan mantra-mantra yang tidak pernah bisa manjur. Dukun-dukun ini semakin berjubel pula jumlahnya karena mendapat kesaktian dari acara-acara internesyenel di berbagai daerah yang juga semakin banyak. Atau jangan-jangan kita pun termasuk di dalamnya? Kegiatan pembacaan kita sebenarnya dalam rangka mencari mantra-mantra di antara selangkangan kata-kata dan huruf-huruf yang sengaja disembunyikan dukun-dukun tadi?

Sastra adalah yang begini dan begitu. Padahal yang begini dan begitu itu sudah dipakai, lalu kita harus mencari yang lain daripada yang begini begitu itu tadi untuk dunia yang cepat bosan dan selalu mencari kebaruan. Betapa kolotnya manusia-manusia modern ini, selalu mempertahankan ritual yang sama: mencari sesuatu yang baru.

Kembali ke persoalan sastra dan bukan-sastra yang mana saya curiga, ini bukan persoalan karya. Ini persoalan resepsi. Sepertihalnya para penjudi dalam arena ini, saya pun berjudi dengan melemparkan serangkaian pertanyaan ini di hadapan pembaca sekalian. Tentu saja perjudian yang saya lakukan bergantung pada seberapa besar pula khalayak pembaca yang saya raih. Karena hanya berstatus blog pribadi, apalagi yang punya juga bukan orang ternama, saya menduga tidak banyak. Ia tenggelam bersama teks-teks lain yang berkelebatan tiap sepersekian detik lalu menguap bersama angan dan bayang-bayang.

“Bahasa”, ‘Bahasa’, dan Bahasa

Tanda kutip sering dipakai oleh pengarang untuk menyebutkan suatu kata (penanda) yang mana ia ingin berlepas diri dari tanggungjawab penggunaannya, terlepas dari setuju maupun tidak mengenai keakuratan penggunaan penanda itu untuk menandai sesuatu. Saya akan mulai dengan mitos 14 “bahasa” di Indonesia yang konon telah punah lalu kita diminta menangisinya. Klaim ini dilakukan oleh UNESCO yang kabarnya melakukan program untuk mengantisipasi 6000 “bahasa” lain yang terancam punah.

Padahal, selama ini “bahasa” yang telah punah tersebut belum pernah dikonfirmasi keberadaannya. Kok mak bedunduk sudah hilang. Anehnya, “bahasa” itu sudah punya nama. Horotoyo, belum lahir sudah dinamai, yang menamai outsider lagi, memang punya hak apa mereka menamai sesuatu yang tidak lahir dari rahimnya? Jika pun memang benar 14 “bahasa” tersebut ada dan kemudian punah, faktor penyebab kepunahannya tidak lain dan tidak bukan adalah hadirnya negara yang memaksa warganya menjadi penutur ‘bahasa’ Indonesia dengan dalil ‘bahasa’ ini telah hidup sebagai lingua-franca, lalu dikumandangkanlah istilah ‘bahasa’ persatuan. Belum puas dengan itu semua, kita diminta menuruti standar “baik dan benar” oleh pemerintah. Jika tidak, jangan harap diterima kerja. Lupakan hutan, berburu, dan meramu! Roda besar modernisasi dan pertumbuhan ekonomi siap menggilas siapa saja yang tidak patuh. Rasa-rasanya kok tidak asing ya dengan pola ini, hanya pemengaruhannya lebih halus. Kalau Penjajah Belanda dengan invasi, kini Penjajah Indonesia dengan mendatangkan Presiden lalu kongkow dengan suku anak dalam.

Wacana yang dilontarkan UNESCO sebenarnya mengkhianati penyeragaman yang dilakukan oleh negara, lalu berusaha mengkonservasi “bahasa” yang masih tersisa untuk menghargai keberagaman, syukur-syukur bisa belajar sedikit-sedikit tentang pendangan hidup yang terkandung dalam “bahasa” tersebut. Ini sejalan dengan wacana desentralisasi yang sudah cukup lama bercokol di negeri ini, yang mana melimpahkan banyak wewenang ke daerah. Bahkan, kini pelimpahan wewenang sampai pada tingkat yang paling kecil, yakni desa. Di sisi lain, sedang ada wacana besar-besaran globalisasi, yang mana negara semakin hilang dalam arus perekonomian yang segala tetek-bengek di dalamnya diikat dengan perjanjian bisnis. Lalu dimana negara? Lalu dimana rakyat?

Saat negara dan rakyat semakin susah dicari keberadaannya (peran), lalu bagaimana nasib ‘bahasa’ Indonesia? Saya katakan dengan tanda petik karena satuan ini sebenarnya bukan bahasa dalam arti langue seperti yang didengungkan Ferdinand de Saussure dalam General Linguistics (1893). Barangkali lebih tepat jika dikatakan dialek, karena kita menganggap ‘bahasa’ Melayu a la Malaysia bukan bagian dari ‘bahasa’ Indonesia. Padahal, jika kita mendengar bahasa Melayu dialek Malaysia kita dapat mengerti, dan itu cukup mengidentifikasi bahwa kita menuturkan langue yang sama.

Wacana negara-bangsa adalah penyebab kita tidak mengenali lagi mereka sebagai saudara dekat, bahkan beberapa kali berebut “kebudayaan”. Makhluk apa lagi ini, diperebutkan segala. Banyak orang bilang kita ini bangsa inferior, saya dengan penuh keyakinan membantahnya. Kita superior! Buktinya, kita bisa menertawakan dan mencemooh saudara dekat kita itu karena kata-kata (leksem) yang digunakan kita anggap lucu. Bangsa Melayu di Indonesia kan lebih besar, kita yang menjadi puncak pencapaian “dunia” melayu, begitu kira-kira alasan yang dipilih untuk melegitimasi superioritas yang kita miliki.

Kembali ke persoalan ‘bahasa’ Indonesia, yang kemudian saya sebut bahasa Melayu dialek Indonesia. Seringkali dialek ini dibubuhi “yang baik dan benar” dengan kitab sakral Ejaan yang Disempurnakan, yang tidak sempurna-sempurna amat sebetulnya (dengar-dengar sudah setahun yang lalu kata sempurna dihilangkan); dan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang juga tidak besar-besar amat. Saya katakan demikian karena EYD sama sekali tidak cukup untuk memenuhi hasrat penyampaian makna sampai pencurah-capaian estetika, pun KBBI yang bahkan lebih asing dari bahasa asing. Kita lebih mengenal passion daripada renjana atau podcast daripada siniar. Maka, EYD dan KBBI itu untuk dipelajari lalu dilupakan. Kalau disalah-salahkan, bilang saja EYD dan KBBI yang salah. Bukan penuturnya. Justru EYD dan KBBI yang harusnya tunduk dan patuh dengan penutur.

Mereka pikir bisa mengatur aktivitas berbahasa dengan membuat, misalnya, kaidah-kaidah tata bahasa baku. Lalu yang berhak menentukan salah-benar disebut “Editor Bahasa”. Bahasa kok diedit? Begitu superiornya teks sehingga kita anggap sebagai bahasa itu sendiri. Padahal, sumber primer bahasa adalah tradisi lisan. ‘Bahasa’ dalam teks hanya salah satu ragam, yang merupakan turunan dari idiolek, yang mana turunan juga dari dialek. Maka ‘Bahasa’ Sansekerta dan Jawa Kuna bukan bahasa. Ia hanya serpihan leksem yang tercecer dan tercerai-berai, terseok-seok melintasi jaman. Bahkan hanya segelintir orang yang bisa mengakses teks di jaman teks itu muncul, mengingat otoritas teks sangat terbatas.

Selain itu, ada pula pemisahan, antara folk taxonomy dan scientific taxonomy, yang folk ya sacangkem-cangkeme, kalau scientific harus serba sistematis dan dipertanggungjawabkan penggunaan tiap titik-komanya. Pokoknya a la cangkem kuliahan begitu. Akan tetapi, pernahkah kita mempertanyakan, misalnya, istilah “Ilmu Budaya” yang kemudian di-Inggris-kan menjadi Cultural Science? Sains kok budaya? Terus asal-usulnya Budaya di-ilmu-kan itu bagaimana? Itu kan hanya istilah saja, begitu? Istilah, kok saja?