“Bahasa”, ‘Bahasa’, dan Bahasa

Tanda kutip sering dipakai oleh pengarang untuk menyebutkan suatu kata (penanda) yang mana ia ingin berlepas diri dari tanggungjawab penggunaannya, terlepas dari setuju maupun tidak mengenai keakuratan penggunaan penanda itu untuk menandai sesuatu. Saya akan mulai dengan mitos 14 “bahasa” di Indonesia yang konon telah punah lalu kita diminta menangisinya. Klaim ini dilakukan oleh UNESCO yang kabarnya melakukan program untuk mengantisipasi 6000 “bahasa” lain yang terancam punah.

Padahal, selama ini “bahasa” yang telah punah tersebut belum pernah dikonfirmasi keberadaannya. Kok mak bedunduk sudah hilang. Anehnya, “bahasa” itu sudah punya nama. Horotoyo, belum lahir sudah dinamai, yang menamai outsider lagi, memang punya hak apa mereka menamai sesuatu yang tidak lahir dari rahimnya? Jika pun memang benar 14 “bahasa” tersebut ada dan kemudian punah, faktor penyebab kepunahannya tidak lain dan tidak bukan adalah hadirnya negara yang memaksa warganya menjadi penutur ‘bahasa’ Indonesia dengan dalil ‘bahasa’ ini telah hidup sebagai lingua-franca, lalu dikumandangkanlah istilah ‘bahasa’ persatuan. Belum puas dengan itu semua, kita diminta menuruti standar “baik dan benar” oleh pemerintah. Jika tidak, jangan harap diterima kerja. Lupakan hutan, berburu, dan meramu! Roda besar modernisasi dan pertumbuhan ekonomi siap menggilas siapa saja yang tidak patuh. Rasa-rasanya kok tidak asing ya dengan pola ini, hanya pemengaruhannya lebih halus. Kalau Penjajah Belanda dengan invasi, kini Penjajah Indonesia dengan mendatangkan Presiden lalu kongkow dengan suku anak dalam.

Wacana yang dilontarkan UNESCO sebenarnya mengkhianati penyeragaman yang dilakukan oleh negara, lalu berusaha mengkonservasi “bahasa” yang masih tersisa untuk menghargai keberagaman, syukur-syukur bisa belajar sedikit-sedikit tentang pendangan hidup yang terkandung dalam “bahasa” tersebut. Ini sejalan dengan wacana desentralisasi yang sudah cukup lama bercokol di negeri ini, yang mana melimpahkan banyak wewenang ke daerah. Bahkan, kini pelimpahan wewenang sampai pada tingkat yang paling kecil, yakni desa. Di sisi lain, sedang ada wacana besar-besaran globalisasi, yang mana negara semakin hilang dalam arus perekonomian yang segala tetek-bengek di dalamnya diikat dengan perjanjian bisnis. Lalu dimana negara? Lalu dimana rakyat?

Saat negara dan rakyat semakin susah dicari keberadaannya (peran), lalu bagaimana nasib ‘bahasa’ Indonesia? Saya katakan dengan tanda petik karena satuan ini sebenarnya bukan bahasa dalam arti langue seperti yang didengungkan Ferdinand de Saussure dalam General Linguistics (1893). Barangkali lebih tepat jika dikatakan dialek, karena kita menganggap ‘bahasa’ Melayu a la Malaysia bukan bagian dari ‘bahasa’ Indonesia. Padahal, jika kita mendengar bahasa Melayu dialek Malaysia kita dapat mengerti, dan itu cukup mengidentifikasi bahwa kita menuturkan langue yang sama.

Wacana negara-bangsa adalah penyebab kita tidak mengenali lagi mereka sebagai saudara dekat, bahkan beberapa kali berebut “kebudayaan”. Makhluk apa lagi ini, diperebutkan segala. Banyak orang bilang kita ini bangsa inferior, saya dengan penuh keyakinan membantahnya. Kita superior! Buktinya, kita bisa menertawakan dan mencemooh saudara dekat kita itu karena kata-kata (leksem) yang digunakan kita anggap lucu. Bangsa Melayu di Indonesia kan lebih besar, kita yang menjadi puncak pencapaian “dunia” melayu, begitu kira-kira alasan yang dipilih untuk melegitimasi superioritas yang kita miliki.

Kembali ke persoalan ‘bahasa’ Indonesia, yang kemudian saya sebut bahasa Melayu dialek Indonesia. Seringkali dialek ini dibubuhi “yang baik dan benar” dengan kitab sakral Ejaan yang Disempurnakan, yang tidak sempurna-sempurna amat sebetulnya (dengar-dengar sudah setahun yang lalu kata sempurna dihilangkan); dan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang juga tidak besar-besar amat. Saya katakan demikian karena EYD sama sekali tidak cukup untuk memenuhi hasrat penyampaian makna sampai pencurah-capaian estetika, pun KBBI yang bahkan lebih asing dari bahasa asing. Kita lebih mengenal passion daripada renjana atau podcast daripada siniar. Maka, EYD dan KBBI itu untuk dipelajari lalu dilupakan. Kalau disalah-salahkan, bilang saja EYD dan KBBI yang salah. Bukan penuturnya. Justru EYD dan KBBI yang harusnya tunduk dan patuh dengan penutur.

Mereka pikir bisa mengatur aktivitas berbahasa dengan membuat, misalnya, kaidah-kaidah tata bahasa baku. Lalu yang berhak menentukan salah-benar disebut “Editor Bahasa”. Bahasa kok diedit? Begitu superiornya teks sehingga kita anggap sebagai bahasa itu sendiri. Padahal, sumber primer bahasa adalah tradisi lisan. ‘Bahasa’ dalam teks hanya salah satu ragam, yang merupakan turunan dari idiolek, yang mana turunan juga dari dialek. Maka ‘Bahasa’ Sansekerta dan Jawa Kuna bukan bahasa. Ia hanya serpihan leksem yang tercecer dan tercerai-berai, terseok-seok melintasi jaman. Bahkan hanya segelintir orang yang bisa mengakses teks di jaman teks itu muncul, mengingat otoritas teks sangat terbatas.

Selain itu, ada pula pemisahan, antara folk taxonomy dan scientific taxonomy, yang folk ya sacangkem-cangkeme, kalau scientific harus serba sistematis dan dipertanggungjawabkan penggunaan tiap titik-komanya. Pokoknya a la cangkem kuliahan begitu. Akan tetapi, pernahkah kita mempertanyakan, misalnya, istilah “Ilmu Budaya” yang kemudian di-Inggris-kan menjadi Cultural Science? Sains kok budaya? Terus asal-usulnya Budaya di-ilmu-kan itu bagaimana? Itu kan hanya istilah saja, begitu? Istilah, kok saja?

Bahrunnaim, Sang Teatrawan

Aku kira Pamela Allen terlalu buru-buru mendaulat karya-karya Putu Wijaya sebagai Sastra Teror. Penyair pro-puisi-esai ini, katanya, meneror daya pikir pemirsa dengan menghadirkan plot dan tokoh yang membingungkan, sehingga meneror kesadaran, begitu kira-kira. Lagipula, jika karyanya dikenal sebagai Sastra Teror, kenapa Putu tidak dijuluki Sastrawan-Teroris? Jika karya Sutardji Calzoum Bachri, pengikut aliran sesat-menyesatkan puisi-esai juga, disebut-sebut sebagai puisi mantra, kenapa dirinya tidak dijuluki penyair dukun, misalnya.

Maka dengan ini saya mendaulat Bahrunnaim sebagai Sastrawan-Teroris sejati dengan menampilkan sequel teater kolosal kamis (14/01) lalu. Saking hebatnya, Ia tidak perlu naskah untuk bersandiwara. Tidak perlu pula menggesek-gesekkan barangnya, seperti yang dilakukan Rendra di tengah desak-desakan bus kota dalam Yang Muda Yang Bercinta. Bahkan, ia tidak perlu judul untuk mengesankan betapa mencekamnya teater yang ia mainkan. Kalau media menamai peristiwa itu dengan “Tragedi Bom Sarinah” misalnya, itu sudah masuk ranah interpretasi. Semua orang berhak membuat interpretasi, kata cangkem-cangkem kuliahan itu.

Jika beberapa saat kemudian situasi mencekam kembali dibuat bercanda, dari #KamiTidakTakut menjadi #KamiNaksir, itu juga interpretasi yang sah-sah saja. Yang jelas, Bahrunnaim yang dipercaya menjadi sutradara sequel kali ini berhasil membuat ketakutan. Tagar #KamiTidakTakut justru menegaskan ketakutan itu sendiri. (Seperti tagar #Akurapopo yang sebenarnya justru popo. Kalau memang tidak takut ya enggak usah bilang-bilang, dong?) Buktinya, sampai tulisan ini hadir, berita soal Tragedi Bom Sarinah tidak pernah absen, pagi, siang, sore, malam, beriringan dengan Kopi Maut. Ada ketakutan yang luar biasa, melebihi kopi yang bisa saja meracuni setiap kelas menengah perkotaan.

Desing peluru dan ledakan bom seakan menyerukan, kita kini berada di era terorisme pasca-binLaden yang cemen, cupu, flamboyan, lemah, dan sakit-sakitan itu. Osama bin Laden yang dikenal sebagai psikopat hanya asumsi yang dibangun media barat seakan kita hidup di dunia film superhero Hollywood yang sedang menunggu Sang Mesiah Iron-Man membawa lebih banyak kehancuran (?). Ya, lihat saja tiap aksinya, menenangkan Hulk saja harus menghancurkan gedung bertingkat. Menumpas penjahat, apalagi, seisi kota dijatuhkan dari atas langit. Mesiah macam apa itu?

Tahukah kalian, Osama adalah klan bin Laden, klan paling kaya seantero Jazirah. Ia anak ke-17 dari 25 putra Muhammad bin Laden, ayahnya. Belum yang perempuan, yang mencapai 29, dari 22 istri. Setidaknya itu yang dituliskan Lawrence Wright (90, 2006) dalam Looming Tower yang kemudian diterjemahkan dengan agak memaksa oleh Hendra dengan judul Sejarah Teror, terbitan Kanisius (2011). Ia sering mengirim puisi ke ibunya, Alia, jika sedang rindu. Ia pengusaha kaya Saudi Binladin Group dan banyak mendulang kekayaan yang kemudian membiayai pembentukan Al-Qaeda.

Kita kini berada di era Baghdadi!; yang garang dan berani; dengan keuangan yang lebih terjamin; dengan fatwa yang lebih mendukung. Lalu mereka berkata, ah, mereka Quran (mushaf) saja tidak punya. “Hey, ini perang, Bung! Mana sempat menenteng mushaf? Kalian kira liqo’?” Analisis geopolitik lah, ekonomi lah, ah, kalian lupa satu pelajaran penting: sejarah. “Kami lahir dengan nafas panjang; dengan intrik yang tak kalah hebatnya dari elit-elit negara Arab! Teror kami ideologis!”

Teater yang ia mainkan estetis, sekaligus tendensius. Keakuan, melebihi kebinatangjalangannya Chairil; menyihir, melebihi tragedi winka dan sihka; membentuk masyarakat ideal, melebihi tendensi Sutan Takdir Alisyahbana. Gagasannya memang utopis, tapi apa salahnya? Memangnya Plato ketika menyusun tatanan ideal, juga harus gamblang dan final, begitu? Memangnya demokrasi berhasil membentuk masyarakat ideal? Justru salah satu tujuan terorisme adalah menciptakan rasa takut sekaligus menunjukkan betapa negara thoghut telah gagal memenuhi rasa aman warga negaranya. Kritikus sastra pun hanya bisa menganga, ikut-ikutan gagap. Buktinya, sejauh ini belum ada kritikus yang ‘menyerang’ pementasan ini.

Ia telah berhasil menegasikan dunia, sejadi-jadinya. Jika sensasi rasa takutmu belum terpuaskan, tenang, masih ada sequel selanjutnya. Kita tunggu saja kapan dirilis. Panjang umur terorisme!

Jejak Persenggamaan

Ini kesimpulan sementara yang aku dapat setelah membaca segelintir buku. Buku yang tentu saja hasil persenggamaan orang lain, yang mana telah teruji oleh zaman, melintasi berbagai era, berumur panjang. Mereka sering disebut dengan kanon, avant-garde, masterpiece, dll. Seberapa getol kita mengais-ngais data-data baru untuk menarasikan kembali sejarah, dalam hal ini sejarah sastra, sastra kanon tetap sulit digugat.

Aku pernah berbincang dengan Katrin Bandel, (seorang penulis Boemipoetra yang bukan kaum bumiputra, karena kelahiran Jerman. Tapi jangan mengira aku pintar bahasa Jerman. Ia sudah di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan menganggap Jerman sebagai negara asing), dengan menanyainya, “Setujukah dengan kanonisasi?”

“Kanonisasi bukan persoalan setuju atau tidak. Kanon adalah sesuatu yang terus diingat dan diperbincangkan,” terangnya. Jelas ini menimbulkan persoalan baru tentang Sejarah Sastra yang dihimpun berdasarkan, setidaknya bisa dikatakan di sini, ingatan perumus, sebagai pembaca karya-karya sastra. Sejarah Sastra Indonesia yang disusun oleh Ajip Rosidi selama ini diyakini sebagai narasi sejarah yang seakan final. Beberapa kalangan menggugat ini dengan memunculkan karya-karya lain, termasuk karya sastrawan Lekra, seperti yang dilakukan Bandung Mawardi dan Muhiddin M. Dahlan dalam kompilasi makalah Poe(li)tics (judul yang agak memaksa, aku rasa). Mereka tentu saja hanya menggeser satu kanonisasi ke kanonisasi yang lain, versi mereka.

Untuk kemudian mempersoalkan hal ini, jika aku taat dengan sistem dalam institusi perguruan tinggi, harus tuek-ngekek dengan gelar Prof. di depan predikat Haji dulu baru boleh. Mereka sering menyebutnya dengan otoritas (authority) dengan kata dasar author, yang (anehnya) diterjemahkan ke bahasa indonesia, pengarang, bukan pemegang otoritas, misalnya. Kalau lulus sarjana, enggak usah sok-sokan mengkaji yang berat-berat. Bicarakan saja plot atau tokoh di cerpen Kompas. Sudah begitu, malangnya menjadi mahasiswa sastra Indonesia, buku sastra mahal dan susah dicari, apalagi kritik sastra. Siapa juga orang kurang kerjaan yang baca kritik sastra? Baca sastra saja belum tentu.

Akan tetapi, aku menyadari ini sudah sejak lama dan memang sudah memutuskan untuk tidak mengandalkan penghidupan dari menulis. Jujur saja, aku mulai menikmati proses ini, meminang satu demi satu anak-anak zaman yang menarik hati, menggauli mereka, menghimpun syahwat, untuk memulai persenggamaan kecil demi persenggaman kecil yang entah kapan akan berakhir.

Ejaan yang Disempurnakan vis a vis Ejaan yang Diridai Allah

“Karena kesempurnaan hanya milik Allah.”

Begitu kira-kira kredo para penganut mazhab baru, Ejaan yang diridai (diridhoi?) Allah. Bukan ayat Al Quran, bukan pula Hadits. Sejauh ini belum jelas siapa yang memunculkan kalimat ini, akan tetapi ia seakan menjadi diktum yang tak terelakkan. Secara sadar atau pun tidak, mazhab baru ini menafikkan Ejaan yang Disempurnakan, yang sebetulnya tidak sempurna-sempurna amat juga. Saya mengambil dua tokoh paling fenomenal, Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw karena menurut saya paling mewakili.

 

Satu-satunya motif yang menurut saya masuk akal para penganut mazhab ini menggunakan ejaan tertentu, yaitu tidak terakomodasinya bunyi bahasa dalam transkripsi ortografis. Misalnya, kata ridho dibanding rida yang baku. Jika ingin mengakomodasi semua bunyi, tentu saja transkripsi fonetis lebih dianjurkan daripada transkripsi ortografis. Akan tetapi, betapa susahnya kita ketika bercakap di media sosial, dimana ragam bahasa yang digunakan ragam bahasa lisan yang ditulis, menggunakan transkripsi fonetis.

Selain persoalan bunyi, persoalan penghormatan juga menjadi isu penting. Dalam pos Salim A. Fillah di atas, di bagian akhir disebutkan JazaakumuLlaahu khayran dengan [l] kapital, karena mengacu ke Allah. Biasanya, jika ada embel-embel yang mahaesa, misalnya, maka akan digunakan pula huruf kapital. Hal yang menurut saya susah masuk di akal, penggunaan [y] daripada [i] dalam khayran. Dalam kasus lain, inshaaAllah ketimbang insyaallahmisalnya. Barangkali ada tren ejaan latin a la barat atau persia.

Sekalipun telah diserap dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, mereka tetap keukeuh menggunakan ejaan mereka sendiri, barangkali khawatir umat muslim indonesia “salah” melafalkan satu kata yang dianggap penting dan kemudian menggeser maknanya. Misalnya, kata sholat cenderung lebih banyak digunakan ketimbang salat, yang pengucapannya sama dengan saladHal ini terjadi karena bunyi alveolar [s] di dalam bahasa arab bisa mengacu ke empat alfabet, yakni  [tsaa], [siin], [syiin], dan [shaad]. Mereka tidak terima kalau empat alfabet ini disamakan pengucapannya. Barangkali bahasa Arab dianggap sakral sehingga tidak boleh salah ucap, harus sesuai dengan pengucapan orang Arab. Kesakralan terletak pada bahasa, bukan kata, karena beberapa kata di dalam bahasa indonesia yang telah cukup mewakili tidak pula digunakan. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa arab, misalnya shaum ketimbang puasa.

 

 

Anehnya, jika memang bahasa Arab itu bahasa yang sakral, yang konon merupakan bahasa yang digunakan di akhirat, kenapa slang semacam ini masih digunakan? Padahal telah banyak yang mengkoreksi penggunaan beberapa kata, seperti antum atau ane. Tren kearab-araban dalam titik ini menjadi sangat menggelikan, yang bahkan orang Arab pun akan terheran-heran. Dalam komunitas mereka, ane dan antum menjadi semacam kata pengganti yang lebih sopan, semacam kromo inggil versi kearab-araban.

Saya menyarankan mereka untuk merumuskan Ejaan yang Diridhoi Allah ini dalam sebentuk buku dan diterbitkan oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang Diridhoi Allah, agar kompak dan konsisten memakainya, tentu saja disertai dalil aqli maupun naqli biar afdhol dan varokah. Selain itu, mereka juga tidak perlu lagi menanggapi para haters yang bakal mengurangi kekhusyukan mengarab-arabkan diri. Jangan sampai tradisi membuka kedok terulang kembali. Wa’ALAYkumsalam!

Screen-Shot-2015-05-22-at-4.31.12-PM

Munajat Seorang Nihilis

Pertanyaan yang sering menggelayut di pikiran ialah, mungkinkah seorang nihilis ber-Tuhan? Oh, mungkin terlalu terburu-buru jika menyebutnya “Tuhan”. Kalau begitu, sebut saja, Ia sesuatu yang sesuatu lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan; sesuatu ini mengawali segalanya sekaligus mengakhirinya; meng-ADA-kan sekaligus meniadakan.

Mari terlebih dahulu bicara soal sesuatu yang di-ADA-kannya ini, sebut saja alam semesta. Banyak ilmuwan percaya alam semesta berawal dari massa nol, lalu ledakan besar (big bang) muncul, terbentuklah materi yang berproses semakin besar layaknya sebuah balon udara yang ditiup. Lalu entah bagaimana kepercayaan multiverse muncul, yang mengatakan bahwasanya dunia ini terdiri dari banyak semesta yang belum bisa dipastikan jumlahnya.

Terlepas dari berbagai ramalan beserta tahayul sains yang terus direproduksi, apa sebenarnya asumsi yang dibangun? Jika memang alam semesta ini berawal dari massa nol, apa yang membuat ledakan besar bisa terjadi, jika tidak ada sesuatu di luar daripadanya yang membuat ledakan besar itu mungkin? Dalam hitungan matematis yang paling sederhana, nol akan tetap nol jika tidak ditambahkan angka satu atau angka lain.

Belum lama ini berkembang penelitian yang berusaha memecahkan misteri “Partikel Tuhan” (Higgs Bosson). Partikel ini dianggap bertanggungjawab atas segala materi yang ada; Ia ada diantara proton, elektron, dan neutron. Bukan metodologi yang membuatnya menarik untuk diperbincangkan, melainkan kenapa partikel ini dinamai dengan “Tuhan”? Apakah ini usaha manusia untuk me-material-kan “Tuhan”? Atau sekedar olok-olok para atheis ngehek untuk para agamawan?

Permasalahannya, angka nol yang ADA diantara satu dan minus satu ini jika dikalikan maupun dibagikan angka berapa pun (jika angka itu bukan nol), hasilnya akan tetap nol. Sebaliknya, angka berapa pun ketika dibagi nol hasilnya tak terdefinisikan, sedangkan angka berapa pun ketika dikali nol hasilnya nol pula. Setidaknya, hitung-hitungan ini yang aku pahami saat masih duduk di bangku sekolah, terlepas apakah ini sekedar konvensi atau bahkan imajinasi.

Lagipula matematika adalah ilmu tentang imajinasi. Ia memahami sesuatu yang tidak benar-benar ada. Tidak ada angka satu di dunia ini. Tidak ada satu ukuran pun yang dapat menunjukkan angka satu. Sepresisi apa pun suatu ukuran, ada toleransi sepersekian per satuan tertentu yang diabaikan. Bahkan perhitungan matematis sendiri seringkali mengabaikan angka yang terlalu kecil, semisal pada saat menghitung luas lingkaran. Tiga koma empat belas cukup untuk menjadi patokan. Desimal di belakangnya dianggap tidak ada.

Angka nol ADA di angka lain, positif maupun negatif, terlebih lagi dalam bilangan desimal. Sebenarnya, siapa Engkau, wahai Nol? Dapatkah Engkau dipahami? Atau justru satu-satunya jalan memahamimu adalah dengan mengabaikanMu?

Media Viral dan Antiviral

Viral awalnya sebuah ajektiva dari kata virus yang mengacu pada sifat khas-nya yang dapat menjalar dan menjangkiti banyak organ dengan sangat cepat. Akhir-akhir ini, kata ini akrab di telinga kita sebagai metafora untuk melabeli sebuah media yang memuat konten-konten yang dianggap bakal menyebar dengan cepat, bak virus, tentu saja menurut media itu sendiri. Hampir dapat dipastikan sasaran media ini merupakan masyarakat kelas menengah, karena memiliki akses terhadap media dalam jaringan (daring) dan pasar yang menggiurkan untuk iklan apa saja.

Media-media ini berlomba untuk tampil di hadapan pembaca dengan mengoptimalisasikan mesin pencari; membaca algoritma tiap social media; membelanjakan banyak uang untuk memancing atensi dan partisipasi akun; ternak akun-akun bot untuk mendongkrak popularitas; dll. Penulis konten dibayar dengan harga yang murah, jika tidak ingin dibilang tidak layak; bahkan beberapa penulis cukup puas dengan melihat artikel yang ditulisnya tampil di suatu media tanpa dibayar sepeser pun. Maka, sulit kiranya mengharap konten di dalamnya dibangun atas logika yang tepat dan teknik yang memadai.

hipwee shot

Upaya untuk tampil di hadapan pembaca tentu saja dilakukan oleh semua media daring. Bedanya, media viral ini tidak memiliki segmentasi pembaca yang spesifik, sebaliknya, sekiranya konten ini memiliki kedekatan terhadap satu kalangan tertentu, maka hampir pasti konten itu bakal dimuat. Penulis konten yang terdiri dari beragam latar belakang budaya, tempat tinggal, hobi, dll memungkinkan media-media tetap tampil dengan tulisan yang terkesan baru.

Apakah tren media viral ini mengakhiri rezim bad news is good news dan beralih ke good news is still good news? Kejengahan masyarakat akan berita-berita mengenai tragedi terbayar dengan munculnya media viral. Sakau akan tragedi bagai satu wujud melemahnya daya tahan sehingga memudahkan virus-virus masuk dan menyebar. Gejala yang pertama kali akan muncul ketika seseorang terjangkit virus ini adalah hilangnya empati, atau yang sering disebut dengan apatisme. Atau barangkali justru apatisme kelas menengah ini terlebih dahulu ada sebagai satu keniscayaan dan media viral hanyalah bunga-bunga apatisme? Ayam, atau telur?

Sejak media, katakanlah, arus utama (mainstream) mengembangkan lini ke media daring, pola semacam ini telah terjadi. Tidak salah pula jika media arus utama daring masuk dalam kategori media viral. Etika jurnalisme banyak dikalahkan untuk memenuhi asumsi atas “tuntutan pasar” ini. Hanya saja, media yang sering dilabeli “media viral” ini, artinya selain media arus utama itu tadi, berperan membuat konten yang tidak terakomodasi di media arus utama.

isigood shot

Akan tetapi, apakah pertanyaan soal good news dan bad news tadi benar adanya? Ternyata tidak juga, karena tren media viral tidak menandai peralihan yang signifikan. Berita-berita tragedi tetap muncul di beranda kalian, bukan? Lalu apakah dengan begitu ini juga membantah pernyataan awal tadi, soal apatisme? Tidak juga, karena jika dilihat tragedi-tragedi yang kemudian ramai diperbincangkan tetap saja persoalan masyarakat kelas menengah yang merengek haus minta tetek. Maka kaffah lah anda sebagai kelas menengah ngehek  jika beranda anda dipenuhi dengan candaan metropolis yang cenderung egoistik.

jogjastudent shotPenulis tidak hendak membuat olok-olok, karena penulis sendiri adalah bagian daripadanya. Penulis hanya mengajak para pembaca berpikir, jika bersedia tentu saja, mempertanyakan, apa ini yang menyibukkan kita kini? Kita sebagai bagian dari “pasar” yang kemudian dibaca dalam sebentuk algoritma, lalu membentuk asumsi atas “kebutuhan”. Industri yang mengikuti pasar, atau pasar yang dikonstruksikan oleh industri? Ayam, atau telur?

Lalu apa kita cukup puas, sebagai khalayak yang aktif, seaktif-aktifnya, melihat informasi yang itu-itu saja? Repetisi tidak terhindarkan, sepertihalnya media arus utama, terlebih dengan penulisan konten yang low-budget dan copypaste sana-sini. Padahal, khalayak cyberspace tidak seperti khalayak media frekuensi, misalnya, yang konten didalamnya dipilihkan dan dibuatkan oleh pemegang modal besar. Khalayak cyberspace adalah khalayak yang bebas-aktif, yang bahkan tidak hanya memilih sendiri arah atensi dan partisipasinya, melainkan dapat membuat konten sendiri dengan gratis dan merdeka. Kesadaran akan hal ini menjadi antibodi yang dapat semakin kuat, dapat juga melemah.

Lalu dimana antiviral? Dalam hal ini, tidak berlebihan jika dikatakan utopis. Sebab, mempelajari seluk-beluk penyebarannya saja tidak cukup, ia harus berperan melebihi virus itu dan menandinginya, layaknya sebuah terapi; menandingi kecepatan dan ketepatannya; serta memutus matarantai penyebaran.