Makan, Tidur, Nyastra

Di suatu sore yang entah sejak kapan mulai sendu, ada kiriman Majalah Mata Jendela Edisi ke-4/2016 yang ditujukan kepada Dewi Kharisma Michellia di ruang komputer B21. Dengan agak kurang ajar, aku buka bungkusnya. Toh, membaca buku bukan kejahatan. Ada satu tulisan yang membuat saya susah tidur sampai hari ini. Tulisan itu ditulis oleh dosen saya sendiri, Pak Aprinus. Sangat mengganggu, terutama kesimpulannya di bagian akhir yang kurang lebih begini: Di Jogja, nyastra lebih penting daripada sastra itu sendiri. “Maka nikmat bersastra mana yang kamu dustakan,” pungkasnya.

Aku pun mengamininya. Jika ia mengalami sesrawungan itu dengan akik dan keris, aku jauh beda. Pengalamanku agak saru, barangkali, karena kebanyakan yang aku alami forum informal. Menggosipkan sastrawan yang punya istri banyak lah, bedanya kenthu-nya Sitok Srengenge dengan bercinta-nya Rendra lah, bajing-membajingkan lah, yang melarikan anak orang lah, yang suka jajan prostitusi lah, yang gay lah, dll.

Lalu aku pun mengingat pertemuanku dengan Pak Danarto beberapa minggu lalu di Taman Budaya Jawa Tengah. Waktu itu kebetulan sedang ada Mimbar Teater Indonesia yang baru aku tahu sudah kelima kalinya diadakan. Acara itu bertajuk “Panggung Realisme Magis Cerpen-Cerpen Danarto”.

Aku hanya mengikuti sesi sarasehan yang diadakan di tengah pementasan monolog yang diadaptasi dari cerpen-cerpen Danarto. Narasumber yang dihadirkan selain Danarto sendiri ada Pak Faruk, dosen saya juga. Pak Faruk membikin tulisan alakadarnya tentang “kadar” realisme-magis Danarto. Setelah ia bicara panjang lebar soal sastra, ia mengaku dengan terus terang, sebenarnya agak memaksa Danarto dikategorikan sebagai realisme-magis. Kalau mau baca realisme-magis ya Triyanto Triwikromo itu, begitu katanya.

Ternyata nyastra di Solo tidak jauh beda. Tidak ada yang tertarik melanjutkan perbincangan tentang “realisme yang dihabisi” pasca-65 yang kemudian melahirkan Putu Wijaya, Iwan Simatupang, dan Sutardji; atau “Hirarki Sastra” antara Sastrawan Ibukota dan Sastrawan Pengembara. Mereka lebih banyak tertarik pada pengalaman-pengalaman sufistik yang dikisahkan Pak Danarto tentang “Anjing yang Tuhan dan Supir Taksi yang Tuhan”. Pak Faruk pun mengikuti arah pembicaraan dengan menceritakan pengalamannya yang berkebalikan, yang katanya selalu mencari alasan logis di setiap kejadian magis.

Pikirku, memangnya kenapa harus berpusing-pusing bicara sastra? Jadi tidak nikmat nanti. Kita ini berlabel penikmat sastra. Membacanya tidak usah serius-serius. Apalagi memperbincangkannya. Bukan, ini bukan satir. Aku sudah meninggalkan idealisme “apresiasi terbesar sastra adalah kritik” sejak lama. Aku pun mulai menikmati gaya hidup nyastra ini.

Hanya saja, sebagai calon sarjana sastra, aku merasa hina. Mau aku kemanakan teori-teori sastra dari Formalisme Rusia sampai Kajian Budaya itu? Di kelas kami diajarkan dengan tidak terlalu serius pula. Di luar kelas kritik sastra tidak laku. Jurnal ilmiah yang terbit alakadarnya sedikit saja yang baca.

Maka menurut saya biar tetap alakadarnya begitu. Kritik biar ada terus tapi tidak usah banyak-banyak, patut-patut, biar kelihatan intelektuil pembaca sastra kita. Biar yang pengin serius juga terakomodasi. Juga biar akademisi-akademisi kita cepat naik gelar. Serius, ini bukan satir.

Aku menghormati apa pun pandangan yang menyertai pembacaan sastra kita. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Hanya saja jika boleh memihak, aku lebih memilih menjadi penikmat saja, yang tidak mau terlalu serius bicara sastra. Kalau soal perasaan hina, lha wong pada dasarnya manusia itu dicipatakan dari air mani yang hina. Jadi sebenarnya aku sedang menuju asal-usulku.

Advertisements

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Sulit dipercaya, aku sebagai orang desa yang kebetulan mendapat akses pendidikan yang lebih tinggi dibanding teman sebaya di desaku, kini terjebak di tempat KKN yang mana lebih ‘kota’ daripada desaku sendiri. Sidomulyo namanya, desa yang letaknya tidak jauh dari Pantai Parangtritis. Jika ditempuh dengan sepeda motor, sekira 15 menit sampai. Sesekali kami ke pantai untuk melepas penat.

Kelompok kami dibentuk paling akhir, tidak ada seminggu sebelum pelepasan. Tidak ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam keterasingan itu kami memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sekedar menambal-sulam payahnya birokrasi kampus. Di antara teman satu unit, aku adalah orang yang paling plonga-plongo, tidak tahu apa-apa. Untungnya aku terselamatkan karena teman-teman satu unitku banyak yang telah menguasai berbagai prosedur dan mekanisme yang mesti dilakukan. Bahkan mereka telah mengakumulasi cerita-cerita dari para pendahulu. Belakangan usut punya usut setidaknya sekira 80% merupakan buangan dari unit lain.

Konon kabarnya karena tidak mengunggah hasil tes kesehatan, mereka yang awalnya ikut tim pengusul yang kebanyakan luar jawa (K2) harus rela dilempar ke tim bentukan LPPM yang hampir pasti akan dapat wilayah K1 (Yogyakarta dan sekitarnya). Kalau aku dan beberapa gelintir orang yang memang sedari awal berkeputusan untuk memilih K1, tidak ada masalah. Tapi buat korban payahnya birokrasi ini, setidaknya butuh waktu untuk kemudian mengelus dada, menerima keadaan, dan berbaur dengan teman-teman barunya. Bayang-bayang akan tempat KKN yang jauh di tapal batas negara jauh dari hingar-bingar perkotaan sirna sudah. Yang tersisa kini kompleks perumahan yang telah beranjak mengikuti gulir roda modernisasi.

Entah apa yang ada di benak para birokrat kampus. Mereka memajukan tanggal dimulainya KKN. Menurut kalender akademik, harusnya KKN dilaksanakan 1 Juli-31 Agustus. Kini diubah menjadi 20 Juli-7 Agustus. Tanggal yang menabrak lebaran sama sekali tidak menguntungkan. Sebab, semua kegiatan masyarakat mengendur selama puasa, apalagi menjelang lebaran. Sudah begitu kita hanya diberi waktu setidaknya 1,5 bulan dengan beban program yang sama. Maka program pertama yang kita lakukan adalah glundang-glundung dan tura-turu, diselingi Uno, PES, dan Monopoli. Sisanya kalau sempat main-main dan merusuhi kegiatan ramadhan warga.

Lalu aku berpikir, aku sebagai mahasiswa yang telah kalah sekalah-kalahnya, tidak berdaya ikut arus modernisasi, lalu diminta melakukan pemberdayaan masyarakat. Aku curiga, jangan- jangan kita tidak sedang melakukan pemberdayaan. Kita sedang meminjam bentuk keberdayaan masyarakat dan mengklaimnya itu semua berkat ilmu mutakhir milik kita. Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, mereka melakukan resistensi, dengan tergopoh-gopoh dan sesekali tersungkur.


Hal pertama yang ku pikirkan saat mulai berangkat, buku apa yang harus ku bawa untuk menemani penat dan jumudnya melakoni rutinitas baru ini, dengan orang-orang asing yang baru ku kenal, sedang aku bisa nyaman di kamarku, dengan buku-bukuku, kopi tubrukku, komporku, dan komputerku. Ah, berat rasanya meninggalkan mereka. Saat menatapi mereka, aku berpikir, kenapa tidak membawa buku karangan Emha Ainun Najib, Indonesia Bagian dari Desa Saya (2013), barangkali aku bisa sedikit memaknai rutinitas baruku itu.

Alih-alih mendapat petuah dari budayawan saru ini, aku malah mendapati puisi Umbu Landu Paranggi, gurunya, yang akhir-akhir ini sering dibincangkannya di forum Maiyah. Setelah santer terdengar kabar dirawatnya ia di rumah sakit gegara penyakit konyol, suasana nostalgik tak terbendung. Bagaimana tidak, ia tidak makan selama beberapa hari dan akhirnya ditemukan terkapar lemas. Puisi yang paling dikenang oleh Emha, berjudul Apa Ada Angin di Jakarta, begini bunyinya:

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh di sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kora raya

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Saat aku membacakannya di depan kelas, siswa-siswa SMP N 2 Bambanglipuro melongo. Bukan, bukan melongo takjub seperti yang aku rasakan saat pertama kali mendengarnya. Melongo enggak mengerti.

“Ah, berat, Kak,” keluh mereka.

“Kok berat bagaimana? Ya sudah, anggap saja puisi ini bukan puisi. Sebut saja tulisan di papan tulis. Kok kayanya kalau disebut puisi bebannya terlalu berat sehingga terkesan susah dicerna. Padahal sederhana saja bahasanya.”

Mereka tetap bergeming.

Lalu aku membacakan interpretasi Emha atas puisi ini:

Apa ada angin di Jakarta? Angin, adalah napas hidup. Harapan, keceriaan masa depan, jaminan kebahagiaan. Bisakah Jakarta, sebagai lambang paling tajam sebuah kota urban di negeri ini, menawarkan itu semua? Seperti -yang menurut Umbu- bisa diberikan oleh Desa Melati?

Aku memang tidak berharap terlalu banyak pada mereka untuk bisa nyambung berbicara soal puisi. Maka aku hanya memperkenalkan duniaku, dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Pencapaian mereka dihargai dari deret-deret angka di rapor yang didapat dari pemahaman mereka akan ilmu pseudo-sains yang sama sekali tidak berguna untuk kehidupan mereka. Jangan salahkan jika mereka cepat penat dan mencari berbagai pelarian. Beberapa teman pengajar program guru banu yang lain mengeluh, karena mereka bandel dan susah diatur. Aku bisa memakluminya, sebab saat ada program semacam ini, mereka hanya berharap hiburan di tengah penatnya megikuti arus modernisasi. Dengan penuh keputusasaan!

Entah mereka mengerti atau tidak, aku menyampaikan, desa menyimpan banyak hal berharga. Kearifan, keguyuban, keberadaban, dll. Ironis memang di tengah kemutakhiran diukur dari kehidupan perkotaan, justru keberadaban hanya bisa didapatkan di desa, yang sayangnya kini mengkota, semakin tidak berdaya digilas arus modernisasi. Dan sekolah adalah lembaga yang paling bertanggungjawab atas perguliran ini, yang entah ke mana kita dibawa.


Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Neng, nong, neng, neng, nong, blagentak, Blarrr

“Nah, mbok begitu, gongnya mantap, enggak mejen,” kelakar salah seorang penikmat Wayang Congor, begitu mereka menyebutnya.

Pasalnya, dalang tidak membawa iringan musik apa pun kecuali hanya congornya sendiri. Gamelan akapella, begitu kira-kira. Wayang Congor kami pilih karena ongkos yang murah. Hanya berkisar satu jutaan, sudah dengan konsumsi, tenda, dll. Kalau wayang lengkap bisa mencapai 20 jutaan.

Mengikuti wayang semalam suntuk kembali mengingatkanku akan masa kecil yang masih mendapati satu-dua kali pertunjukan wayang. Walaupun tidak pernah nonton, cuma jalan-jalan di pasar di sepanjang jalan menuju gebyok, aku turut merasakan euforia, seakan tidak ingin ketinggalan setiap kali diadakan. Sekalipun aku tidak paham sama sekali lakon apa yang dipertunjukkan, aku cukup menikmati suasana hangat bersama warga, sambil ditemani secangkir teh hangat.

Sepertinya acara ini yang paling antusias diikuti, daripada program lain yang berbentuk penyuluhan. Konon desa ini sudah kerap dijadikan sasaran program KKN, sehingga mereka sudah kenyang dengan program-program semacam itu. Lagipula, penghayatan mereka akan pertanian jauh melebihi kami, yang jangankan berpikir untuk menjadi petani, memegang pacul saja canggung.

Suatu kali lampu-lampu dipenuhi serangga-serangga yang sedang berkerumun, termasuk di pondokan kami yang akhirnya membuat lantai kotor. Itu cukup mengganggu. Kami harus mematikan lampu untuk mengusir mereka.

Aku pun bertanya kepada salah seorang petani, “Kenapa ya, Pak, kok banyak serangga?”

“Ini lagi pada migrasi, Mas. Biasanya kalau sedang panen memang begitu. Sekarang ‘kan panennya tidak serempak, jadi saat yang satu panen, serangga berpindah ke sawah lain.”

Cerdik juga, pikirku. Di tengah harga beras yang sulit dikendalikan, petani membuat masa panen sendiri-sendiri dan sengaja tidak serempak. Sehingga ketersediaan beras bisa stabil, begitu juga dengan harganya.

Kehadiran mereka dalam setiap program penyuluhan sekedar menghargai kami yang telah mendatangkan narasumber dan pekewuh dengan Pak RT jika tidak datang. Semacam bentuk guyub selain siskamling. Barangkali menghadirkan wayang merupakan program yang paling bisa dirasakan manfaatnya ketimbang program penyuluhan. Setelah lelah seharian bekerja, dapat hiburan yang sedikit nostalgik, daripada sekedar menonton televisi atau mendengarkan radio yang itu-itu saja acaranya.


Aku bahagia, bahagia

Bahagia, bahagia

Ku angkat bebanku dan buang ke laut (byur, byur)

Buang ke laut (byur,byur), buang ke laut (byur, byur)

Aku berhasil, berhasil (yes)

Berhasil (yes), berhasil

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Anak-anak TK Sidomaju berhamburan. Ada yang dari panggung undak-undakan, ada yang dari luar. Mereka membawa bunga, berlari menghampiri orang tua mereka masing-masing. Ada yang terharu, ada yang tertawa, ada pula yang cuek saja. Lalu tiba-tiba ada salah seorang anak yang menangis.

“Kenapa, Sayang?”

“Ibu enggak ada,” jawabnya sambil tersedu-sedan.

“Sudah, bunganya buat Ibu Guru saja, ya. Enggak usah nangis.”

“Enggak mau, mau Ibu.”

Cukup lama menenangkan anak ini. Sampai harus mengerahkan hampir semua Bu Guru.

“Sudah, nanti bunganya dikasih pas sudah sampai rumah, ya.”

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

“Mas, main pianonya bagus,” puji salah seorang anggota Komite yang kebetulan hadir. Padahal ada beberapa nada yang fals. Mungkin karena gelora semangat anak-anak menyita perhatian peserta, keahlian bermain pianoku yang pas-pasan terselamatkan.

“Besok setiap pagi mengiringi anak-anak bernyanyi, ya,” pintanya.

Aku menyanggupinya dengan senang hati.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Barangkali banyak orang berpikiran saya yang mengajari mereka bisa sesuai dengan musik yang saya mainkan. Tapi justru tidak. Mereka yang mengajari saya. Justru saya yang harus menyesuaikan ritme mereka yang unik. Maka saya memilih untuk tidak menggunakan ketukan yang teratur. Dalam banyak hal, saya yang justru belajar, terutama soal semangat menggebu mereka, seakan tidak ada kata lelah dalam kamus mereka. Mereka pula yang mengingatkanku untuk tidak lupa caranya bahagia.

 

Serangkaian Pertanyaan untuk Para Pembaca Sastra

Sastra, makhluk apakah itu? Mengapa ia menjadi ladang pertaruhan banyak orang? Ideologi, kekuasaan, modal? Ia memiliki mekanisme untuk mengada yang tak pernah bisa terpikirkan bagaimana dan kenapa. Bisa juga dipandang sebagai mekanisme konsumen dan produsen, atau dinamika perpolitikan, atau sesuatu yang lain?

Mengacu pada objek material atau formal? Mana yang sastra dan bukan-sastra? Beberapa orang memandang sastra itu yang ditulis. Lalu kenapa ada sastra lisan? Bahkan saya berani bertaruh, pada dasarnya sastra itu lisan. Tidak ada originalitas maupun otentisitas di dalamnya. Ia sepenuhnya milik masyarakat. Originalitas dan otentisitas muncul beriringan dengan konsep pengarang (author), yang selalu mengiringi hadirnya karya dalam masyarakat. Ini juga kenapa sastra kemudian mendapat penanda baru, yang kemudian disebut dengan karya sastra. Roland Barthes dalam Kematian Sang Pengarang (1977) mengatakan:

Pengarang adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Prancis, dan keyakinan pribadi Reformasi, dimana ditemukannya kehormatan orang-perorangan (individu), atau istilah yang lebih elegan, ‘manusia pribadi’.

Tentu saja akan menjadi persoalan lain ketika predikat sastrawan yang disematkan, meskipun dalam beberapa hal mirip. Anehnya, istilah sastrawan (literarian?) tidak terlalu populer dalam wacana kritik sastra dunia. Mereka memilih author yang dapat disematkan pada pencipta karya dalam bentuk apa pun, fiksi maupun non-fiksi, yang merujuk pada pemegang otoritas (authority). Bahasa Indonesia menerjemahkan author menjadi pengarang, terjemahan yang sangat rendah hati, karena merujuk pada bentuk karangan atau sesuatu yang dikarang-karang. Tapi jangan salah sangka, ini bentuk terikat, artinya bukan dari kata dasar karang*.

Beberapa orang mempersempit defini sastra, yakni yang ditulis dan yang fiksi. Ini pandangan yang lebih baru lagi dibanding yang hanya mempersempitnya pada bentuk tulisan. Apa yang spesial dari sesuatu yang tidak pernah terjadi? Barangkali Sigmund Freud dalam Penulis Kreatif dan Melamun (1959) sedikit memberi jawaban.

Penulis kreatif melakukan hal yang sama dengan anak: ia bermain. Ia menciptakan dunia khayal yang ia tanggapi secara bersungguh-sungguh –ia menyalurkan banyak emosi ke dalamnya, sambil membedakannya secara tajam dari kenyataan. Bahasa telah melestarikan hubungan antara permainan anak-anak dan ciptaan puitis.

Tidak ada karya fiksi yang sepenuhnya fiktif atau pun sepenuhnya nyata. Selama ini kita menganggap sesuatu yang imajinatif karena ia belum pernah ada dalam benak kita sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Karya non-fiksi pun demikian, seakurat seperti apa pun akan ada sudut pandang dari jurnalis, misalnya, yang mana itu bisa juga dikatakan sebagai imajinasi, dari kata imaji (image). Oh, sebentar, ada yang salah dengan istilah yang saya gunakan, fiksi dan non-fiksi. Kenapa bukan fakta dan non-fakta?

Freud menggunakan istilah penulis kreatif (creative writers), sekali lagi bukan sastrawan. Kreatif (ajektiva); kreasi/ciptaan (nomina); pencipta/kreator. Barangkali fiksi dianggap gelanggang yang bebas sebebas-bebasnya bagi hasrat mencipta manusia untuk menciptakan apa pun sekehendaknya. Maka yang terjadi, terjadilah. Kemuliaan disematkan pada penulis fiksi yang kemudian oleh para penikmat Sastra Indonesia dikenal sastrawan. Akan tetapi, hati-hati dengan istilah ini, siapa pun tidak berhak mengklaim dirinya sastrawan jika tidak ingin dihina dan dicaci.

Industri membuat klasifikasinya sendiri pula. Damien Walter membuat definisi satir yang menyebut sastra (literature) adalah merek mewah buatan yang tidak dijual. Ia mendisposisikan sastra dengan genre yang dalam pertarungan keduanya dalam jagad industri perbukuan, semua kalah.

The market for high-end literature isn’t a healthy one. Intellectuals are reliably penniless, and fancy reading habits don’t make you cool any longer. The people who actually buy books, in thumpingly large numbers, are genre readers. And they buy them because they love them. Writing a werewolf novel because you think it will sell, then patronising people who love werewolf novels, isn’t a smart marketing strategy – but it’s amazing how many smart writers are doing just this.

Jika kalian bilang definisi yang hidup di masyarakat ini membingungkan, definisi di jurusan saya justru menggelikan. Dosen-dosen saya bilang, ada dua klasifikasi, sastra “serius” dan “populer”. Kalau mau bikin kajian sastra “populer” harus banyak, karena kalah pamor sama yang “serius”. Kok bukan sastra serius dan bercanda, misalnya, atau sastra tidak-terlalu-populer dengan sastra populer. Kenapa ada kecendurungan sastra yang “berat” dan susah dibaca kemudian tidak atau tidak terlalu populer? Kok harus bersusah payah? Apa yang dicari dari membaca Ullysses, misalnya, yang konon katanya sastra yang paling sulit dibaca?

Padahal teks mengada ketika dibaca. Jika ia gagal dibaca, maka ia gagal mengada. Persoalan berapa yang baca itu sudah persoalan modal, tapi paling tidak ada relasi yang dijalin antara karya dan pembaca. Maka pada titik ini sastra “populer” justru memiliki ketercapaian yang mengagumkan, karena dapat menjalin pembaca yang luas, terlepas dari proses penenggalam-munculan karya tersebut adil atau tidak.

Memangnya yang dianggap serius itu proses kurasinya, adil, begitu? Bayangkan, Sang Gate Keeper, yang dikenal dengan redaktur sastra dalam media massa, misalnya, menyeleksi ribuan naskah tiap harinya. Konon pertama yang dilihat judul, menarik atau tidak, lalu paragraf pertama. Judul tidak menarik, buang! Judul menarik paragraf pertama tidak menarik, buang! Bicara judul saja sudah problematis. Judul adalah unsur ekstrinsik, bagaimana suatu karya dihakimi dari sesuatu yang hanya melekat? bukan diri sebenarnya? Apalagi paragraf pertama. Seorang penulis membuat karya dalam satu kesatuan, ia ibarat makhluk, tidak bisa dihakimi dari ujung hidungnya saja.

Ini hanya satu contoh yang menunjukkan, betapa berjubelnya orang yang bertaruh di ladang ini. Belum lagi jika melihat forum, komunitas, event kepenulisan yang selalu ramai didatangi, bak orang-orang pesakitan menyedihkan yang mengharap kesembuhan dari dukun-dukun yang merapalkan mantra-mantra yang tidak pernah bisa manjur. Dukun-dukun ini semakin berjubel pula jumlahnya karena mendapat kesaktian dari acara-acara internesyenel di berbagai daerah yang juga semakin banyak. Atau jangan-jangan kita pun termasuk di dalamnya? Kegiatan pembacaan kita sebenarnya dalam rangka mencari mantra-mantra di antara selangkangan kata-kata dan huruf-huruf yang sengaja disembunyikan dukun-dukun tadi?

Sastra adalah yang begini dan begitu. Padahal yang begini dan begitu itu sudah dipakai, lalu kita harus mencari yang lain daripada yang begini begitu itu tadi untuk dunia yang cepat bosan dan selalu mencari kebaruan. Betapa kolotnya manusia-manusia modern ini, selalu mempertahankan ritual yang sama: mencari sesuatu yang baru.

Kembali ke persoalan sastra dan bukan-sastra yang mana saya curiga, ini bukan persoalan karya. Ini persoalan resepsi. Sepertihalnya para penjudi dalam arena ini, saya pun berjudi dengan melemparkan serangkaian pertanyaan ini di hadapan pembaca sekalian. Tentu saja perjudian yang saya lakukan bergantung pada seberapa besar pula khalayak pembaca yang saya raih. Karena hanya berstatus blog pribadi, apalagi yang punya juga bukan orang ternama, saya menduga tidak banyak. Ia tenggelam bersama teks-teks lain yang berkelebatan tiap sepersekian detik lalu menguap bersama angan dan bayang-bayang.

“Bahasa”, ‘Bahasa’, dan Bahasa

Tanda kutip sering dipakai oleh pengarang untuk menyebutkan suatu kata (penanda) yang mana ia ingin berlepas diri dari tanggungjawab penggunaannya, terlepas dari setuju maupun tidak mengenai keakuratan penggunaan penanda itu untuk menandai sesuatu. Saya akan mulai dengan mitos 14 “bahasa” di Indonesia yang konon telah punah lalu kita diminta menangisinya. Klaim ini dilakukan oleh UNESCO yang kabarnya melakukan program untuk mengantisipasi 6000 “bahasa” lain yang terancam punah.

Padahal, selama ini “bahasa” yang telah punah tersebut belum pernah dikonfirmasi keberadaannya. Kok mak bedunduk sudah hilang. Anehnya, “bahasa” itu sudah punya nama. Horotoyo, belum lahir sudah dinamai, yang menamai outsider lagi, memang punya hak apa mereka menamai sesuatu yang tidak lahir dari rahimnya? Jika pun memang benar 14 “bahasa” tersebut ada dan kemudian punah, faktor penyebab kepunahannya tidak lain dan tidak bukan adalah hadirnya negara yang memaksa warganya menjadi penutur ‘bahasa’ Indonesia dengan dalil ‘bahasa’ ini telah hidup sebagai lingua-franca, lalu dikumandangkanlah istilah ‘bahasa’ persatuan. Belum puas dengan itu semua, kita diminta menuruti standar “baik dan benar” oleh pemerintah. Jika tidak, jangan harap diterima kerja. Lupakan hutan, berburu, dan meramu! Roda besar modernisasi dan pertumbuhan ekonomi siap menggilas siapa saja yang tidak patuh. Rasa-rasanya kok tidak asing ya dengan pola ini, hanya pemengaruhannya lebih halus. Kalau Penjajah Belanda dengan invasi, kini Penjajah Indonesia dengan mendatangkan Presiden lalu kongkow dengan suku anak dalam.

Wacana yang dilontarkan UNESCO sebenarnya mengkhianati penyeragaman yang dilakukan oleh negara, lalu berusaha mengkonservasi “bahasa” yang masih tersisa untuk menghargai keberagaman, syukur-syukur bisa belajar sedikit-sedikit tentang pendangan hidup yang terkandung dalam “bahasa” tersebut. Ini sejalan dengan wacana desentralisasi yang sudah cukup lama bercokol di negeri ini, yang mana melimpahkan banyak wewenang ke daerah. Bahkan, kini pelimpahan wewenang sampai pada tingkat yang paling kecil, yakni desa. Di sisi lain, sedang ada wacana besar-besaran globalisasi, yang mana negara semakin hilang dalam arus perekonomian yang segala tetek-bengek di dalamnya diikat dengan perjanjian bisnis. Lalu dimana negara? Lalu dimana rakyat?

Saat negara dan rakyat semakin susah dicari keberadaannya (peran), lalu bagaimana nasib ‘bahasa’ Indonesia? Saya katakan dengan tanda petik karena satuan ini sebenarnya bukan bahasa dalam arti langue seperti yang didengungkan Ferdinand de Saussure dalam General Linguistics (1893). Barangkali lebih tepat jika dikatakan dialek, karena kita menganggap ‘bahasa’ Melayu a la Malaysia bukan bagian dari ‘bahasa’ Indonesia. Padahal, jika kita mendengar bahasa Melayu dialek Malaysia kita dapat mengerti, dan itu cukup mengidentifikasi bahwa kita menuturkan langue yang sama.

Wacana negara-bangsa adalah penyebab kita tidak mengenali lagi mereka sebagai saudara dekat, bahkan beberapa kali berebut “kebudayaan”. Makhluk apa lagi ini, diperebutkan segala. Banyak orang bilang kita ini bangsa inferior, saya dengan penuh keyakinan membantahnya. Kita superior! Buktinya, kita bisa menertawakan dan mencemooh saudara dekat kita itu karena kata-kata (leksem) yang digunakan kita anggap lucu. Bangsa Melayu di Indonesia kan lebih besar, kita yang menjadi puncak pencapaian “dunia” melayu, begitu kira-kira alasan yang dipilih untuk melegitimasi superioritas yang kita miliki.

Kembali ke persoalan ‘bahasa’ Indonesia, yang kemudian saya sebut bahasa Melayu dialek Indonesia. Seringkali dialek ini dibubuhi “yang baik dan benar” dengan kitab sakral Ejaan yang Disempurnakan, yang tidak sempurna-sempurna amat sebetulnya (dengar-dengar sudah setahun yang lalu kata sempurna dihilangkan); dan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang juga tidak besar-besar amat. Saya katakan demikian karena EYD sama sekali tidak cukup untuk memenuhi hasrat penyampaian makna sampai pencurah-capaian estetika, pun KBBI yang bahkan lebih asing dari bahasa asing. Kita lebih mengenal passion daripada renjana atau podcast daripada siniar. Maka, EYD dan KBBI itu untuk dipelajari lalu dilupakan. Kalau disalah-salahkan, bilang saja EYD dan KBBI yang salah. Bukan penuturnya. Justru EYD dan KBBI yang harusnya tunduk dan patuh dengan penutur.

Mereka pikir bisa mengatur aktivitas berbahasa dengan membuat, misalnya, kaidah-kaidah tata bahasa baku. Lalu yang berhak menentukan salah-benar disebut “Editor Bahasa”. Bahasa kok diedit? Begitu superiornya teks sehingga kita anggap sebagai bahasa itu sendiri. Padahal, sumber primer bahasa adalah tradisi lisan. ‘Bahasa’ dalam teks hanya salah satu ragam, yang merupakan turunan dari idiolek, yang mana turunan juga dari dialek. Maka ‘Bahasa’ Sansekerta dan Jawa Kuna bukan bahasa. Ia hanya serpihan leksem yang tercecer dan tercerai-berai, terseok-seok melintasi jaman. Bahkan hanya segelintir orang yang bisa mengakses teks di jaman teks itu muncul, mengingat otoritas teks sangat terbatas.

Selain itu, ada pula pemisahan, antara folk taxonomy dan scientific taxonomy, yang folk ya sacangkem-cangkeme, kalau scientific harus serba sistematis dan dipertanggungjawabkan penggunaan tiap titik-komanya. Pokoknya a la cangkem kuliahan begitu. Akan tetapi, pernahkah kita mempertanyakan, misalnya, istilah “Ilmu Budaya” yang kemudian di-Inggris-kan menjadi Cultural Science? Sains kok budaya? Terus asal-usulnya Budaya di-ilmu-kan itu bagaimana? Itu kan hanya istilah saja, begitu? Istilah, kok saja?

Bahrunnaim, Sang Teatrawan

Aku kira Pamela Allen terlalu buru-buru mendaulat karya-karya Putu Wijaya sebagai Sastra Teror. Penyair pro-puisi-esai ini, katanya, meneror daya pikir pemirsa dengan menghadirkan plot dan tokoh yang membingungkan, sehingga meneror kesadaran, begitu kira-kira. Lagipula, jika karyanya dikenal sebagai Sastra Teror, kenapa Putu tidak dijuluki Sastrawan-Teroris? Jika karya Sutardji Calzoum Bachri, pengikut aliran sesat-menyesatkan puisi-esai juga, disebut-sebut sebagai puisi mantra, kenapa dirinya tidak dijuluki penyair dukun, misalnya.

Maka dengan ini saya mendaulat Bahrunnaim sebagai Sastrawan-Teroris sejati dengan menampilkan sequel teater kolosal kamis (14/01) lalu. Saking hebatnya, Ia tidak perlu naskah untuk bersandiwara. Tidak perlu pula menggesek-gesekkan barangnya, seperti yang dilakukan Rendra di tengah desak-desakan bus kota dalam Yang Muda Yang Bercinta. Bahkan, ia tidak perlu judul untuk mengesankan betapa mencekamnya teater yang ia mainkan. Kalau media menamai peristiwa itu dengan “Tragedi Bom Sarinah” misalnya, itu sudah masuk ranah interpretasi. Semua orang berhak membuat interpretasi, kata cangkem-cangkem kuliahan itu.

Jika beberapa saat kemudian situasi mencekam kembali dibuat bercanda, dari #KamiTidakTakut menjadi #KamiNaksir, itu juga interpretasi yang sah-sah saja. Yang jelas, Bahrunnaim yang dipercaya menjadi sutradara sequel kali ini berhasil membuat ketakutan. Tagar #KamiTidakTakut justru menegaskan ketakutan itu sendiri. (Seperti tagar #Akurapopo yang sebenarnya justru popo. Kalau memang tidak takut ya enggak usah bilang-bilang, dong?) Buktinya, sampai tulisan ini hadir, berita soal Tragedi Bom Sarinah tidak pernah absen, pagi, siang, sore, malam, beriringan dengan Kopi Maut. Ada ketakutan yang luar biasa, melebihi kopi yang bisa saja meracuni setiap kelas menengah perkotaan.

Desing peluru dan ledakan bom seakan menyerukan, kita kini berada di era terorisme pasca-binLaden yang cemen, cupu, flamboyan, lemah, dan sakit-sakitan itu. Osama bin Laden yang dikenal sebagai psikopat hanya asumsi yang dibangun media barat seakan kita hidup di dunia film superhero Hollywood yang sedang menunggu Sang Mesiah Iron-Man membawa lebih banyak kehancuran (?). Ya, lihat saja tiap aksinya, menenangkan Hulk saja harus menghancurkan gedung bertingkat. Menumpas penjahat, apalagi, seisi kota dijatuhkan dari atas langit. Mesiah macam apa itu?

Tahukah kalian, Osama adalah klan bin Laden, klan paling kaya seantero Jazirah. Ia anak ke-17 dari 25 putra Muhammad bin Laden, ayahnya. Belum yang perempuan, yang mencapai 29, dari 22 istri. Setidaknya itu yang dituliskan Lawrence Wright (90, 2006) dalam Looming Tower yang kemudian diterjemahkan dengan agak memaksa oleh Hendra dengan judul Sejarah Teror, terbitan Kanisius (2011). Ia sering mengirim puisi ke ibunya, Alia, jika sedang rindu. Ia pengusaha kaya Saudi Binladin Group dan banyak mendulang kekayaan yang kemudian membiayai pembentukan Al-Qaeda.

Kita kini berada di era Baghdadi!; yang garang dan berani; dengan keuangan yang lebih terjamin; dengan fatwa yang lebih mendukung. Lalu mereka berkata, ah, mereka Quran (mushaf) saja tidak punya. “Hey, ini perang, Bung! Mana sempat menenteng mushaf? Kalian kira liqo’?” Analisis geopolitik lah, ekonomi lah, ah, kalian lupa satu pelajaran penting: sejarah. “Kami lahir dengan nafas panjang; dengan intrik yang tak kalah hebatnya dari elit-elit negara Arab! Teror kami ideologis!”

Teater yang ia mainkan estetis, sekaligus tendensius. Keakuan, melebihi kebinatangjalangannya Chairil; menyihir, melebihi tragedi winka dan sihka; membentuk masyarakat ideal, melebihi tendensi Sutan Takdir Alisyahbana. Gagasannya memang utopis, tapi apa salahnya? Memangnya Plato ketika menyusun tatanan ideal, juga harus gamblang dan final, begitu? Memangnya demokrasi berhasil membentuk masyarakat ideal? Justru salah satu tujuan terorisme adalah menciptakan rasa takut sekaligus menunjukkan betapa negara thoghut telah gagal memenuhi rasa aman warga negaranya. Kritikus sastra pun hanya bisa menganga, ikut-ikutan gagap. Buktinya, sejauh ini belum ada kritikus yang ‘menyerang’ pementasan ini.

Ia telah berhasil menegasikan dunia, sejadi-jadinya. Jika sensasi rasa takutmu belum terpuaskan, tenang, masih ada sequel selanjutnya. Kita tunggu saja kapan dirilis. Panjang umur terorisme!

Jejak Persenggamaan

Ini kesimpulan sementara yang aku dapat setelah membaca segelintir buku. Buku yang tentu saja hasil persenggamaan orang lain, yang mana telah teruji oleh zaman, melintasi berbagai era, berumur panjang. Mereka sering disebut dengan kanon, avant-garde, masterpiece, dll. Seberapa getol kita mengais-ngais data-data baru untuk menarasikan kembali sejarah, dalam hal ini sejarah sastra, sastra kanon tetap sulit digugat.

Aku pernah berbincang dengan Katrin Bandel, (seorang penulis Boemipoetra yang bukan kaum bumiputra, karena kelahiran Jerman. Tapi jangan mengira aku pintar bahasa Jerman. Ia sudah di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan menganggap Jerman sebagai negara asing), dengan menanyainya, “Setujukah dengan kanonisasi?”

“Kanonisasi bukan persoalan setuju atau tidak. Kanon adalah sesuatu yang terus diingat dan diperbincangkan,” terangnya. Jelas ini menimbulkan persoalan baru tentang Sejarah Sastra yang dihimpun berdasarkan, setidaknya bisa dikatakan di sini, ingatan perumus, sebagai pembaca karya-karya sastra. Sejarah Sastra Indonesia yang disusun oleh Ajip Rosidi selama ini diyakini sebagai narasi sejarah yang seakan final. Beberapa kalangan menggugat ini dengan memunculkan karya-karya lain, termasuk karya sastrawan Lekra, seperti yang dilakukan Bandung Mawardi dan Muhiddin M. Dahlan dalam kompilasi makalah Poe(li)tics (judul yang agak memaksa, aku rasa). Mereka tentu saja hanya menggeser satu kanonisasi ke kanonisasi yang lain, versi mereka.

Untuk kemudian mempersoalkan hal ini, jika aku taat dengan sistem dalam institusi perguruan tinggi, harus tuek-ngekek dengan gelar Prof. di depan predikat Haji dulu baru boleh. Mereka sering menyebutnya dengan otoritas (authority) dengan kata dasar author, yang (anehnya) diterjemahkan ke bahasa indonesia, pengarang, bukan pemegang otoritas, misalnya. Kalau lulus sarjana, enggak usah sok-sokan mengkaji yang berat-berat. Bicarakan saja plot atau tokoh di cerpen Kompas. Sudah begitu, malangnya menjadi mahasiswa sastra Indonesia, buku sastra mahal dan susah dicari, apalagi kritik sastra. Siapa juga orang kurang kerjaan yang baca kritik sastra? Baca sastra saja belum tentu.

Akan tetapi, aku menyadari ini sudah sejak lama dan memang sudah memutuskan untuk tidak mengandalkan penghidupan dari menulis. Jujur saja, aku mulai menikmati proses ini, meminang satu demi satu anak-anak zaman yang menarik hati, menggauli mereka, menghimpun syahwat, untuk memulai persenggamaan kecil demi persenggaman kecil yang entah kapan akan berakhir.

Ejaan yang Disempurnakan vis a vis Ejaan yang Diridai Allah

“Karena kesempurnaan hanya milik Allah.”

Begitu kira-kira kredo para penganut mazhab baru, Ejaan yang diridai (diridhoi?) Allah. Bukan ayat Al Quran, bukan pula Hadits. Sejauh ini belum jelas siapa yang memunculkan kalimat ini, akan tetapi ia seakan menjadi diktum yang tak terelakkan. Secara sadar atau pun tidak, mazhab baru ini menafikkan Ejaan yang Disempurnakan, yang sebetulnya tidak sempurna-sempurna amat juga. Saya mengambil dua tokoh paling fenomenal, Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw karena menurut saya paling mewakili.

 

Satu-satunya motif yang menurut saya masuk akal para penganut mazhab ini menggunakan ejaan tertentu, yaitu tidak terakomodasinya bunyi bahasa dalam transkripsi ortografis. Misalnya, kata ridho dibanding rida yang baku. Jika ingin mengakomodasi semua bunyi, tentu saja transkripsi fonetis lebih dianjurkan daripada transkripsi ortografis. Akan tetapi, betapa susahnya kita ketika bercakap di media sosial, dimana ragam bahasa yang digunakan ragam bahasa lisan yang ditulis, menggunakan transkripsi fonetis.

Selain persoalan bunyi, persoalan penghormatan juga menjadi isu penting. Dalam pos Salim A. Fillah di atas, di bagian akhir disebutkan JazaakumuLlaahu khayran dengan [l] kapital, karena mengacu ke Allah. Biasanya, jika ada embel-embel yang mahaesa, misalnya, maka akan digunakan pula huruf kapital. Hal yang menurut saya susah masuk di akal, penggunaan [y] daripada [i] dalam khayran. Dalam kasus lain, inshaaAllah ketimbang insyaallahmisalnya. Barangkali ada tren ejaan latin a la barat atau persia.

Sekalipun telah diserap dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, mereka tetap keukeuh menggunakan ejaan mereka sendiri, barangkali khawatir umat muslim indonesia “salah” melafalkan satu kata yang dianggap penting dan kemudian menggeser maknanya. Misalnya, kata sholat cenderung lebih banyak digunakan ketimbang salat, yang pengucapannya sama dengan saladHal ini terjadi karena bunyi alveolar [s] di dalam bahasa arab bisa mengacu ke empat alfabet, yakni  [tsaa], [siin], [syiin], dan [shaad]. Mereka tidak terima kalau empat alfabet ini disamakan pengucapannya. Barangkali bahasa Arab dianggap sakral sehingga tidak boleh salah ucap, harus sesuai dengan pengucapan orang Arab. Kesakralan terletak pada bahasa, bukan kata, karena beberapa kata di dalam bahasa indonesia yang telah cukup mewakili tidak pula digunakan. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa arab, misalnya shaum ketimbang puasa.

 

 

Anehnya, jika memang bahasa Arab itu bahasa yang sakral, yang konon merupakan bahasa yang digunakan di akhirat, kenapa slang semacam ini masih digunakan? Padahal telah banyak yang mengkoreksi penggunaan beberapa kata, seperti antum atau ane. Tren kearab-araban dalam titik ini menjadi sangat menggelikan, yang bahkan orang Arab pun akan terheran-heran. Dalam komunitas mereka, ane dan antum menjadi semacam kata pengganti yang lebih sopan, semacam kromo inggil versi kearab-araban.

Saya menyarankan mereka untuk merumuskan Ejaan yang Diridhoi Allah ini dalam sebentuk buku dan diterbitkan oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang Diridhoi Allah, agar kompak dan konsisten memakainya, tentu saja disertai dalil aqli maupun naqli biar afdhol dan varokah. Selain itu, mereka juga tidak perlu lagi menanggapi para haters yang bakal mengurangi kekhusyukan mengarab-arabkan diri. Jangan sampai tradisi membuka kedok terulang kembali. Wa’ALAYkumsalam!

Screen-Shot-2015-05-22-at-4.31.12-PM