Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Sulit dipercaya, aku sebagai orang desa yang kebetulan mendapat akses pendidikan yang lebih tinggi dibanding teman sebaya di desaku, kini terjebak di tempat KKN yang mana lebih ‘kota’ daripada desaku sendiri. Sidomulyo namanya, desa yang letaknya tidak jauh dari Pantai Parangtritis. Jika ditempuh dengan sepeda motor, sekira 15 menit sampai. Sesekali kami ke pantai untuk melepas penat.

Kelompok kami dibentuk paling akhir, tidak ada seminggu sebelum pelepasan. Tidak ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam keterasingan itu kami memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sekedar menambal-sulam payahnya birokrasi kampus. Di antara teman satu unit, aku adalah orang yang paling plonga-plongo, tidak tahu apa-apa. Untungnya aku terselamatkan karena teman-teman satu unitku banyak yang telah menguasai berbagai prosedur dan mekanisme yang mesti dilakukan. Bahkan mereka telah mengakumulasi cerita-cerita dari para pendahulu. Belakangan usut punya usut setidaknya sekira 80% merupakan buangan dari unit lain.

Konon kabarnya karena tidak mengunggah hasil tes kesehatan, mereka yang awalnya ikut tim pengusul yang kebanyakan luar jawa (K2) harus rela dilempar ke tim bentukan LPPM yang hampir pasti akan dapat wilayah K1 (Yogyakarta dan sekitarnya). Kalau aku dan beberapa gelintir orang yang memang sedari awal berkeputusan untuk memilih K1, tidak ada masalah. Tapi buat korban payahnya birokrasi ini, setidaknya butuh waktu untuk kemudian mengelus dada, menerima keadaan, dan berbaur dengan teman-teman barunya. Bayang-bayang akan tempat KKN yang jauh di tapal batas negara jauh dari hingar-bingar perkotaan sirna sudah. Yang tersisa kini kompleks perumahan yang telah beranjak mengikuti gulir roda modernisasi.

Entah apa yang ada di benak para birokrat kampus. Mereka memajukan tanggal dimulainya KKN. Menurut kalender akademik, harusnya KKN dilaksanakan 1 Juli-31 Agustus. Kini diubah menjadi 20 Juli-7 Agustus. Tanggal yang menabrak lebaran sama sekali tidak menguntungkan. Sebab, semua kegiatan masyarakat mengendur selama puasa, apalagi menjelang lebaran. Sudah begitu kita hanya diberi waktu setidaknya 1,5 bulan dengan beban program yang sama. Maka program pertama yang kita lakukan adalah glundang-glundung dan tura-turu, diselingi Uno, PES, dan Monopoli. Sisanya kalau sempat main-main dan merusuhi kegiatan ramadhan warga.

Lalu aku berpikir, aku sebagai mahasiswa yang telah kalah sekalah-kalahnya, tidak berdaya ikut arus modernisasi, lalu diminta melakukan pemberdayaan masyarakat. Aku curiga, jangan- jangan kita tidak sedang melakukan pemberdayaan. Kita sedang meminjam bentuk keberdayaan masyarakat dan mengklaimnya itu semua berkat ilmu mutakhir milik kita. Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, mereka melakukan resistensi, dengan tergopoh-gopoh dan sesekali tersungkur.


Hal pertama yang ku pikirkan saat mulai berangkat, buku apa yang harus ku bawa untuk menemani penat dan jumudnya melakoni rutinitas baru ini, dengan orang-orang asing yang baru ku kenal, sedang aku bisa nyaman di kamarku, dengan buku-bukuku, kopi tubrukku, komporku, dan komputerku. Ah, berat rasanya meninggalkan mereka. Saat menatapi mereka, aku berpikir, kenapa tidak membawa buku karangan Emha Ainun Najib, Indonesia Bagian dari Desa Saya (2013), barangkali aku bisa sedikit memaknai rutinitas baruku itu.

Alih-alih mendapat petuah dari budayawan saru ini, aku malah mendapati puisi Umbu Landu Paranggi, gurunya, yang akhir-akhir ini sering dibincangkannya di forum Maiyah. Setelah santer terdengar kabar dirawatnya ia di rumah sakit gegara penyakit konyol, suasana nostalgik tak terbendung. Bagaimana tidak, ia tidak makan selama beberapa hari dan akhirnya ditemukan terkapar lemas. Puisi yang paling dikenang oleh Emha, berjudul Apa Ada Angin di Jakarta, begini bunyinya:

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh di sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kora raya

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Saat aku membacakannya di depan kelas, siswa-siswa SMP N 2 Bambanglipuro melongo. Bukan, bukan melongo takjub seperti yang aku rasakan saat pertama kali mendengarnya. Melongo enggak mengerti.

“Ah, berat, Kak,” keluh mereka.

“Kok berat bagaimana? Ya sudah, anggap saja puisi ini bukan puisi. Sebut saja tulisan di papan tulis. Kok kayanya kalau disebut puisi bebannya terlalu berat sehingga terkesan susah dicerna. Padahal sederhana saja bahasanya.”

Mereka tetap bergeming.

Lalu aku membacakan interpretasi Emha atas puisi ini:

Apa ada angin di Jakarta? Angin, adalah napas hidup. Harapan, keceriaan masa depan, jaminan kebahagiaan. Bisakah Jakarta, sebagai lambang paling tajam sebuah kota urban di negeri ini, menawarkan itu semua? Seperti -yang menurut Umbu- bisa diberikan oleh Desa Melati?

Aku memang tidak berharap terlalu banyak pada mereka untuk bisa nyambung berbicara soal puisi. Maka aku hanya memperkenalkan duniaku, dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Pencapaian mereka dihargai dari deret-deret angka di rapor yang didapat dari pemahaman mereka akan ilmu pseudo-sains yang sama sekali tidak berguna untuk kehidupan mereka. Jangan salahkan jika mereka cepat penat dan mencari berbagai pelarian. Beberapa teman pengajar program guru banu yang lain mengeluh, karena mereka bandel dan susah diatur. Aku bisa memakluminya, sebab saat ada program semacam ini, mereka hanya berharap hiburan di tengah penatnya megikuti arus modernisasi. Dengan penuh keputusasaan!

Entah mereka mengerti atau tidak, aku menyampaikan, desa menyimpan banyak hal berharga. Kearifan, keguyuban, keberadaban, dll. Ironis memang di tengah kemutakhiran diukur dari kehidupan perkotaan, justru keberadaban hanya bisa didapatkan di desa, yang sayangnya kini mengkota, semakin tidak berdaya digilas arus modernisasi. Dan sekolah adalah lembaga yang paling bertanggungjawab atas perguliran ini, yang entah ke mana kita dibawa.


Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Neng, nong, neng, neng, nong, blagentak, Blarrr

“Nah, mbok begitu, gongnya mantap, enggak mejen,” kelakar salah seorang penikmat Wayang Congor, begitu mereka menyebutnya.

Pasalnya, dalang tidak membawa iringan musik apa pun kecuali hanya congornya sendiri. Gamelan akapella, begitu kira-kira. Wayang Congor kami pilih karena ongkos yang murah. Hanya berkisar satu jutaan, sudah dengan konsumsi, tenda, dll. Kalau wayang lengkap bisa mencapai 20 jutaan.

Mengikuti wayang semalam suntuk kembali mengingatkanku akan masa kecil yang masih mendapati satu-dua kali pertunjukan wayang. Walaupun tidak pernah nonton, cuma jalan-jalan di pasar di sepanjang jalan menuju gebyok, aku turut merasakan euforia, seakan tidak ingin ketinggalan setiap kali diadakan. Sekalipun aku tidak paham sama sekali lakon apa yang dipertunjukkan, aku cukup menikmati suasana hangat bersama warga, sambil ditemani secangkir teh hangat.

Sepertinya acara ini yang paling antusias diikuti, daripada program lain yang berbentuk penyuluhan. Konon desa ini sudah kerap dijadikan sasaran program KKN, sehingga mereka sudah kenyang dengan program-program semacam itu. Lagipula, penghayatan mereka akan pertanian jauh melebihi kami, yang jangankan berpikir untuk menjadi petani, memegang pacul saja canggung.

Suatu kali lampu-lampu dipenuhi serangga-serangga yang sedang berkerumun, termasuk di pondokan kami yang akhirnya membuat lantai kotor. Itu cukup mengganggu. Kami harus mematikan lampu untuk mengusir mereka.

Aku pun bertanya kepada salah seorang petani, “Kenapa ya, Pak, kok banyak serangga?”

“Ini lagi pada migrasi, Mas. Biasanya kalau sedang panen memang begitu. Sekarang ‘kan panennya tidak serempak, jadi saat yang satu panen, serangga berpindah ke sawah lain.”

Cerdik juga, pikirku. Di tengah harga beras yang sulit dikendalikan, petani membuat masa panen sendiri-sendiri dan sengaja tidak serempak. Sehingga ketersediaan beras bisa stabil, begitu juga dengan harganya.

Kehadiran mereka dalam setiap program penyuluhan sekedar menghargai kami yang telah mendatangkan narasumber dan pekewuh dengan Pak RT jika tidak datang. Semacam bentuk guyub selain siskamling. Barangkali menghadirkan wayang merupakan program yang paling bisa dirasakan manfaatnya ketimbang program penyuluhan. Setelah lelah seharian bekerja, dapat hiburan yang sedikit nostalgik, daripada sekedar menonton televisi atau mendengarkan radio yang itu-itu saja acaranya.


Aku bahagia, bahagia

Bahagia, bahagia

Ku angkat bebanku dan buang ke laut (byur, byur)

Buang ke laut (byur,byur), buang ke laut (byur, byur)

Aku berhasil, berhasil (yes)

Berhasil (yes), berhasil

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Anak-anak TK Sidomaju berhamburan. Ada yang dari panggung undak-undakan, ada yang dari luar. Mereka membawa bunga, berlari menghampiri orang tua mereka masing-masing. Ada yang terharu, ada yang tertawa, ada pula yang cuek saja. Lalu tiba-tiba ada salah seorang anak yang menangis.

“Kenapa, Sayang?”

“Ibu enggak ada,” jawabnya sambil tersedu-sedan.

“Sudah, bunganya buat Ibu Guru saja, ya. Enggak usah nangis.”

“Enggak mau, mau Ibu.”

Cukup lama menenangkan anak ini. Sampai harus mengerahkan hampir semua Bu Guru.

“Sudah, nanti bunganya dikasih pas sudah sampai rumah, ya.”

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

“Mas, main pianonya bagus,” puji salah seorang anggota Komite yang kebetulan hadir. Padahal ada beberapa nada yang fals. Mungkin karena gelora semangat anak-anak menyita perhatian peserta, keahlian bermain pianoku yang pas-pasan terselamatkan.

“Besok setiap pagi mengiringi anak-anak bernyanyi, ya,” pintanya.

Aku menyanggupinya dengan senang hati.

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Agar Tetap Bahagia KKN di (M)Bantul

Barangkali banyak orang berpikiran saya yang mengajari mereka bisa sesuai dengan musik yang saya mainkan. Tapi justru tidak. Mereka yang mengajari saya. Justru saya yang harus menyesuaikan ritme mereka yang unik. Maka saya memilih untuk tidak menggunakan ketukan yang teratur. Dalam banyak hal, saya yang justru belajar, terutama soal semangat menggebu mereka, seakan tidak ada kata lelah dalam kamus mereka. Mereka pula yang mengingatkanku untuk tidak lupa caranya bahagia.