Tentang Bendera Baru FPI Itu

Maksud hati ingin tampil nasionalis sekaligus islami, FPI bikin bendera baru dalam aksi 212. Tanpa disangka, Habib Rizieq terancam hukuman satu tahun penjara karena dianggap melecehkan bendera yang konon taghut itu, selain juga sedang menjalani proses hukum untuk lima tuduhan lain. Menurut saya, selain melecehkan bendera Merah Putih, mereka juga melecehkan bendera (sebut saja) Tauhid, karena menurut Abu Hurairah dan banyak riwayat lain, bendera yang dipakai Rasulullah hanya riwa’ (latar putih) dan raayah (latar hitam). Saya justru heran, kenapa HTI diam saja melihat bendera yang disakralkannya itu dimodifikasi sedemikian rupa. Bahkan, Ismail Yusanto, jubir HTI, menyatakam dukungannya terhadap Habib Rizieq.

Ini sekaligus menjawab tuduhan serampangan Goenawan Mohamad yang katanya mirip bendera Al-Qaeda. Bendera dengan kaligrafi syahadat digunakan oleh berbagai kelompok yang mengatasnamakan islam, terutama yang telah, sedang, atau bermaksud menerapkan syariat. Misalnya, NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dengan tipografi dan tata letak yang berbeda. Bendera Tauhid versi HTI merupakan versi yang paling populer, khat ul-yad, yang digunakan oleh Kerajaan Ottoman di abad ke-18.

Berbeda dengan tipografi yang digunakan di bendera ISIS yang merujuk ke tipografi paling kuno dalam sejarah masyarakat muslim, karena mirip dengan tipografi yang digunakan dalam surat yang ditulis Muhammad ke Al-Muqawqis, pemimpin Mesir pra-Islam. Lingkaran di bagian bawah merupakan cap yang digunakan oleh Rasulullah untuk menyurati berbagai pemimpin negara waktu itu, sedangkan kalimat di atasnya hanya mengikuti tipografi pada cap.

AQMI Flag asymmetric.svg
By YoOwn work, Public Domain, Link

Muhammad letter maqoqas egypt.jpg
Public Domain, Link

Hal lain yang patut disoroti dalam bendera baru FPI adalah penggunaan dua pedang yang saling-silang di bawah kalimat tauhid. Ia memadukan tipografi khat ul-yad dan simbol militer Arab Saudi yang digunakan sejak 1932, biar terlihat garang barangkali. Sampai sekarang simbol itu digunakan untuk emblem yang dipadukan dengan citra pohon kurma.

Saudi Arabia

Simbolisme kerajaan Saudi memang kental dalam berbagai atribut yang digunakan FPI dalam setiap aksinya, jubah dan surban putih dengan perpaduan warna hijau. Belakangan semenjak kasus Ahok mengemuka, mereka mulai mencitrakan diri nasionalis sambil tetap menggembar-gemborkan menegakkan syariat dengan membuat jargon NKRI Bersyariah. Sebelumnya, banyak terlihat jenderal-jenderal hadir di setiap pengajian yang diadakan oleh mereka dan para simpatisannya.

Padahal, sebelumnya, mereka hanya menggembar-gemborkan penerapan syariat. Bahkan, dalam Habib Rizieq dalam tesisnya menuntut diberlakukannya kembali Piagam Jakarta. Tidak heran jika ia banyak membuat lelucon soal Pancasila. Maka, saya merevisi kategori FPI sebagai Islam Bathok, melainkan Islam Es Kelapa Muda, yang gula sama airnya dibanyakin. Kadang pakai gula jawa, kadang pakai gula pasir, atau bisa juga pakai sirup Marjan.

 

Ejaan yang Disempurnakan vis a vis Ejaan yang Diridai Allah

“Karena kesempurnaan hanya milik Allah.”

Begitu kira-kira kredo para penganut mazhab baru, Ejaan yang diridai (diridhoi?) Allah. Bukan ayat Al Quran, bukan pula Hadits. Sejauh ini belum jelas siapa yang memunculkan kalimat ini, akan tetapi ia seakan menjadi diktum yang tak terelakkan. Secara sadar atau pun tidak, mazhab baru ini menafikkan Ejaan yang Disempurnakan, yang sebetulnya tidak sempurna-sempurna amat juga. Saya mengambil dua tokoh paling fenomenal, Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw karena menurut saya paling mewakili.

 

Satu-satunya motif yang menurut saya masuk akal para penganut mazhab ini menggunakan ejaan tertentu, yaitu tidak terakomodasinya bunyi bahasa dalam transkripsi ortografis. Misalnya, kata ridho dibanding rida yang baku. Jika ingin mengakomodasi semua bunyi, tentu saja transkripsi fonetis lebih dianjurkan daripada transkripsi ortografis. Akan tetapi, betapa susahnya kita ketika bercakap di media sosial, dimana ragam bahasa yang digunakan ragam bahasa lisan yang ditulis, menggunakan transkripsi fonetis.

Selain persoalan bunyi, persoalan penghormatan juga menjadi isu penting. Dalam pos Salim A. Fillah di atas, di bagian akhir disebutkan JazaakumuLlaahu khayran dengan [l] kapital, karena mengacu ke Allah. Biasanya, jika ada embel-embel yang mahaesa, misalnya, maka akan digunakan pula huruf kapital. Hal yang menurut saya susah masuk di akal, penggunaan [y] daripada [i] dalam khayran. Dalam kasus lain, inshaaAllah ketimbang insyaallahmisalnya. Barangkali ada tren ejaan latin a la barat atau persia.

Sekalipun telah diserap dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, mereka tetap keukeuh menggunakan ejaan mereka sendiri, barangkali khawatir umat muslim indonesia “salah” melafalkan satu kata yang dianggap penting dan kemudian menggeser maknanya. Misalnya, kata sholat cenderung lebih banyak digunakan ketimbang salat, yang pengucapannya sama dengan saladHal ini terjadi karena bunyi alveolar [s] di dalam bahasa arab bisa mengacu ke empat alfabet, yakni  [tsaa], [siin], [syiin], dan [shaad]. Mereka tidak terima kalau empat alfabet ini disamakan pengucapannya. Barangkali bahasa Arab dianggap sakral sehingga tidak boleh salah ucap, harus sesuai dengan pengucapan orang Arab. Kesakralan terletak pada bahasa, bukan kata, karena beberapa kata di dalam bahasa indonesia yang telah cukup mewakili tidak pula digunakan. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa arab, misalnya shaum ketimbang puasa.

 

 

Anehnya, jika memang bahasa Arab itu bahasa yang sakral, yang konon merupakan bahasa yang digunakan di akhirat, kenapa slang semacam ini masih digunakan? Padahal telah banyak yang mengkoreksi penggunaan beberapa kata, seperti antum atau ane. Tren kearab-araban dalam titik ini menjadi sangat menggelikan, yang bahkan orang Arab pun akan terheran-heran. Dalam komunitas mereka, ane dan antum menjadi semacam kata pengganti yang lebih sopan, semacam kromo inggil versi kearab-araban.

Saya menyarankan mereka untuk merumuskan Ejaan yang Diridhoi Allah ini dalam sebentuk buku dan diterbitkan oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang Diridhoi Allah, agar kompak dan konsisten memakainya, tentu saja disertai dalil aqli maupun naqli biar afdhol dan varokah. Selain itu, mereka juga tidak perlu lagi menanggapi para haters yang bakal mengurangi kekhusyukan mengarab-arabkan diri. Jangan sampai tradisi membuka kedok terulang kembali. Wa’ALAYkumsalam!

Screen-Shot-2015-05-22-at-4.31.12-PM